Serana

Serana
Saturday Night


__ADS_3

Pukul tujuh, Kalea mematut dirinya di hadapan cermin besar di kamar. Saat ini ia mengenakan dress brukat warna putih di bawah lutut. Rencananya ia akan pergi makan malam dengan Gavin. Siang tadi, lelaki itu hanya berdiam sebentar di ruang tamu. Mereka membahas hal remeh-temeh mulai dari awal mula bagaimana Kalea menyukai Hydrangea warna biru hingga pembahasan random seputar perkembangan siaran televisi yang kian hari kualitasnya kian buruk. Setelah teh dalam cangkir habis disesap, lelaki itu pamit undur diri. Tapi Gavin bilang akan kembali lagi untuk mengajak Kalea makan malam. Maka di sinilah Kalea sekarang, sibuk membenahi penampilannya.


Gavin bilang akan menjemputnya setengah delapan, tapi kalau kalian mau tahu, Kalea sudah bersiap sejak jam 6. Gadis itu repot sekali memilih baju mana yang akan dikenakan, rambut ikalnya harus digerai atau diikat, dan aksesoris pendukung apa yang harus ia pakai untuk menunjang penampilannya. Padahal ini cuma makan malam. Gavin bahkan tidak bilang ia akan mengajak Kalea pergi makan di restoran mewah, tapi Kalea benar-benar heboh dengan persiapannya sendiri.


Setelah memastikan riasan tipis di wajahnya sudah rapi, Kalea beranjak dari depan cermin. Ia duduk anteng di pinggir kasur sembari memainkan ponselnya. Sekadar memeriksa apakah ada pesan masuk dari Gavin atau tidak. Dan ternyata tidak ada. Walau siang tadi mereka sudah membahas tentang ini, tapi nyatanya Gavin tidak serta merta merubah sikapnya jadi aktif mengirimkan pesan. Bedanya, Kalea tidak lagi merasa keberatan. Yang penting dia tahu bahwa Gavin tidak berniat untuk menarik ulur dirinya.


Lima belas menit kemudian, Kalea mendengar bel rumahnya berbunyi. Ia yakin itu adalah Gavin, jadi dengan semangat yang menggebu dan senyum yang mengembang, ia berlarian keluar dari kamar. Kaki-kaki kecilnya bergerak pelan menuruni anak tangga, melewati ruang tengah hingga sampai di ruang tamu. Saat akan membuka pintu, Bi Imah muncul dari dapur sambil tergopoh-gopoh. Sepertinya wanita itu buru-buru berlari menuju pintu depan saat mendengar bel berbunyi.


"Kalea aja." Kata Kalea, tersenyum sekilas pada Bi Imah sebelum akhirnya membuka pintu besar di hadapan. Bi Imah pun mengiyakan, wanita itu akhirnya berjalan kembali ke dapur.


Tapi saat pintu itu terbuka, senyum Kalea seketika luntur. Bukannya Gavin, Kalea malah menemukan Karel tengah berdiri di depan pintu dengan tampang super menyebalkan. Di kedua tangan lelaki itu ada beberapa paperbag ukuran besar. Melihat dari rambutnya yang acak-acakan, Kalea menduga Karel baru saja sampai dari perjalanan bisnisnya.


"Dih, mukanya kok gitu? Lo nggak seneng liat gue balik?" Karel mengoceh panjang lebar. Badan besarnya menerobos masuk bahkan sebelum Kalea memberikan jalan. Akibatnya, tubuh kecil Kalea terhuyung hingga punggung sempitnya mengantam tembok dekat pintu. Memang tidak keras, tapi hal itu sudah cukup untuk membuat Kalea merasa kesal.


"Aku pikir kamu mati tenggelam di pantai Kuta!" sindir Kalea. Ia sebal karena Karel sama sekali tidak mengabarinya seharian ini.


Dengan langkah menghentak-hentak ia berjalan mendekati Karel yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu dengan santai, bak sedang berada di rumah sendiri.


