Serana

Serana
Next Storm


__ADS_3

Karel menyipitkan mata saat menemukan sosok Irina keluar dari dalam cafe sendirian. Hingga hampir satu menit kemudian, tidak ada sosok Kalea yang menyusul. Sehingga Karel buru-buru melompat turun dari mobil dan bergegas menyusul Kalea yang masih ada di dalam cafe.


Di sana, di bangku paling pojok dekat jendela kaca besar, Kalea tampak berdiam seorang diri, merenung menatapi sesuatu yang ada di atas meja (yang Karel sendiri tidak tahu apa).


Tetapi saat dia hampir sampai di meja Kalea dan perempuan itu menyadari kehadirannya, benda yang ada di atas meja langsung diambil dan disimpan ke dalam tas sehingga Karel tidak sempat melihatnya.


"You okay?" tanyanya, saat menyadari adanya perubahan ekspresi yang cukup signifikan dari Kalea.


Tetapi, tidak seperti Kalea yang biasanya, perempuan itu justru menyunggingkan senyum yang Karel tahu sekali bahwa itu hanya pura-pura.


Lalu, Kalea bangkit dari duduknya, merangkul lengannya mesra dan menggiringnya keluar dari cafe tanpa berkata apa-apa.


Bahkan sampai mereka tiba di sisi mobil sekalipun, Kalea masih enggan buka suara. Yang ada, Karel malah merasakan rangkulan Kalea di lengannya semakin mengerat. Seolah perempuan itu sedang berusaha mencari kekuatan agar tidak ambruk saat itu juga.


"Gue tahu lo lagi kenapa-kenapa," ucapnya, meraih dagu Kalea pelan agar dia bisa menyelami manik boba perempuan itu.


"Tapi gue nggak akan maksa kalau seandainya lo nggak mau cerita sekarang. Bukan masalah buat gue kalau harus menunggu sampai lo siap untuk cerita apapun itu masalah yang lagi lo hadapi sekarang." Dengan sepenuhnya ketulusan yang dimilki, Karel meraih tangan Kalea, menggenggamnya erat kemudian menuntun perempuan itu untuk masuk ke dalam mobil.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Karel kembali memperlakukan Kalea seperti adik kecil yang telah dia jaga selama bertahun-tahun. Memasangkan sabuk pengaman, memastikan posisi duduk perempuan itu nyaman, serta mengusap rambut perempuan itu pelan sebelum akhirnya dia menutup pintu dan berlarian ke sisi mobil yang lain.


Usai mendudukkan dirinya di balik kemudi, dan memastikan sabuk pengaman telah sempurna melilit tubuhnya, Karel kembali menoleh ke arah Kalea. Hanya untuk menatap perempuan itu lekat-lekat sebelum kembali meraih tangannya dan menggenggamnya erat.


"Lo harus tahu, bahwa sampai kapan pun itu, lo tetap akan selalu punya gue di sisi lo. Bahkan saat semua orang di dunia ini lari meninggalkan lo, gue akan menjadi satu-satunya yang tetap tinggal." Genggaman tangannya dipererat, kemudian Karel melajukan mobil dengan hanya menggunakan satu tangan di atas kemudi.


Mobil melaju dalam kecepatan pelan, sebab Karel harus sesekali membagi fokusnya antara jalanan di depan dan Kalea yang terduduk diam di kursi penumpang.


Perempuan itu masih tidak mengatakan apa-apa, tapi dari gerakan pelan yang terjadi di antara genggaman tangan mereka, Karel tahu bahwa saat ini yang Kalea butuhkan hanyalah kekuatan untuk tetap bertahan dari apapun itu yang sedang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Maka, Karel pun tidak banyak menuntut. Genggaman tangannya dibiarkan tetap ada, bahkan semakin erat seiring dengan laju mobil yang perlahan-lahan semakin cepat.


...****************...


Sampai di rumah, Kalea bergegas naik ke kamar. Dia cuma mengatakan kepada Karel untuk segera pulang karena langit sudah mulai gelap sebelum Ibun menyeretnya pulang dengan paksa.


Yang Kalea lakukan di dalam kamar hanyalah duduk diam, memandangi test pack milik Irina yang dia letakkan di atas nakas, persis di sebelah foto pernikahannya dengan Gavin yang entah sejak kapan dipajang di sana oleh Mama.


Hati Kalea ngilu sekali. Rasanya, seperti dirinya sedang melakoni sebuah panggung sandiwara di mana dia adalah pemeran protagonis wanita yang hidupnya senantiasa ditimpa kemalangan.


