
Malamnya, setelah puas bermain video game bersama Karel, Gavin pamit undur diri. Ia bangkit dari sofa ruang tengah, berjalan menghampiri Mama yang duduk di sofa ruang tamu dengan Kalea yang tidur di pangkuannya. Karel mengekor di belakang, bocah itu masih sesekali mendumal karena kalah dalam permainan terakhir mereka. Sebagai gamer profesional, Karel merasa harga dirinya dijatuhkan dengan cara yang tidak manusiawi oleh Gavin yang ngakunya sama sekali tidak pernah bermain game.
"Ma, saya pamit ya." Pamitnya kepada Mama. Wanita itu kemudian menghentikan kegiatannya mengusap kepala Kalea sekaligus mengalihkan pandangannya dari layar televisi di depan.
"Nggak nginep aja? Nanti tidur berdua sama Karel di kamar tamu." Tawar Mama yang sontak membuat Kalea mengangkat kepala dari pangkuannya dan menatap ibunya itu dengan tatapan tidak suka.
"Nggak, ah. Anak Mama galak." Ledek Gavin, melirik ke arah Kalea yang kini menatap sinis kearahnya. "Tuh, lihat aja, tatapan matanya udah kayak mau matiin saya sekarang juga." Lanjut Gavin yang sontak membuat Mama tergelak.
"Anak ini cuma tampangnya aja yang galak, aslinya mah cengeng. Masih kayak bocah."
"Kalau cengeng sih saya tahu." Sahut Gavin, kali ini berhasil membuat Kalea melotot dengan bibir yang cemberut.
"Soal cengeng mah udah jadi rahasia umum." Karel ikut-ikutan meledek. Bahkan dengan tidak tahu dirinya, bocah tengik itu mendorong tubuh Kalea agar menjauh dari Mama dan ia langsung memeluk Mama posesif sembari menyandarkan kepala di bahu wanita itu. "Kasihan Mama, punya anak kayak Kalea. Nyusahin." Lanjutnya.
Kalea memutar bola mata sebal. Kalau ada yang lebih menyusahkan, itu adalah Karel. Bocah tengik itu tidak ingat, ya, kalau dia pernah hampir membuat Ibun kena serangan jantung karena tingkah anehnya yang pura-pura mati tenggelam di bak mandi? Dasar, Karel itu ibarat pepatah yang mengatakan, gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Menyebalkan sekali.
"Udah sana lo anterin calon laki lo ke depan, gue mau manja-manjaan sama Mama. Hushh hussh!" Karel mendorong tubuh Kalea, membuat mulut si perempuan berkomat-kamit sewot.
"Don't touch me!" teriak Kalea saat Karel masih terus-terusan mendorong tubuhnya menjauh. "Tangan kamu kotor, bekas ngupil!"
"Enak aja! Tangan gue bersih! Otak lo tuh yang kotor!" Karel sewot sendiri. Padahal jelas-jelas Kalea melihat lelaki itu memang habis mengupil sebelum menyentuh lengannya tadi.
"Nyenyenye...berisik." Ketus Kalea. Kemudian ia bangkit dari sofa, berjalan melewati Gavin yang sedari tadi diam menikmati perseteruannya dengan Karel.
Sebelum mencapai pintu, Kalea menolehkan kepala karena hendak memeriksa keberadaan Gavin. Firasatnya mengatakan bahwa lelaki itu masih berdiri diam di tempatnya, tak kunjung menyusulnya sehingga membuatnya kesal. Ia sudah menyiapkan serangkaian kalimat umpatan, tapi tak satupun dari banyaknya kalimat itu yang berhasil keluar dari bibirnya karena ketika ia membalikkan badan, ia justru nyaris terjengkang ke belakang karena Gavin sudah berada persis di hadapannya, berdiri menjulang dengan tampang tak berdosa yang menyebalkan.
Kalau Gavin tidak menarik lengannya, Kalea mungkin sudah betulan jatuh. Tapi ditangkap oleh Gavin begini juga bukan suatu hal yang bagus. Karena sekarang, ia kewalahan menangani degup jantungnya yang kembali menggila.
"Selain galak, suka melamun dan hobi overthinking, ternyata kamu juga hobi jatuh, ya?" tanya Gavin dengan tampang super menyebalkan.
Kalea buru-buru melepaskan tangan Gavin dari lengannya, membalikkan badan dan kembali mengayunkan langkah lebar.
__ADS_1
"Nah, kalau begini pasti lagi salah tingkah."
Kalea tidak menghiraukan suara Gavin yang tengah meledeknya itu. Ia tetap berjalan sampai ke pintu depan dan akhirnya berhenti setelah membuka pintu itu lebar-lebar.
"Silahkan pulang, Bapak Mahesa Gavin. Tolong jangan sering-sering datang ke sini." Ucapnya sembari menunjukkan gestur mempersilahkan Gavin untuk keluar melewati pintu yang telah dia bukakan.
Tapi bukannya buru-buru berjalan keluar, Gavin malah terkekeh. Lelaki itu berhenti di depannya, mengusak pelan rambutya yang acak-acakan kemudian mencubit pelan pipinya.
"Lucu banget sih calon istri saya." Kata Gavin disertai senyum tipis.
"Lici bingit sih cilin istri siyi." Ledek Kalea yang kembali membuat Gavin tergelak.