"Lo tuh demen banget ngatain gue mati, ya? Seneng kalo temennya mati? Udah bosen lo punya temen ganteng dan super perhatian kayak gue?"


Kalea memutar bola mata jengah. Apanya yang ganteng dan perhatian? Yang ada bocah tengik ini sering kali membuat Kalea narik darah karena tingkah usilnya yang kebangetan. Ya memang sih, kadang-kadang Karel bisa bersikap baik, tapi itu cuma terjadi kalau Kalea sedang sedih dan ada masalah saja. Kalau sedang mode normal, Karel itu benar-benar menyebalkan!


"Ngomong-ngomong, lo mau kemana? Tumben rapih? Nah, pake make up juga?" Karel mulai kepo karena sadar ada yang lain dari penampilan Kalea.


"Malam mingguan, lah!"


"Malam mingguan sama siapa, anjir? Lo kan jomblo!" sindir Karel diakhiri kekehan menyebalkan.


Namun kekehannya seketika berhenti saat mendengar Kalea menjawab, "Sama Gavin." dengan raut wajah yang sumringah.


Lagi-lagi Karel merasa sesak saat nama itu disebut dengan akrab. Padahal baru seminggu sejak Kalea mengenal Gavin, tapi Karel merasa lelaki itu sudah mulai merebut perhatian Kalea sedikit demi sedikit. Sekarang, kapanpun ada waktu, Kalea pasti akan curi-curi untuk membahas tentang Gavin di tengah obrolan mereka tentang hal lain. Sejujurnya Karel tidak menyangka Kalea akan secepat ini membuka hatinya untuk Gavin. Karena Karel yang paling tahu bagaimana Kalea. Belasan tahun berteman, ia pernah berkali-kali membantu Kalea untuk dekat dengan banyak laki-laki, tapi gadis itu selalu menolak dengan berbagai macam alasan.


Tapi sekarang, kenapa Kalea-nya tiba-tiba berubah?


Pertanyaan di dalam kepala Karel tak akan sempat diutarakan, apalagi sampai mendapatkan jawaban, karena tak lama setelah itu, Gavin datang dengan kaus pas badan warna hitam, ripped jeans dan jaket kulit sewarna kaus yang dikenakan. Rambut hitamnya yang biasa ditata rapi kini terlihat sedikit berantakan, tapi anehnya Gavin justru terlihat semakin tampan dengan penampilan seperti ini.


Karel mendengus. Ia kesal karena sudah tanpa sadar memuji penampilan Gavin. Bukannya apa-apa, tapi kalau soal fisik, Karel memang mengaku kalah. Si Gavin ini visualnya memang tidak main-main.

__ADS_1


"Oh, kamu masih ada urusan, ya? Kalau gitu saya tunggu kamu di luar aja, ya?" kata Gavin, tapi Kalea buru-buru beranjak dari sofa untuk menghampiri Gavin, membuat Karel menatapnya kesal.


"Kita jalan sekarang?" tanya Kalea saat sudah berada di samping Gavin.


Gavin melirik Karel yang kini melayangkan tatapan tak suka kepadanya. Gavin berani bertaruh, laki-laki berambut coklat itu pasti sedang mengumpati dirinya di dalam hati.


"Kamu masih ngobrol sama teman kamu, kan? Lanjutin aja dulu, saya bisa nunggu kok." Kata Gavin dengan nada suara super lembut.


Karel berharap Kalea akan berbalik dan kembali duduk untuk berbicara dengannya. Tapi harapannya sirna saat gadis itu justru menggelengkan kepala dengan senyum yang mengembang hingga ke telinga.


"Bisa dilanjut nanti ngobrolnya. Mending jalan sekarang aja, keburu kemaleman." Kata Kalea, tak peduli meski kini Karel menghadiahinya tatapan mematikan.


"Nanti aku ke rumah kamu. Lagian kamu baru pulang, kan? Pasti capek. Jadi mendingan kamu istirahat dulu." Kata Kalea sebelum mendorong tubuh besar Gavin untuk keluar dari rumah.


