Serana

Serana
Kunjungan


__ADS_3

Menjelang makan siang, kamar rawat Kalea sudah berubah layaknya tempat penampungan. Mama, Papa, Bi Imah dan Karel datang berbarengan dan langsung berebut untuk mengambil posisi duduk paling dekat dengan ranjang Kalea.


Bunda yang sedari pagi sudah kebagian jatah menemani Kalea pun mengalah. Wanita itu sedikit menyingkir dan memilih duduk di sofa bersama dengan Gavin.


"Keluarga Kalea asik, ya." Bisik Bunda sembari menatap kagum pada sosok orang tua Kalea yang begitu kompak menghibur sang putri yang sedang sakit.


Tidak cuma orang tua Kalea, Bunda juga dibuat terkagum-kagum pada sosok Karel yang rela datang dengan muka bantal dan hanya mengenakan kaus oblong serta celana pendek di atas lutut dan sendal jepit. Seolah pemuda itu baru bangun tidur dan langsung melesat ke sini setelah mendapat kabar bahwa Kalea dirawat.


Meskipun tidak menjawab, Gavin diam-diam mengamini perkataan Bunda. Dia juga diam-diam mengagumi sekaligus sedikit merasa iri pada kehangatan yang terjalin di keluarga Kalea.


Sebab pemandangan seperti ini tentu saja tidak akan terlihat di keluarga Cakraditya. Setidaknya setelah belasan tahun ke belakang. Sejak kebenaran tentang asal usul dirinya terungkap, Gavin tidak pernah lagi merasakan yang namanya kehangatan di keluarga itu. Semua anggota keluarga memusuhi dirinya dan Papa, hanya Bunda yang tetap berdiri kokoh di tempatnya untuk mempertahankan mereka berdua di sana.


"Kamu belum mandi, ya? Bau!"


Gavin mengalihkan perhatian kepada Kalea. Perempuan itu tampak sedang memencet hidungnya sembari menatap jijik ke arah Karel yang berdiri tepat di sisi ranjangnya.


"Ya belum, lah! Gue baru bangun, terus langsung lari ke sini buat jengukin lo!"


"Jorok!"


"Dih, kurang ajar! Nih, makan nih bau ketek!"


Gavin mengulum senyum saat Karel tiba-tiba memiting kepala Kalea sehingga wajah perempuan itu berhadapan langsung dengan ketiaknya.


Mama, Papa dan Bi Imah yang ada di sana sama sekali tidak berniat membantu saat Kalea meronta-ronta minta diselamatkan. Mereka malah secara kompak menertawakan tingkah Karel dan Kalea yang memang selalu ada-ada saja.


Sementara itu, di sebelahnya, Gavin melihat Bunda ikutan tersenyum. Wanita itu terlihat ingin ikut tertawa, tapi mungkin masih ditahan karena belum terbiasa.

__ADS_1


"Ketawa aja, Bun. Mereka berdua emang se-aneh itu kelakuannya." Kata Gavin yang membuat Bunda menoleh ke arahnya.


"Beruntung, ya, Kalea bisa punya teman kayak Karel."


Gavin menganggukkan kepala. Meskipun dia sering dibuat sakit kepala dengan tingkah Karel yang menyebalkan, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Karel di hidup Kalea adalah sebuah anugerah. Gavin bersyukur Tuhan mau berbaik hati mengutus anak itu untuk berada di sisi Kalea.


"Kamu juga beruntung karena bisa bergabung dengan keluarga ini, Vin."


Senyum yang semula merekah di bibir Gavin, perlahan-lahan sirna ketika Bunda mengatakan itu dengan suara yang berubah. Gavin menatap Bunda lekat-lekat, menyelami manik mata wanita itu, hanya untuk dibuat meringis saat yang dia temukan adalah luka menganga yang entah bisa disembuhkan atau tidak.


"Di keluarga ini, kamu bisa merasakan kehangatan yang nggak bisa kamu dapatkan di rumah. Bunda harap, di sini, kamu bisa menemukan kembali kebahagiaan kamu yang terenggut sejak belasan tahun lalu, Vin."


Gavin merasakan dadanya sesak, terlebih saat tangan Bunda bergerak pelan menggenggam tangannya erat. Perasaan bersalah seketika mengerubungi hatinya.


Padahal, dari mereka semua yang terlibat dalam kekacauan yang Papa timbulkan, Bunda adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Tetapi alih-alih mencari kebahagiaannya sendiri, Bunda selalu mendorong dirinya dari satu jurang menuju jurang lain, hanya untuk membuat dirinya bahagia. Dirinya, yang bahkan tidak pernah merasakan hidup di dalam rahim Bunda.


Di dalam ruangan itu, Gavin merasa dirinya dan Bunda seolah terpisah jauh dari keceriaan yang sedang berlangsung di keluarga Kalea. Dia merasa seperti serpihan abu yang tercipta dari terbakar habisnya kebahagiaan yang dia miliki karena kesalahan yang Papa perbuat.


...****************...


Setelah semua orang selesai makan siang, Dokter mengimbau untuk beberapa orang meninggalkan ruang rawat agar Kalea bisa beristirahat setelah minum obat.


Mulanya, Gavin harus melewati sesi adu mulut dulu dengan Karel untuk menentukan siapa yang akan tinggal dan menemani Kalea tidur siang.


Sampai akhirnya, Gavin terpaksa mengalah karena Kalea sendiri yang meminta Karel untuk tetap tinggal.


Dengan hati yang tidak rela, Gavi menyeret langkahnya keluar dari kamar rawat Kalea, menyusul anggota keluarga lain yang sudah lebih dulu meninggalkan ruangan sejak lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam ruangan, Karel bersorak senang hanya sedetik setelah sosok Gavin menghilang di balik pintu. Dia merasa menang. Merasa terbang di atas awan karena Kalea lebih memilih dirinya ketimbang Gavin.


Tapi kesenangan itu tidak bertahan lama ketika telinganya mendengar Kalea bergumam pelan.


"Gavin nggak tidur dari semalam karena harus jagain aku, makanya aku suruh dia keluar dulu biar bisa istirahat. Soalnya kalau di dalam sini, dia pasti nggak akan mau tidur dan malah sibuk nanya aku butuh apa."


Karel menatap Kalea tak percaya. Jadi, sebenarnya dia sedang dikorbankan? Kalea sengaja menyuruhnya di sini menggantikan tugas Gavin menjadi pelayan, begitu?


"Lo kalau nggak kurang ajar sama gue sehari aja kenapa, sih? Gatel badan lo?" gerutu Karel sembari mengambil posisi duduk di pinggir ranjang.


"Kurang ajar gimana, sih? Kan, kamu yang ngotot mau nemenin aku di sini." Ucap Kalea tak terima.


"Ya maksud gue, kalau bukan karena biar Gavin bisa istirahat, lo nggak akan milih gue buat nemenin lo! Iya, kan?"


"Ya iya, lah. Masa aku ngusir suami aku cuma biar bisa ditemenin sama manusia kayak kamu, sih?"


"Wah... emang kurang ajar lo, ya! Sini, lo harus dihukum!" tanpa aba-aba, Karel tiba-tiba saja mengulurkan tangan untuk menggelitiki Kalea. Jemari panjangnya bergerak nakal menggerayangi pinggang kecil Kalea sehingga membuat sang empunya menggeliat tak keruan seperti ulat nangka.


"Ampun, Rel! Ampun!" teriak Kalea sembari berusaha meloloskan diri dari serangan Karel.


Tapi bukan Karel namanya kalau akan berhenti beraksi cuma karena Kalea merengek seperti ini. Jadi alih-alih berhenti, Karel malah semakin gencar menggelitiki Kalea sehingga perempuan itu semakin menggeliat dan membuat ranjang pasien sudah tidak berbentuk lagi. Seprai yang membalut ranjang mulai acak-acakan dan bantal yang semula anteng di tempatnya sudah teronggok tak berdaya di lantai akibat terkena tendangan maut kaki Kalea.


"Ampun!!!" teriak Kalea sekuat tenaga. Dia sudah kehilangan banyak energi untuk tertawa sekaligus berusaha meloloskan diri dari jeratan Karel.


Tapi sekali lagi, Karel tampak tidak peduli, dia masih terus saja melancarkan aksinya meksipun dia sendiri juga sebetulnya sudah kelelahan.


Adegan penyerangan itu terus berlanjut, sampai akhirnya, gerakan mereka terhenti saat pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka dan menampilkan sosok Gavin yang menatap mereka dengan tatapan garangnya.

__ADS_1


"Karel!!! Kalea!!!"


Bersambung


__ADS_2