Serana

Serana
Can I Go A Little Rough?


__ADS_3

Gara-gara Kalea sakit dan Gavin harus menjaga perempuan itu agar tetap berada di dalam pengawasan, Gavin jadi membolos kerja selama berhari-hari dan pekerjaannya menjadi tidak maksimal karena dikerjakan di tempat yang tidak proper. Dan berhubung hari ini mereka sudah kembali ke rumah, Gavin berniat untuk lembur semalaman dengan meminjam ruang kerja Papa yang letaknya di lantai dua, persis di sebelah kamar Kalea.


Tetapi baru jam sebelas malam, konsentrasi Gavin sudah kembali pecah karena Kalea yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan setelah mengetuk beberapa kali. Perempuan itu muncul sambil membawa segelas air putih dan sebuah botol kecil yang Gavin yakin isinya adalah vitamin.


"Kamu mau lembur sampai jam berapa?" tanya Kalea setelah menyodorkan sebutir vitamin ke arahnya, disusul gelas berisi air yang langsung dia terima dengan senang hati.


"Satu, atau mungkin tiga? I don't know." Jawab Gavin, lalu segera menelan vitamin yang Kalea berikan.


"That's not a good idea," ucap Kalea.


Gavin meletakkan kembali gelas yang sudah setengah kosong di atas nakas di belakang tubuhnya, demi menghindari skenario buruk bahwa air di dalam gelas itu bisa saja tumpah di atas meja kerja dan membuatnya terlibat masalah lain.


"Kerjaan saya banyak, Kal. Kalau nggak begitu, nggak akan selesai."


"But I'm going to sleep right now," rengek Kalea, membuat Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Ya udah, tidur aja. Emang apa masalahnya?" tanya Gavin, sangat-sangat tidak peka pada apa yang berusaha Kalea sampaikan.


Kalea memberengut, menggembung-gembungkan pipinya yang tirus sehingga tampak lucu di mata Gavin.


"Apa?" tanya Gavin lagi. Karena bukannya berbicara, Kalea malah melipat tangan di depan dada dan mendengus sebal beberapa kali.


Kalea menatap tajam ke arah Gavin. Suaminya ini benar-benar sangat tidak peka. Menyebalkan sekali!


"Saya nggak bisa baca pikiran kamu, Kal," ucap Gavin yang mulai frustrasi karena Kalea belum juga mengutarakan niatnya.


Kalea membuang napas keras-keras sebelum menjawab, "Aku maunya tidur sama kamu! Mau dipeluk!" kemudian membalikkan badan dan hendak pergi dengan langkah yang mengentak-entak.


Tetapi sebelum langkahnya sempat terayun, Gavin sudah lebih dulu menarik lengannya sehingga membuat tubuhnya limbung dan jatuh ke pangkuan lelaki itu.


"Say it again." Titah Gavin dengan suara berat dan napas yang berembus hangat menerpa lekuk leher Kalea yang terbuka. Kedua lengannya melingkar di tubuh Kalea, memeluk erat dari belakang seolah enggan membiarkan perempuan itu kabur dari dekapannya.

__ADS_1


"Say what?" tanya Kalea. Dia tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan Gavin meskipun sebenarnya dia mulai merinding karena napas Gavin terus-menerus menerpa lehernya.


"Yang kamu bilang ke saya tadi." Gavin semakin merendahkan nada suaranya, seolah sengaja ingin menggoda Kalea. "Kamu bilang apa tadi? Mau tidur sama saya? Mau dipeluk? Seperti ini?" seraya mengeratkan pelukan dan mulai mengendus lekuk leher Kalea sehingga membuat sang empunya menggeliat geli.


"Stop it, Gavin! Geli!" saat Gavin semakin kuat mengendus kulit lehernya, barulah Kalea meronta.


Tetapi sudah terlambat, tentu saja. Karena singa lapar yang hidup di dalam diri Gavin sudah terlanjur bangun dan siap menyantap hidangan utamanya malam ini.


"Nggak ada kata stop kalau saya udah mulai, Kal. Salah kamu sendiri karena udah mancing-mancing saya tadi." Bisik Gavin. Kemudian, dia bukan cuma mengendus leher Kalea, tetapi mulai melabuhkan kecupan-kecupan basah di leher jenjang itu.


"Ma-maksud aku nggak gini!" kata Kalea terputus karena dia sekaligus harus berusaha menaha suara-suara aneh yang akan keluar dari bibirnya jika Gavin terus melanjutkan kegiatannya.


Gavin jelas tidak peduli. Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, kalau sudah mulai, dia tidak akan berhenti. Maka, setelah puas menguasai leher jenjang perempuan itu, Gavin membalikkan tubuh Kalea dalam satu kali sentakan.


Tidak membiarkan Kalea memiliki waktu untuk bernapas dengan normal, Gavin langsung menyerbu bibir ranum perempuan itu, menyesap setiap belahnya dengan penuh perasaan, tetapi masih tetap terkesan hati-hati seperti saat dia pertama kali melakukannya.


Kalea yang tahu bahwa menghindar sudah tidak bisa lagi dijadikan opsi pun akhirnya cuma bisa pasrah, merelakan bibirnya dijamah oleh Gavin dengan semaunya sendiri sambil berusaha untuk mengimbangi setiap gerakan yang lelaki itu buat. Lengannya terulur tanpa sadar, mengalung indah di leher Gavin hingga membuat tautan mereka semakin dalam.


