Serana

Serana
Grocery Shopping


__ADS_3

Tiga hari kemudian, setelah percakapannya dengan Gavin malam itu meninggalkan tanda tanya besar yang dibiarkan menggantung tanpa jawaban, Kalea kembali menemukan kepalanya dipenuhi tanda tanya lain ketika mendapati sosok lelaki itu ada di rumahnya sejak pagi-pagi sekali. Ini bukan akhir pekan, jadi agak aneh mendapati seseorang yang super sibuk seperti Gavin bisa meluangkan waktu hanya untuk sekadar mengobrol dengan Mama di dapur, sembari memasak entah apa.


Kalea baru bangun tidur, matanya masih sedikit bengkak dan ada jejak air liur di sudut bibirnya yang membuat penampilannya sama sekali tidak pantas untuk dipertontonkan pada calon suaminya itu. Jadi Kalea buru-buru putar balik, melangkah cepat menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya sebelum Gavin ataupun Mama menyadari eksistensi dirinya di sana. 


Sampai di kamar, Kalea langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Ia bergerak cepat menguncir helaian rambutnya yang semula tergerai acak-acakan menggunakan ikat rambut yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian menyambar sikat gigi, mengoleskan pasta gigi rasa mint ke atasnya dan langsung menggosok giginya dengan begitu bersemangat. Selesai dengan urusan gigi, Kalea beralih ke wajahnya. Dibasuhnya wajah itu kemudian dipakaikan sabun muka untuk memastikan semua noda yang tertinggal selama ia tidur terhempas seketika itu juga. Dalam waktu singkat, penampilannya telah berubah menjadi sedikit lebih baik. Sekarang ia hanya perlu berjalan menuju lemari baju, mengambil setelan yang lebih pantas untuk menggantikan kaus kebesaran dan juga celana pendek di atas lutut yang tenggelam dalam kausnya ini.


Namun saat Kalea baru sampai di depan pintu lemari, belum sempat membukanya, pintu kamarnya lebih dulu diketuk. Kalea tentu tidak akan punya waktu untuk mengabaikan ketukan itu dan mengganti bajunya lebih dulu. Maka, ia berjalan cepat ke arah pintu, membukanya dalam sekali tarikan dan muncullah Gavin di depannya, dengan tampang tak berdosa serta sebuah senyum yang kelewat manis.


"Hai." Sapa lelaki itu, hanya untuk membuatnya gelagapan karena tidak menyangka bahwa yang akan berdiri di depan pintu kamarnya adalah Gavin.


"Oh, hai." Kalea balik menyapa dengan kikuk. "Kok kamu di sini? Ngapain? Nggak kerja?" tanyanya kemudian, pura-pura tidak tahu kalau Gavin memang sudah berada di rumahnya sejak tadi.


Diberondong pertanyaan seperti itu membuat Gavin terkekeh. Ada satu hal lagi yang mulai ia hafal tentang Kalea. Yaitu kebiasaan perempuan itu yang akan bicara lebih banyak dan cenderung lebih cepat ketika sedang grogi ataupun salah tingkah. Di mata Gavin, itu tampak lucu.


"Satu-satu, Kalea. Saya bingung mau jawab yang mana dulu." Katanya setelah kekehannya berhenti. Ia melihat bagaimana semburat merah kembali muncul di belah pipi Kalea, mengundang keheranan sebab ia merasa tidak melakukan apa-apa pada perempuan ini. Lalu sebuah pertanyaan konyol hinggap di kepalanya. Apakah Kalea memang selalu semudah ini merasa salah tingkah di hadapan seroang pria?


"Kamu ngapain di sini?" ulang Kalea dengan mata yang bergerak gelisah, berusaha keras menghindari kontak mata dengan Gavin.


"Main." Jawab Gavin singkat, hanya untuk membuat Kalea menoleh dengan tampang melongo yang sama sekali tidak bisa disembunyikan.


