
Kalau sudah berada di studionya, Kalea akan seketika lupa pada segala hal yang berputar di sekitarnya. Sebab dia akan begitu fokus menyelami dunia yang dia ciptakan sendiri. Sebuah dunia di mana dia bisa melakukan lebih banyak hal yang mungkin tidak akan bisa atau terlalu sulit untuk dia lakukan di dunia nyata ini.
Di atas kanvas yang semula kosong itu, Kalea menggoreskan kuas berisi cat warna-warni, menuangkan segala ide dan perasaan yang tersimpan rapat di kepala selama ini ke dalam sebuah karya seni yang barangkali hanya sedikit orang yang bisa memahami.
Meskipun sudah berhari-hari dia tidak berkutat dengan segala jenis peralatan tempur yang telah menemaninya melewati hari-hari sulit tersebut, Kalea nyatanya tidak mendapatkan kesulitan sama sekali. Tangannya seolah bergerak secara otomatis. Ke kanan dan ke kiri. Meliuk ke atas lalu jatuh.
Sekitar empat puluh lima menit Kalea berkutat dengan pekerjaannya, hingga kini dia tersenyum puas menatapi hasil karyanya yang kali ini berupa pemandangan laut lepas saat senja hari. Burung-burung camar beterbangan, terlihat seperti hendak menembus cakrawala. Matahari sudah setengah tenggelam, separuh sinarnya berpendar sehingga membuat ombak yang meliuk-liuk terlihat berwarna oranye kemerahan.
Sementara jauh di bagian pojok kanan bawah lukisan itu, Kalea menuliskan sebuah catatan berisi untaian doa yang semoga bisa Tuhan kabulkan dalam waktu dekat. Dia ingin liburan, bersama Gavin ke suatu tempat yang mereka berdua sama-sama belum pernah kunjungi. Tidak harus pantai seperti yang tergambar di hadapannya kini, tidak harus pegunungan hijau yang selalu menjadi tempat favoritnya untuk pergi dan tidak juga harus tempat wisata yang ramai dikunjungi orang-orang. Cukup satu tempat di mana mereka berdua bisa sama-sama merasa aman, nyaman dan mampu meyakinkan diri bahwa mereka dicintai.
Kalea tidak tahu kapan perasaan ini bermula. Entah sejak hari-hari setelah pertemuan pertamanya dengan Gavin, atau baru-baru ini ketika dia mendapati Gavin selalu memperlakukannya dengan baik. Yang jelas, Kalea tahu bahwa dia telah jatuh cinta pada lelaki itu. Ini perasaan yang valid, sebab Kalea telah menghabiskan banyak malam untuk memikirkannya dengan baik.
Maka dari itu, dia juga ingin mencari keyakinannya bahwa dia tidak sedang jatuh cinta sendirian.
Sore ketika pertama kali Gavin menyentuhnya kemarin, Kalea bertaruh dengan dirinya sendiri. Jika dia menemukan Gavin bergerak sesuka hati, maka dia akan berpikir bahwa laki-laki itu memang menganggapnya tidak lebih dari seseorang yang dia nikahi karena sebuah perjodohan. Tetapi cara Gavin menyentuh setiap inci bagian tubuhnya yang terkesan penuh kehati-hatian berhasil membuat Kalea menanamkan kepercayaan kepada dirinya sendiri, bahwa Gavin juga merasakan apa yang dia rasakan.
Di sisi lain, selagi Kalea masih berkutat dengan pikirannya sendiri, di depan pintu studio yang sedikit terbuka ada Karel yang berdiri mematung di sana untuk waktu yang cukup lama.
Laki-laki itu hanya diam memperhatikan bagaimana Kalea menggerakkan tangannya yang memegang kuas kemudian ikut tersenyum saat perempuan itu menggumamkan kebanggaan atas hasil kerjanya sendiri.
Mulanya, Karel berniat untuk menerobos masuk dan mengganggu Kalea seperti yang biasa dia lakukan. Karena rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menjahili perempuan itu hingga mereka terlibat perdebatan.
Namun, niat itu sepenuhnya urung saat dengan kesadaran penuh, dia mendengar nama Gavin keluar dari belah bibir Kalea.
Karel memang tidak bisa melihat ekspresi wajah Kalea karena posisi perempuan itu memunggunginya, tetapi dari nada suara yang tertangkap telinganya saja, Karel sudah bisa merasakan bahwa bagaimana Kalea menyebutkan nama Gavin adalah cara seseorang menyebutkan nama orang yang dia puja.
