
Tengah malam, Gavin terbangun karena mendengar Kalea bergumam di dalam tidurnya. Ketika Gavin menyalakan lampu tidur di atas nakas, dia menemukan Kalea bergerak gelisah di dalam tidurnya. Kening perempuan itu berkerut dan bibirnya berkomat-kamit mengeluarkan gumaman tidak jelas.
Berusaha untuk tetap tenang, Gavin beringsut mendekat. Dan ketika tangannya bersentuhan dengan tubuh Kalea, Gavin dibuat terkejut bukan main karena suhu tubuh perempuan itu sangat tinggi.
Gavin lalu mengulurkan tangan dan menempelkan punggung tangannya di dahi Kalea. Dan benar saja, perempuan itu demam.
Masih berusaha untuk tidak panik, Gavin menarik laci nakas dan mengambil termometer dari sana. Gavin lalu memasukkan benda itu ke rongga telinga Kalea untuk memeriksa suhu tubuhnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika benda mungil itu menampilkan angka 40. Demam Kalea tinggi sekali.
"Kal?" panggilnya pelan. Tetapi Kalea sama sekali tidak menyahut. Racauan yang keluar dari bibirnya malah semakin parah.
Akhirnya, Gavin bangkit dari kasur. Dia berlarian keluar dari kamar. Menuruni tangga dengan terburu-buru menuju ke dapur.
Dengan penerangan yang minim, sebab dia terlalu panik untuk lebih dulu menyalakan lampu, Gavin membuka satu persatu laci tempat menyimpan perabotan untuk mencari keberadaan baskom. Setelah ketemu, dia membawa baskom berukuran sedang itu ke wastafel dan langsung mengisinya dengan air. Beruntung wastafel di rumah ini sudah dilengkapi dengan water heater sehingga dia tidak perlu repot memasak air menggunakan kompor.
Lalu, Gavin membawa baskom berisi air itu kembali ke dalam kamar. Dia sempat hampir tersandung kakinya sendiri karena terlalu terburu-buru menaiki tangga. Beruntung dia masih bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak terjadi bencana yang lebih parah.
Sampai di kamar, Gavin meletakkan baskom berisi air ke atas nakas kemudian dia berlari ke lemari dan kembali tak lama kemudian sambil membawa dua buah handuk berukuran kecil.
Gavin duduk di pinggiran kasur, mulai mencelupkan satu handuk ke dalam air hangat dan memerasnya kemudian dengan telaten meletakkan handuk itu di dahi Kalea.
Keringat dingin mulai membasahi wajah Kalea setelah kompres itu diletakkan dan Gavin tanpa ragu menyekanya menggunakan handuk kecil Iain yang masih kering.
Racauan demi racauan masih terus keluar dari bibir Kalea sedangkan Gavin cuma bisa melakukan pertolongan pertama yang dia tahu sambil memikirkan langkah apa yang harus dia ambil selanjutnya. Jam hampir menunjukkan pukul tiga pagi dan dia terlalu tidak enak untuk membangunkan orang tua Kalea.
Bermenit-menit kemudan, Gavin mengangkat kompres dari dahi Kalea untuk menggantinya dengan yang baru. Gavin mengusap kepala Kalea beberapa kali dalam usaha untuk menekan rasa khawatirnya sendiri. Sungguh, dia tidak pernah terpikir akan melihat Kalea dalam kondisi sakit seperti ini.
Kantuk sudah tidak lagi dia hiraukan, dia memutuskan untuk berjaga sampai pagi. Setidaknya sampai dia bisa mencari bantuan agar Kalea bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.
...****************...
__ADS_1
Paginya, saat dia pikir demam Kalea akan mereda, Gavin justru menemukan keadaan Kalea semakin parah. Demamnya masih tinggi, keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering masih terus berkomat-kamit mengeluarkan racauan tidak jelas.
Karena panik, Gavin segera mengangkat tubuh Kalea dan membawanya keluar dari kamar. Dengan langkah yang terburu-buru dia sedikit berlarian menuruni tangga.
Di ruang tengah, Gavin terpaksa menghentikan langkahnya sebentar karena dia bertemu dengan Bi Imah yang baru saja muncul dari pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap khawatir saat menemukan eksistensi Kalea yang sedang berada di dalam gendongannya.
"Neng Kalea kenapa?" tanya Bi Imah sembari berjalan mendekat.
"Kalea demam, saya mau bawa ke rumah sakit." Jawab Gavin dengan napas yang terdengar ngos-ngosan. Akibat dari berlari-lari juga karena menahan panik.