"Malah ketawa! Udah sana buruan pulang!" tidak sabar menunggu Gavin yang tak kunjung bergerak, Kalea pun berinisiatif untuk menarik lengan lelaki itu. Ia kemudian menuntun Gavin menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan. Sama seperti yang lelaki itu lakukan padanya siang tadi sepulang dari supermarket, Kalea juga mendorong pelan kepala Gavin agar segera masuk ke dalam mobil setelah pintunya ia buka.
"Bye, Gavin!" teriak Kalea, kemudian ia menutup pintu mobil dengan keras. "Jangan ngebut, sampai rumah kabarin aku." Lanjutnya dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Siap, bos!" Gavin mengangkat tangannya setara kepala kemudian menempelkannya di pelipis. Memberikan sikap hormat yang pada akhirnya berhasil membuat Kalea terkekeh pelan.
Tidak ada lagi perbincangan yang terjadi, sebab setelah Gavin mengulaskan senyum tipis ke arahnya, lelaki itu kemudian melajukan mobilnya.
Setelah Gavin dan mobilnya sepenuhnya hilang dari pandangan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Langkahnya lebar ketika ia berjalan menghampiri Karel yang kali ini sudah tiduran di paha Mama, menikmati bagaimana Mama mengusap kepalanya penuh sayang.
Kalea mencebik. Dari dulu memang selalu begitu. Entah karena Mama ingin sekali punya anak laki-laki, atau dasarnya Karel yang terlalu pandai merayu. Tapi yang jelas, Kalea memang selalu menemukan Mama lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada bocah tengik itu. Pernah satu kali, ia berpikir bahwa dirinya bukanlah anak kandung Mama karena ketika ia dan Karel bertengkar, Mama akan cenderung berpihak pada anak itu.
"Kamu tuh punya ibu sendiri, Rel, jangan suka nemplok ke ibunya orang lain!" Kalea mendaratkan sebuah pukulan pelan di bahu Karel. Tapi lelaki itu tampaknya tidak cukup peduli dan malah memejamkan matanya erat.
"Ih, ngeselin banget." Omel Kalea. Akhirnya, karena tahu dia tidak akan bisa mendapatkan posisi di pangkuan Mama yang sudah jelas dikuasai oleh Karel, Kalea pun memutuskan untuk duduk di sisi Mama yang lain. Ketika melihat tangan Mama bergerak mengusap pipi Karel yang terlihat lebih chubby ketimbang hari-hari sebelumnya, rasanya Kalea ingin mencubit pipi itu menggunakan tang saking gemasnya. Tapi Kalea sadar, itu adalah tindak kriminal dan ia tidak bisa melakukannya. Jadi dia cuma bisa diam, pasrah saja saat Mama mulai mengajak Karel bicara dan sepenuhnya mengabaikan keberadaannya di sana.
"Daripada diem doang, mending pijetin kaki gue aja nggak sih, Kale? Pegel nih gara-gara kelamaan bersila di atas lantai."
Wah, saat Karel membuka mata dan mengatakan hal itu dengan begitu entengnya, rasanya Kalea benar-benar ingin menendang kepala lelaki itu sampai copot kemudian melemparkannya ke kandang Ruby, anjing milik Juli untuk dijadikan makan malam. Karel benar-benar tengil dan menyebalkan.
__ADS_1
"Ma, tuh liat si Kalea nggak mau disuruh mijetin kaki Karel. Padahal kan sebagai adik, dia harusnya berbakti ya sama abangnya?" Karel berusaha mencari dukungan dari Mama, dan sialnya perempuan itu mengabulkan permintaan bocah itu.
Dengan senyum tipis dan sorot mata teduh bak malaikat yang datang untuk menyelamatkan jiwanya, Mama berkata "Nggak boleh durhaka sama Abang, Kal. Buruan, pijetin kaki Abang." Yang membuat emosi Kalea langsung naik ke ubun-ubun. Kalau saja membunuh orang itu tidak dosa, mungkin dia akan melakukannya sekarang. Karena sungguh, dia betulan ingin memotong-motong tubuh Karel dan menjadikannya panjangan!
Karena tidak bisa merealisasikan niatnya, dan ia ingat bahwa Karel juga telah banyak berjasa dalam hidupnya, Kalea pun bangkit, berjalan gontai ke sisi sofa yang lain agar bisa lebih dekat dengan kaki Karel.
Detik ketika tangannya menyentuh kaki panjang Karel yang mulus tanpa ditumbuhi bulu-bulu seperti laki-laki dewasa pada umumnya, Kalea bisa melihat senyum iblis terbit di bibir Karel, membuat wajah kurang ajarnya semakin terlihat tidak tahu diri di mata Kalea.
Tapi sekali lagi, Kalea tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi dia mulai memijit kaki Karel walau dalam hati terus mendumal dan memaki teman baiknya ini.
Abang, abang. Abang tukang bakso?! Lihat aja, nanti aku balas dendam!
"Yang kenceng dong, itu nggak berasa."
"Berisik!"
"Aw!! Kencengan!"
"Katanya harus yang kenceng!"
"Nggak gini juga anjir! Ini namanya penyiksaan!"
"Cerewet!"
"Maaaa!!! Kaleoooo nih!"
"Diem!"
Tolong ingatkan Kalea untuk segera melancarkan aksi balas dendam.
Bersambung
__ADS_1