"Bye, Karel!!"


******


Baru beberapa meter mobil Gavin berlalu meninggalkan kompleks perumahan Kalea, hujan turun. Rintiknya jatuh deras sekali hingga Kalea bisa mendengar suara gemerisiknya yang bersahutan dengan suara klakson yang ditekan berbarengan. Entah mengapa, malam ini jalanan macet sekali. Orang-orang tampak tidak sabaran menunggu giliran untuk lewat sehingga terjadilah adu klakson yang membuat telinga Kalea sakit. Kadang ia tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang itu. Apa mereka pikir jalanan bisa tiba-tiba jadi lengang jika mereka membunyikan klakson berkali-kali?


"Orang-orang itu punya masalah apa, sih? Emang kalau klaksonnya ditekan berkali-kali, macetnya bisa terurai? Kan, enggak!" Kalea mendumal. Ia pikir ucapannya hanya akan dia dengar sendiri mengingat betapa berisiknya suara latar di luar mobil. Tapi rupanya suara yang keluar dari mulutnya juga tak kalah nyaring sehingga Gavin yang duduk di belakang kemudi praktis menolehkan kepala dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya.


Kalea menoleh, hanya untuk menemukan Gavin menatapnya dengan jenis tatapan yang sulit diterjemahkan. Ia tidak merasa Gavin sedang meledeknya, tapi ia juga tidak merasa lelaki itu mendukung adegan mengomelnya barusan.


"Saya suka pusing kalau dengar suara klakson yang bersahut-sahutan kayak gini." Keluh Kalea. Karena memang benar, kepalanya akan pusing bukan main saat mendengar suara bising klakson seperti ini. Bukan cuma karena berisik, tapi ada kejadian di masa lalu yang membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali terjebak di tengah kemacetan dengan suara klakson yang bersahut-sahutan seperti sekarang.


"Saya tahu." Kata Gavin. Lelaki itu kembali menatap lurus ke arah jalanan. Mobil mulai bisa berjalan pelan, jadi ia harus kembali fokus mengemudi.


Kalea menatap Gavin dengan kening berkerut. "Maksudnya?"


Gavin menolehkan kepala, kemudian tersenyum tipis. "Saya tahu kepala kamu pusing dengar suada klakson yang bersahut-sahutan kayak gini, karena saya juga sama."


Kalea mengembuskan napas lega saat jawaban itu keluar dari bibir Gavin. Tadinya, ia pikir Mama telah menceritakan tentang kejadian di masa lalu yang membuat Kalea jadi seperti ini. Kalau itu betulan terjadi, Kalea akan marah sekali kepada Mama. Karena wanita itu tidak seharusnya membagikan sebanyak itu kepada Gavin.


Di sisa perjalanan yang ditempuh selama lima belas menit kemudian, Kalea dan Gavin hanya diam. Tidak satupun dari mereka yang punya inisiatif untuk membuka obrolan. Hanya ada suara deru napas keduanya yang bersahut-sahutan memenuhi mobil. Sampai akhirnya Gavin menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe yang tampak sepi.


Gavin melepaskan seatbeltnya, membuka pintu mobil kemudian berjalan ke sisi satunya dan membukakan pintu mobil untuk Kalea. Ia mengulurkan tangan kepada Kalea.

__ADS_1


"Ayo." Katanya.


Kalea menyambut uluran tangan Gavin. Hangat seketika menjalari tangannya saat tangan besar itu menggenggamnya begitu erat. Hujan sudah reda sejak beberapa menit yang lalu, tapi dingin masih sesekali terasa saat angin berembus menerpa tubuh mereka. Keduanya lalu melangkah beriringan mendekati pintu cafe dan disambut dengan senyum ramah oleh seorang pelayan perempuan.


"Silahkan lewat sini." Kata pelayan itu bahkan sebelum Gavin maupun Kalea sempat mengucapkan sepatah katapun.


