
Dengan isi kepala yang carut-marut, Gavin meraih kunci motor dari atas nakas dan langsung bergegas menuju garasi. Dia bahkan tidak kepikiran untuk mengganti baju atau sekadar menenggak setetes saja air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering dan serak.
Sebab saat ini, yang lebih penting untuk dilakukan adalah menemui Irina, untuk meluruskan segala kesalahpahaman yang membuat Kalea kembali goyah pada keputusannya untuk memberi kesempatan setidaknya sampai bayi mereka lahir.
Gavin tidak pernah tidur dengan Irina, itu faktanya. Sedari awal menjalin hubungan, dia selalu menjaga dirinya untuk tidak melewati batas. Tubuhnya telah memiliki alarm yang secara otomatis akan berbunyi ketika dia hampir mendekati garis batas.
Ingat, alarm itu akan berbunyi bahkan sebelum dia benar-benar mencapai garis batas, jadi mustahil kalau Gavin bisa sampai kelepasan. Keculai kalau dia terlalu mabuk dan tidak sadarkan diri. Tapi masalahnya, dia tidak pernah membiarkan dirinya sampai hilang kontrol atas dirinya sendiri. Sebelum mabuk, dia akan segera berhenti minum dan menarik diri sejauh-jauhnya dari Irina demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Jadi, rasanya aneh kalau Irina tiba-tiba mengaku telah mengandung anaknya.
Pikiran Gavin terbagi menjadi dua, antara Irina sengaja berbohong kepada Kalea karena tidak ingin dia memutuskan hubungan mereka, atau perempuan itu memang sedang mengandung, entah anak siapa.
Gavin mengendarai motornya seperti orang gila. Berkali-kali menerobos lampu merah sampai nyaris menyebabkan kecelakaan ketika kendaraan lain melaju cukup kencang dari arah samping.
Bunyi klakson dari beberapa kendaraan yang tidak sengaja dia senggol pun sudah tidak lagi dia hiraukan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya agar dia segera sampai di apartemen Irina untuk mencari kebenarannya.
Setelah berkendara sampai nyaris merenggut nyawanya sendiri, Gavin akhirnya tiba di komplek apartemen milik Irina. Dia memarkirkan motor asal, lalu segera menaiki lift yang untungnya datang di waktu yang tepat.
Samapi di lantai unit, Gavin berlarian menyusuri lorong, hanya untuk dibuat terpaku cukup lama karena pintu unit milik Irina sedikit terbuka.
Dengan gerakan yang teramat pelan, Gavin mendekat ke arah pintu. Sayup-sayup terdengar suara dua orang yang saling beradu. Nadanya tinggi, sarat akan emosi yang meluap-luap.
Gavin berdiri kaku di tempatnya saat suara-suara orang yang sedang beradu argumen itu mulai bisa dia cerna. Dan sumpah demi apapun juga, Gavin berharap bahwa apa yang dia dengar hanyalah halusinasi yang timbul karena kekalutan yang sedang melingkupi dirinya.
...****************...
"Itu bukan anak Gavin!" teriak Taruna, tepat di depan muka Irina sembari menunjuk perut rata perempuan itu.
Selama beberapa hari terakhir, dia menugaskan Raga untuk membuntuti kemana pun Irina pergi, demi memastikan bahwa perempuan itu tidak akan melakukan sesuatu yang akan menghancurkan rencananya.
Tapi siang ini, dia kecolongan. Irina rupanya tahu kalau Raga diam-diam membuntuti (entah bagaimana caranya) sehingga perempuan itu memutar otak agar bisa keluar dari apartemen dan menemui Kalea untuk melancarkan niat busuknya.
"Ini anak Gavin," ucap Irina, degan nada super tenang. Dia masih bersikukuh, berusaha membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa yang dia kandung adalah anak Gavin, di saat nyatanya dia sendiri tahu kalau anak itu sebenarnya adalah anak Taruna.
