Serana

Serana
Bukan Keluarga Cakraditya


__ADS_3

"Saya pulang, ya?" Gavin pamit setelah genggaman tangannya dengan Kalea terlepas.


Malam kian larut, angin berembus makin kencang membuat helaian rambut Kalea yang terlepas dari ikatan beterbangan hingga menutupi wajah ayunya. Tangan Gavin terulur, menyelipkan helaian rambut itu ke belakang telinga hanya untuk membuat semburat merah kembali muncul di belah pipi Kalea. Gavin tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi setiap kali ia menyelipkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinga, Gavin selalu merasakan dadanya menghangat. Terlebih saat menyaksikan bagaimana manik boba itu berlarian ke sana kemari demi menghindari kontak mata dengannya, Gavin merasa segala pelik yang terjadi dalam hidupnya perlahan-lahan menepi dan sejenak terlupa. Walau pada kenyataannya, pelik itu akan datang kembali, dengan skala yang lebih besar dan menghancurkan dengan lebih brutal.


"Sampai rumah telepon aku." Ucap Kalea, kepalanya sedikit menunduk, menatapi kaki-kaki kecilnya yang hanya beralaskan sendal jepit.


Gavin ikut-ikutan menurunkan pandangan. Kembali dibuat takjub dengan bagaimana Kalea tetap bertahan dengan gaya andalannya di tengah gempuran tren ootd di kalangan anak muda jaman sekarang. Dalam beberapa kesempatan, Gavin merasa Kalea sederhana, dan kesederhanaan itu yang ia cari selama ini. Kesederhanaan yang tidak pernah bisa ia cecap sebab hidupnya terlalu rumit untuk dijelaskan.


"Iya, nanti saya telepon kamu." Detik ketika ia mengatakan itu sembari kembali mengangkat kepala, tatapan mereka bertemu. Mata boba itu masih terlihat sayu, tapi setidaknya, senyum tipis yang tersungging di wajah ayu Kalea sedikit membuat Gavin bisa bernapas lega.


"Yaudah, sana pulang." Ucap Kalea. Tangannya bergerak pelan menunjukkan gestur mengusir meski diiringi dengan kekehan yang terdengar renyah di telinga Gavin.


"Tunggu dulu," sela Gavin.


Alis Kalea saling bertaut saat Gavin menatapnya begitu dalam dan lama. Tak mengatakan apapun sampai puluhan detik kemudian hingga membuatnya tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia hendak mengalihkan pandangan, tapi manik kelam itu seakan sedang mengajaknya berlarian di sebuah taman asing yang dipenuhi hamparan Hydrangea warna biru, begitu indah hingga membuatnya lupa arah jalan pulang. Untuk beberapa detik yang sudah tidak bisa lagi Kalea hitung berapa jumlah pastinya, ia kembali tersesat di dalam manik kelam yang memabukkan itu. Sukarela dijebak, diperangkap lebih lama oleh sang empunya yang bernama Mahesa Gavin Cakraditya. Ha, sedikit fakta menarik untuk diungkap, akhir-akhir ini, Kalea suka sekali menyebut nama lengkap lelaki ini.


"Kalea," panggil Gavin pada akhirnya, memutus keheningan yang untuk beberapa saat Kalea harap bisa berlangsung lebih lama. Ia tidak suka keheningan, tapi kalau hening berarti ia bisa menikmati taman indah di dalam manik kelam Gavin sedikit lebih lama, Kalea tidak keberatan.


"Apa?" tanyanya.


"Terimakasih."


"Untuk?" Sejenak, Kalea tampak berpikir. Atas dasar apa ucapan terimakasih itu Gavin sampaikan? Bukankah hari ini ia sudah membuat lelaki itu kelimpungan karena sikap kekanakannya yang lebih memilih kabur ketimbang menunggu Gavin menenangkan diri sedikit lebih lama?


"Untuk pelukan yang kamu berikan kepada saya." Senyum Gavin terkembang. "Saya nggak bohong, itu betulan efektif untuk memperbaiki suasana hati saya yang kacau."


