Serana

Serana
Menuju Perdamaian


__ADS_3

Kalea cuma bisa garuk-garuk kepala saat mendapati kehadiran Karel dan Gavin di saat yang bersamaan. Terlebih lagi, dua orang itu sama-sama menyodorkan kantung kresek Indomaret ke hadapannya dan saling beradu tatap seolah sedang bertaruh kantung kresek milik siapa yang akan Kalea terima.


"Kalian ngapain?" tanya Kalea saat dua orang pria dewasa di hadapannya itu tak kunjung melepaskan pandangan dari satu sama lain.


"Kinderjoy, sebelas. Sebagai rasa terimakasih karena lo udah jemput dan anterin gue pulang semalem." Karel menyodorkan plastik Indomaret yang dia bawa lebih dekat ke hadapan Kalea.


Kalea hendak meraih plastik Indomaret milik Karel, namun Gavin buru-buru menyela dengan menyodorkan plastik Indomaret miliknya.


"Kinderjoy, sebelas. Sesuai janji saya tadi malam." Kata Gavin. Senyum cerah tersungging, mata kelamnya berbinar penuh harap agar Kalea lebih memilih untuk mengambil plastik Indomaret miliknya ketimbang milik Karel.


Karel melirik sebal ke arah Gavin. Bibirnya bergerak komat-kamit melafalkan berbagai kata cibiran tanpa suara. Sedangkan Gavin yang tidak sadar dirinya tengah dicibir habis-habisan oleh Karel, masih terus menatap penuh harap ke arah Kalea.


Kalea mengembuskan napas pelan. Alih-alih meraih plastik Indomaret milik salah satu dari mereka, Kalea lebih memilih untuk berlalu. Ngeloyor begitu saja menuju sofa ruang tamu dan langsung mendudukkan diri di sana. Mengabaikan Karel dan Gavin yang melongo di tempatnya berdiri.


"Heh! Lo nggak mau kinderjoy? Serius?" Karel berjalan menghampiri Kalea. Seenak jidatnya duduk di samping gadis itu setelah menaruh plastik Indomaret miliknya ke atas meja.


"Ini kinderjoy loh, Kale. Kinderjoy. Seriusan lo nggak mau?" Karel masih nyerocos, sampai dia tidak sadar akan kehadiran Gavin yang tiba-tiba menarik tubuhnya untuk menjauh dari Kalea, menggantikan posisi duduknya.


"Saya udah bawa kinderjoy sesuai permintaan kamu. Jadi, saya udah dimaafin, kan?" tanyanya, menyunggingkan senyum lebar hingga membuat matanya nyaris menghilang.


"Sopan banget lo begitu!" Karel menggeplak punggung Gavin yang kini duduk membelakanginya, membuat lelaki berotot itu mengaduh kesakitan.


"Kamu ini hobi banget KDRT, ya? Belum cukup nonjok muka saya waktu itu?" Gavin mengomel. Senyumnya seketika pudar dan binar di mata kelamnya berubah menjadi percikan amarah yang perlahan-lahan kian membara.


"Belum! Luka di wajah lo tuh masih nggak seberapa dibanding apa yang udah Kalea alamin malam itu!" Karel berteriak sambil menunjuk wajah Gavin.


"Saya udah minta maaf sama Kalea!" Gavin tidak kalah sewot.


"Basi! Maaf lo nggak akan bikin keadaan balik kayak semula!" tangan Karel mulai bergerak meraih kerah kaus Gavin.


Gavin tak mau kalah, dia ikut-ikutan menarik kerah kaus Karel, membuat tubuh yang lebih kecil itu sedikit terhuyung ke arahnya. "Seenggaknya saya berusaha untuk memperbaiki keadaan!" teriaknya.


"Percuma! Traumanya Kalea nggak akan ilang cuma dengan kata maaf dari lo!" Karel masih terus berteriak. Tidak peduli pada perbedaan postur tubuhnya dengan Gavin yang jomplang. Padahal kalau Gavin mau menggunakan otot kekarnya itu, Karel sudah pasti kalah. Tapi sekali lagi, kalau berhubungan dengan Kalea, Karel seolah tidak takut apapun.


Perdebatan mereka masih terus berlanjut. Sementara Kalea hanya bisa menghela napas berulang-ulang kali, menyaksikan bagaimana dua pria dewasa itu berkelahi layaknya bocah umur enam tahun yang sedang berebut mainan.

__ADS_1


Makin lama, perdebatan itu sudah bukan lagi berupa adu mulut saja, Karel mulai bergerak kesetanan meraih wajah Gavin, menampar pipi lelaki itu berkali-kali walau dia juga harus menerima hal yang sama sebagai balasannya.


Kalea yang menyadari situasinya makin tidak kondusif pun bangkit dari duduknya. Dengan kekuatannya yang tak seberapa, Kalea menarik tubuh Gavin hingga tubuh besar itu terhuyung ke belakang.


Gavin tersungkur dari sofa, meringis tatkala bokongnya mendarat di atas lantai marmer yang keras. Sementara Karel cuma bisa bengong saat melihat tubuh besar Gavin tersungkur dengan tidak estetik di depan matanya. Sejujurnya Karel ingin tertawa, tapi ketika dia menoleh ke arah Kalea dan melihat bagaimana gadis itu berkacak pinggang sembari melotot ke arahnya, Karel menelan kembali tawa jahatnya.


