
Sejak tangan besarnya menyeret Kalea untuk pergi dari gedung hotel hingga akhirnya mereka sampai di restoran tak jauh dari sana, Gavin masih enggan membuka suara. Bahkan ketika piring-piring mulai diantarkan ke meja dan pelayan bertanya apakah ada hal lain yang bisa dibantu, Gavin sama sekali tidak menjawab. Ia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri, membiarkan Kalea mengambil alih tugas berbicara dengan orang-orang yang mereka temui selepas pertemuan tak terduga mereka dengan sosok perempuan bernama Irina tadi.
Lama sekali Gavin hanya diam memandangi nasi goreng seafood yang ada di hadapannya. Selera makannya lenyap seketika saat matanya menangkap beberapa potong udang di atas piring. Sebab ia kembali teringat pada gadisnya. Gavin suka udang. Makanan favoritnya sejak kecil adalah udang saus balado bikinan Bunda, tapi sejak mengenal gadisnya, Gavin hampir tidak pernah lagi menyantap udang karena gadisnya alergi pada makanan laut tersebut.
"Kenapa?"
Kepalanya mendongak tatkala suara Kalea menginterupsi. Ia mendapati gadis itu tengah menatapnya keheranan. Di depan mulutnya sudah ada satu sendok penuh nasi goreng yang siap dilahap, namun agaknya gadis itu terpaksa mengurungkan niat karena melihatnya yang masih tidak berniat menyentuh makanannya sama sekali.
"Kamu nggak suka seafood? Mau aku pesenin yang lain?" sendok kembali diturunkan ke atas piring. Kalea sudah siap memanggil pelayanan untuk mengganti pesanannya, namun Gavin cepat-cepat mencegah.
"Nggak usah. Saya makan ini aja."
Kemudian, Gavin meraih sendok dan mencoba menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Ia makan dalam diam, mengunyah nasi di dalam mulutnya dengan gerak lambat sementara kepalanya masih terasa ribut dengan berbagai macam hal yang semakin dipikirkan semakin terasa kusut. Ada potongan-potongan kejadian yang berputar di kepalanya secara acak, terus berganti dalam waktu cepat persis seperti gulungan kaset yang telah rusak. Ia mencoba mengurai satu persatu hal yang mengusiknya, namun yang ia dapati justru hal-hal itu menjelma menjadi sesuatu yang semakin membuat kepalanya terasa penuh.
"Kalau emang nggak suka, jangan dipaksa, Gavin."
Gavin berhenti mengunyah. Ia mendongak, hanya untuk mendapati Kalea tengah menatapnya serius.
"Apa?" tanyanya kebingungan. Karena sejujurnya, untuk beberapa saat, ia telah mengartikan ucapan Kalea barusan sebagai sesuatu yang lain.
"Nasi gorengnya. Kalau kamu emang nggak suka, jangan dipaksa untuk makan. Aku pesenin yang lain aja. Kamu mau apa?"
"Nggak usah, Kalea. Saya makan yang udah ada aja."
"Gavin," ucap Kalea pelan, masih berusaha meyakinkannya untuk tidak memaksakan diri memakan apa yang sudah disediakan. Tapi Gavin tidak memedulikannya. Karena toh dia sudah terbiasa melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan. Dia sudah terbiasa untuk tidak melakukan apa yang ia sukai, dan hanya menurut pada apa yang sudah digariskan untuknya. Gavin sudah terbiasa hidup dengan mengikuti alur yang sudah ditentukan, jadi sekarang ini dia sudah tidak punya daya untuk memaksakan kehendaknya sendiri. Tidak sedikit pun.
Jadi pada akhirnya, Gavin memutuskan untuk tidak meneruskan perdebatannya dengan Kalea. Setelah nasi goreng di mulutnya selesai dikunyah dan ia telan dengan susah payah, Gavin kembali menyuapkan sesendok lagi ke dalam mulutnya. Begitu terus sampai nasi goreng di piring perlahan-lahan berkurang. Sesekali ia melirik Kalea yang justru terdiam menatapi dirinya, sepenuhnya lupa pada nasi goreng miliknya yang dibiarkan mendingin tanpa berkurang sedikitpun.
Merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada, Gavin kembali meletakkan sendoknya. Ia meraih gelas berisi air putih dan langsung meneguknya hingga tandas, kemudian menatap Kalea serius.
"Kenapa nggak dimakan? Kamu tadi berisik banget minta makan, kenapa sekarang malah dianggurin makanannya?" tanyanya. Matanya masih tidak lepas dari manik boba Kalea yang kali ini terlalu sulit untuk ia baca.
Namun alih-alih menjawab pertanyaannya, Males justru melemparkan pertanyaan lain kepadanya.
"Kamu kenapa?"
"Saya? Emangnya saya kenapa?" Gavin menunjuk dirinya sendiri dengan penuh keheranan.
"Kamu aneh, Gavin."
"Nggak ada yang aneh."
