Serana

Serana
Mati Listrik


__ADS_3

Tengah malam, Kalea terbangun karena tenggorokannya terasa kering dan serak. Saat matanya terbuka, kamar dalam keadaan gelap. Lampu tidur yang seharusnya menayala secara otomatis tampaknya tidak bekerja. Tapi lebih dari itu, yang membuat dahi Kalea berkerut adalah tidak adanya sosok Gavin di kasur.


Kemana perginya lelaki itu?


Rasa penasaran Kalea akan keberadaan Gavin nyatanya tidak lebih besar ketimbang rasa kering di tenggorokan yang semakin menjadi-jadi. Dengan gerakan pelan, Kalea turun dari ranjang.


Begitu pintu kamar terbuka, Kalea sedikit terkejut mendapati seluruh ruangan dalam keadaan gelap gulita. Berarti bukan lampu tidur di kamar yang rusak, melainkan seluruh listrik di dalam rumah memang sedang padam. Pikirnya. Karena tadi sewaktu di kamar Kalea hanya memerhatikan lampu yang padam tanpa sempat meneriksa apakah unit pendingin ruangan di kamar juga mati atau tidak.


Dengan sangat berhati-hati, Kalea berjalan menuju tangga. Ketika kaki kecilnya mulai menapaki satu persatu anak tangga, tangannya juga bergerak menyentuh dinding di sebelahnya, menggunakannya sebagai tumpuan untuk berjalan di tengah kegelapan.


Saat langkah Kalea sampai di anak tangga terakhir, sayup-sayup terdengar suara Gavin. Karena tidak ada suara lain yang terdengar menyahuti, Kalea yakin kalau lelaki itu sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Kalea berjalan pelan, mengendap-endap ke arah dapur mengikuti arah suara Gavin. Di sana, di depan lemar pendingin, Gavin beridiri membelakangi dirinya. Benar dugaannya, lelaki itu sedang menelepon. Kalea tidak bisa mendengar dengat jelas apa yang Gavin bicarakan, tapi dari gerak-geriknya, pembicaraan itu sepertinya cukup serius.


Tak lama kemudian, ketika Gavin berbalik dan menemukan eksistensi dirinya di ambang pembatas dapur dan ruang tengah, Gavin terlihat panik. Lelaki itu tampak buru-buru menutup sambungan telepon sehingga menimbulkan pertanyaan di dalam kepala Kalea. Siapa yang sedang Gavin telepon? Kenapa teleponnya tiba-tiba ditutup dan Gavin terlihat sangat panik?


"Kenapa bangun, Kal? Kamu butuh apa?" tanya Gavin sambil berjalan menghampiri Kalea.


"Aku haus, mau minum." Kalea menjawab sejujurnya. Walau masih tidak bisa mengenyahkan pertanyaan di kepala, Kalea tetap menurut saat Gavin menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi meja makan.


Gavin berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral lalu menyodorkannya kepada Kalea setelah membukakan tutupnya.


"Makasih." Kata Kalea kemudian meneguk air mineral tersebut hingga setengah tandas.


"Listrik mati, ya?" tanyanya setelah meletakkan botol air mineral ke atas meja.


"Iya, saya turun buat ngecek meteran listriknya yang turun atau memang sedang ada pemadaman."


Kalea manggut-manggut. Untuk beberapa saat, ia melamun. Sibuk memikirkan kembali Gavin dan seseorang yang sedang bicara dengan lelaki itu di telepon tadi. Sampai akhirnya, Kalea mendongak saat merasakan tangan lembut Gavin menyentuh pipinya. Lelaki itu kini duduk di atas meja makan, dengan satu kaki yang masih menjejak di lantai sebagai tumpuan.


"Panas, ya? Kamu keringetan." Tanpa jijik sama sekali, Gavin mengusap bulir keringat yang menetes mengaliri pelipis Kalea menggunakan telapak tangannya. Kalea sendiri bahkan tidak sadar kalau dirinya berkeringat.


"Gavin."


"Hmmm?"


"Kamu tadi telepon siapa?"


Gerakan tangan Gavin yang menyeka keringat Kalea tiba-tiba berhenti, membuat Kalea semakin merasa curiga.

