Serana

Serana
Dangerous


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak kejadian Gavin menggotong tubuhnya ke dalam kamar dan memeluknya sepanjang malam, Kalea tidak merasakan ada banyak hal yang berubah dari kehidupan pernikahan mereka. Gavin masih tetap memegang teguh janjinya untuk tidak menyentuh dirinya tanpa ijin. Laki-laki itu bahkan sudah tidak lagi berusaha menggodanya tentang ciuman pertamanya yang berhasil dicuri.


Seharusnya Kalea lega. Karena itu berarti Gavin adalah laki-laki yang ucapannya bisa dipercaya.


Tetapi, entah mengapa Kalea justru merasa aneh. Apakah laki-laki memang bisa menahan diri selama itu? Maksudnya, selama pernikahan mereka berjalan, mereka tidak jarang tidur sambil berpelukan dan di dalam tidur itu bisa saja tubuh mereka saling senggol tanpa sadar. Apakah sebagai laki-laki dewasa, Gavin tidak pernah merasakan adanya dorongan untuk menyentuhnya lebih jauh?


Seperti sekarang ini, saat mereka sedang menghabiskan sore dengan menonton serial Netflix di kamar, di bawah balutan selimut yang sama dan saling berpelukan, Gavin sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya kecuali saat laki-laki itu berusaha memastikan bahwa Kalea tidak mati kehabisan napas di dalam dekapannya.


Sekali lagi. Apakah itu wajar?


"Gavin?" panggil Kalea pelan di tengah keseriusan mereka menatapi layar televisi.


Gavin yang masih fokus menatap layar televisi besar di hadapan mereka cuma berdeham sebagai jawaban. Kemudian ia menarik tubuh Kalea untuk lebih dekat agar bisa dipeluk lebih erat.


"Lihat aku bentar." Kata Kalea sembari menegakkan punggungnya dan sedikit meloloskan diri dari pelukan lengan Gavin.


Gavin menoleh sehingga tatapan mereka bertemu. Debaran di jantung Kalea mulai kembali terasa seiring dengan tatapan mereka yang semakin intens.


Detik demi detik berlalu dalam kesunyian panjang yang membuat mereka semakin tenggelam ke dalam perasaan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.


Sampai akhirnya, sebuah ide yang entah dari mana datangnya hinggap di kepala Kalea sehingga membuat perempuan itu bergerak mendekat ke arah Gavin. Ia mengulurkan kedua tangan demi menangkup wajah Gavin. Kemudian, hanya bermodalkan bisikan yang datang bersamaan dengan deru napas mereka yang bersahutan-sahutan, Kalea memejamkan mata sembari terus mengikis jarak di antara mereka.


Sedikit demi sedikit jarak yang ada mulai terkikis habis. Sampai akhirnya Kalea merasakan jantungnya seakan meledak menjadi kepingan-kepingan kecil saat bibirnya menyentuh bibir tebal Gavin yang terasa hangat.


Cukup lama Kalea membiarkan bibir mereka bertemu tanpa adanya pergerakan apa-apa. Ia terlalu bingung untuk memulai menggerakkan bibirnya seperti yang Gavin lakukan padanya sebelumnya. Jadi daripada dia semakin terlihat bodoh, Kalea segera menarik diri.


Kalea merasakan pipinya memanas saat menemukan Gavin sedang mantapnya dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.

__ADS_1


"Gavin, aku-"


Ucapan Kalea terpotong karena Gavin tiba-tiba saja menarik tubuhnya mendekat. Kedua tangan laki-laki itu menangkup wajahnya dan bibir mereka telah kembali bertemu dalam waktu singkat.


Tidak seperti Kalea yang hanya diam tanpa tahu harus melakukan apa, Gavin mulai menggerakkan bibirnya pelan-pelan. Dengan sabar menuntun Kalea agar perempuan itu bisa membalas ciumannya. Jemarinya yang ada pipi Kalea digerakkan pelan untuk mengusap pipi mulus itu demi menyalurkan ketenangan. Demi meyakinkan Kalea bahwa dia akan baik-baik saja.


Usaha Gavin tidak sia-sia, karena beberapa saat setelahnya, Kalea mulai berani membuka mulutnya sehingga bibir-bibir mereka bisa saling menjamah sedikit lebih dalam ketimbang sebelumnya.