"Akh!" Kalea memekik saat tangan besar Gavin tahu-tahu sudah menelusup ke dalam bajunya, mengusap punggungnya dengan gerakan lamat yang memabukkan dan bibir lelaki itu mulai kembali menyapa leher jenjangnya.


"I love your body scent," ucap Gavin setelah menyapukan lidahnya di leher Kalea sebelum mendaratkan satu lagi kecupan basah di sana. "It's kinda sweet and ... I don't know, you're just driving me crazy, Kal." Lanjutnya. Kemudian, dia menjauhkan wajahnya dari leher Kalea, sedikit mendongak sehingga tatapan mereka bertemu.


Pada mata sebulat boba itu, Gavin meletakkan seluruh bentuk puja yang dia punya untuk sang empunya. Dia letakkan semua perasaan yang selama ini tersimpan rapat di salah satu ruang di hatinya, dibiarkan menyebar ke mana saja asal labuhan terakhirnya adalah Kalea.


"Have I ever told you that you're so fcking gorgeous even when you're doing nothing?" tanya Gavin, yang justru membuat rona merah muncul di belah pipi Kalea dan perempuan itu buru-buru mengalihkan pandangannya.


"Look at me when I'm talking to you, Boo." Gavin meraih wajah Kalea, membuat tatapan mereka kembali bertemu.


"Can I do it tonight?" tanya Gavin sembari mengusap pelan pipi Kalea yang semakin memerah. "I'm not going to touch you again if you say no."


Sebuah suara di kepalanya memberi tahu Kalea agar dia segera menggeleng lalu melompat turun dari pangkuan Gavin selagi lelaki itu memberinya kesempatan. Tetapi sialnya, sebuah suara yang lain berteriak lebih lantang dan seolah memaksa Kalea untuk segera mengangguk sebelum mereka kehilangan momennya.

__ADS_1


Dan, sudah bisa ditebak bukan suara mana yang menang?


Iya, Kalea akhirnya mengangguk. Bagai tidak lagi tahu apa itu artinya malu, dia menjadi orang pertama yang bergerak mendekat, menarik kepala Gavin sehingga dalam sekejap bibir mereka kembali bertemu.


Ciuman itu berlangsung selama berpuluh-puluh detik, tetap berada pada tempo yang teratur dan sama sekali tidak menuntut meskipun mereka berdua sama-sama tahu bahwa gejolak yang ada di dalam diri mereka sudah tidak lagi bisa ditahan.


Pada jeda waktu ketika tautan mereka terlepas untuk mengambil napas, Gavin tiba-tiba saja bangkit dari duduknya. Membawa tubuh kecil Kalea ke dalam gendongan sehingga perempuan itu mau tak mau langsung melingkarkan kakinya di pinggang Gavin, lengannya semakin erat mengalung di leher lelaki itu.


"Kayaknya seru kalau kita main di sini. But, this is Papa's room, so we can't do that." Kata Gavin yang paham akan arti tatapan Kalea yang bingung mengapa tubuhnya tiba-tiba diangkat.


Kalea tidak menyahut, dia hanya semakin mengeratkan pegangannya di leher Gavin ketika lelaki itu mulai melangkah lebar keluar dari ruang kerja Papa, menuju kamarnya.


Seolah sudah tidak bisa menahan diri lebih lama, Gavin kembali meraup bibir Kalea ketika mereka baru sampai di dalam kamar. Sesapan demi sesapan tercipta, diringi suara desah halus yang barangkali hanya bisa didengar oleh mereka berdua saja.


Gavin menutup pintu menggunakan satu tangan, memutar kunci dan segera berjalan menuju kasur ketika tautan bibir mereka terasa semakin intens.


Dengan sangat hati-hati, Gavin merebahkan tubuh Kalea di kasur, membiarkan perempuan itu mengambil napas sebanyak-banyaknya selagi dia menanggalkan kaus miliknya dan mencampakkannya begitu saja di atas lantai.


"Can I go a little rough tonight?" tanya Gavin yang sudah berada di atas Kalea, mengungkung tubuh kecil di bawahnya itu sembari menatap lekat-lekat manik boba perempuan itu.


Kalea tidak mengerti apa yang Gavin maksud dengan little rough, tetapi berbekal rasa percaya yang dia punya, Kalea menganggukkan kepala. Sejauh ini, dia masih yakin kalau Gavin tidak akan melukai dirinya.


Kemudian, kecupan demi kecupan, sentuhan demi sentuhan Gavin ciptakan, membuat Kalea cuma bisa pasrah menerima semua itu sembari berusaha menahan diri untuk tidak meracau ketika akhirnya tubuhnya dan tubuh Gavin telah sama-sama bersih.


"Don't hold your moan, Boo. I want to hear you scream my name." Bisik Gavin.


Kalimat Gavin barusan serupa sihir, yang seketika berhasil membuat Kalea melupakan segala hal, mengosongkan kepala dan tidak lagi dapat menahan bibirnya dari racauan-racauan tidak jelas.


Lalu, setelah mengecup bibir Kalea dan mengusap wajah perempuan itu pelan, Gavin berkata, "I'm going to put it in, Boo." Sebagai aba-aba bahwa dia akan memulai perjalanan mereka menuju surga.


"If it hurts you so much, please tell me, and I'll stop." Kata Gavin untuk yang terakhir kali, sebelum tubuh mereka kembali menyatu dan Kalea dibuat gila di bawah sana.

__ADS_1


Tepat tengah malam, mereka kembali mengunjungi surga yang tanpa sadar telah lama mereka rindukan.


Bersambung


__ADS_2