"Bangun!" perintah Kalea pada Gavin yang sontak membuat lelaki itu buru-buru bangkit.


"Duduk yang bener!" perintahnya lagi, kali ini ditujukan kepada Karel dan langsung dituruti oleh bocah itu.


"Kamu juga, Gavin. Duduk di situ." Tunjuk Kalea pada ruang kosong di sebelah Karel dan Gavin menurut saja tanpa banyak bicara.


Setelah memastikan dua orang itu duduk anteng di sofa, barulah Kalea mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan mereka. Tangannya masih bersedekap dan matanya kini sibuk menatapi Gavin dan Karel secara bergantian. Tatapan yang begitu tajam dan menusuk, hingga rasanya Kalea bisa meleburkan dua sosok besar di hadapannya itu dalam hitungan detik saja.


"Kal--"


"Diem. Kamu nggak boleh ngomong sebelum aku ijinin." Kalea melotot pada Karel dan lelaki itu langsung mengatupkan bibir rapat-rapat.


Untuk beberapa saat, hening menguasai. Hanya ada suara deru napas dari ketiganya yang bersahut-sahutan, juga suara detak jam dinding yang anehnya terdengar lebih nayring dari biasanya.


"Gavin mau saya maafin?" tanyanya pada Gavin dan lelaki itu langsung mengangguk.


"Kamu juga, Rel. Mau aku maafin?" tanyanya pada Karel dan lelaki itu juga mengangguk.


"Oke, kalau gitu, kalian pelukan dulu." Kata Kalea begitu entengnya.


Sementara bagi Karel dan Gavin, kalimat itu bagaikan sebuah kutukan yang mengerikan. Keduanya saling memandang selama beberapa detik lalu serempak menggelengkan kepala.


"No." Kata Gavin. Jelas menolak keras ide konyol ini.


"Big no." Kata Karel tidak mau kalah. Dia juga ogah kalau harus berpelukan dengan Gavin.


"Kalau nggak mau pelukan, nggak apa-apa. Tapi nggak ada maaf untuk kalian." Kalea menyandarkan punggungnya ke sofa, asik menggoda Gavin dan Karel dengan tatapan matanya.


"Saya bisa lakuin hal lain. Apapun, selain pelukan sama orang ini." Kata Gavin sembari melirik ke arah Karel.

__ADS_1


"Gue juga nggak sudi pelukan sama dia." Kata Karel tak kalah sewotnya. Tangannya ikut bersedekap, bibirnya kembali komat-kamit tanpa suara sembari sesekali melirik sebal ke arah Gavin.


Kalea menegakkan tubuhnya. Dia tidak mengatakan apapun, tapi tatapan matanya seolah berkata pada Gavin dan Karel bahwa dia tidak akan merubah keputusannya. Tidak pelukan, tidak dapat maaf. Titik.


Paham kalau Kalea tidak akan mau merubah keputusannya, Karel pun akhirnya menyerah. Dia harus mendapatkan maaf dari Kalea, karena kalau tidak, Ibun akan menjewer telinganya hingga nyaris putus.


"Buruan!" Karel merentangkan kedua tangannya sambil membuang muka.


"Saya nggak mau pelukan sama kamu."


Mendengar Gavin yang masih kekeuh pada pendiriannya membuat Karel naik pitam. Dia menoleh pada Gavin dan nyaris melayangkan satu tinju ke wajah tampan itu kalau saja dia tidak sadar Kalea sedang menatap tajam ke arahnya.


"Gue juga nggak mau. Tapi kalau nggak gini, kita nggak akan dapet maaf." Kata Karel dengan gigi yang saling rapat.


Karena malas beradu argumen, Karel akhirnya bergerak mendekat. Dia tarik tubuh besar Gavin dan langsung memeluknya begitu erat, membuat lelaki itu terkejut karena tidak menyangka Karel akan senekat itu memeluknya.


Melihat pemandangan langka di depan mata, Kalea mengeluarkan ponsel dari saku celana. Adegan itu kemudian berhasil diabadikan ke dalam sebuah foto. Kalea terkikik geli saat menilik kembali hasil jepretannya, membuat Karel dan Gavin yang masih berpelukan praktis menjauhkan diri dan menatap Kalea keheranan.


Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, Kalea meredam tawa. Ponsel dimasukkan kembali ke saku celana. Dia berdeham dalam upaya untuk meredam tawa agar tidak kembali lolos dari bibirnya.


"Puas?" tanya Karel dengan nada kesal.


Kalea mengangguk mantap. Senyumnya merekah, berbanding terbalik dengan raut wajah Gavin dan Karel yang kusut bagai cucian baru kering yang belum disetrika.


"Oke, clear ya. Kita bertiga damai." Kata Kalea enteng. Tangannya bergerak meraih dua kinderjoy, masing-masing satu dari dalam kantung kresek milik Gavin dan Karel.


"Makasih kinderjoy-nya, Gavin, Karel." Kemudian dia berlalu, meninggalkan Karel dan Gavin yang terdiam beku di tempat.


Karel menoleh, hanya untuk menemukan Gavin yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.


"Saya harus sterilkan tubuh saya sehabis ini." Kata Gavin.


"Gue juga harus mandi kembang tujuh rupa nih." Sahut Karel. Kemudian mereka sama-sama membuang muka dan mengembuskan napas berat berbarengan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2