Tetapi, mau seberapa pun malangnya kehidupan seorang protagonis di dalam sebuah cerita, dia selalu menemukan bahwa akan selalu ada seorang pangeran berkuda putih yang datang sebagai penyelamat. Sedangkan Kalea sendiri tidak menemukan adanya pangeran berkuda putih tersebut hadir untuk membantunya keluar dari segala kemalangan yang menimpa.


Menarik dan membuang napas berkali-kali nyatanya sudah tidak mampu lagi untuk membantunya meredakan kecemasan. Yang ada, lebih banyak lagi perasaan yang semakin bercampur aduk di dalam dadanya.


Lalu, diraihnya test pack itu, dia genggam erat-erat dan dibawanya menuju studio miliknya. Dia telah memutuskan untuk menunggu Gavin di sana. Karena menunggu di kamar terlalu berisiko sebab kamarnya dan kamar kedua orang tuanya berada di satu lantai. Dia tidak ingin Mama atau Papa mendengar ketika nanti dia dan Gavin berdebat.


...****************...


Gavin baru saja keluar dari ruang kerjanya ketika ponsel di saku jasnya bergetar. Ketika dilihat, ada satu pesan masuk yang datangnya dari Kalea.


Tentu saja Gavin senang, karena setelah hubungan mereka memburuk beberapa minggu terakhir, ini kali pertama Kalea mau menghubunginya lebih dulu.


Gavin antusias sekali. Dia pikir, Kalea sedang ngidam dan memintanya untuk membelikan sesuatu.


Tetapi ketika pesan itu dibuka, Gavin cuma menemukan sebaris kalimat yang lebih mirip sebagai sebuah kalimat instruksi.


Sepulang kerja nanti, temui aku di studio lantai tiga.

__ADS_1


Begitu bunyi pesan yang Kalea kirimkan kepada dirinya.


Maka tanpa berpikir lebih lama, Gavin mempercepat langkahnya dan buru-buru tancap gas begitu dia berhasil masuk ke dalam mobil.


Sialnya, jalanan cukup macet hari ini. Jarak antara kantor dan rumah yang sesungguhnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam, hari ini memakan waktu hampir dua jam penuh.


Gavin sudah kehilangan banyak energi ketika akhirnya sampai di rumah. Dengan sisa tenaga yang ada, dia menyeret langkahnya langsung naik ke lantai tiga.


Dari pintu depan sampai ke ruang tengah, Gavin tidak menemukan siapa-siapa. Mungkin anggota keluarga yang lain sedang memiliki kegiatan mereka masing-masing, termasuk Bi Imah yang tidak terlihat seliweran sama sekali.


Sampai di depan pintu studio, Gavin melabuhkan ketukan pelan sebanyak tiga kali. Lalu saat suara Kalea mengudara dari dalam sana, Gavin meraih kenop dan memutarnya sehingga pintu coklat itu terbuka.


Gelap menyapa Gavin ketika pintu di hadapannya itu dia buka lebar-lebar. Dan di tengah gelap itu, dia menemukan sosok Kalea tengah duduk sendirian di dekat jendela kaca besar.


Gavin berjalan mendekat setelah merapatkan kembali pintu. Dia tidak berharap Kalea akan tiba-tiba menyambutnya dengan sebuah pelukan seperti sebelum hubungan mereka memburuk. Jadi, Gavin masih belum berpikiran buruk ketika melihat Kalea bangkit dari kursi dan berjalan menuju nakas.


Bahkan sampai ketika perempuan itu berjalan kembali ke hadapannya lalu mengulurkan sebuah benda yang dia tahu adalah sebuah test pack, Gavin masih bersikap biasa saja.


"Iya, saya udah tahu. Kan, kemarin kita udah periksa sama-sama." Katanya, berpikir kalau test pack yang Kalea tunjukkan kepadanya adalah milik perempuan itu.


"Ini punya Irina." Tukas Kalea, membuat tenggorokan Gavin tiba-tiba tercekat.


"Ini punya Irina, Gavin." Kalea mengulangi perkataannya, lalu menatap tajam sosok Gavin yang tinggi menjulang di hadapannya.


"Irina hamil, anak kamu."


Malam itu, di tengah kegelapan, dua pasang manik mata milik Kalea dan Gavin saling memaku tatap. Satu menatap tajam, sedangkan satu lagi menatap sendu sebab merasa dirinya sedang dituduh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2