"Banyak." Kalea menyela. "Sejak tadi waktu kamu tiba-tiba nyeret aku pergi pas aku masih ngobrol sama Irina, sampai beberapa saat lalu pas makanan kita diantar, kamu bersikap aneh. Kamu cuma diam, nggak banyak omong dan beberapa kali nggak dengerin juga aku ngomong apa." Kalea menyingkirkan piring dari hadapannya, kemudian melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Gavin serius.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu? Atau apa? Apa yang salah, Gavin?" desak Kalea.
Gavin harus menarik napas sebanyak-banyaknya demi menekan egonya agar tidak meledak-ledak saat ini juga. Kepalanya pening sekali, dan mendengar celoteh Kalea sama sekali tidak mempermudah keadaan. Gavin ketakutan. Ia takut akan lepas kendali dan terpaksa menunjukkan sisi buruknya di hadapan Kalea jika gadis itu terus memaksanya untuk buka suara. Maka, sebelum semua itu terjadi, Gavin mengulurkan tangan, meraih tangan Kalea dan menggenggamnya begitu erat. Berharap dengan begitu keresahannya bisa berangsur mereda.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika matanya bertemu dengan manik boba Kalea yang tampak rapuh dan kebingungan di saat yang bersamaan, Gavin merasa bendungan tempatnya menyimpan segala macam emosi jebol seketika. Genggaman tangannya mengerat, gigi-giginya terkatup rapat dan ia terpaksa memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya buka suara.
"Suasana hati saya lagi nggak baik sekarang, Kalea." Katanya setelah kedua matanya kembali terbuka. "Jadi, boleh saya minta tolong sama kamu untuk nggak banyak bertanya? Saya cuma nggak mau menunjukkan sisi tidak baik saya di hadapan kamu."
Ada jeda beberapa detik sampai Kalea menghela napas kemudian menarik tangannya, meninggalkan kehampaan di satu sudut dalam hati Gavin ketika tangan kecil itu sepenuhnya terlepas dari genggamannya.
"Maaf."
Nggak. Jangan minta maaf, Kalea.
"Ayo kita pulang." Kalea sudah bangkit dan meraih tas tangannya di atas meja, tapi Gavin tampak masih enggan beranjak.
"Kalau kamu masih mau di sini, nggak apa-apa, aku pulang sendiri aja."
Seharusnya, saat Kalea berkata begitu, Gavin segera bangkit dan menahan lengan Kalea agar gadis itu tidak nekat pulang sendiri. Tapi yang terjadi justru ia hanya teridam di tempat, tak bergerak sama sekali bahkan sampai Kalea mengucapkan kalimat pamit yang entah mengapa terasa begitu menyakitkan untuk didengar.
"Oke, aku pulang. Semoga suasana hati kamu cepat membaik, supaya kamu nggak bersikap kayak gini dan bikin aku kebingungan." Kemudian gadis itu betulan berlalu, melangkah cepat meninggalkan dirinya yang kini sibuk mencaci maki diri sendiri karena telah gagal mengendalikan emosi.
*******
Karel muncul dari dapur, membawa dua gelas jus alpukat hasil nyolong di pohon milik Ibun yang ditanam di pekarangan belakangan rumahnya. Ekspresi wajahnya tampak kesal, matanya memicing menatap Kalea yang terlihat santai saja duduk di atas sofa ruang tengah sembari mengunyah kacang telur buatan Mpok Nuriah.
"Itu orang kayaknya hobi banget ninggalin lo sendirian." Cerca Karel. Ia menyodorkan segelas jus ke hadapan Kalea dan langsung diterima dengan senang hati oleh gadis itu. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sebelah, ikut-ikutan mencomot butiran kacang telur dari toples di pelukan Kalea.
"Bukan dia yang ninggalin aku, tapi aku yang ninggalin dia." Kalea berucap santai, seolah perkara ia pulang sendirian bukanlah suatu masalah yang serius. Padahal bagi Karel, ini jelas suatu masalah yang tidak bisa disepelekan. Setelah kejadian malam itu, ia tidak bisa lagi membiarkan Kalea keluyuran sendirian apalagi di malam hari. Saking parnonya, ia sampai rela jadi supir dadakan untuk Kalea demi memastikan gadis itu aman. Melihat reaksi Kalea yang biasa saja sekarang ini tentu membuatnya kesal bukan main.
"Justru itu masalahnya. Kalau lo sampai mutusin buat pulang duluan, artinya ada yang nggak beres. Bilang sama gue, ada masalah apa?" Karel merebut toples dari pelukan Kalea, membuat si gadis memberengut dengan mulut yang penuh.
"Buruan bilang." Desaknya, tapi Kalea masih enggan membuka suara. Gadis itu malah mengalihkan pembicaraan dengan membahas tentang jus alpukat yang rasanya terlalu manis.
"Jangan ngalihin pembicaraan." Kesal Karel. Kalau sudah begini, ia yakin memang sudah terjadi sesuatu antara Kalea dan Gavin.
"Nggak ada, Karel. Si Gavin masih mau ngurusin banyak hal, tapi aku udah capek, makanya aku pulang duluan."
"Jangan bohong."
"Nggak bohong."
"Kalau emang nggak bohong, coba sini ngomongnya sambil lihat mata gue."
__ADS_1
Kalea betulan menoleh. Karel tidak menyia-nyiakan kesempatan, langsung bertindak cepat menelisik manik boba yang kini menatapnya serius. Namun ia tidak menemukan apa-apa di sana. Tidak ada kebohongan yang coba disembunyikan, membuatnya mendesah frustasi karena feeling nya mengatakan kalau Kalea dan Gavin memang sedang terlibat suatu masalah.
Karena modal feeling saja tidak akan cukup mampu untuk membuat Kalea membuka suara, maka yang bisa Karel lakukan cuma menghela napas kemudian menyeruput jus alpukat miliknya dalam diam. Pandangannya masih tidak lepas dari Kalea yang kini sibuk menonton siaran berita.
"Kita mau jalan jam berapa?" tanya Kalea tiba-tiba, menolehkan kepala di saat Karel masih menatap ke arahnya.
"Setengah tujuh." Karel menjawab setelah memeriksa ponselnya untuk melihat jam. Sekarang baru jam lima lewat lima belas menit, masih ada cukup banyak waktu sebelum mereka berangkat ke bioskop. Dan waktu sebanyak itu seharusnya bisa ia gunakan untuk kembali mendesak Kalea menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Karel tidak melakukannya. Sebagai gantinya, ia bangkit dari sofa, berjalan santai ke halaman belakang dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana pendek sedangkan satu tangan lagi memegang gelas berisi jus alpukat. Untuk membuat Kalea bicara, ia perlu memberikan pancingan alih-alih terus mendesaknya.
"Mau kemana?"
"Halaman belakang." Jawabnya tanpa menolehkan kepala. Ia terus melangkah karena tahu Kalea akan mengikutinya tidak lama lagi.
Dan benar saja, tepat ketika ia mendudukkan diri di kursi kayu di halaman belakang, gadis itu muncul dari pintu dengan wajaj cemberut.
"Lah, kenapa?" tanyanya kebingungan.
Kalea tidak menjawab. Ia mendudukkan diri di seberang Karel, melipat kedua tangan di depan dada dengan masih mempertahankan wajah cemberutnya. Kalea terdiam cukup lama, membuat Karel berdecak sebal karena merasa tidak sabar untuk menunggunya buka suara.
"Ngomong, buruan." Kesal Karel. Ia ikut-ikutan bersedekap, menegakkan punggungnya yang semua bersandar di kursi hanya untuk bisa melihat wajah cemberut Kalea dari jarak yang lebih dekat.
"Laki-laki tuh emang suka gitu ya, Rel?"
Sebelah alis Karel terangkat, bingung. "Gitu gimana maksudnya?"
"Ya gitu, tiba-tiba berubah sikapnya tanpa alasan yang jelas. Sedetik baik, sedetik kemudian galak. Sedetik ketawa, sedetik kemudian cemberut. Cowok emang sesusah itu ya buat ditebak?" celoteh Kalea yang membuat Karel melongo.
"Setahu gue sih kebalik, ya." Ucap Karel enteng. Karena memang, setahunya, apa yang Kalea katakan barusan lebih tepat untuk mendeskripsikan bagaimana seorang perempuan bersikap. Sepanjang sejarah hidupnya, Karel telah bertemu dengan banyak perempuan dan hampir semuanya memiliki sifat yang sudah ditebak. Membuatnya sebagai kaum pria menjadi serba salah dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Ini soal Gavin, kan?" tebaknya tepat sasaran.
Mendengar nama Gavin disebut, Kalea menghela napas dengan cara yang dramatis. Bahunya yang semula tegak menantang kini jatuh terkulai, muka cemberutnya hilang, tergantikan dengan raut murung yang menyedihkan.
"Emang si Gavin kenapa? Dia abis marah-marah sama lo?" tanyanya.
Kalea menggeleng. "Marah-narah sih enggak, cuma..."
"Cuma apa?" sela Karel cepat, membuat Kalea mendengus.
"Diem dulu, jangan dipotong dulu omongan aku!"
"Oke, oke. Jadi, gimana?"
Kalea mulai menceritakan semua yang terjadi padanya dan Gavin seharian ini. Mulai dari saat di butik, saat mereka tidak sengaja bertemu dengan Irina di hotel sampai ketika Gavin bersikap aneh saat di restoran. Karel mendengarkan semuanya dengan seksama. Mereka sibuk bertukar suara, tanpa tahu kalau tak jauh di belakang mereka, ada Gavin yang bersembunyi di balik pintu, sedang mendengarkan percakapan mereka dengan hati yang nyeri dan napas yang tercekat.
__ADS_1