"Sepagi ini?"


Gavin mengangguk. "Nggak boleh, ya?" tanyanya dengan senyum tipis yang tersungging.


"Bukan masalah nggak boleh,"


"Terus?"


"Ya aneh aja, orang sibuk kayak kamu kok bisa-bisanya punya waktu buat main ke rumah aku pagi-pagi begini." Kalea memutar tubuh, hendak berjalan kembali ke arah lemari dan membiarkan Gavin tetap berdiri di ambang pintu. Namun suara Gavin membuatnya menghentikan langkah dan segera berbalik dengan ekspresi keheranan.


"Saya udah nggak sibuk, soalnya sekarang saya pengangguran." Lelaki itu mengatakannya dengan santai seolah tanpa beban, tersenyum manis sembari menyandarkan bahunya ke sisi pintu kamar Kalea, menatap perempuan itu lekat.


"Maksudnya gimana, sih? Kamu dipecat?" Akhirnya Kalea berjalan kembali ke hadapan Gavin. Ia melipat tangan di depan dada, memusatkan perhatian pada manik kelam lelaki di hadapannya yang kini tampak lebih berbinar ketimbang hari-hari biasanya.


Tanpa diduga, Gavin menganggukkan kepala, diiringi senyum yang terbit lebih lebar dari sebelumnya. Seolah fakta bahwa dirinya dipecat dari perusahaan milik ayahnya sendiri bukanlah sesuatu yang menyedihkan. Seolah Gavin memang sudah menunggu hari ini dari lama. Seolah bisa lepas dari tanggungjawab soal perusahaan adalah sesuatu yang begitu melegakan.


Untuk beberapa saat, Kalea terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi terhadap pernyataan Gavin barusan. Haruskah ia ikut tersenyum dan merasa senang, jika berhenti bekerja di perusahaan ayahnya memang membuat Gavin lebih nyaman? Atau ia harus memarahi lelaki ini dan menyuruhnya meminta kesempatan kedua untuk bisa kembali dipekerjakan di perusahaan milik ayahnya?


Tapi semua pemikiran yang ada di kepalanya itu nyatanya hanya sia-sia ketika Gavin tiba-tiba meledakkan tawa, membuat bahu tegapnya berguncang hebat sekaligus menimbulkan kerutan yang teramat kentara di kening Kalea.


Apa yang lucu? Apa yang begitu lucu dari kenyataan bahwa Gavin telah dipecat dan sekarang menjadi pengangguran? Apa yang begitu menggelitik hingga tawa Gavin tak kunjung mereda bahkan hingga berpuluh detik selanjutnya? Kalea sibuk bertanya-tanya, tapi jawaban yang ia terima sungguh terlalu menyebalkan untuk didengar.


Dengan mata yang berair akibat kegiatan tertawanya yang lumayan lama, Gavin berkata "Bercanda." Hanya untuk membuat Kalea mendengus sebal dan langsung melayangkan sebuah pukulan keras di bahunya.

__ADS_1


"Aw!" pekik Gavin. Tubuhnya yang semula bersandar di sisi pintu langsung ia tegakkan, ia usap bahunya yang terasa panas akibat pukulan Kalea.


"Aku pikir kamu beneran dipecat!" kesal Kalea. Ia memberengut, membuat Gavin gemas. Rasanya ingin sekali ia raup bibir tipis yang kini cemberut itu. Tapi kemudian ia teringat pada janjinya kepada Irina, bahwa ia tidak akan pernah memperlakukan Kalea sama seperti yang ia lakukan kepada Irina. Tapi lebih dari itu, Gavin tidak ingin menyentuh Kalea secara berlebihan jika bukan perempuan itu sendiri yang memulainya. Bagi Gavin, Kalea berharga, jadi ia tidak ingin merenggut apapun dari perempuan itu. Tidak, ketika ia tidak bisa memberikan jaminan apa-apa.