Ada begitu banyak jawaban yang mondar-mandir di kepala Kalea, tapi tidak satupun yang berhasil terucap karena kini ia sibuk mengendalikan koloni kupu-kupu yang terbangun dari tidur panjangnya, mengepakkan sayap-sayap mereka secara serempak hingga menimbulkan sensasi menggelitik di perutnya.


Sementara Kalea bergelut dengan gejolak asing yang menguasai setiap sel di tubuhnya, Gavin sibuk menetralkan degupan jantung yang kian menggila. Perasaan ini, desir aneh ini, rasanya sudah lama sekali tidak ia rasakan sejak mimpi buruk dari ingatan bertahun-tahun lalu kembali menyambanginya dengan intensitas yang terlampau sering beberapa bulan belakangan ini. Mimpi buruk yang selalu membuatnya terbangun di tengah malam dengan tubuh bercucuran keringat, juga degup jantung yang menggila serta napas yang tersengal-sengal. Mimpi buruk yang bahkan lebih buruk daripada kenyataan yang harus ia terima sejak usianya masih begitu muda.


Kehadiran Kalea membuatnya merasa bertemu kembali dengan sisi dirinya yang telah lama mati, terkubur bersama penolakan-penolakan atas takdir yang telah Tuhan gariskan untuknya, yang pada akhirnya berakhir sia-sia karena hidupnya harus berjalan sesuai dengan apa yang sudah menjadi kehendak-Nya. Gavin tidak pernah berniat untuk melupakan Irina yang telah menemaninya di masa-masa terburuknya bertahun-tahun silam, apalagi sampai melepaskan genggaman tangan perempuan yang telah mengisi hari-harinya dan membantunya bangkit di kala dunia dan seluruh isinya serasa menghakiminya untuk segera angkat kaki itu. Hanya saja, satu sisi dirinya yang lain juga tidak ingin melewatkan Kalea. Tidak untuk yang ke-dua kalinya.


"Dulu, waktu saya kecil, ada Bunda yang akan meluk saya kalau saya lagi sedih." Gavin berbicara dengan pandangan yang menerawang, mengingat kembali masa kanak-kanaknya yang dipenuhi sukacita dan dikelilingi orang-orang yang begitu mencintainya. "Tapi sekarang, karena sudah besar, saya sudah nggak bisa lagi dapat pelukan itu dari Bunda. Mungkin lebih tepatnya, saya sudah nggak bisa lagi menunjukkan kesedihan itu di depan Bunda."


"Kenapa?"


Gavin kembali menatap Kalea. Terlihat jelas ada banyak sekali rasa penasaran yang tersimpan di balik manik boba yang kini menatapnya serius itu. Kemudian ia tersenyum, sebuah senyum yang ia sendiri tidak tahu bagaimana mengartikannya.


"Saya nggak mau Bunda terluka. Karena kalau saya sedih, Bunda akan jadi orang yang merasakan sedih berkali-kali lipat daripada apa yang saya rasa." Untuk sesaat, Gavin merasakan kekosongan di dadanya kembali menghampiri secara nyata. Di sana, di bagian yang tidak pernah terjamah oleh orang lain itu, ia menyimpan sisi dirinya untuk ia nikmati sendiri. Sisi dirinya yang rapuh, yang cengeng dan doyan mengeluh. Dulu, sisi diri itu dipeluk begitu erat oleh Bunda, dan ia tidak pernah merasa keberatan. Namun seiring berjalannya waktu dan fakta tentang dirinya satu persatu terungkap, ia tidak bisa lagi membiarkan sisi yang itu terus menjadi beban bagi Bunda. Wanita itu sudah terlalu banyak berkorban, sampai lupa bahwa ia seharusnya merawat dirinya sendiri yang juga terluka dan berdarah-darah.

__ADS_1


"Di mata seorang ibu, seorang anak nggak akan pernah benar-benar jadi dewasa." Kata Kalea, membuang muka demi memandangi hamparan langit malam yang begitu pekat di atas sana.


"Tiga hari yang lalu, aku nggak sengaja dengar obrolan Mama dan Papa di dapur. Waktu itu udah larut, mungkin udah jam satu atau dua dini hari." Kalea merapatkan jaket yang dikenakan saat angin kembali berembus menerpa tubuh kurusnya. "Aku kebangun karena haus, tapi pas baru sampai di tangga, aku malah dengar Mama yang lagi merengek ke Papa soal rencana pernikahan kita. Mama bilang, beliau khawatir sama aku, takut aku nggak bisa menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri, takut aku kesepian, takut aku nggak bisa bermanja-manja seperti yang biasa aku lakukan ke Mama setiap harinya."


Gavin mendengarkan dengan seksama, tak berniat menyela meski di kepalanya kini ada begitu banyak hal yang juga ingin dia sampaikan kepada perempuan ini.


"Dari situ aku sadar, berapapun umur aku, entah masih sendiri atau sudah menikah, di mata Mama aku akan tetap jadi bayi kecilnya yang lucu."


Gavin merasakan napasnya terhenti selama beberapa saat ketika Kalea tiba-tiba membolehkan kepala, menatapnya lekat dengan senyum tipis yang serupa oasis di padang gurun yang tandus, mampu melegakan dahaga yang nyaris membuatnya mati tercekik.


"Kamu tahu, apa yang Papa bilang untuk menenangkan Mama?" tanya Kalea, dan Gavin hanya menggelengkan kepala.


Senyum Kalea kian lebar. Ketulusannya terasa sampai ke hati Gavin, membuat satu bagian lain di hatinya yang sudah lama mati perlahan menampakkan tanda-tanda kehidupan lagi. Senyum itu masih sama persis seperti yang ia tahu bertahun-tahun lalu, senyum yang selalu bisa menenangkannya dari segala ketakutan tentang dunia.


"Papa bilang, nggak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku menikahnya sama kamu."


Tepat ketika bibir Kalea kembali terkatup, Gavin merasakan dadanya sesak. Perih menjalar ke seluruh tubuhnya saat manik boba dengan binar teduh serupa hujan bulan Desember itu menatapnya begitu dalam. Seperti menaruh percaya yang begitu besar, tanpa tahu bahwa percayanya hanya akan berakhir sia-sia karena diletakkan pada lelaki brengsek seperti dirinya. Seandainya, seandainya Kalea tahu bahwa apa yang tampak di depan matanya sekarang bukanlah sosok Gavin yang sesungguhnya, apakah tatapan mata itu masih akan sama? Membayangkannya saja sudah membuat Gavin ketakutan. Ia tidak ingin kehilangan, baik Irina, maupun Kalea.


Jadi saat bibir Kalea hendak kembali terbuka untuk meneruskan kalimatnya, Gavin cepat-cepat menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ia mendekap Kalea begitu erat, menyandarkan dagunya di bahu kecil Kalea dan memejamkan matanya erat.


"Kalau begitu, tolong bantu saya untuk jadi seseorang yang benar-benar bisa dipercaya." Permohonan itu bukan hanya Gavin tujukan kepada Kalea saja, tapi juga kepada dirinya sendiri. Berharap ia bisa menjaga Irina dan Kalea di posisi yang sama-sama aman. Karena kalau harus ada yang hancur, ia akan merelakan dirinya sebagai ganti agar dua perempuan ini tetap bisa bertahan sampai akhir.


******


Sedari awal ketika ia melajukan mobilnya memasuki pelataran rumah, perasaan Gavin sudah tidak enak saat matanya menadapati sebuah Honda Civic berwarna merah terang terparkir di garasi rumahnya. Sebuah pemandangan yang sudah lama tidak ia saksikan, bahkan ia berharap mobil itu tidak akan bertandang lagi ke rumahnya dalam waktu dekat.


Dengan perasaan yang was-was, setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Gavin mengayunkan kakinya ke dalam rumah melalui pintu garasi yang akan langsung terhubung dengan ruang tamu. Tapi baru sampai di sisi pintu garasi, langkahnya terhenti saat suara nyaring seorang pria menyapa indera pendengarannya. Gavin meringis saat suara pria itu terdengar semakin jelas dengan nada yang semakin naik beberapa oktaf. Perih di dadanya barangkali tidak sebanding dengan apa yang Bunda rasa ketika wanita itu terpaksa meladeni perdebatan yang dimulai oleh si pria, yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri.