Mereka sudah menikah. Bagus jika mereka akhirnya saling mencintai walau pada awalnya itu hanyalah sebuah pernikahan yang didasari oleh perjodohan. Setidaknya, Karel masih sempat menyematkan pikiran itu di dalam kepala. Tetapi lagi-lagi ada satu sisi di hati Karel yang terluka.
Dia tahu ini tidak benar. Perasaannya kepada Kalea harus segera dihilangkan supaya mereka bisa menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan lebih baik. Dan Karel yakin dia mampu melakukannya. Karena, bukankah semua ini hanya soal waktu?
Maka setelah puas memandangi punggung kecil itu dari tempatnya berdiri, Karel bergerak meraih kenop pintu. Bukan untuk membukanya lebih lebar supaya dia bisa masuk, melainkan menariknya agar pintu itu tertutup dengan sempurna.
Kalea sedang ada di dunia yang dia ciptakan sendiri sekarang, jadi sebaiknya Karel tidak menganggu. Jadi dia berjalan meninggalkan area studio dan menutuskan untuk menunggu Kalea di ruang tengah saja.
...****************...
Seperti yang sudah bisa Karel duga, Kalea menghabiskan waktu yang terlalu banyak di studionya. Sampai kini jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan perempuan itu masih belum juga menampakkan batang hidung di hadapannya. Padahal siang tadi sebelum dia pulang, perempuan itu merengek begitu hebat tentang keinginannya untuk bermain lebih lama bersama Mumu.
__ADS_1
Mama yang melihat gerak gelisah Karel sontak menggelengkan kepala pelan. Dia baru saja kembali dari dapur membawa setoples cookies hasil eksperimennya dan berniat menyuruh Karel mencoba. Tetapi dia malah menemukan pemuda itu menekuk wajahnya.
"Samperin aja. Kamu kan tahu sendiri, Kalea kalau udah ada di studio emang suka lupa waktu." Saran Mama setelah meletakkan toples berisi cookies ke atas meja.
Karel mendongak, menatap Mama sebentar, kemudian mengembuskan napas kasar. Masalahnya, dia tidak mau mengganggu anak itu untuk sekarang. Tetapi dia juga tidak mau menunggu lebih lama tanpa melakukan apa-apa. Karena ini sangat membosankan.
"Tadi Karel lihat dia lagi serius banget, Ma. Kalau Karel ganggu, yang ada kepala Karel bisa benjol dibuatnya." Adu Karel dengan bibir cemberut.
Mama terkekeh. Tentu saja dia tahu bagaimana Karel selalu berakhir terluka karena Kalea selalu melakukan kekerasan fisik terhadap anak itu. Tapi anehnya, Mama juga selalu menemukan Karel tidak kapok dan malah semakin gencar mengganggu Kalea.
Baru saja Karel akan membuka mulutnya lagi untuk melanjutkan keluhan, dia kembali mengatupkan bibir saat matanya menemukan sosok Kalea menuruni tangga. Raut wajah perempuan itu begitu cerah, secerah matahari di luar sana yang masih enggan pulang ke peraduan.
"Gue kira lo pingsan di studio." Sarkas Karel begitu Kalea mendudukkan diri di sebelah kirinya.
Kalea cuma meliriknya sekilas, kemudian perempuan itu bergerak meraih toples berisi cookies dan langsung mencomot satu keping untuk dia masukkan ke dalam mulut.
"Lagian kamu kenapa nggak masuk aja? Ngapain cuma berdiri di depan pintu?" tanya Kalea disela-sela kegiatannya mengunyah.
Mendengar itu, Karel yang semula bersandar sontak menegakkan badan dan menatap Kalea tidak percaya. "Kalau lo tahu gue berdiri di depan pintu, kenapa nggak suruh gue masuk?!" kesal Karel.
"Ngapain? Biasanya juga kamu langsung nyelonong aja tanpa permisi?"
"Kayaknya gue emang harus mikir dulu sebelum ngomong sama lo." Gumamnya.
Mama yang lagi-lagi jadi saksi perdebatan antara dua anak manusia itu cuma bisa mengulum senyum. Rasanya sudah lama tidak melihat pemandangan seperti ini. Padahal kalau dipikir-pikir, Kalea baru beberapa hari tidak berkunjung. Tidak terbayang kalau Kalea dan Gavin tiba-tiba pindah ke kota lain, yang otomatis membuat mereka jadi lebih jarang bertemu. Mama pasti akan kesepian sekali.
