
Seharusnya, Gavin langsung pulang ke rumah ketika mobilnya melaju meninggalkan pelataran rumah Kalea. Tapi ia justru memutar setir ke arah yang berlawanan, menuju tempat yang seharusnya tidak ia datangi dalam waktu dekat.
Pertemuannya dengan Taruna siang tadi masih meninggalkan sesuatu yang mengganjal di benaknya, jadi mau tidak mau, Gavin harus sedikit meleset dari rencana awalnya untuk tidak bertemu dengan Irina selama beberapa hari ke depan sampai hari pernikahannya dengan Kalea dilaksanakan. Ia harus bertanya beberapa hal, demi meringankan beban yang dia bawa seharian karena pertemuan tak terduganya dengan Taruna yang membuat Kalea nyaris curiga.
Gerimis turun tipis-tipis ketika mobil Gavin memasuki pataran sebuah kompleks apartemen mewah di pusat kota. Petugas keamanan yang berjaga di depan sudah cukup familiar dengannya sehingga ia bisa langsung melajukan mobilnya ke parkiran setelah membuka sedikit kaca mobil dan menyapa petugas keamanan itu.
Beres dengan urusan memarkirkan mobil, Gavin langsung berjalan menuju lift. Suasana sepi meski malam belum terlalu larut. Tidak butuh waktu lama untuk pintu lift terbuka, menampilkan sesosok pria jangkung yang asik memainkan ponselnya. Gavin segera berjalan masuk ke dalam lift, memencet tombol di mana unit yang ia tuju berada kemudian berdiri tenang di sisi kiri si pria, menjaga jarak yang cukup signifikan dengan orang asing tersebut.
Selama lift berjalan membawanya naik, tidak ada percakapan yang terjadi antara dirinya dengan pria asing yang masih saja tak melepaskan pandangan dari layar ponselnya. Gavin juga bukan tipikal orang yang suka menyapa orang asing lebih dulu, jadi dia tidak terlalu keberatan dengan keadaan saat ini.
Tapi saat suara denting terdengar sebelum pintu lift terbuka dan si pria melangkah keluar, Gavin dibuat tak bisa mengatakan apa-apa saat dari belah bibir pria itu keluar sebuah kalimat yang terlalu sulit untuk dia cerna apa maksudnya.
Kata pria itu, "Hati-hati, di sini banyak mata dan telinga. Tetap waspada, jangan pernah hilang fokus karena kalau sekali salah jalan, kamu nggak akan bisa kembali ke tempat di mana seharusnya kamu berada." Kemudian pria itu berjalan cepat dan dalam sekejap menghilang dari pandangan Gavin setelah pintu lift kembali tertutup.
Gavin jelas dibuat kebingungan, tapi dia tidak punya cukup waktu untuk memikirkan apa maksud sebenarnya dari ucapan pria asing tadi karena tak lama setelahnya, pintu lift kembali dibuka dan ia harus bergegas keluar dari sana.
Gavin berjalan cepat menyusuri lorong, sesekali menoleh untuk meneriksa keadaan sekitar. Sepi. Memang selalu begini. Ini adalah kompleks apartemen mewah yang dihuni oleh orang-orang sibuk yang hanya akan datang untuk singgah di sela kesibukan yang menggila, jadi Gavin tidak heran kalau di sepanjang perjalanannya ia hanya bertemu dengan beberapa orang yang sibuk dengan gadget masing-masing. Itu juga lah yang menjadi alasan Gavin memilih untuk membeli dua unit apartemen di sini, karena ia tahu resiko untuk ketahuan oleh orang lain sangat kecil. Jadi dia tetap bisa menjaga namanya dan Irina sama-sama baik.
Tapi ucapan pria asing di lift tadi cukup mengusiknya. Bagaimana kalau ternyata tempat ini tidak seaman yang ia bisa? Bagaimana kalau ternyata, ia terlalu menganggap remeh semua hal dan tanpa sadar telah menggali kuburannya sedikit demi sedikit?
Pertanyaan dan kekhawatiran itu masih tetap memenuhi kepala Gavin bahkan sampai ia tiba di depan pintu unit apartemennya. Setelah terdiam cukup lama, jemarinya bergerak memasukkan kode keamanan di pintu sehingga pintu di hadapannya itu terbuka.
Gavin melangkah masuk, menutup pintu dengan terburu-buru kemudian berjalan ke sisi samping unit apartemennya di mana ada pintu lain yang dia buat secara khusus setelah membeli unit ini dua tahun yang lalu. Pintu itu menghubungkan unitnya dengan unit apartemen yang Irina tinggali. Dia sengaja membeli dua unit agar tidak ada celah bagi orang lain untuk melihatnya dan Irina masuk dari pintu unit yang sama.
