
Di halaman belakang, Karel bahkan tidak membiarkan sampai Gavin mengambil posisi duduk dulu di kursi. Dia langsung menodong Gavin dengan pertanyaan yang sama seperti yang sebelumnya dia lontarkan kepada Kalea.
"Lo sama Kalea lagi ada masalah apa?"
Dan sama seperti Kalea, Gavin juga menaikkan sebelah alisnya sebagai respon atas pertanyaan aneh tersebut.
"Nggak ada. Kami baik-baik aja." Gavin menjawab tanpa ragu.
"Jangan bohong!" desak Karel sembari memicingkan mata.
"Saya nggak bohong. Saya sama Kalea baik-baik aja, tuh." Gavin masih menjawab dengan sabar. Lalu saat dia melihat Karel masih saja melemparinya dengan tatapan curiga, muncul ide iseng di kepala Gavin untuk mengerjai Karel. Sepertinya asik juga kalau dia bisa membuat Karel sedikit kebakaran jenggot. Maka, dengan santainya dia berkata, "Kamu bisa lihat sendiri, kan, di leher Kalea itu apa? Nah, itu pertanda kalau kami memang baik-baik aja. Nggak mungkin dong, Kalea bisa punya tanda-tanda merah itu kalau kami lagi bertengkar?"
Bibir Karel terkatup rapat setelah mendengar hal tersebut. Berbanding terbaik dengan Gavin yang bersorak senang di dalam hati setelah melihat perubahan ekspresi di wajahnya, Karel justru merasa kesal dan ingin sekali melayangkan tinju ke wajah Gavin.
Tapi tentu saja dia tidak bisa melakukan itu. Alasan apa yang akan dia berikan kepada Kalea jika perempuan itu bertanya mengapa dia memukuli Gavin? Karena lelaki itu baru saja pamer bahwa dia sudah berhasil memiliki Kalea seutuhnya? Sungguh tidak masuk akal.
Akhirnya, karena sudah kalah telak, Karel pun membuang muka. Berusaha keras meyakinkan diri bahwa Kalea dan Gavin memang sedang baik-baik saja. Barangkali memang dia yang sedang terlalu khawatir saja pada Kalea. Lagipula, bukankah dia tadi mendengar sendiri bagaimana Kalea menggaungkan nama Gavin dengan riang sewaktu di studio?
"Kamu udah selesai nanya?" tanya Gavin yang membuat Karel terpaksa memaku tatap lagi dengannya. "Kalau udah, saya mau ke dalam. Kangen sama istri saya." Lanjutnya disertai kekehan menyebalkan.
Karel memutar bola mata malas. Sepertinya Gavin mulai gemar memamerkan diri sekarang. Dan demi Tuhan, itu menyebalkan.
Tapi berhubung masih ada hal lain yang perlu dia bicarakan dengan Gavin, Karel akhirnya menyuruh Gavin untuk duduk di salah satu kursi dan dia sendiri duduk di kursi lain yang berseberangan.
"Vin," panggil Karel setelah terdiam cukup lama.
"Apa?"
__ADS_1
"Stasiun tv lo lagi kekurangan ide buat bikin program baru, nggak?"
Sebuah pertanyaan tak biasa keluar dari bibir seorang Azerya Karelino Gautama, tentu saja hal itu membuat Gavin menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Apa yang terjadi pada laki-laki di seberangnya ini sehingga pertanyaan itu bisa terlontar? Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu? Atau jangan-jangan, yang sedang berhadapan dengannya saat ini bukanlah Karel melainkan sosok astral yang menyerupai lelaki itu?
Berhubung Gavin adalah manusia yang cukup rasional, dia mengesampingkan kemungkinan yang terakhir.
"Kenapa?" Gavin balik bertanya.
"Gue ada ide nih, siapa tahu cocok sama konsep stasiun tv lo."
"Ide apa?"
Gavin melihat Karel begitu bersemangat saat menegakkan badan dan mulai bergerak sedikit lebih condong ke arahnya. Mata laki-laki itu berbinar seakan penuh harap.
"Gue kepikiran kenapa lo nggak bikin sebuah acara di mana orang-orang yang sedang ingin mencari teman masa kecilnya bisa mendaftar untuk berpartisipasi di acara tersebut. Selama ini belum pernah ada stasiun tv mana pun yang bikin acara semacam itu, kan?"
"Nah, ini kesempatan bagus buat stasiun tv lo. Programnya orisinal, dan lo bisa bantu orang-orang. Dapet duit iya, dapet pahala juga iya. Jadi double, kan untungnya?"
"Kamu kok tiba-tiba bisa kepikiran ide ini?" tanya Gavin kemudian.
