
Pukul setengah satu dini hari. Kalea masih tidak bisa memejamkan matanya walau tubuhnya sudah berbaring di atas kasur sejak satu setengah jam yang lalu. Waktu berlalu begitu cepat ketika dia dan Gavin asik berkeliling, menilik satu persatu setiap sudut rumah untuk mencari bagian mana yang kiranya masih harus diperbaiki, atau jika ada hal lain yang ingin Kalea tambahkan atau kurangi dari furniture yang ada di dalamnya. Saat sadar, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Gavin terlalu lelah untuk kembali mengemudi. Jadilah tercetus ide gila untuk mengajak Kalea menginap.
Dan yang lebih gila dari ide yang Gavin cetuskan adalah Kalea yang menyetujui ide itu tanpa banyak berpikir.
Kalea mendesah kasar. Kalau Karel tahu dirinya bersedia diajak menginap oleh seorang laki-laki, bocah itu pasti akan menggeret tubuh Kalea lalu membawanya ke tempat jagal hewan untuk kemudian memotong lehernya hingga putus. Sedari dulu, saat mereka masih remaja tanggung yang belum benar-benar mengerti mengapa laki-laki dan perempuan tidak boleh berada di satu kamar yang sama selain mereka yang sudah menikah, Karel sudah sering memperingati Kalea untuk tidak menurut saat ada laki-laki yang mengajaknya menginap. Karel yang notabene tumbuh bersama Kalea pun tidak berani membawa Kalea menginap di rumahnya kalau Ibun sedang tidak ada.
"Tidur, Kalea." Kata Gavin dengan suara zrendah.
Kalea hanya berdeham sebagai jawaban. Sejak tadi, dia tidur dengan posisi miring ke kanan, membelakangi Gavin yang memilih tidur di sisi ranjang yang dekat dengan pintu.
Sedari tadi hening, jadi Kalea pikir Gavin sudah tidur. Rupanya lelaki itu masih terjaga. Atau barangkali, Gavin juga sama gugupnya dengan dirinya sekarang.
"Kalau kamu takut saya bakal macem-macem, saya bisa pindah ke kamar sebelah." Tawar Gavin. Kali ini suaranya terdengar lebih dekat. Kalea menduga Gavin sedang menatap ke arah punggungnya sekarang.
"Aku cuma sedikit kesusahan tidur di tempat baru." Kilah Kalea. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Dia memang tidak bisa tidur dengan mudah di tempat baru, tapi keberadaan Gavin di sini adalah masalah lain yang Kalea tidak tahu apa solusinya.
"Kalau gitu, saya antar kamu pulang aja."
Kalea merasakan kasurnya bergoyang. Sepertinya Gavin baru saja bangun dari posisi tidurnya. Tapi Kalea masih enggan berbalik untuk memeriksa. Dia malah memaksa kedua matanya untuk terpejam.
"Nggak usah, udah malam, bahaya. Lagian kamu kayaknya udah ngantuk banget." Kata Kalea dengan mata terpejam erat.
"Tapi saya nggak mau lihat kamu gelisah kayak gini."
"I'm ok, Gavin. Sebentar lagi juga aku bakal tidur kok."
"Kalea,"
"Good night, Gavin." Potong Kalea cepat.
Gavin tidak menyahut dan justru menatap punggung Kalea untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya dia jengah dan desah kasar keluar dari belah bibirnya.
"Nggak bisa gini. Saya tahu kamu nggak akan bisa tidur kalau saya masih di sini." Katanya, mulai bergerak dari posisi duduknya. "Saya tidur di kamar sebelah aja." Lanjutnya saat kedua kakinya sudah menapak di lantai. Hanya butuh persetujuan dari Kalea lalu Gavin akan benar-benar keluar dari kamar ini. Tapi setelah ditunggu sekian lama, Kalea tak juga memberikan jawaban.
"Kalea?"
Hening. Tidak ada sahutan dari Kalea sehingga membuat Gavin mengerutkan kening kebingungan. Dia tahu Kalea belum tidur. Seseorang yang bilang tidak bisa tidur dengan mudah di tempat baru tidak mungkin terlelap hanya dalam hitungan menit saja.