Setelah memasukkan kode keamanan yang sama dengan yang ada di pintu depan unitnya, pintu penghubung itu terbuka. Gavin agak tidak siap saat Irina muncul dari balik pintu yang terbuka. Perempuan itu tampil dalam balutan kemeja kebesaran warna biru muda yang hanya mampu menutup sampai di atas lututnya. Kemeja itu adalah milik Gavin, sengaja ia tinggalkan beberapa potong di lemari Irina untuk berjaga-jaga jika ia harus menginap di apartemen ini dan langsung pergi ke kantor keesokan harinya. Secara keseluruhan, unit yang Gavin sewa atas nama dirinya ini hanyalah formalitas, karena ia selalu tidur dan menghabiskan waktu di unit yang Irina tinggali.
Cukup lama Irina diam di depan pintu, menatap Gavin dengan sorot mata yang terlalu sulit untuk di definisikan. Sampai akhirnya perempuan itu berjalan masuk, meninggalkan Gavin yang masih berdiri di depan pintu dengan pikiran carut-marut.
__ADS_1
Gavin melihat perempuan itu mendudukkan dirinya di sofa, menyilangkan kaki hingga membuat paha mulusnya terekspos sempurna. Di tangan perempuan itu ada segelas red wine yang ia hirup aromanya perlahan-lahan sebelum cairan kental itu ia sesap, meninggalkan noda kemerahan yang mewarnai bibirnya yang semula polos tanpa polesan lipstik.
Ketika Gavin berjalan mendekat dan pandangan mereka kembali bertemu, Gavin merasakan dadanya seperti ditusuk belati ketika manik kelabu itu tampak berkabut. Jelas sekali ada kesedihan yang coba disembunyikan oleh perempuan itu, dan Gavin jelas tahu bahwa kesedihan itu berasal dari dirinya.
"Aku pikir kamu nggak akan sudi lagi dateng ke sini." Sindir Irina. Kemudian ia sesap lagi red wine di tangan hingga betulan tandas. Gavin melihat Irina memandangi gelas kosong di tangannya cukup lama, sebelum mengembuskan napas berat dan meletakkan gelas kosong itu ke atas meja.
"Kamu ke sini pasti karena ada yang nggak beres sama rencana kamu, kan?" tebak Irina tepat sasaran. Gavin meringis tatkala Irina menoleh dan menampilkan senyum miris di bibirnya. Sesuatu yang membuat hatinya berkali lipat lebih sakit ketimbang sebelumnya.
Gavin bisa saja berbohong dengan mengatakan bahwa ia ke sini karena merindukan perempuan itu. Tapi karena ini Irina, kebohongannya itu hanya akan berakhir sia-sia. Sebab Irina terlalu mengerti dirinya. Bahkan lebih mengerti daripada ia mengerti dirinya sendiri.
"Ada apa? Kalea kenapa lagi?" ada kekesalan yang sama sekali tidak berusaha untuk Irina sembunyikan di balik nada bicaranya.
"Taruna." Jawab Gavin langsung pada intinya.
Alis Irina terangkat sebelah saat nama Taruna tiba-tiba disebut dalam pembicaraan mereka tentang Kalea. Memang sejak kapan Taruna ikut andil dalam hubungan rumit antara dia, Gavin dan perempuan bernama Kalea itu?
"Tadi siang aku ketemu sama Taruna di supermarket." Jelas Gavin setelah mendudukkan dirinya di sebelah Irina. Menjaga jarak yang cukup kentara sebab ia tahu Irina tidak suka ditempeli jika suasana hatinya sedang buruk.
Gavin menganggukkan kepala, membuat segaris luka di dada Irina terasa kembali basah. Empat tahun mereka bersama, dua tahun mereka habiskan sebagai sepasang kekasih dan Gavin sama sekali tidak pernah mengajaknya berkeliling ke supermarket seperti pasangan-pasangan lainnya. Tapi hari ini, lelaki itu pergi bersama perempuan lain yang bahkan baru dikenal selama dua bulan. Irina tahu pernikahan ini diperlukan untuk menjaga posisi mereka agar tetap aman. Tapi kalau perempuan bernama Kalea itu sampai harus merebut kesempatannya untuk melakukan banyak hal yang selalu ia impikan bersama Gavin, Irina tidak bisa menjamin apakah dia bisa bertahan dengan rencana ini sampai akhir.