"Beberapa hari yang lalu, gue sempat lihat ada tagar yang lagi trending di Twitter. Isinya orang-orang yang lagi berusaha nyari teman masa kecilnya yang udah lama lost contact. Kalau gue lihat, masih banyak orang-orang yang nggak seaktif itu di sosial media. Makanya, gue kasih ide ini supaya lo bisa pertimbangkan." Karel memberi jeda sejenak untuk memeriksa reaksi Gavin. Dan saat menemukan laki-laki itu masih menaruh minat untuk mendengarkan, barulah Karel melanjutkan.
"Karena menurut gue, se-nggak aktif apa pun seseorang di sosial media, mereka pasti tetap bakal punya waktu untuk nonton tv. Selain itu, cakupan siaran televisi juga menurut gue lebih luas, bisa menyentuh ke semua kalangan. Nggak cuma yang muda kayak kita, tapi juga bisa mencapai ke orang-orang yang udah sepuh. Jadi, peluang untuk ketemu sama teman masa kecil yang lagi mereka cari bisa lebih besar, kan?"
Sekali lagi Karel memeriksa reaksi Gavin. Kali ini laki-laki itu tampak berpikir dengan serius. Terlihat dari ekspresi wajahnya dan gerak jari telunjuknya yang mengetuk-ngetuk meja yang membatasi mereka berdua.
Setelah menunggu selama beberapa saat, Gavin akhirnya kembali menaruh perhatian kepadanya. Karel merasakan dadanya bergemuruh menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir laki-laki itu.
__ADS_1
"Idenya oke." Kata Gavin, membuat Karel tersenyum senang. "Tapi saya tetap harus diskusikan ini dengan tim kreatif, karena mereka yang nantinya akan bertanggung jawab pada jalannya program tersebut."
Karel menganggukkan kepala maklum. Tentu saja dia tahu bagaimana prosedurnya. Untuk saat ini, yang terpenting adalah ide itu bisa sampai dulu ke telinga Gavin supaya laki-laki itu setidaknya bisa memberikan pertimbangan.
"Kalau tim lo setuju dan sekiranya lo butuh aliran dana, kasih tahu gue aja. Gue siap jadi investor buat program ini." Kata Karel dengan begitu semangatnya.
Sebenarnya, energi Karel yang terlalu menggebu-gebu itu membuat Gavin agak curiga. Tetapi dia memutuskan untuk menelan kecurigaan itu bulat-bulat setelah dia mengingat kembali beberapa postingan yang sebelumnya Karel sebutkan. Postingan yang beberapa juga dia baca dan berhasil membuat hatinya menghangat.
Mempertemukan dua orang yang telah lama terpisah sepertinya bukan ide yang buruk. Karena tidak semua orang memiliki keberuntungan yang sama dengan dirinya. Di mana dia bisa bertemu kembali dengan teman masa kecil yang dia sayangi dan berakhir dalam sebuah pernikahan.
"Oke, saya akan segera diskusikan masalah ini dengan tim saya besok." Final Gavin.
Karel bersorak senang dalam hati. Sudah pernah dia bilang, kan, kalau dia akan melakukan apa pun asal itu bisa membuat Kalea senang? Jadi kalau satu rencana yang dia buat gagal untuk membawa mereka bertemu dengan Abang, maka Karel akan terus mencari cara lain untuk menemukan keberadaan orang tersebut. Dia benar-benar akan berjuang, sampai titik darah ke penghabisan.
Oke, itu agak berlebihan. Tapi sungguh, Karel akan mengusahakan yang terbaik untuk Kalea.
"Ya udah, sekarang saya udah boleh masuk?" tanya Gavin setelah dirasa obrolan mereka cukup sampai di sini.
Tapi alih-alih menjawab, Karel malah bangkit lebih dulu dan mencuri start berlari ke dalam rumah.
Mulanya Gavin tidak paham dengan apa yang Karel lakukan. Tapi ketika bocah itu sudah berhasil melewati pintu dan berteriak kegirangan, barulah Gavin sadar kalau Karel sedang mengajaknya untuk balapan.
Katanya, "Siapa yang lebih dulu sampai di depan Kalea, dia yang menang!"
Gavin tidak tahu mengapa dia langsung bangkit dan berlari menyusul Karel. Padahal, laki-laki itu tidak secara jelas memberitahu mereka sedang bertaruh dengan apa. Tubuhnya seperti bergerak sendiri secara otomatis.
"Kamu nggak boleh menang!" teriaknya sebelum aksi kejar-kejaran itu dimulai.
__ADS_1
Bersambung