"Ngomong-ngomong..." Karel kembali bersuara setelah diam cukup lama. Dia menoleh pada Kalea yang juga sedang menatapnya menunggu kalimat selanjutnya keluar. "Gavin kok nggak pulang-pulang?" sambungnya.
"Iya, ya. Ke mana dia kok sampai sore begini belum pulang?" Mama ikut menimpali.
"Ya nggak tahu. Kan tadi cuma bilang mau keluar, nggak bilang ke mana pastinya dia pergi." Kalea menjawab santai. Sekali lagi mencomot sekeping cookies dan melahapnya dengan senang hati.
"Lo aneh banget, dah." Celetuk Karel.
Kalea menaikkan sebelah alisnya karena tidak paham mengapa Karel tiba-tiba mengatainya aneh.
"Ya gue bersyukur sih karena lo udah nggak overthinking lagi, cuma nggak gini juga dong." Karel menegakkan punggungnya lagi. "Masa iya laki lo pergi dari siang sampai sekarang belum balik, tapi lo anteng-anteng aja?"
__ADS_1
"Ya emang harusnya aku gimana?" tanya Kalea dengan polosnya.
"Ya harusnya lo telepon dia, lah! Lo tanya, dia lagi di mana? Sama siapa? Ngapain? Kapan dia pulang? Bukan malah cuek aja."
Kalea sedikit terkejut karena Karel tiba-tiba bicara dengan nada yang menggebu-gebu. Semakin kaget lagi saat lelaki itu tidak memberinya kesempatan untuk menjawab dan malah mengoceh lagi.
"Jujur sama gue, kalian lagi ada masalah apa?" Karel agak mencondongkan tubuh ke arahnya sehingga Kalea harus sedikit mundur.
"Masalah apa? Kami baik-baik aja, tuh?"
"Jangan bohong!"
"Kok ngegas?!"
"Soalnya lo bohong!"
"Aku nggak bohong, Karel."
Karel memicingkan mata, berusaha menelisik ke dalam manik boba Kalea untuk menemukan setitik saja kebohongan di sana. Tapi nihil. Kalea sama sekali tidak terlihat sedang berbohong.
Akhirnya, Karel menghela napas dan kembali ke posisinya. Dia melipat lengan di depan dada sambil sesekali melirik ke arah Kalea yang keningnya mulai berkerut banyak.
"Kamu beneran nggak lagi ada masalah sama Gavin, kan?" Mama yang semula hanya diam menyaksikan perdebatan mereka tiba-tiba ikutan bicara.
Kalea menghela napas. Dia menoleh ke arah Mama dan menatap ibunya itu jengah. "Enggak, Mama..."
"Ya udah kalau memang nggak lagi berantem. Tapi kalau kalian memang lagi ada masalah, cerita aja sama Mama, siapa tahu ada yang bisa Mama bantu."
"Iya." Ucap Kalea malas. Kenapa Karel dan Mama bisa sampai berpikir kalau dia dan Gavin sedang bertengkar, sih? Aneh sekali.
Tak lama setelah Kalea mengatupkan bibir dan perasaan kesal mulai perlahan-lahan menelusup memenuhi dadanya, Gavin muncul dari pintu depan sambil membawa kantung belanjaan berukuran besar. Lelaki itu menatapnya, Karel dan Mama secara bergantian. Agaknya penasaran mengapa atmosfer yang ada di ruang tengah itu menjadi tidak nyaman.
"Nah, yang diomongin dari tadi akhirnya dateng juga." Karel langsung bangkit dari duduknya. Dia melangkah mendekat ke arah Gavin dan langsung merebut kantung belanjaan dari tangan lelaki itu kemudian meletakkannya di atas meja.
Gavin dibuat bingung saat Karel tiba-tiba menarik lengannya menjauh dari sana. Dia menoleh ke belakang untuk meminta penjelasan kepada Kalea, namun yang perempuan itu lakukan cuma mengangkat bahu pertanda dia sendiri pun tidak tahu apa yang hendak Karel lakukan.
"Kita perlu ngobrol sebentar, sebagai sesama laki-laki." Itu yang Karel katakan kepadanya sebelum dia diseret menuju halaman belakang.
__ADS_1
Bersambung