"Taruna bukan sebuah ancaman, jadi aku rasa kamu nggak perlu jauh-jauh datang ke sini cuma buat kasih laporan kayak gini ke aku." Irina menegakkan punggungnya, berniat bangkit dari sofa namun urung karena Gavin lebih dulu menahan lengannya.
"Semua yang berhubungan dengan kita adalah ancaman untuk Kalea." Sela Gavin cepat.
"Emangnya Taruna sengaja nemuin kamu dan Kalea? Nggak, kan?" kesal Irina. Perlahan, ia bergerak melepaskan tangan Gavin dari lengannya. "Sadar nggak sih, Vin, kalau respon kamu terhadap sesuatu itulah yang justru berpotensi menimbulkan kecurigaan."
"Aku bereaksi berlebihan karena aku melihat sesuatu yang mengejutkan."
__ADS_1
"Apa? Apa yang begitu mengejutkan sampai kamu seheboh ini?" Suara Irina mulai meninggi. Suasana hatinya sedang tidak baik karena rumor kencannya dengan Gabriel Permana tak kunjung mereda. Dan sikap Gavin yang berlebihan terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Kalea sama sekali tidak membantu.
"Taruna punya anak angkat. Perempuan."
Irina terdiam. Bibirnya terkatup rapat saat mata Gavin menatapnya begitu intens, seolah menuntut jawaban untuk pertanyaan yang bahkan belum lelaki itu lontarkan.
"Apa yang salah dari itu?" suara Irina mengecil. Ia berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan yang mulai merambat menguasai dirinya.
"Nggak ada yang salah dengan fakta bahwa Taruna punya anak angkat. Aku cuma bingung, kenapa aku sama sekali nggak tahu soal itu?"
"Nggak ada kewajiban buat Taruna kasih tahu kamu semua hal tentang dia"
Irina masih berusaha mengendalikan dirinya.
Walau jantungnya perlahan-lahan berdetak dengan tempo yang lebih cepat dan tenggorokannya terasa kering tanpa sebab.
"Tapi dia kasih tahu kamu." Tadinya, Gavin berharap Irina akan menyangkal dengan mengatakan bahwa perempuan itu juga baru pertama kali mendengar soal Taruna yang memiliki anak angkat. Tapi respon Irina yang selanjutnya sukses membuatnya merasakan nyeri di ulu hatinya. Sebab sepertinya firasatnya memang benar. Irina jelas tahu soal Taruna lebih banyak ketimbang dirinya. Dan Gavin tidak suka itu. Gavin tidak suka ketika mereka bertiga menyembunyikan sesuatu dari satu sama lain. Karena hubungan mereka tidak boleh berjalan seperti itu.
"Vin,"
"Dia nggak kasih tahu aku, tapi dia kasih tahu kamu. Kenapa? Karena kalian mulai lebih dekat satu sama lain selama aku sibuk dengan urusan perjodohan ini?"
Daripada kecemburuan, Irina lebih banyak melihat kemarahan yang kentara dari sorot mata Gavin. Dan ia tidak tahu mengapa lelaki ini bersikap demikian.
"Serendah itu Taruna di mata kamu?" tanya Irina pada akhirnya. Ia terlalu lelah untuk mendebat Gavin dengan nada suara yang tinggi, jadi ia menanyakan itu dengan suara yang teramat pelan. "Kalian berteman untuk waktu yang cukup lama, dan kamu sampai sejauh itu berpikiran buruk tentang Taruna? Cuma karena dia nggak kasih tahu kamu satu hal, yang kalaupun kamu tahu, kamu juga nggak akan punya cukup waktu untuk peduli?"
Selesai mengatakan itu, Irina betulan bangkit. Ia berjalan meninggalkan Gavin, membawa serta gelas kosong di atas meja untuk ia isi lagi dengan red wine yang ada di dapur. Sembari berjalan, ia berkata "Kalau kamu ke sini cuma untuk mencurahkan semua kecurigaan kamu sama aku dan Taruna, mending kamu pulang. Urusin aja perempuan yang mau kamu nikahin itu, karena sepertinya dia jauh lebih penting sekarang."
__ADS_1
Kalimat itu terdengar lebih menyakitkan ketimbang sebuah vonis yang dijatuhkan kepada terpidana hukuman mati. Sebab setelah Irina mengatupkan bibir dan tubuh langsingnya menghilang di balik belokan, Gavin merasakan aliran oksigen ke paru-parunya tidak lancar. Ia meraup oksigen dengan frustasi, seolah sebentar lagi ia akan mati.
Bersambung