Serana

Serana
Mengungsi


__ADS_3

Usai sarapan, Gavin mengangkut piring-piring kotor ke bak cuci dan langsung membereskan semuanya. Dia tidak membiarkan Kalea beranjak dari kursinya, memaksa perempuan itu untuk menunggu sampai dia selesai mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tersisa.


Selesai dengan piring kotor, Gavin beralih membersihkan area kompor dan sekitarnya yang terciprat minyak dan bumbu. Setelah itu, Gavin mencuci tangan dan bergegas menghampiri Kalea yang sudah tampak bosan menunggu di tempat duduknya.


Gavin membungkuk, hendak mengangkat tubuh Kalea namun perempuan itu buru-buru menepisnya.


"Kenapa?" tanya Gavin heran.


"Aku mau jalan sendiri."


"Emang bisa?"


Pertanyaan Gavin tersebut rupanya membuat Kalea tersinggung, hingga perempuan itu kini melotot ke arah Gavin dengan bibir bawah yang sedikit maju.


"Emang kamu pikir aku lumpuh?!" kesalnya.


Bukannya takut melihat Kalea kesal, Gavin lagi-lagi terkekeh. "Bukan gitu, maksud saya emangnya kamu udah bisa jalan-jalan? Emang bagian itu udah nggak sakit?"


Kalea refleks merapatkan kedua pahanya ketika Gavin menyebut kata itu dengan tatapan yang jelas ditujukan ke bagian bawah tubuhnya.


"Awas! Aku mau jalan!" Kalea mendorong pelan tubuh Gavin agar menyingkir dari hadapannya.


Gavin menurut tanpa banyak melakukan perlawanan. Dia menegakkan kembali badannya dan menggeser tubuh bongsornya agar tuan putri Kalea bisa lewat.


Gavin terkekeh melihat cara jalan Kalea yang lucu. Tapi sebisa mungkin dia tahan kekehan itu agar tidak terdengar oleh Kalea karena takut perempuan itu akan memakannya hidup-hidup.


Saat mereka sampai di tangga, langkah Kalea semakin pelan lagi. Dia sempat berhenti di anak tangga ke-lima, hanya untuk menoleh pada Gavin dan berkata "Mending kamu jalan di depan deh." Dengan raut wajah yang terlalu sulit untuk Gavin baca.


"Nggak. Saya mau jagain kamu dari belakang. Kalau saya di depan, nanti saya nggak tahu kalau kamu jatuh."


"Nggak akan jatuh!"


"Nggak ada yang tahu, Kalea. Udah, buruan jalan." Gavin membalikkan tubuh Kalea dan sedikit mendorong punggung perempuan itu agar melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Walau sambil menggerutu, Kalea tetap menurut juga. Satu persatu anak tangga yang tersisa mereka daki pelan-pelan sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar.


Gavin menerobos tubuh Kalea, membukakan pintu untuk istrinya dan mempersilakan perempuan itu untuk masuk terlebih dahulu. Kemudian, Gavin menyuruh Kalea untuk duduk di atas kasur selagi dirinya sendiri sibuk menurunkan koper dari atas lemari.


Melihat Gavin tiba-tiba mengeluarkan koper berukuran besar tentu saja membuat Kalea kebingungan. Apa yang hendak laki-laki itu lakukan dengan koper tersebut? Tetapi Kalea memutuskan untuk tidak bertanya dan mengamati apa yang akan Gavin lakukan selanjutnya.


Tanpa diduga, lelaki itu mulai memasukkan beberapa potong pakaian mereka ke dalam koper. Tidak seperti laki-laki kebanyakan yang biasanya asal saja menaruh baju-baju ke dalam koper, Gavin menaruhnya dengan penuh perasaan, tetap mempertahankan bentuk lipatan asli agar tidak berserakan.


"Kamu ngapain, sih?" tanya Kalea pada akhirnya setelah melihat Gavin selesai memasukkan baju-baju dan menutup koper kembali.


Gavin mengangkat pandangan hingga tatapan mereka bertemu. "Mulai hari ini, kita menginap dulu di rumah Mama."


"Kenapa?"


"Rumah kita harus disterilkan dulu, Kal. Lagipula saya akan merasa lebih tenang kalau kamu di rumah Mama, setidaknya masih ada yang bisa bantu jaga kamu selagi saya cari tahu siapa pelaku peneroran ini." Jelas Gavin. Lelaki itu kemudian berjalan ke arah Kalea dan ikut mendudukkan diri di tepi ranjang.


