
Sudah menjelang subuh dan Gavin sama sekali belum tidur. Semalaman ia sibuk menenangkan Irina yang masih sesekali menangis dan meratapi keadaan mereka. Bahkan sampai perempuan itu terlelap di pelukannya sekalipun, Gavin masih bisa merasakan pedih yang perempuan itu rasa melalui jejak air mata yang tertinggal di pipi pualamnya.
Gavin terdiam sejenak memandangi wajah lelah Irina. Dua jam yang lalu sebelum perempuan itu akhirnya bisa terlelap, mereka sudah membicarakan tentang Taruna dan Gavin memutuskan untuk menganggap dirinya sendiri sedang dalam kondisi yang terlalu sensitif hingga memikirkan kedekatan Irina dan Taruna secara berlebihan. Ia memutuskan untuk tetap percaya pada Taruna, juga pada Irina yang sama sekali tidak pernah bergerak menjauh darinya walau segala sisi buruk yang ada di dalam dirinya telah nampak di mata perempuan itu.
Tapi masalahnya, perjodohannya dengan Kalea tidak akan bisa diselesaikan dengan cara yang sama seperti ketika mereka membicarakan soal Taruna. Masalahnya, pernikahan ini tidak memiliki titik ujung yang jelas. Atau barangkali, Gavin memang tidak ingin ada yang berujung, baik hubungannya dengan Irina ataupun pernikahannya dengan Kalea kelak.
Egois. Iya, Gavin tahu ia seegois itu jadi manusia. Tapi kalau menekan egonya berarti dia harus kehilangan salah satu dari dua orang yang sama-sama ingin dia jaga, maka Gavin tidak keberatan untuk dilabeli sebagai manusia paling egois sejagad raya.
Sekali lagi, Irina dan Kalea sama-sama penting untuknya dan ia tidak bisa kehilangan salah satunya.
Kalau Irina adalah seseorang yang mengulurkan tangan kepadanya ketika ia jatuh, sekaligus sosok yang mampu menawarkan sebuah pelukan yang hangat dan menangkan, maka Kalea adalah rumah yang sudah sejak lama ia tinggalkan dan begitu gila ia rindukan.
Ketika Bunda pertama kali memberitahunya tentang rencana perjodohan dengan seorang perempuan tak dikenal, Gavin menolaknya dengan berbagai alasan. Walau ia harus memaki dirinya tiap malam karena rasa bersalahnya yang telah menolak keinginan Bunda, tapi Gavin masih mencoba untuk bertahan pada keputusannya untuk tidak melirik perempuan lain ketika ada Irina yang benar-benar bisa menerima ia seutuhnya.
Tapi saat satu fakta tentang perempuan yang hendak dijodohkan dengannya itu terungkap, Gavin tidak punya daya lagi untuk menolak. Tidak, ketika yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah seorang Kalea Dimitria, teman masa kecil yang ia cari-cari selama ini.
Pertemanan Gavin dan Kalea memang tidak seerat pertemanan perempuan itu dengan Karel, tapi sosok Kalea begitu melekat di dalam ingatan Gavin sejak pertama kali mereka bertemu belasan tahun silam.
Dulu, saat umurnya menginjak sebelas tahun, Papa pernah membawanya dan Bunda untuk tinggal di Bandung karena urusan pekerjaan. Kepindahan mereka begitu tiba-tiba sehingga Gavin yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar tidak punya persiapan apa-apa. Pada akhirnya, ia menjadi seorang penyendiri di lingkungan rumah barunya. Terlebih karena kompleks perumahan yang ia tinggali rata-rata dihuni oleh orang-orang dewasa yang anak-anaknya sudah beranjak remaja. Gavin tidak punya teman sebaya di sana, jadi ia selalu menghabiskan sore bersama pengasuhnya karena Bunda kala itu masih aktif membantu pekerjaan Papa.
__ADS_1
Sampai di suatu sore, setelah selesai belajar dengan guru privat yang didatangkan khusus oleh Papa, Gavin mengajak pengasuhnya untuk berjalan-jalan ke area danau di bagian belakang komplek perumahan. Sebetulnya area itu merupakan are terlarang di mana para penghuni komplek tidak boleh datang di kala matahari sudah hampir tenggelam, apalagi kalau keadaan sedang sepi dan tidak ada penjaga yang mengawasi. Tapi karena Gavin sudah sangat bosan dengan rutinitasnya dan ia terus merengek pada pengasuhnya untuk dituruti, mereka akhirnya betulan pergi ke area danau.
Di sanalah Gavin pertama kali bertemu dengan Kalea. Gavin ingat sekali waktu itu Kalea kecil mengenakan dress bunga-bunga warna hijau yang panjangnya sedikit di bawah lutut, kaki kecilnya terbalut sepatu warna putih sementara rambut ikalnya yang kala itu baru sepanjang bahu dibiarkan tergerai dengan sebuah jepit rambut bentuk kelinci warna putih yang lucu sebagai penghias. Kalea sendirian, tidak ditemani siapapun saat Gavin menemukannya sedang asik menikmati es krim rasa coklat yang sudah meleleh hingga mengotori jemari mungilnya. Beberapa noda coklat juga tampak tertinggal di pipi gembil anak itu.
Entah dari mana datangnya, Gavin tiba-tiba punya keberanian untuk berjalan mendekat. Untuk pertama kalinya ia mengajak orang lain berbicara lebih dulu, dan kabar baiknya, Kalea kecil menanggapi permintaan pertemanannya dengan senang hati.