"Papa kasih saya cuti selama beberapa hari sebelum pernikahan kita." Katanya. Kini, matanya menatap manik boba milik Kalea begitu lekat. Berusaha mencari satu sisi yang sudah lama tidak ia lihat dari perempuan ini. Dan ketika ia berhasil menemukannya, Gavin merasakan satu bagian kosong di dadanya perlahan-lahan mulai terisi kembali. Irina memang sudah menemaninya untuk waktu yang cukup lama, sejak bertahun-tahun ketika ia sedang dalam kondisi terburuk sampai akhirnya bisa kembali bangkit. Tapi, Gavin tidak bisa berbohong bahwa kehadiran Irina tidak pernah bisa mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh Kalea ketika perpisahan mereka terjadi bertahun-tahun silam. Ruang kosong itu telah Gavin sediakan khusus untuk Kalea, jadi tidak ada orang lain yang bisa mengisinya, tidak peduli seberapa baik mereka memperlakukan Gavin.


"Harusnya kamu gunakan waktu kamu untuk istirahat. Kenapa malah keluyuran ke rumah aku pagi-pagi begini?" Kalea mencebik, agak merasa tidak habis pikir pada tingkah Gavin yang dalam beberapa kesempatan bahkan terasa lebih absurd ketimbang Karel.


"Istirahat saya adalah ketika saya bisa melihat wajah kamu dari jarak sedekat ini."


Sialan. Kalea praktis memundurkan tubuhnya saat Gavin tiba-tiba sedikit membungkukkan badan sehingga wajah mereka menjadi lebih dekat.


"Gavin!" pekik Kalea. Satu pukulan hampir ia layangkan kembali ke bahu Gavin ketika suara Mama tiba-tiba menginterupsi. Ia mengintip, menemukan Mama telah berdiri di balik tubuh besar Gavin dengan alis yang bertaut.


"Kamu mau ngapain?" tanya Mama keheranan saat mendapati tangan Kalea menggantung di udara.


"Mama sendiri mau ngapain kesini?" Kalea balik bertanya, menurunkan tangannya dan sepenuhnya mengurungkan niat untuk memukul Gavin. Tingkah Kalea itu membuat Gavin yang telah kembali menegakkan tubuhnya terkekeh pelan.


"Ditanya malah balik nanya!" kesal Mama. Tapi sedetik kemudian, raut wajah wanita itu langsung berubah cerah saat kepalanya menoleh ke arah Gavin.


"Mama udah siapin daftar belanjaannya. Nanti setelah anak ini beres siap-siap, kalian langsung berangkat ya." Kata Mama yang langsung dijawab Gavin dengan anggukan kepala.


Kalea yang masih tidak menangkap maksud Mama hanya bisa terdiam, menunggu sampai Mama kembali menatapnya dan menjelaskan semuanya.


"Sana buruan ganti baju." Perintah Mama setelah kembali menolehkan kepala.


"Belanja bulanan sama Gavin." Ucap Mama enteng sembari membalikkan badan, sudah siap untuk melangkah pergi setelah mengusap bahu Gavin pelan.


"Kok? Kan itu tugasnya Bi Imah!"


Mama menghentikan langkahnya di anak tangga ke-tiga, menoleh ke arah Kalea kemudian tersenyum sebelum berkata. "Sesekali kamu cobain gimana rasanya belanja bulanan, biar nanti pas udah tinggal berdua kamu udah nggak bingung lagi kalau harus belanja sendiri ke supermarket." Kemudian wanita itu berbalik dan benar-benar melangkah meninggalkan Kalea dan Gavin.


Setelah Mama tidak lagi nampak di depan matanya, Kalea menoleh pada Gavin. "Kenapa harus latihan belanja bulanan, kan nanti-"


"Karena saya nggak mau pakai asisten rumah tangga." Sela Gavin cepat.


Mulanya Kalea sudah berpikiran buruk pada Gavin ketika mendengar pernyataan lelaki itu tentang tidak ingin memakai jasa asisten rumah tangga.