Gavin kembali menghela napas. Kaki yang semula sudah menapak di atas lantai dia naikkan lagi ke atas kasur. Dia duduk bersila menghadap punggung Kalea, kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Answer me? Saya tahu kamu belum tidur." Katanya. Namun sekali tidak Kalea tidak menyahut. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu dengan berpura-pura tidur seperti ini.
"Kalea?" panggilnya lagi. Kesabarannya mulai habis saat Kalea justru bergerak menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya, namun sama sekali tidak menjawab panggilannya.
"Saya pindah ke kamar sebelah." Dan Gavin benar-benar bangkit dari kasur. Dia sudah siap melangkah, namun suara Kalea yang teredam selimut menghentikan pergerakannya.
"Jangan kemana-mana, aku takut."
Gavin praktis menoleh. Sepenuhnya kehilangan kata-kata saat kepala Kalea pelan-pelan menyembul dari balik selimut. Gadis itu menoleh sedikit, hanya untuk menyuguhkan raut wajah yang seketika membuat Gavin tergelak. Saat ini, dengan mata boba yang menatap frustasi ke arahnya dan bibir mungil yang mencebik lucu, Kalea lebih terlihat seperti bocah umur lima tahun yang merengek pada ayahnya untuk dibacakan dongeng sebelum tidur.
"Jangan ketawa!" Kalea melotot, tapi hal itu sama sekali tidak berhasil membuat tawa Gavin mereda.
Lelaki itu semakin tergelak saat Kalea tiba-tiba bangkit dari tidurnya, duduk di atas kasur sambil melotot.
"Gavin!" kesalnya.
__ADS_1
Tawa Gavin perlahan-lahan mereda. Jemarinya bergerak pelan menyeka satu tetes air mata yang merembes dari sudut mata saking kencangnya dia tertawa. Perutnya terasa kram, tapi Gavin tidak terlalu memperdulikannya dan justru berjalan kembali menuju kasur.
"Kamu takut apa? Hantu?" tanya Gavin, mendudukkan diri di tepian kasur.
"Emang di sini ada hantunya?" tanya Kalea polos yang membuat Gavin harus bersusah payah menahan tawanya agar tidak kembali meledak.
Gavin mengendikkan bahu. "Saya bukan anak indihome."
"Indigo!" ketus Kalea. Mata bobanya masih melotot dan bibirnya kian turun.
"Iya, itu maksud saya." Gavin mengulas senyum. "Saya nggak tahu di sini ada hantunya atau nggak, tapi kalau kamu memang takut, ya saya nggak akan pergi. Saya temenin kamu sampai kamu tidur."
Kalea merasakan pipinya panas saat Gavin mengulaskan senyum yang begitu manis. Manik kelam lelaki itu menatapnya teduh, membuatnya seketika lupa pada segala resah yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Tidur, besok kita harus pulang pagi-pagi sekali."
Bagai tersihir, Kalea menurut. Dia rebahkan lagi tubuhnya di kasur. Namun kali ini tidak membelakangi Gavin. Dia memosisikan diri miring ke arah Gavin, menatap lelaki itu begitu lama sebelum mulai memejamkan mata.
"Good night, Gavin." Katanya.
Kalea tidak akan pernah tahu, bahwa selepas dia memejamkan mata, binar cerah di mata Gavin dan juga senyum yang tersungging sejak tadi lenyap dalam sekejap. Lelaki itu kini menatap Kalea datar, seolah tanpa minat sama sekali.
Bermenit-menit Gavin hanya diam di posisinya, mengamati bagaimana napas Kalea mulai berubah teratur, mengindikasikan gadis itu sudah jatuh terlelap. Setelah yakin Kalea tidak akan bangun, Gavin bangkit dari kasur. Dia berjalan keluar kamar dengan langkah yang mengendap-endap dan menutup pintu dengan gerakan pelan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara apapun yang bisa membuat Kalea terbangun.
Gavin masih terus melangkah. Menuruni tangga ke lantai satu, melewati dapur, ruang tengah dan ruang tamu dengan langkah yang teratur. Lalu saat kakinya sampai di ambang pintu depan, Gavin berhenti. Dikeluarkannya ponsel dari saku celana, jemari panjangnya sibuk menggeser layar ponsel sebelum akhirnya benda pipih itu ditempelkan ke telinga. Lalu tak lama setelahnya, telepon tersambung.
"Halo, Vin?" sapa sebuah suara perempuan dari seberang.