Sejak sore itu Gavin dan Kalea berteman. Mereka sering bertemu di area danau kalau cuaca sedang cerah. Kalau sedang hujan, mereka terpaksa tidak bertemu karena Bunda melarang keras dirinya untuk keluyuran keluar rumah ketika cuaca sedang buruk.
Sederhananya, Kalea adalah teman pertama yang Gavin miliki. Anak itu berhasil menyelamatkannya dari kesepian yang mendera karena Bunda dan Papa sama-sama sibuk dengan urusan pekerjaan.
Sampai suatu hari di bulan ke-delapan setelah kepindahan mereka, kabar buruk terpaksa Gavin terima dengan lapang dada. Pekerjaan Papa di Bandung selesai dan mereka harus kembali ke Jakarta, tepat di hari ulangtahun Kalea. Padahal mereka sudah berjanji untuk merayakan ulangtahun bersama, tapi Gavin tidak pernah bisa menepati janji itu. Jangankan menepati janji untuk merayakan ulangtahun Kalea, ia bahkan tidak sempat untuk berpamitan kepada anak itu karena Papa memboyongnya dan Bunda secara tiba-tiba, seolah ada sesuatu yang begitu mendesak mereka agar segera pergi dari Bandung hari itu juga.
Waktu itu, saat ia tidak sengaja menoleh ke belakang, Gavin menemukan Kalea berlari mengejar mobil yang melaju dalam kecepatan pelan. Anak itu terus mengejarnya sampai ke jalan raya, hingga akhirnya mobil laju mobil bertambah di jalanan yang ramai dan tubuh kecil Kalea jatuh terjerembab di aspal yang keras ketika sebuah mobil lain dari arah berlawanan melaju kencang ke arah anak itu. Suara klakson bersahutan-sahutan setelah mobil itu rem mendadak agar tidak menabrak tubuh kecil Kalea, membuat kendaraan lain yang ada di belakangnya terkejut dan terjadilah tabrakan beruntun antara mobil dan beberapa sepeda motor. Tepat ketika rintik hujan mulai turun dan dalam sekejap berubah menjadi hujan yang deras, Gavin menyaksikan bagaimana orang-orang yang ada di sana berlarian menghampiri Kalea untuk memastikan bahwa anak itu baik-baik saja. Sedangkan Gavin cuma bisa terdiam selagi mobil yang Papa kendarai semakin menjauh dan ia sepenuhnya kehilangan penglihatannya atas Kalea.
Bertahun-tahun Gavin hidup dalam kegelisahan karena rasa bersalahnya terhadap Kalea. Setiap malam, ia selalu memikirkan Kalea, mempertanyakan bagaimana keadaannya dan apakah tragedi sore itu merubah banyak hal dalam hidup anak itu.
Jadi ketika ia tahu perempuan yang Bunda bawa kepadanya adalah Kalea yang selama ini ia cari-cari, Gavin sama sekali tidak perlu berpikir dua kali untuk menerima perjodohan ini. Ia ingin menebus kesalahannya pada Kalea. Menebus janji yang tak bisa ia tepati sekaligus rasa bersalah yang ia tinggalkan karena tidak sempat berpamitan.
Tapi lebih dari itu, Gavin ingin memulai semuanya kembali dari awal. Ia ingin memperkenalkan diri kepada Kalea, untuk pertama kali menyebutkan namanya dengan lantang sebab belasan tahun lalu ketika mereka pertama kali bertemu, Gavin hanya memperkenalkan dirinya dengan sebutan Abang. Karena Gavin kecil tidak terbiasa untuk menyebut namanya sendiri. Karena Bunda dan Papa serta anggota keluarga yang lain selalu memanggilnya dengan sebutan Abang alih-alih memanggil namanya. Gavin ingin menunjukkan eksistensinya di depan Kalea. Ia ingin Kalea tahu bahwa Abang yang telah meninggalkannya dulu masih hidup sampai sekarang dan sedang ingin menebus kesalahannya di masa lalu.
__ADS_1
"Vin,"
Gavin terhenyak saat suara serak Irina menyapa indera pendengarannya. Ia sedikit menunduk, memandangi Irina yang masih terpejam di pelukannya. Lengannya sudah terasa kebas karena Irina menjadikannya sebagai bantal, tapi Gavin sama sekali tidak merasa keberatan. Ia masih bisa mengulaskan sebuah senyum ketika mata Irina perlahan-lahan terbuka.
"Kenapa nggak tidur?" tanya Irina dengan tatapan yang tertuju lekat ke manik kelam Gavin.
"Aku mau jagain kamu." Ucapnya, mengulurkan tangan lalu mengusap pipi pualam Irina yang terasa begitu kecil di telapak tangannya.
"Tapi kamu butuh tidur." Ucap Irina sembari menggenggam tangan Gavin yang ada di pipinya, membuat gerakan mengusap yang lelaki itu buat praktis terhenti.
"Aku lebih butuh kamu."
Setelah mengatakan itu, tidak ada lagi kalimat yang menyusul dari bibirnya. Gavin memajukan wajahnya, menatap Irina lekat-lekat kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening perempuan itu. Gavin membiarkan bibirnya terdiam cukup lama di kening Irina sedangkan ia mulai memejamkan mata. Tangan besarnya bergerak, menarik tubuh Irina untuk lebih dekat dengannya kemudian ia dekap tubuh itu erat-erat.
"I need you." Bisiknya di sela-sela pelukan yang semakin mengerat.
Dalam keheningan yang tercipta, Gavin diam-diam merapalkan doa. Semoga ia juga bisa mengatakan hal yang sama pada Kalea. Bahwa perempuan itu penting, dan Gavin membutuhkannya.
Bersambung
__ADS_1