__ADS_1


"Gavin?" desak Kalea. Di tengah kegelapan, Kalea berusaha menatap lekat mata Gavin demi menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Tapi nihil, terlalu sulit untuk membaca manik kelam yang serupa palung paling dalam di sebuah lautan itu.


Tangan Gavin perlahan-lahan menjauh dari wajah Kalea. Lelaki itu menghela napas pelan sebelum berkata, "Teman." Yang tentu tidak bisa memenuhi keingintahuan Kalea.


Walaupun merasa tidak puas dengan jawaban yang Gavin berikan, Kalea memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. Karena percuma juga ia menuntut Gavin untuk bercerita, karena lelaki itu tidak akan mengatakan apa-apa jika bukan atas kemauannya sendiri.


Akhirnya, setelah meneguk sisa air mineral dalam botol sampai benar-benar tandas, Kalea bangkit dari duduknya. Dibuangnya botol bekas air mineral itu ke dalam tong sampah dekat kompor kemudian mulai berjalan menuju tangga, meninggalkan Gavin yang masih belum beranjak dari tempatnya.


Mulanya Kalea hendak membiarkan saja Gavin tertinggal di belakang, tapi kemudian satu bagian di kepalanya seolah berteriak menyuruhnya untuk tidak bersikap kekanak-kanakan. Maka, saat kakinya mencapai anak tangga pertama, Kalea membalikkan badan.


Setelah menarik napas dan mengembuskannya perlahan, Kalea memanggil Gavin dengan suara yang dibuat setenang mungkin.


"Ayo kita tidur lagi."


Tidak butuh waktu lama bagi Gavin untuk melompat turun dari atas meja makan. Lelaki itu buru-buru berjalan ke arahnya lalu menggamit lengannya erat.


"Ayo." Ucap Gavin. Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar.


...****************...


Sudah lebih dari setengah jam Kalea berbaring, namun matanya masih tidak bisa terpejam. Keringat semakin deras mengucur dari pelipisnya. Bahkan buliran keringat itu telah berhasil membasahi bantal dan kasur. Kalea basah kuyup, seperti baru saja selesai mandi.


Di sampingnya, Gavin juga merasakan hal yang sama. Tapi lelaki itu terlihat lebih tenang dan tidak banyak berkomentar. Lalu, ketika tatapan mereka tidak sengaja bertemu dan Gavin menemukan tubuh Kalea yang sudah basah kuyup, Gavin sontak bangkit dari tidurnya.


Perlahan-lahan Kalea mendudukkan dirinya, bersandar di headboard kasur sembari memerhatikan apa yang akan Gavin lakukan selanjutnya.


"Kipas-kipas pakai kertas aja, ya." Kata Gavin setelah naik kembali ke atas kasur. Dengan cekatan lelaki itu menggerakkan tumpukan kertas HVS di tangannya, mengipaskannya di depan wajah Kalea sehingga angin sejuk menerpa dan sedikit mengurangi kegerahan yang Kalea rasakan sejak tadi.


"Nggak usah, Gavin. Nanti kamu pegel." Kalea hendak merebut kertas HVS itu dari tangan Gavin, namun lelaki itu dengan cepat menahan tangannya.


"Udah, diam aja." Kata Gavin sembari terus mengipasi Kalea. "Coba kamu tidur lagi." Perintahnya sembari menarik lengan Kalea pelan, menuntunnya untuk kembali berbaring.


Meskipun enggan, Kalea tetap menurut karena terlalu malas untuk mendebat Gavin. Ia berbaring dengan posisi miring ke arah Gavin, memerhatikan bagaimana lelaki itu begitu telaten mengipasinya sambil sesekali menyeka keringat yang membasahi wajahnya.


"Keringat kamu banyak banget. Emang biasanya begini? Atau karena kamu lagi nggak enak badan?" tanya Gavin. Ada kepanikan yang terselip dari nada suaranya yang berhasil Kalea tangkap.


"Biasanya nggak sebanyak ini. Kayaknya ini karena udah mau masuk tanggal merah aku deh."