Namun pikiran buruknya seketika sirna dan ia sepenuhnya dibuat salah tingkah saat dengan entengnya Gavin berkata. "Karena saya cuma mau tinggal berdua sama kamu di rumah kita."


"Buruan ganti baju, saya tunggu kamu di bawah." Gavin mendaratkan tangan besarnya di kepala Kalea, mengusak pelan rambut perempuan itu kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Kalea dengan semburat merah yang menghiasi pipinya dan degup jantung yang menggila.


Oh, jadi begini yang dimaksud dengan yang diacak-acak rambut, tapi yang berantakan hati?

__ADS_1


*******


Supermarket yang mereka kunjungi tak begitu jauh dari kompleks perumahan Kalea. Jadi saat Gavin menawarkan kepadanya untuk berangkat naik sepeda motor, Kalea setuju-setuju saja.


Tapi kemudian ia menyesali keputusannya ketika kini, ia menemukan dirinya merasa kesusahan untuk tetap duduk tegak di atas jok motor sport yang sedang dikendarai Gavin. Lelaki itu tidak sedang ngebut, tapi karena desain jok dari motor sport milik lelaki itu yang membuatnya selalu harus mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Kalea sedikit tidak nyaman. Sedari tadi, ia merasa tubuhnya seperti melayang di udara ketika mereka melewati polisi tidur bahkan ketika Gavin sudah melambatkan laju motornya. Ia takut jatuh, tapi tidak tahu harus berpegangan di mana sehingga ia hanya bisa meremat jaket yang Gavin kenakan sebagai pegangan.


"Pegangan di pundak saya kalau kamu takut jatuh!" Gavin berteriak agar Kalea bisa mendengar ucapannya. Tapi walau rasanya ia sudah berteriak sekencang yang ia bisa, Kalea masih tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena perempuan itu hanya menyahut dengan sebuah Ha? yang membuatnya terpaksa mengulangi ucapannya.


"Pegangan di pundak saya, Kalea!" ulangnya.


"Nggak apa-apa. Bentar lagi sampai." Kata Kalea yang lebih memilik untuk tetap berpegangan pada jaket Gavin saja. Toh supermarket yang mereka tuju sudah dekat, dan Gavin sama sekali tidak ngebut. Jadi Kalea pikir, berpegangan pada jaket Gavin masih aman-aman saja.


Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti melaju. Setelah memastikan Kela turun dengan aman, Gavin memarkirkan motornya di parkiran yang masih terlihat sepi. Tentu saja. Ini masih pagi, dan Gavin rasa orang-orang tidak akan serajin itu untuk datang ke supermarket sepagi ini seperti dirinya.


Selesai memarkirkan motor, Gavin menghampiri Kalea yang sudah berdiri di depan pintu masuk, menunduk sembari memainkan ponselnya.


"Ayo." Katanya.


Kalea mendongak. Kemudian ponsel yang sedari tadi menyita perhatiannya itu ia masukkan kembali ke dalam saku celana. Ia sama sekali tidak keberatan saat Gavin meraih tangannya, menggandengnya masuk ke dalam supermarket.


"Kita mau belanja apa aja?" tanyanya setelah Gavin mengambil sebuah troli belanjaan dengan satu tangannya sementara satu tangan yang lain masih menggenggam tangannya posesif. Seolah ia adalah anak kecil yang tidak boleh dilepaskan gandengannya supaya tidak hilang.


"Banyak." Gavin menjawab singkat.


Kalea tidak banyak bertanya lagi. Ia hanya mengikuti kemana langkah kaki Gavin membawanya pergi. Pertama-tama mereka berjalan ke rak sayuran. Gavin dengan cekatan mulai memasukkan berbagai jenis sayuran yang tertera di dalam list yang telah Mama tulis dengan rapi di atas selembar kertas. Lalu mereka beralih ke bagian daging. Gavin mengambil tiga kotak dada ayam fillet, dua kotak daging sapi kualitas super dan beberapa kotak ikan salmon. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat kesulitan untuk menemukan belanjaan yang ada di dalam daftar, padahal jumlahnya lumayan banyak.