"Bangsat!" Taruna berteriak frustrasi. Dia mengusap wajahnya kasar, membalikkan badan sebentar, hanya untuk kembali menatap Irina tidak lama kemudian.
"Itu anak gue, Rin. Anak gue!" tegas Taruna sekali lagi.
"Ini anak Gavin, Na."
__ADS_1
"Gavin bahkan nggak pernah nyentuh lo!" teriak Taruna. Sungguh, kali ini, kesabarannya mungkin sudah sampai di ambang batas. Rasa-rasanya, dia ingin sekali membungkam mulut Irina agar perempuan itu berhentilah mengatakan bahwa anak itu adalah anak Gavin.
"Dari mana kamu tahu kalau dia nggak pernah nyentuh aku?" tantang Irina, membuat Taruna semakin merasa kesal dan kepalanya terasa nyaris meledak.
"Lo tanya dari mana gue tahu?" Taruna bertanya dengan senyum miring yang terbit begitu mengerikan.
"Karena lo pertama kali lakuin itu sama gue malam itu! Lo berdarah, itu artinya Gavin memang belum pernah nyentuh lo sebelumnya."
"Berdarah belum tentu itu jadi yang pertama kali buat aku, Na."
"Rin!" bentak Taruna. Dia mungkin akan melayangkan lebih banyak teriakan, kalau saja lengannya tidak secara tiba-tiba ditarik mundur dan sebuah pukulan mendarat sempurna di wajahnya hingga membuatnya tersungkur ke atas lantai.
"Gavin!" pekik Irina, tidak menyangka Gavin tiba-tiba menerobos masuk ke dalam apartemennya.
"Bajingan!" Gavin, yang saat ini sudah berada di atas tubuh Taruna yang telentang di atas lantai, sudah mengepalkan tinjunya lagi. Satu tangannya mencengkram erat kerah baju Taruna, siap menghajar lelaki itu habis-habisan.
Tetapi, alih-alih merasa takut, Taruna malah menyunggingkan senyum mengejek, mengabaikan darah yang menetes dari sudut bibirnya yang robek akibat pukulan dari Gavin.
"Bajingan, kata lo? Nggak salah? Bukannya sebutan itu lebih cocok untuk diri lo sendiri?" senyum mengejek Taruna kian menjadi-jadi, membuat Gavin menggeram dengan gigi yang saling bergemeletuk.
"Kenapa lo lakuin ini sama gue?" tanya Gavin, berusaha meredam emosinya karena setidaknya dia harus tahu alasan yang mendasari Taruna bisa berbuat seperti ini kepada dirinya.
"Karena gue mau lo ngerasain gimana rasanya kehilangan orang-orang yang lo sayang, Vin." Taruna menjawab santai.
"Vin, udah." Irina berusaha menarik lengan Gavin untuk menjauh dari Taruna, tetapi Gavin lengsung menepis tangannya.
"Kamu diam dulu." Perintahnya. Irina ciut, dia segera meraih langkah mundur dan cuma bisa pasrah menyaksikan senyum licik Taruna sebelum pemuda itu membalikkan tubuh Gavin hingga kini posisi mereka berganti.
Kedua tangan Taruna mencengkeram kerah kemeja Gavin, matanya menatap tajam.
"Ini bahkan belum apa-apa, Vin. Seharusnya, lo merasakan sesuatu yang lebih sakit daripada ini."
"Salah gue apa, bangsat?!"
"Salah lo?" Taruna pura-pura berpikir, menarik satu tangannya lalu mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu dengan tatapan yang masih tertuju luru ke arah Gavin.
"Salah cuma satu sih, Vin. Karena lo adalah darah daging seorang Jonathan Abdi Cakraditya. Ups, Cakraditya nya nggak usah disebut lah ya, itu kan nama kakek lo, dan Jonathan kan cuma menantunya. Yah, dari awal gue juga heran sih kenapa bisa Jonathan dapetin nama Cakraditya di belakang namanya. Padahal seharusnya nyokap lo nggak sih yang dapetin nama itu?"