Kalea melirik Gavin yang tersenyum sekilas pada pelayan perempuan itu sebelum keduanya berjalan mengikuti kemana pelayan itu menuntun mereka.


Kening Kalea berkerut samar saat pelayan tersebut justru membawa mereka ke bagian belakang cafe. Tepatnya ke halaman belakang yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat makan yang nyaman. Ada sebuah meja bundar yang di atasnya tertata rapi lilin dan dua gelas wine.


Kalea menurut saja saat Gavin menarik tubuhnya, menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi. Kemudian Gavin duduk di kursi lain di seberang. Lelaki itu masih tersenyum, bahkan sampai si pelayan berlalu dan kembali lagi membawa beberapa menu makanan untuk mereka berdua, senyumnya masih tidak luntur.


"Kamu siapin semua ini sendiri?" tanya Kalea pada Gavin yang kini sibuk memotong daging menjadi bagian yang lebih kecil sebelum menyerahkannya ke piring Kalea.


"Bunda yang bantu." Gavin menjawab dengan senyum yang kian lebar.


Kalea manggut-manggut. Sepertinya memang bukan cuma Mama dan Papa saja yang antusias dengan perjodohan ini, tapi kedua orangtua Gavin juga kelihatannya ingin perjodohan ini berjalan lancar.


"Bunda semangat sekali waktu saya bilang mau ajak kamu makan malam, sampai rela luangin waktu untuk siapin semua ini." Gavin terkekeh di akhir kalimat. Ia teringat kembali dengan Bunda yang begitu bersemangat menyiapkan makan malam ini sejak siang tadi. Wanita yang biasanya kalem dan anggun itu mendadak pecicilan ke sana kemari, sibuk menelepon beberapa nomor dengan nada suara yang cerah dan bersemangat.


"Kalau begitu, saya harus berterimakasih secara langsung kepada Bunda kamu." Kalea tersenyum tipis.


"Iya, nanti saya bawa kamu ketemu Bunda."


Kemudian mereka mulai menikmati makanan yang tersaji di atas piring dengan khidmat. Namun baru beberapa suap makanan itu masuk ke mulut mereka, ponsel Gavin yang tergeletak di atas meja bergetar beberapa kali sehingga membuat Gavin mengalihkan perhatiannya. Lelaki itu tampak melirik ponselnya dengan gusar, kelihatan ragu untuk memeriksa ponselnya sekarang atau membiarkannya saja sampai acara makan mereka selesai.


Hal itu tak luput dari perhatian Kalea. Gadis itu tahu Gavin perlu memeriksa ponselnya sekarang juga. Maka dengan nada pelan ia mengatakan kepada Gavin untuk segera memeriksa ponselnya.


"Nggak apa-apa?" tanya Gavin ragu.


"It's okay. Siapa tahu memang penting."


Setelah menimang beberapa saat, Gavin akhirnya meraih ponselnya dan segera memeriksa pesan yang masuk berbondong-bondong. Saat matanya mulai membaca satu persatu baris kalimat di layar ponselnya, Gavin tiba-tiba bangkit berdiri. Saking tiba-tibanya, kursi yang ia duduki sampai jatuh ke belakang dan hal itu tentu saja membuat Kalea menatapnya keheranan. Tubuh lelaki itu tampak bergetar dan raut wajahnya kelihatan panik.


"Gavin? Are you okay?" tanya Kalea, mulai khawatir. Ia hendak bangkit dari kursi untuk menghampiri Gavin demi menenangkannya, namun lelaki itu malah bergerak mundur.


"Kalea, maaf, tapi saya harus pergi sekarang." Gavin bicara dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


Kalea belum sempat membuka mulutnya saat Gavin tiba-tiba saja berjalan cepat meninggalkannya. Pungung lebar lelaki itu lenyap dari pandangan hanya dalam waktu singkat, membuat Kalea hanya bisa terdiam di tempatnya degan beribu tanda tanya yang mengerubungi kepala.


Gavin kenapa?


__ADS_2