
Siangnya, sekira pukul sebelas, Gavin dan Kalea akhirnya pergi dari rumah itu. Mobil melaju menyusuri jalanan yang tampak lengang. Sepanjang jalan, Kalea hanya diam, menyandarkan kepala di jendela mobil sedang matanya sibuk memandangi pohon-pohon yang tampak bergerak seiring mobil yang melaju kian jauh.
Pikiran Kalea kembali melayang. Tiba-tiba teringat pada Karel yang sama sekali tidak menghubunginya sejak Gavin meyeretnya pergi dari bangku cafe semalam. Sampai saat ini, lelaki itu masih belum juga menghubungi dirinya. Dan Kalea sendiri masih tidak berani untuk menghubungi Karel lebih dulu mengingat betapa pasrahnya dia saat Gavin menyeretnya pergi, padahal bisa saja dia memberontak dan berdiam lebih lama untuk mendengarkan Karel sampai akhir. Tapi dia tidak melakukannya, dan Karel pasti kecewa.
"Jangan keseringan melamun, Kalea."
Suara Gavin membuat Kalea terpaksa berhenti berargumen dengan dirinya sendiri. Dia menoleh ke arah Gavin, hanya untuk menemukan lelaki itu tengah memandangnya sebentar sebelum kembali fokus ke arah jalanan.
"Saya pernah dengar kalau berbagai energi negatif bisa lebih mudah masuk ke diri kita di saat kita sedang melamun. Jadi, usahakan jangan sering melamun seperti itu."
Kalea tidak menyahut. Dia malah sibuk memandangi sisi tampak samping Gavin yang memang terlihat sesempurna itu. Hidungnya yang tinggi menjadi daya tarik tersendiri saat Kalea tidak bisa bertatapan langsung dengan manik kelam lelaki itu.
"Dua minggu dari sekarang kita akan menikah, kalau ada sesuatu yang mau kamu tahu tentang saya, tanyakan aja." Kata Gavin dengan tatapan lurus ke delan.
Kalea masih tak bergeming. Matanya kini bergerak turun menyusuri lekuk leher Gavin yang terekspos, terus turun hingga sampai pada lengan otot lelaki itu yang menunjukkan betapa ia mencintai olahraga, berbanding terbalik dengan Kalea yang menganggap olahraga sebagai sesuatu yang merepotkan.
Kalau dipikir-pikir, Kalea merasa dirinya sama sekali tidak cocok dengan Gavin. Baik dari segi kedewasaan maupun gaya hidup yang lelaki itu jalani sama sekali tidak imbang dengan dirinya. Gavin dewasa dan cenderung lebih bersikap tenang, sedangkan Kalea adalah gadis manja yang emosinya masih sering meluap-luap walau dirinya bukan lagi remaja tanggung yang labil. Gavin suka bangun pagi, rutin berolahraga dan senantiasa menjaga pola hidupnya agar tetap berjalan dalam sebuah keteraturan. Sedangkan Kalea benci kalau harus membuka matanya pagi-pagi, dia tidak suka olahraga karena itu merepotkan dan terlalu menguras tenaga dan cheese burger dari burger king depan kompleks masih jadi menu favoritnya untuk dia santap kapanpun dia mau.
Sekali lagi, Kalea tidak merasa mereka cocok satu sama lain.
"Gavin," panggilnya pelan.
Gavin hanya menyahuti dengan dehaman, pandangannya masih terjaga lurus ke depan.
"Kamu...ngerasa nggak sih kalau kita itu beda banget?"
__ADS_1
"Beda belum tentu nggak bisa bersama." Kata Gavin bahkan tanpa menolehkan kepala.
"Menurut saya, justru karena kita berbeda makanya Tuhan menggariskan kita untuk bersama, agar bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing."
"Kita udah sejauh ini, Kalea. Saya nggak bisa mundur lagi karena kamu udah terlanjur bikin saya terjebak dalam kehidupan kamu yang menarik."
Tepat ketika Gavin menoleh dan mengulas senyum tipis, Kalea merasakan pipinya panas. Degup jantungnya berangsur menggila dan koloni kupu-kupu yang bersemayam di perutnya mulai mengepakkan sayap serempak, membuat perutnya terasa tergelitik.
"Kamu mungkin akan kesulitan menghadapi aku yang kekanak-kanakan." Ucap Kalea setelah mati-matian berusaha menenangkan diri.
"Sulit bukan berarti nggak bisa."
Dan jawaban Gavin selalu bisa membuat Kalea bungkam. Dia tidak punya lagi argumentasi untuk dilontarkan, jadi ketika mobil Gavin akhirnya berhenti di depan gerbang rumahnya dan lelaki itu turun lebih dulu untuk membukakan pintu, Kalea hanya bisa diam.
"Ayo," Gavin mengulurkan tangan. Kalea menyambutnya dengan tubuh yang sedikit bergetar. Mendadak dia kehilangan sebagian besar kekuatan di kakinya hingga untuk berpijak, dia benar-benar mengandalkan tangan besar Gavin yang menggenggam erat miliknya.