Dengan gerakan yang teramat pelan, Gavin menyesapi setiap inci bagian bibir Kalea dan memastikan tidak ada yang terlewat sedikit pun dari jamahannya. Tangannya bergerak pelan meraih tengkuk Kalea demi memperdalam pagutan mereka. Satu tangannya bergerak turun, mendarat sempurna di pinggang kecil Kalea demi membuat perempuan itu tetap berada di posisinya.


Di luar hujan, membuat pendingin ruangan yang ada di dalam kamar terasa lebih dingin ketimbang biasanya. Berbanding terbalik dengan suhu tubuh Gavin dan Kalea yang justru meningkat drastis karena kegiatan yang tengah mereka lakukan.


Selama bermenit-menit saling mencumbu, Kalea akhirnya menyerah karena merasakan dadanya mulai terasa sesak. Dia butuh mengambil napas agar oksigen tetap masuk ke dalam paru-parunya. Jadi, Kalea menepuk pelan dada Gavin sebagai kode agar laki-laki itu mau melepaskan dirinya.


Yang laki-laki mengerti dan langsung melepaskan tautan mereka. Tapi, dia tidak serta merta menarik diri. Gavin masih enggan memperlebar jarak di antara mereka karena ia tidak berpikir untuk berhenti sampai di sini. Sumbu di dalam dirinya sudah terlanjur dinyalakan dan ia telah sepenuhnya terbakar. Sudah kepalang tanggung, dia tidak bisa mundur lagi.


Kemudian, dibawanya tubuh Kalea untuk berbaring di kasur. Dengan satu lengan yang menumpu bobot tubuhnya agar tidak menindih Kalea, Gavin berusaha memperdalam ciuman mereka.


Satu tangannya yang lain bergerak pelan. Diam-diam menelusup ke balik kaus Kalea demi bisa mengusap perut rata sang istri yang selama ini baru pernah dia lihat sekali.


Mendapat sentuhan seperti itu membuat Kalea sedikit tersentak. Rasanya seperti baru saja mendapatkan sengatan listrik dengan tegangan rendah. Mengejutkan. Tetapi sensasi lain yang timbul setelahnya justru membuat Kalea mengulurkan kedua lengan untuk menarik Gavin lebih dekat.


Sesapan-sesapan halus itu mulai berubah menjadi gerakan-gerakan yang sedikit acak dan tidak beraturan. Tapi Kalea jelas merasakan bahwa Gavin masih berusaha menahan diri agar gerakannya tidak membuatnya merasa tidak nyaman. Bahkan dari cara lelaki itu menggerakkan tangannya yang perlahan-lahan naik hingga menyentuh punggungnya membuat Kalea merasa ia bisa mempercayakan dirinya kepada Gavin seutuhnya.


"Kal," bisik Gavin dengan suara serak tepat di telinga Kalea setelah pagutan mereka terlepas.


Kalea tidak menjawab. Dia sibuk meresapi sensasi yang timbul dari sentuhan tangan besar Gavin di punggungnya. Usapan-usapan yang Gavin berikan di sana berhasil membuatnya terlena.

__ADS_1


"I want you so bad." Bisik Gavin lagi.


Kalau Kalea bisa bicara, dia akan mengatakan hal yang sama. Hanya saja, lidahnya mendadak terasa kelu dan kepalanya seperti sudah kosong melompong sehingga yang bisa Kalea lakukan cuma diam sembari meremas pelan helaian rambut Gavin yang terasa halus di sela-sela jemarinya.


Tatapan mereka kembali bertemu ketika Gavin menarik diri sedikit lebih jauh. Gejolak yang ada di dalam diri mereka semakin menjadi-jadi saat manik mereka saling terpaku untuk waktu yang cukup lama.


Sampai tiba waktunya Gavin mengeluarkan pertanyaan pamungkas yang akan menentukan berlanjut atau tidaknya kegiatan mereka sore ini.


Dengan suara berat dan tatapan mata sendu, Gavin bertanya, "Can I?"


.


.


.


.


Bersambung.


Ciyeeeeee nungguin ya???


Sabar, besok lagi.


Dah malem authornya mau bobo cantik dulu biar otaknya lebih encer.


Bye!

__ADS_1


__ADS_2