"Saya bangunin Bapak sama Ibu biar ikut anterin ke rumah sakit ya, Mas?"
"Nggak usah, Bi." Cegah Gavin. "Saya buru-buru. Kelamaan kalau nunggu Mama dan Papa bangun. Saya bawa Kalea ke rumah sakit aja sekarang, nanti kalau Mama dan Papa udah bangun, baru Bi Imah kasih tahu mereka."
"Ya udah kalau gitu, Mas. Mari, Bibi bantu."
"Mas Gavin yakin bisa sendiri? Atau Bibi ikut aja ya, Mas?" tanya Bi Imah sekali lagi selagi Gavin berkutat dengan seatbelt.
Tapi lagi-lagi Gavin menolak tawaran Bi Imah. "Saya sendiri aja. Bi Imah di rumah aja, tolong siapkan perlengkapan apa pun yang dibutuhkan, takutnya Kalea harus dirawat inap."
"Baik, Mas. Tapi Mas Gavin hati-hati nyetirnya."
"Iya." Setelah itu, Gavin segera menginjak pedal gas.
Mobilnya melaju membelah jalanan yang sudah mulai ramai. Sekarang pukul setengah delapan pagi, sudah banyak orang yang keluar dari rumah untuk melakukan aktivitas. Beruntung jalanan belum terlalu macet, jadi dia masih bisa mengemudi dalam kecepatan rata-rata.
Di sepanjang perjalanan, Gavin merasakan dadanya bergemuruh hebat. Berkali-kali dia menoleh ke arah Kalea, hanya untuk memastikan perempuan itu masih bernapas. Sesekali dia menempelkan punggung tangan di dahi Kalea untuk memeriksa apakah demamnya semakin naik atau tidak, walau dia tahu tangannya bukanlah termometer yang bisa mengukur suhu tubuh dengan akurat.
Empat puluh lima menit di jalan, Gavin akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, Gavin segera menggendong Kalea keluar dari mobil. Dia disambut oleh petugas yang dengan sigap mendorong brankar ke arahnya.
__ADS_1
Dengan dibantu oleh dua petugas, Gavin menidurkan Kalea di atas brankar dan mereka mulai mendorong brankar tersebut menuju ke IGD.
Sesuai prosedur, Gavin diarahkan untuk menunggu selama proses pemeriksaan dilakukan terhadap Kalea di dalam ruangan. Seorang suster kemudian berjalan menghampiri dan mengarahkannya untuk mengisi beberapa berkas di bagian administrasi.
Di tengah kepanikan yang membuat kepalanya serasa nyaris meledak, Gavin mengikuti arahan suster tersebut dan mengurus segala berkas yang diminta.
Selesai dengan urusan administrasi, Gavin kembali ke depan IGD. Dia tidak bisa diam, terus mondar-mandir sembari menggigiti kuku jarinya dengan gerak gelisah yang kentara.
Beberapa saat kemudian, dokter perempuan berusia sekitar akhir tiga puluhan keluar dari dalam ruangan dan langsung menghampiri Gavin.
"Keluarga pasien?" tanya dokter itu memastikan.
"Saya suaminya, Dok." Jawab Gavin dengan suara sedikit bergerak.
Dokter perempuan itu mengangguk. "Sejak kapan pasien demam?" tanyanya lagi.
"Semalam, Dok. Saya sudah berusaha kompres dengan air hangat, tapi sampai pagi demamnya belum juga turun."
Si dokter kembali menganggukkan kepala. "Saya sudah melakukan pemeriksaan, tetapi untuk mendapatkan diagnosis penyakit dengan lebih tepat, kita perlu menunggu hasil laboratorium dulu ya, Pak. Tadi saya sudah mengambil sampel darah istri Bapak untuk diperiksa." Jelas sang dokter.
"Untuk saat ini, Bapak tidak perlu khawatir, saya sudah memberikan obat untuk membantu menurunkan demamnya." Lanjut dokter itu dengan senyum yang menenangkan.
Mendengar penjelasan dokter tersebut tentu tidak cukup membuat Gavin bisa menghela napas lega, karena dia masih belum tahu penyakit apa yang Kalea derita dan seberapa parah penyakit itu.
Tetapi, Gavin tetap mengucapkan terima kasih kepada dokter tersebut dan mempersilakan wanita itu untuk pergi dari hadapannya.
Kemudian, Gavin berjalan mendekat ke arah pintu IGD sembari terus berdoa semoga keadaan Kalea akan segera membaik.
Bersambung
__ADS_1