"Berapa lama kita nginep di rumah Mama? Kok kamu packing bajunya banyak banget kayak orang mau pindah selamanya?" tanya Kalea sembari menatapi koper besar berwarna hitam itu dengan agak ngeri.


"Selama mungkin, sampai saya yakin rumah kita udah aman lagi untuk ditinggali." Setelah mengatakan itu, Gavin bangkit. "Mandi sana, selesai mandi kita langsung berangkat." Sambung lelaki itu sebelum keluar dari kamar setelah menyambar ponsel dari atas nakas.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Mama, Kalea sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Gavin. Dia sibuk memperhatikan bagaimana lelaki itu begitu fokus menyetir. Seolah hujan badai angin ribut sekalipun tidak mampu membuat laki-laki itu menarik pandangan dari jalanan.


Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah Mama. Pak Dadang berlari tergopoh-gopoh untuk membukakan gerbang. Pria paruh baya itu terlihat sumringah saat Gavin melajukan mobilnya ke halaman.


"Halo, Neng Kalea." Sapa Pak Dadang setelah Kalea turun dari mobil.


"Halo juga Pak Dadang! Gimana kabarnya? Sehat?" Kalea membalas sapaan itu dengan penuh semangat.


"Sehat, Neng. Neng Kalea juga sehat, kan?"


"Sehat, dong..."


Selagi Kalea dan Pak Dadang asik berbincang, Gavin melipir ke arah belakang mobil untuk menurunkan koper yang disimpan di bagasi. Kemudian dia menyeret koper itu dan meraih tangan Kalea untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Loh? Kok bawa koper, Mas? Memangnya mau menginap di sini?" tanya Pak Dadang saat matanya menangkap eksistensi koper besar di tangan Gavin.


"Iya, Pak. Kami mau menginap selama beberapa hari ke depan. Biasa, ada yang kangen sama Mama." Gavin berucap santai sembari melirik Kalea. Yang dilirik balik memicing karena merasa dirinya sedang diledek.


"Ya udah, Pak, kami masuk dulu." Pamit Gavin.


"Iya, Mas. Silakan."


Gavin dan Kalea berlalu. Sampai di pintu depan, mereka disuguhi tatapan keheranan oleh Bi Imah yang baru selesai menyiram tanaman. Wanita itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka sambil mengelap tangannya yang basah hanya untuk bisa mengusap lengan Kalea beberapa kali.


"Neng Kalea kok datang nggak bilang-bilang dulu? Aturan kan Bibi bisa masakin cumi rica kesukaan Neng." Kata Bi Imah. Wanita itu menatap Kalea lekat. Seperti seorang ibu yang merindukan putri kecilnya setelah sekian lama terpisah.


Kalea terkekeh. Diraihnya tangan Bi Imah yang ada di lengannya kemudian dia genggam erat-erat. "Nggak perlu repot-repot, Bi. Bisa dengar suara Bibi lagi aja Kalea udah senang."


Bi Imah tersenyum mendengar penuturan Kalea. Kemudian wanita itu menarik pelan lengan Kalea dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sempat melupakan keberadaan Gavin sebelum akhirnya langkahnya terhenti sebelum mencapai ruang tamu.


Bi Imah berbalik, tersenyum canggung pada Gavin yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa antusiasnya Bi Imah ketika bertemu dengan Kalea.


"Ayo, Mas, masuk."


Gavin mengangguk, kemudian berjalan mengikuti Bi Imah dan Kalea.


Sampai di ruang tengah, mereka kembali ditodong pertanyaan yang sama, kali ini datangnya dari Mama. Wanita itu baru muncul dari arah dapur dan langsung berlarian menghampiri Kalea yang baru akan mendudukkan dirinya di sofa.


"Kalian kok datang nggak bilang-bilang dulu, sih?"


"Keburu anaknya nangis, Ma, kalau harus bilang dulu." Goda Gavin yang sontak membuat Kalea mendengus sebal.


"Siapa yang nangis? Kalea nangis?" tanya Mama dengan polosnya. "Anak Mama kenapa nangis?"


Kalea baru akan membuka mulut untuk menyangkal tuduhan Gavin, namun suaminya itu sudah lebih dulu merebut kesempatannya untuk bicara dengan mengatakan, "Kangen Mama sama Papa katanya."


"Gavin!!!" pekik Kalea kesal yang justru membuat semua orang yang ada di sana tergelak.

__ADS_1


Ha... dasar Kalea, tidak pernah sadar kalau dirinya itu menggemaskan saat sedang kesal. Lain kali, haruskah Gavin mengatakan langsung kepada perempuan itu betapa menggemaskannya dia?


Bersambung


__ADS_2