
"Bye, Gavin! Kasih tahu gue kalau bokap lo udah cerita!"
Gavin mengepalkan tangannya erat-erat, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membalikkan badan dan kembali menerjang Taruna. Langkahnya semakin lebar diayunkan, ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini sebelum emosinya semakin naik dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara dirinya dengan Taruna.
Pintu lift terbuka tepat ketika dia sampai di hadapan benda besi itu. Tanpa basa-basi, Gavin menerobos masuk. Dia bahkan tidak sabar untuk menunggu tiga orang yang ada di dalam lift itu untuk keluar lebih dulu, sehingga satu di antara mereka menggerutu karena tubuhnya tidak sengaja tersenggol oleh Gavin.
Tentu saja Gavin tidak peduli, dia tetap melanjutkan langkah, segera menekan tombol menuju lantai basement. Saking inginnya cepat-cepat turun, Gavin bahkan tidak peduli pada seorang wanita paruh baya yang berlari tergopoh-gopoh menuju lift, memintanya untuk menahan tombol agar bisa ikut masuk ke dalam lift.
Tiba-tiba saja, Gavin menjelma menjadi manusia minim empati. Atau barangkali, hati nuraninya telah habis dikikis oleh orang-orang kepercayaan yang ternyata mengkhianatinya secara diam-diam.
Begitu pintu lift terbuka di lantai basement, Gavin langsung menerobos keluar. Kunci motor dikeluarkan dari saku celana dan dia langsung melajukan motornya, lagi-lagi seperti orang gila.
Malam kian larut, tetapi niat Gavin untuk melaju ke rumah Bunda demi bisa mendengar secara langsung penjelasan dari papanya sama sekali tidak surut.
Bahkan ketika hujan mulai turun dengan deras tanpa memberikan pertanda apapun sebelumnya, Gavin tetap nekat melajukan motornya.
Satu keuntungan ketika hujan sedang turun adalah, jalanan menjadi lebih sepi karena orang-orang cenderung memilih untuk berkendara ketika hujan telah reda.
__ADS_1
Jadi, dengan memanfaatkan kondisi jalan yang lengang, Gavin menarik tuas gas semakin kencang, tidak peduli meski tubuhnya basah kuyup dan matanya mulai terasa perih.
Sama seperti ketika dia melajukan motornya menuju apartemen Irina tadi, Gavin juga kembali menerobos lampu merah. Apalagi sekarang jalanan lebih sepi dan dia yakin aman-aman saja untuk dirinya melanggar lampu lalu lintas.
Tapi sayang, karena kepercayaan dirinya itu, Gavin tidak sadar bahwa dari arah samping, sebuah truk bermuatan barang melaju dengan kecepatan tinggi.
Saat Gavin menyadari kedatangan truk itu melalui lampu sorot dan klakson yang dibunyikan berkali-kali, semuanya sudah terlambat.
Truk melaju sangat kencang, jadi sedalam apapun pedal rem diinjak, kecelakaan tetap tidak dapat dihindarkan. Motor Gavin diterjang, membuat tubuh Gavin terpental ke atas, melayang-layang di udara selama sepersekian detik sebelum akhirnya terhempas jatuh ke atas aspal yang keras.
Naasnya lagi, kondisi jalan benar-benar sepi, sehingga sopir truk yang ketakutan lebih memilih untuk tancap gas ketimbang turun dan memeriksa apakah Gavin masih hidup atau bahkan sudah mati.
Gavin cuma bisa pasrah saat melihat truk yang sudah menabraknya itu bergerak menjauh dan dalam sekejap sudah menghilang di balik kegelapan malam.
Gavin meringis, merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di bagian kepala. Lalu di antara sadar dan tidak, wajah Kalea muncul di dalam bayangannya. Perempuan itu sedang menangis, begitu pilu.
Tetapi saat tangannya terulur untuk menyentuh wajah perempuan itu dan mengusap air matanya, semuanya tiba-tiba gelap. Gavin tidak sadarkan diri, dan tidak ada seorang pun yang datang untuk menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk.
__ADS_1
...****************...
Sudah menjelang subuh, tetapi Kalea masih belum beranjak dari studionya. Semalaman dia menangis, sampai kini matanya benar-benar bengkat dan wajahnya berubah pucat.
Sekarang ini, dia terduduk di atas lantai, memeluk lututnya sendiri. Matanya yang bengkak menatap sayu ke arah test pack milik Irina yang tercampak di depannya. Berkali-kali dia menyangkal kenyataan ini, tetapi berkali-kali juga dia ditampar oleh fakta bahwa Gavin memang tidak pernah diciptakan untuk dirinya. Bahkan ketika Tuhan bersedia menghadirkan buah hati mereka sekalipun.
Kalea semakin bingung. Keadaan Irina yang hamil seharusnya membuatnya semakin yakin untuk menceraikan Gavin. Tetapi yang terjadi malah dia kembali merasa takut. Membayangkan anaknya akan lahir tanpa seorang ayah benar-benar bagaikan mimpi buruk untuk Kalea.
Saking tidak inginnya hal itu terjadi, dia sampai sempat berpikir bagaimana kalau dia mengijinkan Gavin untuk menikahi Irina secara diam-diam. Dia bisa berpura-pura tidak tahu soal Irina, asalkan Gavin masih akan terus ada di sisinya dan anak mereka nanti.
Tidak apa-apa kalau Gavin harus pulang dua atau tiga hari sekali, untuk bergantian menginap di rumah Irina yang tinggal terpisah dari mereka. Yang penting, dia dan anak mereka tetap bisa mendapatkan kasih sayang dari Gavin.
Tapi saat dibayangkan lagi, rasanya Kalea tidak akan sanggup. Dia pencemburu, jujur saja. Jadi, bagaimana bisa dia berbagi suami dengan orang lain?
"Saya harus gimana, Tuhan?" lirihnya, seiring dengan air mata yang kembali jatuh, tumpah ruah membasahi wajahnya yang pucat pasi.
Bersambung
__ADS_1