"Saya pulangkan Kalea dengan selamat, Ma. Tanpa ada yang berkurang sedikitpun." Kata Gavin yang ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Mama.
"Makasih ya, Gavin." Mama berucap riang. Tangannya bergerak pelan mengusap bahu Kalea yang kini berdiri di sampingnya.
"Kalau gitu saya pamit." Kata Gavin.
"Iya, hati-hati." Ucap Mama.
"Sampai ketemu minggu depan untuk coba gaun pengantin, Kalea." Kata Gavin dan langsung pergi dari hadapannya dan Mama bahkan sebelum dia menjawab.
__ADS_1
Selepas kepergian Gavin, Mama menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Dengan mata yang masih berbinar cerah, Mama mulai bertanya tentang banyak hal. Namun tak satupun dari pertanyaan itu yang berhasil Kalea cerna, karena kini dia mulai kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.
*****
Setengah sebelas malam. Setelah berkutat dengan ponselnya untuk memeriksa beberapa hal, Kalea memutuskan untuk berjalan menuju balkon demi menghirup sedikit udara segar. Dia tidak berharap akan menemukan Karel juga tengah berdiri di balkon kamarnya di sebelah, jadi ketika dia menemukan eksistensi lelaki itu, Kalea benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Jadi, dia hanya terus berjalan sampai di pembatas balkon kemudian menumpukan keduanya tangannya di sana. Dia mendongak, menatap langit pekat di atas sana yang masih tidak mampu untuk menghalangi sang rembulan yang masih bersinar terang walau tanpa ada bintang-bintang yang menemaninya di sana. Bulan itu sendirian dan dia masih bisa bersinar terang. Tapi, Kalea bukan bulan. Dia tidak tahu apakah dirinya masih bisa bersinar kalau Karel tidak lagi ada di sisinya seperti hari-hari yang telah mereka lewati bersama selama ini.
"Bulannya nggak akan berubah bentuk jadi gajah cuma karena lo liatin terus kayak gitu."
Kalea menoleh, hanya untuk menemukan Karel tengah menatapnya dari balkon kamarnya yang gelap. Entah apa lelaki itu sengaja tidak menyalakan lampu atau lampu kecil yang biasa menerangi balkon kamar Karel telah putus dan lelaki itu terlalu malas untuk menggantinya. Yang jelas, walau dengan pencahayaan yang minim, Kalea masih bisa melihat bahwa kini Karel menatapnya dengan tatapan yang masih sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari tatapan itu, membuat Kalea sadar bahwa betapa seringnya mereka terlibat dalam perkelahian, Karel masih akan tetap menatapnya dengan cara yang sama.
"Lo semalem nggak pulang." Itu bukan pertanyaan, jadi Kalea tidak menjawabnya. Dia hanya menunggu sampai Karel melanjutkan kalimatnya.
"Kalau itu orang lain, gue mungkin akan langsung gorok lehernya pakai pisau bedah punya Ayah. Tapi karena itu Gavin, dan Mama sama Papa udah kasih ijin, gue yang bukan siapa-siapa ini jadi nggak bisa berbuat apa-apa." Kata Karel diakhiri senyum miris yang tersungging.
Kalea merasakan sesak di dadanya saat mendengar Karel menyebut dirinya sendiri dengan sebutan bukan siapa-siapa. Padahal bagi Kalea, Karel adalah salah satu orang paling berharga dalam hidupnya.
"Gue ijinin lo nikah sama Gavin." Kata Karel tiba-tiba. "Tapi lo harus janji kalau pernikahan ini akan bikin lo lebih bahagia." Lanjutnya. Kemudian lelaki itu beranjak dari sana. Mulanya Kalea pikir Karel hendak masuk ke dalam kamarnya, tapi ternyata lelaki itu justru menyeberang ke balkon kamar Kalea.
"Sini, peluk dulu." Kalea pasrah saja saat tubuhnya ditarik oleh Karel kemudian dibawa ke dalam pelukan yang hangat. Ia bisa merasakan tangan Karel menepuk-nepuk pelan pungugungnya.
"Janji sama gue kalau lo akan selalu bahagia." Bisik Karel.
Kalea ingin menganggukkan kepala, tapi dia terlalu takut dan ragu. Bagaimana kalau dia tidak bisa menepati janjinya? Bagaimana kalau dia tidak bisa jadi lebih bahagia setelah menikah dengan Gavin? Bagaimana kalau hidupnya tidak jauh lebih baik setelah dia melepaskan pelukan Karel dan membiarkan sahabatnya ini mengambil jarak yang cukup jauh untuk tidak lagi merengkuh tubuh kecilnya saat dia sedang jatuh? Bagaimana kalau akhirnya Kalea hanya akan memiliki dirinya sendiri?
Tidak ingin pikiran itu semakin menguasai dirinya, Kalea pun mengeratkan pelukan di pinggang Karel. Dia benamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu, menyesapi aroma maskulin yang dalam waktu dekat tidak akan bisa lagi dia sesap sesering sebelumnya. Dia ingin memeluk Karel seeratnya, sebelum jarak sesungguhnya di antara mereka benar-benar akan tercipta dan garis pembatas dibentangkan di antara mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung