Serana

Serana
As Long As He Loves Me


__ADS_3

Di dalam kamar apartemen milik Irina, Gavin beridiri di depan jendela kaca yang membuatnya bisa memandang ke seberang, di mana gedung-gedung tinggi perkantoran tampak berdiri kokoh menjulang seolah mereka adalah penguasa yang sebenarnya, yang berhasil membuat manusia-manusia di dalamnya lupa waktu dan tenggelam bersama beban-beban bernama pekerjaan.


Masih di dalam kamar, tepatnya di sofa tak jauh dari tempat Gavin berdiri sembari menyakui kedua tangan, Irina duduk sembari memandangi punggung lebar Gavin. Punggung yang biasa dia tepuk-tepuk ketika laki-laki itu datang kepadanya dalam keadaan rapuh. Punggung yang selalu dia pandangi sampai benar-benar menghilang ketika mereka berpisah. Punggung yang dulu berani dia klaim sebagai miliknya sendiri, namun kini terpaksa dibagi dua dengan orang lain.


Tidak seperti kali pertama ketika Gavin menyodorkan berita perjodohannya dengan Kalea, di mana dia bersikap ekstra dan terus menerus mengingatkan Gavin bahwa lelaki itu hanyalah miliknya, kini Irina sedikit bisa berlapang dada. Sebab biar bagaimanapun, keputusannya membiarkan Gavin menikahi Kalea telah membuatnya sadar bahwa rasa kepemilikan itu memang seharusnya tidak dia pelihara sejak awal.


Toh, selama ini Gavin masih selalu tahu ke mana harus melangkahkan kaki. Buktinya saja, meski tidak dia minta, laki-laki itu datang ke sini dengan sukarela. Padahal ini hari minggu dan sudah sewajarnya dia menghabiskan waktu dengan Kalea.


"Vin?" panggil Irina pelan setelah sekian lama terdiam.


Gavin menoleh. Raut wajahnya tampak serius dan Irina sudah tidak heran sebab memang begitulah setelan wajah Gavin yang sesungguhnya.


"Kamu beneran ke sini karena kangen sama aku?" tanya Irina sembari membetulkan posisi duduknya, mencari posisi ternyaman untuk mendengarkan jawaban kekasih hatinya itu.


Gavin tidak mengeluarkan suara. Lelaki itu hanya mengangguk bahkan tanpa terlihat berpikir sedikit pun. Hal itu tentu saja membuat senyum Irina terkembang tanpa bisa ditahan.


"But it's Sunday."


Sebelah alis Gavin terangkat, dia jelas terlihat kebingungan. "I know it's Sunday. So what?" tanyanya. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah Irina. Mendudukkan diri lalu membawa kaki-kaki jenjang Irina ke atas pahanya. Tangan kekarnya mulai memijit pelan kaki-kaki yang telah bekerja keras berjalan di atas catwalk menggunakan sepatu hak tinggi itu.


"I mean, hari minggu adalah waktunya berkumpul dengan keluarga."


"I did. You're my family, don't you?" sementara tangannya masih memijat kaki Irina, Gavin mengalihkan pandangannya kepada perempuan itu.

__ADS_1


"Definitely." Irina kembali membenarkan posisi duduknya yang sedikit melorot. "Tapi maksud aku, you're married, bukannya seharusnya kamu sama Kalea?" sambungnya dengan senyum yang mati-matian di tahan. Sudah lama sejak dia tidak memancing Gavin dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Kalea. Jadi hari ini, dia ingin sedikit menguji ketahanan hatinya sendiri untuk melihat jawaban seperti apa yang akan Gavin berikan.


Ketika Irina merasakan pijatan di kakinya berhenti, Irina menatap Gavin semakin lekat. Laki-laki itu sempat memaku tatap dengannya selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuang muka dan melanjutkan kegiatannya memijat kaki Irina.


"Kalea lagi ada di rumah orang tuanya. Ada Karel di sana, jadi dia nggak akan cari aku. She's truly happy when she's with him. Dia nggak akan punya waktu untuk cari tahu aku lagi di mana dan ngelakuin apa."


Sejujurnya, Irina hanya ingin mendengar Gavin menjawab seperlunya saja. Atau malah menyuruhnya untuk tidak membawa-bawa nama Kalea seperti saat terakhir kali mereka terlibat perdebatan. Tetapi, mendengar Gavin menjelaskan panjang lebar seperti ini, ada nyeri yang perlahan-lahan terasa di dadanya.