Gavin tersenyum saat suara itu mengalun begitu lembut di telinganya. Suara yang dia rindukan setengah mati walau dia baru mendengarnya beberapa jam yang lalu saat acara makan malam bersama keluarga Kalea.
"Kamu udah tidur?" tanya Gavin.
"Kenapa?"
"I miss you, Vin. So much. Bisa nggak sih kamu ke sini dan temenin aku tidur?"
"Sure. Aku ke kamu sekarang, just count 'till 120. You get me, babe?"
"Yeah. Aku mulai hitugannya setelah kamu matiin telepon, ya. Hati-hati, aku tunggu kamu."
"Iya, sayang."
Telepon terputus dan Gavin melangkah tanpa ragu keluar dari rumah itu. Dia tidak lagi khawatir kalau-kalau Kalea akan terbangun dari tidurnya dan kebingungan karena dia tidak ada di sana bersama gadis itu. Sebab ia sudah menyiapkan banyak alasan masuk akal yang akan membuat gadis lugu nan polos seperti Kalea percaya tanpa banyak bertanya apa-apa.
Gavin masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata karena dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadisnya.
"I'm coming, babe." Dia tersenyum.
********
Entah sudah pukul berapa ketika Kalea pertama kali mengerjapkan matanya pelan. Yang pasti Kalea yakin hari sudah cukup siang saat matahari menelusup masuk melalui celah gorden yang menutup pintu akses menuju balkon.
Setelah mengumpulkan nyawanya, Kalea mendudukkan diri. Lalu keningnya berkerut samar saat tak mendapati sosok Gavin di sana. Kemana Gavin pergi? Mengapa lelaki itu tidak membangunkannya padahal semalam ia bilang mereka harus pulang pagi-pagi sekali? Ada begitu banyak pertanyaan yang sudah mengerubungi kepalanya bakhkan ketika dia baru membuka mata, membuat kepalanya terasa pening bukan main.
Dengan langkah sempoyongan, Kalea berjalan keluar kamar. Menuruni tangga dengan hati-hati sampai akhirnya langkah kecil itu terhenti di anak tangga ke-lima saat dia menemukan sosok Gavin tengah berdiri di depan kompor, membelakangi dirinya. Lelaki itu tampak sibuk dengan panci dan penggorengan, sebuah apron terlilit di tubuhnya dan entah mengapa hal itu membuat Kalea merasa Gavin terlihat semakin memesona.
__ADS_1
Puas memandangi Gavin yang sibuk menyiapkan sarapan, Kalea melanjutkan langkah. Menghampiri Gavin yang kini mulai memindahkan makanan dari panci ke dalam piring yang sudah disiapkan di dekat kompor. Lelaki itu tampak serius memasak hingga tak menyadari kehadirannya, bahkan ketika ia sudah sampai tepat di belakang lelaki itu.
"Kamu masak apa?" tanya Kalea sembari melongokkan kepala dari balik bahu lebar Gavin, membuat yang laki-laki berjengit kaget dan nyaris menumpahkan makanan yang sedang dia tuang.
"Astaga Kalea! Kamu ngagetin!" pekik Gavin. Untung saja tangannya sigap menahan panci di tangan agar tidak jatuh bergelimpangan. Kalau tidak, bencana yang lebih serius bisa saja terjadi.
Melihat reaksi Gavin yang demikian, Kalea hanya terkikik geli. Dengan tampang tak berdosa, gadis itu melangkah mundur kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Sorry." Ucapnya santai.
Gavin mendengus kemudian berbalik, melanjutkan kembali kegiatannya menuangkan makanan lalu setelah selesai, dia bawa hasil masakannya ke atas meja makan.
"Sini, duduk." Perintahnya pada Kalea yang masih berdiri di dekat counter.
Kalea menurut saja. Dia duduk di salah satu kursi yang Gavin pilihkan. Di hadapannya tersaji berbagai macam hidangan yang membuatnya seketika menatap takjub ke arah Gavin. Dia tidak menyangka laki-laki sibuk seperti Gavin masih bisa menyempatkan diri untuk mengasah keterampilan memasaknya. Kalea pikir, laki-laki yang pandai mencari uang sekaligus mengurus rumah hanya ada di dalam drama, tapi rupanya di dunia nyata juga ada. Hanya saja Kalea baru bertemu dengannya sekarang.
"Kamu kok pinter masak?" tanya Kalea setelah Gavin ikut duduk di sampingnya. Apron yang sedari tadi melilit tubuhnya disampirkan ke kursi kosong di sebelah.
"Dari kecil udah sering bantuin Bunda masak, jadinya ngerti." Gavin menjawab sekenanya. Kemudian sebelum mulut cerewet Kalea kembali melayangkan pertanyaan, Gavin lebih dulu membungkamnya dengan menyodorkan sepotong nugget ke depan mulut kecil gadis itu.
Kalea pasrah saja saat potongan nugget itu dipaksa masuk ke dalam mulutnya. Lalu dia kunyah nugget itu pelan-pelan selagi matanya memerhatikan bagaimana Gavin mulai menyendokkan nasi ke atas piring kemudian menaburinya dengan berbagai macam lauk yang sudah lelaki itu masak sebelumnya. Tapi dari sekian banyak lauk pauk yang terhidang di atas meja, ada satu menu yang menarik perhatian Kalea, yaitu sup ayam khas Korea yang pernah sekali ia makan saat berkunjung ke negeri gingseng itu beberapa tahun silam.
"Kamu bisa masak samgyetang?" tanya Kalea dengan mulut setengah penuh.
"Bisa, lah."
"Kok bisa?"
"Emang harusnya nggak bisa?" Gavin menoleh, hanya untuk menemukan binar kagum yang terpancar dari kedua mata boba milik Kalea.
"Resepnya ada banyak di internet, tinggal lihat aja, nggak repot." Kata Gavin, membawa sup ayam yang membuat mata Kalea berbinar cerah itu lebih dekat ke hadapan sang gadis.
"Makan." Katanya.
Kalea tampak bersemangat saat menyendok sup ayam ke dalam mangkuk yang sudah Gavin sediakan. Sedangkan piring berisi nasi dan lauk pauk yang tadi Gavin sediakan kini beralih ke hadapan lelaki itu. Dia yang akan menggantikan Kalea memakannya karena Kalea tertalu tergiur dengan sup ayam yang aroma rempahnya begitu menggoda selera itu.
"Enak!" Kalea memekik kegirangan setelah satu suap kuah berhasil menyentuh lidahnya. Matanya kian berbinar dan mengundang senyum Gavin untuk terbit lebih lebar.
"Habisin." Kata Gavin, mulai menyendok makanan di piring dan melahapnya dalam hening.
Di tengah-tengah kegiatannya menyantap sup ayam, Kalea teringat sesuatu. Jadi dia meletakkan sendoknya ke atas meja dan mulai menatap Gavin serius. Yang laki-laki cuma bisa mengerutkan kening saat mendapati dirinya ditatap sampai sebegitunya oleh Kalea. Gavin bahkan sampai mengurungkan niatnya untuk menyuapkan nasi ke dalam mulut dan ikut meletakkan sendoknya kembali ke atas piring.
"Kenapa?"
"Kamu bangun jam berapa tadi? Kok nggak bangungin aku? Katanya kita harus pulang pagi-pagi."
"Tidur kamu kelihatannya nyenyak sekali, jadi saya nggak tega buat bangunin." Lagi-lagi Gavin menjawab diiringi seulas senyum manis.
"Gavin,"
"Hmmm?"
"Jangan terlalu sering senyum." Kata Kalea yang sontak membuat senyum Gavin luntur dalam sekejap mata.
"Senyum kamu manis banget, bikin aku meleleh. Aku nggak kuat kalau harus lihat senyum itu setiap hari."
Kalimat itu sontak membuat Gavin terdiam untuk beberapa saat. Namun setelahnya, lelaki itu malah menyunggingkan senyum yang sialnya lebih manis dari yang sebelumnya hingga membuat Kalea nyaris mengumpat saking terkejutnya. Agaknya, lelaki itu memang sedang ingin mengerjai dirinya.
__ADS_1
"Stop senyum-senyum!" pekik Kalea. Tapi Gavin malah semakin menjadi-jadi. Lelaki itu bahkan kini memajukan wajahnya, seperti sengaja ingin membiarkan Kalea bisa melihat senyumnya dengan lebih jelas lagi.
Ugh!! Gavin memang menyebalkan!