"Yang kamu pikirin tuh apa, sih, Ra? Kok bisa-bisanya tercetus ide gila untuk menjodohkan anak itu dengan anak semata wayang keluarga Pradipta?!" Om Arya bicara dengan emosi yang meledak-ledak.


"Kalau mereka tahu tentang anak itu, bukan cuma perusahaan peninggalan Papa yang akan hancur, tapi juga keluarga kita! Keluarga besar Cakraditya akan hancur karena kecerobohan kamu, Ra!"


Keluarga besar Cakraditya. Tentu Gavin cukup tahu diri untuk tidak memasukkan dirinya ke dalam salah satu di antara mereka. Walau begitu, mendengar betapa Om Arya khawatir bahwa identitasnya yang sebenarnya akan mengancam keselamatan seluruh anggota keluarga, Gavin kembali merasa bahwa dia memang tidak seharusnya lahir ke dunia.


"Namanya Gavin, Mas. Mahesa Gavin Cakraditya. Kenapa, sih, Mas nggak pernah mau lagi panggil Gavin dengan namanya, dan malah terus-menerus manggil Gavin dengan sebutan 'anak itu'?" Napas Gavin tercekat saat suara Bunda mengudara, terdengar bergetar saat menekankan setiap kata di dalam namanya. Bunda memang tidak pernah berubah, sejak awal selalu menjadi seseorang yang berdiri paling depan ketika seseorang berusaha mengusiknya.


"Aku nggak sudi lagi menyebut nama itu sejak semua kebenarannya terungkap. Anak sialan itu bahkan nggak pantas untuk menyandang Cakraditya di belakang namanya. Karena kenyataannya dia memang bukan bagian dari keluarga kita, Ra. Dia bukan keturunan Cakraditya!"


Gavin memejamkan mata, tangannya terkepal kuat di samping tubuh demi menahan emosi yang sudah siap meledak. Tidak. Ia tidak marah pada Om Arya, karena semua yang pria itu katakan adalah kebenaran. Ia marah pada dirinya sendiri, yang harus hadir di antara orang-orang baik dan membuat mereka saling menunjuk wajah satu sama lain dengan emosi yang meluap-luap. Seandainya mesin waktu itu betulan ada, Gavin ingin kembali ke masa lalu agar kelahirannya tidak pernah terjadi.

__ADS_1


"Cukup, Mas! Gavin itu anak aku, jadi dia jelas pantas menyandang Cakraditya di belakang namanya. Stop menyalahkan anak nggak berdosa itu, Mas. Kalau kamu mau hina, mau maki-maki, kamu bisa lakukan itu ke aku, jangan ke anak aku!"


Dan pertahanan Gavin runtuh kala mendengar isak tangis keluar dari bibir Bunda. Ia tidak bisa lagi menahan diri lebih lama. Maka kaki-kaki panjangnya kembali diayunkan, berjalan cepat menghampiri dua orang yang sedang berdebat itu sebelum perdebatan mereka semakin menjadi dan Bunda akan semakin terluka.


"Cukup, Om!" Gavin menarik tubuh Bunda pelan, segera menyembunyikan tubuh rapuh itu di belakangnya ketika Om Arya hendak membuka mulutnya lagi.


"Silahkan lontarkan semua kebencian Om langsung kepada saya, jangan kepada Bunda." Gavin menatap Om Arya dengan tatapan yang berani. Padahal sebetulnya, ia takut bukan main. Kalau boleh jujur, tubuhnya sedikit bergetar sekarang. Karena menghadapi Om Arya tidak akan pernah mudah. Selalu ada satu titik luka baru yang akan muncul ketika mata elang itu menatapnya dengan penuh cemooh dan kebencian. Tapi untuk kali ini, Gavin akan menguatkan diri. Sebab sudah saatnya ia gantian melindungi Bunda.