"Nggak usah bawa-bawa orang tua gue!" geram Gavin. Dia berusaha menyerang Taruna lagi, tapi sia-sia karena posisinya saat ini sangat tidak menguntungkan.
__ADS_1
"Justru lo kayak gini karena orang tua lo, goblok." Bisik Taruna, tepat di depan wajah Gavin.
"Kalau bukan karena Jonathan si bajingan tengik itu yang berulah dan mengusik keluarga gue lebih dulu, hidup lo pasti akan aman-aman aja." Tatapan Taruna kian terasa menusuk. Bahkan, lelaki itu juga mulai menggunakan jempolnya untuk menekan satu titik terlemah di antara leher dan tulang selangka Gavin hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Gue kehilangan Dyandra karena Jonathan, Vin. Karena ayah lo yang bajingan itu nggak mau tanggung jawab atas anak yang dikandung sama Dyandra."
Gavin masih tidak bisa menyahut karena tekanan yang diberikan oleh jempol Taruna semakin kuat.
"Oh, lo mau tahu siapa anak gue maksud? Oke, oke, gue akan kasih tahu." Taruna mendekatkan wajahnya, kemudian berhenti tepat di samping telinga Gavin dan mulai membisikkan satu nama.
"Sierra." Lalu Taruna kembali menjauhkan wajahnya.
"Iya, Sierra. Anak yang gue bilang adalah anak adopsi, itu aslinya anaknya Dyandra sama bokap lo."
Sakit yang Gavin rasakan akibat tekanan yang Taruna berikan semakin menjadi-jadi, tapi berkat dorongan yang begitu kuat dari dalam diri, Gavin berhasil membalikkan lagi posisi mereka ketika dilihatnya Taruna sedikit lengah.
Satu pukulan dilayangkan, membuat darah di sudut bibir Taruna yang semula sudah mengering, kini kembali basah.
"Jangan ngelantur," geramnya. Tapi lagi-lagi Taruna malah terkekeh.
"Ngelantur gimana, sih? Gue bicara fakta kok."
Melihat Gavin yang masih terdiam, Taruna kembali melanjutkan.
"Lo nggak percaya sama omongan gue? Tanya aja sana sama bokap lo. Sekalian lo tanya gimana ceritanya dia bisa punya hubungan sama Dyandra, soalnya gue sendiri nggak ngerti kenapa kakak gue bisa punya hubungan sama manusia biadab kayak bokap lo."
Tinju Gavin terayun lagi, membuat Taruna memejamkan mata. Tapi alih-alih menerima pukulan lain di wajahnya, Taruna malah menemukan tinju itu menyadar ke samping kepalanya, tepat mengenai lantai yang keras sehingga membuat buku-buku jari Gavin terluka.
Gavin bangkit dari atas tubuh Taruna, menatap sekilas ke arah Irina yang cuma bisa terdiam menyaksikan pergulatan antara dirinya dengan Taruna. Entah apa perempuan itu tahu soal omong kosong yang Taruna katakan kepadanya, yang jelas, Gavin sudah merubah tujuannya.
Kini, dia tidak perlu lagi mencari tahu anak siapa yang ada di dalam perut Irina karena dia sudah mendapatkan jawabannya.
Maka, Gavin segera membalikkan badan dan bergegas meninggalkan apartemen Irina.
"Bye, Gavin! Kasih tahu gue kalau bokap lo udah cerita!" teriak Taruna sembari melambaikan tangannya ke arah Gavin, yang padahal lelaki itu sudah menghilang di balik pintu.
"Apa maksudnya semua ini, Na?" tanya Irina, yang agaknya masih buta soal apa yang sebenarnya terjadi.
Taruna tidak menjawab, dia malah melenggang pergi menuju kamar Irina, sama sekali tidak menghiraukan teriakan perempuan itu yang berkali-kali memanggil namanya.
__ADS_1
Bersambung