Meskipun sudah tahu jawaban Gavin membuatnya sakit, Irina bukannya berhenti bertanya, dia malah mengajukan pertanyaan lain yang akan menyumbang lebih banyak rasa sakit untuk dirinya.


"Kamu kecewa?"


"About what?" Gavin kembali menoleh.


Irina melihat kekecewaan itu di mata Gavin. Dia jelas bisa melihatnya karena dari banyaknya hal di dalam diri Gavin, mata laki-laki itu adalah satu-satunya yang bisa dia baca dengan baik. Tetapi apa yang Gavin katakan melalui bibirnya jelas berbanding terbalik dengan yang sebenarnya laki-laki itu rasakan.


Setelah menghela napas berat, Gavin berkata "Can we stop talking about her when we're together? I just want to spend my time with you."


Irina tersenyum sumir, dalam hati mulai bergumam here we go again ketika lagi-lagi Gavin berusaha menjauhkan segala hal tentang Kalea dari dirinya.


Jika mau berpikir secara positif, Irina bisa saja menganggap hal itu sebagai usaha Gavin untuk meminimalisir luka yang akan timbul di hatinya karena pernikahan ini. Tapi jika hal itu dipikirkan secara negatif, Irina merasa Gavin hanya sedang berusaha melindungi Kalea. Seolah laki-laki itu tidak ingin apapun tentang Kalea sampai di telinganya sehingga dia tidak punya bekal apapun untuk mengancam keselamatan perempuan itu.


Entah mana yang lebih baik untuk Irina pikirkan sekarang. Tetapi pada akhirnya, Irina memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan mereka dan beringsut mendekat ke arah Gavin. Diraihnya tengkuk laki-laki itu dan langsung ia labuhkan dua kecupan di bibir tebalnya.

__ADS_1


Mendapat serangan mendadak setelah pertanyaan tak terduga yang disuguhkan kepadanya tentu saja membuat Gavin sedikit lambat untuk memberikan reaksi. Kalau boleh jujur, setelah pertanyaan itu Irina lontarkan, kepala Gavin mulai sedikit demi sedikit kembali penuh dengan nama Kalea dan dia kesusahan untuk fokus bahwa sekarang dirinya sedang bersama Irina.


"Let's not talking about others when we're together." Kata Irina tepat di depan wajah Gavin.


Tubuh Gavin masih terasa beku. Dia masih sedang berusaha untuk mengembalikan isi kepalanya dan mulai memenuhinya dengan nama Irina. Tetapi, dia masih gagal di percobaan yang sudah dilakukan berkali-kali. Nama Kalea tetap masih mengisi kepalanya, bahkan ketika kini bibir Irina yang lembut dan terasa hangat sudah menjamah miliknya.


Ketika tangan Irina meraih tengkuknya untuk memperdalam pagutan, Gavin bahkan masih belum bisa membalas setiap gerakan yang Irina buat di bibirnya. Mati-matian Gavin berusaha menarik kesadarannya untuk fokus hanya menggemakan nama Irina di kepala dan selalu berakhir sia-sia.


Sampai akhirnya, Gavin menyerah. Dia berhenti berusaha mengusir Kalea dari dalam kepala. Entah ada Irina atau tidak di dalam kepalanya saat ini, yang jelas Gavin tetap harus membalas perlakuan Irina agar perempuan itu tidak kecewa.


Maka, dengan nama Kalea yang kini sudah menginvasi seluruh bagian di otaknya, Gavin menarik tubuh Irina ke atas pangkuannya. Satu tangannya berlabuh di pinggang ramping Irina, menahan agar tubuh yang lebih kecil darinya itu tidak jatuh. Sementara satu tangan yang lain meraih tengkuk Irina agar dia bisa menjamah lebih banyak bagian di bibirnya.


Ciuman mereka semakin intens dan Irina mulai membisikkan satu kalimat untuk dirinya sendiri. Sebuah kalimat penghibur yang dia harap bisa cukup ampuh untuk menekan rasa sakitnya sedikit lebih lama.


It's okay. As long as he loves me, I'll stay.


Lalu Irina sepenuh mengosongkan kepala ketika ciuman yang semula hanya berlabuh di bibirnya kini mulai turun ke leher jenjangnya.


Bersambung.


Bagi yang mau menghujat Gavin ataupun Irina, waktu dan tempat dipersilakan.


See you next chapter, bye bye!!!

__ADS_1


__ADS_2