"Minggir, saya nggak sudi bicara sama kamu." Kata Om Arya sinis. Pria berusia akhir empat puluhan itu hendak menarik lengan Bunda, namun Gavin dengan cepat mencekal tangannya.


"Lepas! Saya mau bicara sama adik saya!" Bentak Om Arya. Dihempaskannya tangan Gavin dengan tidak berperasaan, kemudian ia kembali berusaha meraih tangan Mutiara, adiknya, walau pada akhirnya tangannya kembali dicekal oleh Gavin.


"Saya nggak akan biarkan siapapun menyakiti Bunda." Ucap Gavin dengan rahang yang mengeras. Ia mencekal tangan Om Arya lebih kuat, memastikan pria itu tidak akan punya daya untuk menepis cekalannya seperti yang sebelumnya.


"Sadar diri, kamulah sumber sakit hati dalam hidup adik saya." Kata Om Arya disertai senyum sinis.


Gavin tidak mampu memberikan sanggahan, karena pada kenyataannya, apa yang Om Arya katakan memang benar. Kalau ada yang paling menyakiti Bunda, itu pasti dirinya.


"Vin," bisik Bunda pelan, mengusap bahu Gavin demi menenangkan putranya itu agar tidak tersulut emosi. Hubungan Gavin dengan Arya tidak baik, Bunda tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk.


"Tentu saja saya sadar diri." Gavin melepaskan cekalannya di tangan Om Arya. "Karena saya sadar kalau sumber sakit hati Bunda itu adalah saya, maka yang bisa saya lakukan adalah melindungi Bunda dari hal-hal lain yang akan membuat sakit hatinya semakin parah."


"Cih, manis sekali mulut kamu, persis seperti ayah kamu yang bajingan itu." Cibir Om Arya.


Mendengar Papa disebut bajingan oleh Om Arya tidak lantas membuat emosi Gavin tersulut. Karena ia mengamini perkataan itu. Papa memang bajingan, dan dalam beberapa kesempatan, Gavin berharap ia tidak lahir dari benih laki-laki bajingan seperti Papa.


"Mas, udah. Tolong berhenti nyakitin anak aku dengan kata-kata kamu yang pedas."


Gavin tidak bisa menahan saat Bunda bergerak maju. Kini mereka bertukar posisi. Bunda lah yang kini berdiri di depan, menjadi tameng untuk dirinya seperti yang selalu wanita itu lakukan selama ini.


"Anak kamu apanya? Dia bukan anak kamu! Berhenti sebut anak haram ini sebagai anak kamu karena itu menjijikkan!"


"Mas!" Bunda berteriak frustasi. Gavin tertegun melihat bagaimana Bunda membentak Om Arya, walau tak lama setelahnya, air mata mulai kembali menetes membasahi wajah lelahnya.


"Cukup, aku mohon. Kalau Mas Arya nggak mau terima kehadiran Gavin, nggak apa-apa, aku nggak masalah. Tapi tolong, berhenti ganggu dia. Berhenti sebut dia anak haram atau sebutan-sebutan lain yang nggak pantas. Gavin anak aku, Mas. Aku mohon, berhenti sakitin dia." Suara Bunda bergetar, seirama dengan bahunya yang bergerak naik turun menahan isakan. Gavin ingin merengkuh tubuh ibunya itu, memeluknya erat seperti yang wanita itu selalu lakukan kepadanya saat masih kecil dulu. Tapi entah kenapa, tubuhnya malah terasa kaku. Sehingga ia hanya diam saja saat melihat Om Arya mengembuskan napas kasar dan mengusap wajahnya dengan gerak cepat kemudian berlalu dari hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Bahkan ketika terdengar suara debaman keras di pintu yang akhirnya membuat sosok Om Arya sepenuhnya menghilang dari pandangan mereka, Gavin masih tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya diam menyaksikan ibunya menangis sesenggukan di hadapannya, tanpa berani melangkah lebih dekat karena takut ia hanya akan membuat tangis itu semakin pecah.


Tuhan...mengapa saya harus lahir ke dunia?

__ADS_1


__ADS_2