Serana

Serana
Berjarak 2


__ADS_3

Sudah empat hari Karel tidak bertegur sapa dengan Kaela. Selama empat hari itu juga, dia tidak bisa menjalani harinya dengan tenang. Dia terus merasa gelisah. Bayangan tubuh kecil Kalea yang bergetar hebat di dalam pelukannya malam itu terus mengusiknya hingga membuatnya tidak fokus dalam menjalankan aktifitasnya. Beberapa kali dia harus menerima umpatan dari teman mabar nya karena dalam beberapa kali kesempatan, dia telah menjadi penyebab kalahnya tim mereka. Padahal biasanya, mulut combernya lah yang akan mengumpati teman timnya yang lain. Tidak cuma itu, dia juga hampir terlibat kecelakaan pagi tadi saat akan pergi menemui seorang teman. Penyebabnya karena dia merasa menyesal tidak menyapa Kalea saat mereka berpapasan sebelumnya.


Karel menghela napas panjang, bangkit dari kursinya, mematikan komputer kemudian berjalan menuju balkon. Angin dingin seketika berembus menabrak wajahnya. Menamparnya untuk segera sadar dari sikap kekanakannya yang telah membuat hubungannya dengan Kalea jadi berjarak seperti sekarang ini. 


Pandangan Karel tertuju pada balkon kamar Kalea yang tampak sepi. Lampu kamar gadis itu masih terang, tapi Karel tidak yakin apakah gadis itu masih terjaga atau tidak. Karena biasanya, kalau suasana hatinya sedang buruk, Kalea akan cenderung menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur. Sejenak, ada pikiran untuk menyeberang ke balkon kamar gadis itu. Hanya untuk sekadar mengintip dari balik pintu kaca dan memastikan bagaimana kondisi anak itu malam ini. Tapi niat itu tidak benar-benar dia realisasikan karena ia tidak punya cukup banyak keberanian. 


Karel terdiam cukup lama di balkon, membiarkan angin dingin menabrak tubuhnya berkali-kali sampai akhirnya dia jengah. Tidak ada gunanya hanya berdiam diri dan menyesali apa yang sudah terjadi. Kalau dia terus diam dan tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan, bisa jadi jarak yang membentang di antara dirinya dan Kalea akan semakin lebar. 


Maka Karel berbalik, melangkah lebar keluar dari kamar, menuruni tangga dengan langkah terburu hingga nyaris tersandung kakinya sendiri.


"Mau kemana, Rel?" tanya Ibun saat Karel berjalan melewatinya begitu saja. Wanita yang sedang fokus menonton siaran berita di ruang tengah itu lantas mengalihkan fokusnya kepada sang putra.


"Ke Kalea." Karel menjawab singkat. Dia berjalan menghampiri Ibun hanya untuk mendaratkan kecupan ringan di pipi wanita itu kemudian segera berlalu, tak lagi menggubris teriakan Ibun yang melayangkan beberapa pertanyaan lagi.


Di ruang tamu, Karel bertemu Mpok Nuriah yang datang dari pintu depan dengan dua kantung kresek warna hitam di tangan. 


"Loh, Mas Karel mau kemana?" tanya Mpok Nuriah kebingungan. 


"Ke Kalea."


"Terus ini sate padangnya gimana?" tanya Mpok Nuriah sembari mengangkat satu kantong kresek ke hadapan Karel.


"Taruh aja dulu di dapur, nanti Karel makan abis dari Kalea." Kata Karel kemudian melanjutkan langkah. 


Langkahnya mengayun lebar, jantungnya berdegup kencang karena kalau boleh jujur, dia gugup sekarang. Dia tahu Kalea akan selalu menerimanya. Tak peduli seberapa banyak mereka bertengkar, gadis itu akan selalu menerima permintaan maafnya. Kalea tidak pernah menolak Karel, sebagaimana Karel tidak pernah bisa menolak eksistensi Kalea di hidupnya.


Sampai di depan gerbang rumah Kalea, Karel disambut senyum cerah Pak Dadang. Pria paruh baya itu kelihatan girang dengan kehadiran Karel.


"Mau ketemu Mbak Kalea, ya?" tanya Pak Dadang setelah gerbang dibukakan. 


"Yoi." Kata Karel dengan senyum mengembang. "Anaknya ada, kan?" tanyanya kemudian.


"Ada dong." 


"Yaudah, saya ke Kalea dulu ya, nanti kita ngopi." 


"Oke, Mas." Pak Dadang mengangguk senang.


Karel pun melanjutkan langkah. Bersiul-siul dalam upaya untuk mengusir kegugupan dari dalam diri. Dia berhenti sejenak di depan pintu besar itu, menarik napas panjang sebelum melayangkan ketukan. 

__ADS_1


Ketukan pertama dan kedua tidak mendapatkan respon. Barulah di ketukan ketiga, pintu besar itu terbuka, menampilkan sosok Bi Imah dengan daster bunga-bunga favoritnya.


"Halo, cantik." Sapanya selengean. Menerobos masuk sebelum Bi Imah mempersilahkan. 


Bi Imah yang sudah biasa dengan tingkah Karel hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum tipis yang tersungging. Diam-diam wanita paruh baya itu merasa senang karena sudah beberapa hari bocah ini tidak bertandang.


"Kalea ada?" tanya Karel setelah Bi Imah menutup pintu.


"Ada. T--"


"Dimana?" potongnya cepat.


"Halaman belakang. Ta--"


"Oke. Makasih, cantik!" kata Karel begitu semangatnya. Sempat-sempatnya mencolek dagu Bi Imah dan mengerling genit sebelum melanjutkan langkah. 


Bi Imah hanya bisa menghela napas panjang saat punggung lebar Karel menghilang dari balik pandangan, tertelan belokan. 


*******


Langkah riang Karel praktis terhenti. Dia berdiri cukup lama di ambang pintu saat matanya menangkap eksistensi Kalea di pinggir kolam. Tapi bukan itu yang membuat langkahnya terhenti. Melainkan keberadaan sosok lain di samping gadis itu. Dari belakang saja, Karel sudah tahu siapa orang itu. Gavin. 


Dari tempatnya berdiri sekarang, Karel tidak bisa mendengar percakapan macam apa yang terjadi antara Kalea dan Gavin. Jadi Karel berniat untuk melangkah lebih dekat. Supaya dia bisa segera mengambil tindakan dan menarik tubuh besar Gavin untuk menjauh dari Kalea seandainya apa yang lelaki itu katakan menyakiti hati gadisnya.


Tapi langkah Karel tertahan saat Gavin merengkuh tubuh kecil Kalea ke dalam pelukan.


Karel merasakan dadanya sesak, napasnya tercekat dan tubuhnya membeku di tempat saat dia sadar tidak ada penolakan dari Kalea. Gadis itu diam saja saat tangan Gavin bergerak naik turun mengusap punggungnya. Padahal selama ini, hanya Karel yang bisa melakukannya. Satu-satunya pria yang pernah Kalea ijinkan untuk memeluknya seerat itu selain Papa adalah dirinya. Jadi saat menemukan gadis itu tidak menolak pelukan dari Gavin, Karel merasa posisinya benar-benar sudah tergantikan.


Tidak ingin berlama-lama melihat pemandangan itu, Karel pun berbalik. Melangkah cepat meninggalkan halaman belakang. Tak dihiraukannya panggilan Bi Imah yang berada di dapur, sibuk memindahkan piring-piring yang telah dicuci ke dalam rak. 


Karel terus melangkah. Mengabaikan sesak yang semakin terasa dan napas yang kian berat. Kedua tangannya mengepal di samping tubuh. Dia marah, entah kepada siapa. 


"Udahan Mas ketemu sama Mbak Kalea? Kok cuma sebentar?" tanya Pak Dadang.


Karel terpaksa menghentikan langkahnya sebentar untuk menanggapi ucapan Pak Dadang.


"Malem ini ngopi sendiri dulu ya, Pak. Saya buru-buru nih, ada urusan." Alih-alih menjawab pertanyaan Pak Dadang, Karel malah menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu yang dia ambil dari saku celana kepada Pak Dadang.


"Loh, nggak usah Mas." Pak Dadang menggeleng.

__ADS_1


"Nggak boleh nolak rejeki." Kata Karel.


Akhirnya, dengan perasaan tidak enak, Pak Dadang meraih uang itu dari tangan Karel. "Makasih, Mas." 


"Yaudah, saya balik dulu." Kata Karel. Melambaikan tangan kepada Pak Dadang kemudian berlalu.


Tapi Karel tidak kembali ke rumahnya dan malah berjalan menyusuri jalanan komplek menuju gerbang depan. Dia berdiri cukup lama di pinggir jalan, sampai akhirnya sebuah taksi online yang dia pesan tiba. 


Setelah si sopir mengkonfirmasi pesanan, Karel buru-buru masuk ke dalam dan duduk di kursi penumpang. Taksi pun melaju, membawa Karel yang duduk diam dengan pikiran yang melayang.


******


Tujuan Karel adalah Algara, sebuah klub malam yang sudah lama tidak dia datangi sejak Kalea menyeretnya keluar dari sana pada suatu malam. Malam itu dia datang ke klub ini untuk merayakan pesta bujang salah seorang teman yang akan menikah, tapi acara itu berakhir ricuh saat orang-orang yang terlibat di dalamnya mulai kehilangan kendali karena kadar alkohol yang diminum sudah melebihi batas toleransi dan berhasil merenggut kesadaran mereka. Karel termasuk di dalam salah satu yang sudah mabuk berat. Entah bagaimana mulanya, Karel berakhir terlibat adu jotos dengan salah seorang teman. 


Dan sebelum perkelahian itu berubah makin serius, Kalea datang. Entah siapa yang menghubungi gadis itu, tapi itu adalah tindakan yang tepat. Karena berkat kehadiran Kalea, Karel yang semula kehilangan kendali seketika berhasil dibuat sadar dan kekacauan yang terjadi bisa dicegah agar tidak berubah menjadi lebih buruk.


Aroma alkohol dan asap rokok langsung menyapa indera penciuman begitu Karel melangkah masuk. Di dance floor, orang-orang sibuk berjoget, meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh sang disc jockey. Di beberapa meja yang terletak di pojok pojok ruangan, dengan penerangan yang lebih minim dari spot spot yang lain, Karel melihat beberapa pasang adam dan hawa sibuk bercumbu. Saling menyecap rasa manis dari bibir masing-masing tanpa peduli pada keadaan sekitar. Ada juga yang bertindak lebih dari sekadar berciuman, dan Karel paling malas untuk menyaksikan hal-hal semacam itu. Jadi dia segera menarik pandangan dan melanjutkan langkah.


Alih-alih mengambil tempat di meja yang masih kosong, Karel justru berjalan menuju meja bar. Di mana hanya ada dua orang laki-laki bule yang duduk di sana dan tampak sedang berbincang.


"Tequila." Kata Karel setelah duduk di stool bar. 


Bartender yang masih tampak muda itu mengangguk paham. Tangannya bergerak lincah meramu minuman kemudian menyodorkannya ke hadapan Karel. Tanpa basa-basi Karel menenggak minumannya, menandaskannya dalam sekejap.


Kemudian bergelas-gelas lain dia pesan. Ditenggak buru-buru, mengabaikan pedih di tenggorokan karena dia ingin segera hilang kesadaran. Paling tidak, untuk malam ini saja, dia ingin melupakan perih di dadanya yang kian hari kian terasa menyiksa. Untuk malam ini saja, Karel ingin melupakan fakta bahwa posisinya di hidup Kalea sudah tidak lagi sama.


Entah setelah habis gelas ke-berapa, Karel mulai merasakan kepalanya berat. Sekelilingnya tampak berputar dan dia telah kehilangan daya untuk menegakkan badan. Kepalanya terkulai lemah di atas meja bar. Suara si bartender yang berusaha menyadarkannya dengan mengguncang pelan tubuhnya terdengar seperti dengungan lebah yang membuat kepalanya semakin terasa pusing. Karel mual bukan main, jantungnya berdegup kencang dan keringat mulai menetes mengaliri pelipisnya.


Lalu sebelum kesadarannya benar-benar terenggut, Karel mendengar sayup-sayup suara jernih seseorang yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya.


"Enough, Karel. You've gone too far. Ayo kita pulang."


Sial. Bahkan setelah mabuk dan kesadarannya nyaris terenggut, gadis itu masih tetap menghantui dirinya.


Kemudian gelap. Karel sepenuhnya kehilangan kesadaran dengan senyum miris menghiasi wajah lelahnya setelah sebuah nama terucap lirih dari belah bibirnya.


"Kalea."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2