Sementara Gavin masih sibuk memasukkan belanjaan lain ke dalam troli, Kalea mencuri kesempatan untuk melepaskan genggaman tangan lelaki itu. Mungkin karena terlalu fokus pada belanjaan, Gavin membiarkan tangannya lepas begitu saja dan ia langsung menggunakan kesempatan itu untuk melipir mencari keberadaan freezer karena ia berniat membeli beberapa es krim untuk ia nikmati selagi menemani Gavin berbelanja. Ini memang masih pagi, tapi udaranya cukup panas sehingga memakan es krim adalah pilihan yang paling tepat.


Namun saat akhirnya ia menemukan keberadaan freezer di supermarket itu, Kalea malah dibuat terdiam di tempat saat mendapati seorang anak perempuan tengah berjongkok di dekat freezer sembari memeluk lututnya sendiri. Anak perempuan berusia sekita tiga atau empat tahun itu menunduk sehingga Kalea tidak bisa melihat wajahnya. Tapi dari gerakan bahu anak itu yang naik turun juga sayup-sayup suara isakan yang terdengar, Kalea tahu kalau anak itu sedang menangis.


Selama beberapa waktu, Kalea hanya berdiri diam di tempatnya, tidak tahu harus melakukan apa. Barulah saat anak perempuan itu mengangkat wajahnya dan tatapan mereka bertemu, Kalea buru-buru berlari ke arah anak itu. Kalea berjongkok untuk menyejajarkan posisi tubuh mereka. Kemudian, tangannya terulur untuk mengusap jejak air mata di pipi gembil anak itu.


"Hai," sapanya pelan. Terkesan hati-hati karena ia tidak ingin membuat anak di depannya ini ketakutan.


"Mama kamu mana?" tanyanya. Si anak perempuan menggeleng lemah.


Kalea menghela napas. Seperti dugaannya, anak ini pasti sudah terpisah dari ibunya ketika sang ibu sedang asik belanja. Ibu-ibu jaman sekarang memang suka begitu. Suka lupa pada anaknya saat sedang asik belanja, apalagi kalau sedang ada diskon besar-besaran, semua hal juga sepertinya bisa dilupakan demi bisa mendapatkan barang diskon tersebut.


"Kamu mau ikut sama Kakak, nggak? Kita ke petugas keamanan biar dibantu cariin Mama kamu. Soalnya kalau cuma diam di sini, yang ada kamu nggak akan ketemu sama Mama kamu." Tawar Kalea. Karena ia tahu, tidak banyak orang dewasa yang akan mengunjungi area freezer apalagi sepagi ini.


Tak butuh waktu lama untuk anak perempuan itu menganggukkan kepala sembari menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kalea pun mengulurkan tangan untuk membantu anak itu bangkit. Ia terkagum-kagum saat tangan kecil itu berada di dalam genggaman tangannya. Seketika ia merasa bisa mengerti perasaan para ibu yang tidak ingin anak-anak mereka tumbuh dewasa dalam waktu cepat. Karena hanya dengan menggenggam tangan-tangan kecil seperti ini, sudah mampu untuk membuat hati Kalea merasa tenang.


Mereka lalu berjalan beriringan menuju tempat informasi setelah Kalea mencomot beberapa es krim dari dalam freezer dan memberikan sepotong yang rasa coklat kepada anak yang dia gandeng itu.

__ADS_1


Sembari memakan es krim rasa coklat di tangan, anak itu ikut saja kemana langkah kaki Kalea membawanya. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti saat sebuah suara memanggil dan membuat mereka menolehkan kepala secara serempak.


Bersambung


__ADS_2