
Observasi telah dilakukan selama beberapa hari, sampai akhirnya dokter menyatakan bahwa kondisi vital Gavin baik dan dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat untuk menjalani perawatan lanjutan.
Ventilator dan Defibrillator sudah dilepas dari tubuhnya, menyisakan selang infus yang masih menempel di tangan kirinya demi memenuhi asupan cairan yang dibutuhkan.
Para orang tua pulang ke rumah untuk sejenak beristirahat setelah melewati seratus hari lebih dengan kekhawatiran yang semakin hari semakin terasa mencekik, Karel sedang keluar membeli makan siang dan kini di ruang rawat bernuansa serba putih dengan fasilitas kelas satu itu hanya ada Gavin dan Kalea, dengan kedua tangan mereka yang saling tertaut.
Gavin duduk di atas ranjang, tatapannya sama sekali tidak beralih dari manik boba Kalea, menyelami mata indah yang selama seratus hari lebih cuma bisa dia lihat di dalam mimpi selama tidur panjangnya.
Tidak banyak yang berubah dari perempuan itu. Binar matanya masih sama, rambut panjangnya masih selalu dibiarkan tergerai indah hingga sebagian berhamburan menutupi wajah ayunya ketika angin berembus menerpa. Satu-satunya yang begitu terlihat berbeda dari perempuan yang kini duduk di samping ranjang pasien itu mungkin cuma kondisi perutnya yang sudah membuncit.
"Jangan ke mana-mana," ucap Gavin, dengan suara yang tidak cukup mampu untuk mengalahkan bisingnya suara perputaran angin dari air conditioner.
Tapi Kalea masih bisa mendengarnya, jadi dia mengulaskan senyum tipis dan mengeratkan genggaman tangan mereka seraya berkata, "Iya, aku nggak akan ke mana-mana." Dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.
Kalau saja Gavin tidak punya ketakutan bahwa dia mungkin tidak akan terbangun lagi setelah memejamkan mata, dia pasti akan segera tertidur setelah mendengar alunan suara merdu Kalea itu.
"Saya ... bersalah banyak sama kamu, Kal. Jadi, kamu jangan ke mana-mana sebelum saya menebus kesalahan saya itu, ya." Tatapan Gavin berubah sendu. Karena mau dipikirkan sebagaimana pun, dia tetap bersalah. Tidak pernah ada pembelaan yang cukup pantas untuk membuatnya jadi tidak bersalah atas apa yang telah dia lakukan kepada Kalea. Sekalipun ada, dia tidak akan cukup berani untuk menggunakannya. Karena dia memang bersalah.
__ADS_1
"Salah aku ke kamu juga banyak, jadi kamu juga nggak boleh ke mana-mana." Kalea mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Gavin dengan penuh perasaan sayang yang tidak terkira. Dia tahu hatinya telah hancur karena lelaki ini, tetapi tidak apa-apa, karena dia masih menyisakan banyak alasan untuk menerima Gavin kembali.
Katai saja dia bodoh, tidak apa-apa. Karena barangkali, cinta memang terlalu sulit untuk dicari pembenarannya melalui logika. Kalea hanya tidak ingin kehilangan Gavin, tidak ingin merasakan lagi betapa napasnya tercekat saat menemukan laki-laki yang dia cintai itu terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang pasien, hanya mengandalkan alat-alat medis untuk menopang kehidupannya. Di mana alat-alat itu bisa sewaktu-waktu berhenti bekerja, dan hidup Gavin akan berakhir saat itu juga.
Kalea tidak ingin merasakan ketakutan itu lagi, jadi dengan berbesar hati, dia akan mencoba menata kembali apa yang sudah berantakan, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki dan mencoba melupakan apa yang memang seharusnya tidak hadir di dalam ingatannya sejak awal.
"Kamu juga berhutang banyak penjelasan, kamu tahu itu."
Gavin mengangguk-anggukkan kepala. Lalu, tautan tangan mereka dilepas, hanya untuk berpindah ke tangan Kalea yang satunya, yang kini sedang mengusap lembut pipinya.
"Makasih, Kal. Makasih kamu udah mau kasih saya kesempatan ke-dua," bisiknya, sebelum membawa tangan Kalea ke hadapan wajahnya lalu melabuhkan kecupan di sana. "Makasih,"
Memikirkan nasib Choco yang tidak akan bisa melihat wajah ayahnya ketika bayi tak berdosa itu lahir ke dunia nanti, benar-benar membuat aliran napas Kalea serasa berhenti. Hatinya memang sakit jika mengingat kembali tentang Gavin yang masih berhubungan dengan perempuan lain ketika mereka sudah menikah. Tetapi, rasanya lebih sakit jika dia harus kehilangan lelaki ini selama-lamanya.
"Ayo kita mulai semuanya dari awal. Ayo kita perkenalkan diri sebagai dua teman masa kecil yang akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama, bukan sebagai dua orang asing yang bertemu hanya karena sebuah perjodohan. Ayo kita ulangi semuanya, Abang."
Hari ini, Kalea sudah memutuskan. Bahwa dia akan menutup kisah perjalanan hidupnya dengan Gavin yang singkat hanya sampai di sini saja. Kemudian, dia akan membuka lembaran yang baru, untuk memulai kembali kisah mereka dari awal. Di mana mereka adalah sepasang manusia yang saling mencintai, yang rela jatuh bangun demi sampai ke titik di mana mereka akhirnya dipertemukan dan dipersatukan oleh semesta.
__ADS_1
Hari ini, Kalea Dimitria memutuskan untuk mencintai Mahesa Gavin Cakraditya sekali lagi, dengan cara yang lebih baik.
...TAMAT...
Halooo, Readers...
Karena satu dan lain hal, saya memutuskan Serana selesai sampai di sini.
Terima kasih kepada kalian yang masih bersedia membaca sampai akhir, mohon maaf jika ada bagian-bagian di dalam cerita ini yang tidak sesuai dengan pendapat atau keinginan kalian.
Mohon maaf juga jika ending dari cerita ini mungkin tidak bisa memenuhi ekspektasi kalian.
Saya rasa, biarlah kisah Kalea Dimitria dan Mahesa Gavin Cakraditya yang menikah karena perjodohan selesai seperti ini.
Tapi, jika nanti Tuhan beri kesempatan, mari bertemu lagi untuk menyaksikan perjalanan mereka setelah mereka memulai kembali, ya.
Salam,
__ADS_1
Rain