"Pasti nggak nyaman banget, ya?" Kini, Gavin beralih mengusap keringat yang sampai mengalir ke leher Kalea. Membuat Kalea bergidik karena lekuk lehernya merupakan salah satu area yang sensitif. Kalea mati-matian menahan diri untuk tidak menepis tangan Gavin saat lelaki itu tidak kunjung menarik tangannya dari sana.

__ADS_1


"Atau mau pindah ke kamar sebelah aja? Nanti kita buka jendelanya sedikit biar angin dari luar bisa masuk dari celah-celah teralisnya." tawar Gavin. Kalea mengembuskan napas lega karena akhirnya Gavin berhenti mengusap lehernya.


"Nggak usah. Aku nggak apa-apa, kok. Keringatnya emang banyak, tapi sebenarnya aku nggak terlalu merasa gerah."


"Serius?"


Kalea mengangguk mantap. "Kamu bisa berhenti kipasin aku. Sini, tidur." Lanjutnya sembari menepuk bantal di sebelahnya.


"Nggak apa-apa, saya bisa kok kipasin kamu semalaman."


"Aku nggak mau, Gavin." Sela Kalea. Tangannya bergerak cepat merebut kertas HVS dari tangan Gavin dan menaruhnya di atas nakas. Ia kemudian menarik lengan Gavin, membuat lelaki itu berbaring di sebelahnya.


"Tidur." Perintahnya.


Alih-alih menurut, Gavin malah menatap Kalea lekat-lekat. Membuat sang empunya berdebar-debar dan semburat merah perlahan-lahan muncul dari belah pipinya.


"Tadi saya betulan telepon teman." Kata Gavin tiba-tiba.


Kalea tidak mengatakan apa-apa, menunggu sampai Gavin melanjutkan ucapannya.


"Saya minta tolong teman saya untuk caritahu tentang paket yang dikirim ke rumah kita pagi tadi." Sembari mengatakan itu, Gavin menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipi Kalea. Ia ingin melihat lebih jelas semburat merah yang tampak indah di pipi perempuan itu.


"Tapi kamu panik dan langsung matiin telepon pas ngeliat aku."


"Saya nggak panik. Cuma kaget aja karena kamu tiba-tiba muncul di belakang saya." Sela Gavin. "Saya pikir kamu hantu." Lanjutnya diakhiri kekehan ringan yang seketika membuat Kalea cemberut.


"Bercandaaaaa."


"Akhhh!" Kalea menepuk tangan Gavin yang iseng mencubit pipinya. "Sakit!" keluhnya, namun Gavin hanya terkekeh.


"Kamu lucu kalau lagi cemberut. Makanya jangan cemberut biar saya nggak gemas."


"Ini namanya kekerasan!" Kalea mengusap pipinya yang sedikit terasa panas.


"So sorry. Sebagai permintaan maaf, saya akan kasih penawarnya supaya pipi kamu nggak sakit."


"Ap--"


Kalimat Kalea tidak pernah selesai karena Gavin tiba-tiba saja mendaratkan sebuah kecupan di pipinya. Membuat seluruh tubuhnya membeku dan waktu serasa berhenti berputar saat itu juga. Bukan cuma waktu, Kalea juga merasakan detak jantungnya berhenti dan oksigen tidak lagi mengalir ke paru-paru karena entah megapa hidungnya menolak untuk menarik napas.

__ADS_1


Papaaaaa! Pipi Kalea dicium sama Gavin! Gimana ini?! teriaknya dalam hati walau ia tahu, sekalipun kalimat itu betulan ia ucapkan dengan lantang, tetap tidak akan ada yang bisa membela dirinya. Lagipula, istri mana yang akan teriak-teriak saat pipinya dicium oleh suaminya sendiri? Tidak ada. Dan Kalea tidak mau menjadi yang pertama. Itu terlalu aneh dan tidak masuk akal.


Jadi, saat Gavin tergelak dengan ekspresi wajah yang begitu puas, yang bisa Kalea lakukan hanyalah menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya. Masa bodoh kalau ia akan berakhir menjadi Kalea rebus karena nekat tidur di dalam selimut tebal di saat listrik sedang padam dan pendinginan ruangan tidak berfungsi. Yang jelas, Kalea ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah dari Gavin. Demi Tuhan! Kalea malu!


__ADS_2