Serana

Serana
Sebuah Fakta


__ADS_3

Satu hal yang tidak diketahui oleh orang lain selain keluarga Cakraditya adalah fakta bahwa Gavin bukanlah anak kandung Bunda. Dia adalah anak di luar nikah yang lahir dari rahim seorang wanita yang Papa temui selama perjalanan bisnisnya ke Surabaya. Tak banyak yang Gavin dengar tentang seperti apa rupa ibu kandungnya karena selama ini Bunda selalu menjaga rahasia ini serapat mungkin. Bahkan, Gavin pun awalnya tidak tahu kalau dia hanyalah anak haram yang bahkan tidak lahir dari rahim Bunda yang begitu menyayanginya. Bunda memperlakukannya sangat baik, menyayanginya dengan tulus tanpa pernah menuntut apapun darinya. Jadi Gavin sama sekali tidak menaruh curiga. 


Fakta tentang asal-usul dirinya yang sebenarnya baru Gavin ketahui setelah ia lulus SMA. Saat itu ia baru saja pulang dari sekolah setelah merayakan kelulusan dengan teman-temannya. Langit sudah mulai gelap dan jalanan yang ia lewati semakin padat oleh kendaraan yang berebut untuk lebih dulu diberi jalan. Di persimpangan, saat ia membelokkan stang motor dan hendak masuk ke kompleks perumahan tempatnya tinggal, ia tidak sengaja melihat mobil milik Om Arya yang baru saja keluar dari gerbang kompleks. 


Alis Gavin bertaut saat mobil itu melewatinya begitu saja. Padahal hubungannya dengan Om Arya masih baik-baik saja sampai kemarin malam saat mereka menghabiskan waktu begadang demi menonton siaran bola bersama. Ia memang sedekat itu dengan Om Arya. Saking dekatnya, orang-orang asing yang tak mengenal mereka bahkan sering mengira kalau Gavin dan Om Arya adalah sepasang anak dan ayah yang selalu terlihat kompak. Tapi, kenapa kini Om Arya lewat begitu saja tanpa menyapa dirinya? Gavin yakin eksistensi dirinya terlihat jelas di mata Om Arya. Lelaki itu tidak mungkin tidak menyadari kehadirannya. 


Karena tidak ingin menerka-nerka, Gavin pun melanjutkan perjalanannya. Ia hanya berpikir Om Arya mungkin betulan tidak melihatnya. Motor kembali melaju dan ketika sampai di depan gerbang rumahnya, ia menemukan Bunda hendak menutup gerbang dengan gerakan yang lambat. Raut wajah wanita itu tampak sedih, sehingga membuat Gavin khawatir. 


Tapi saat Gavin bertanya, Bunda tidak mau menjelaskan. Wanita itu hanya berkata bahwa ia baik-baik saja dan hanya sedikit kelelahan. Gavin tentu tidak percaya begitu saja. Setelah membersihkan diri dan menyantap habis makan malam yang telah disiapkan oleh Bunda, Gavin buru-buru naik ke kamarnya. Ia mengunci pintu, lalu dengan rasa penasaran yang tinggi, ia memutuskan untuk menelepon Om Arya demi menanyakan apa yang terjadi selama pertemuan Om Arya dan Bunda sehingga Bunda jadi terlihat murung seperti tadi. 


Panggilan pertama tak mendapatkan jawaban. Begitu juga panggilan ke-dua dan ke-tiga. Tapi Gavin tidak menyerah begitu saja. Ia masih terus mencoba menelepon Om Arya sampai akhirnya teleponnya di angkat pada percobaan ke-tujuh. 


Namun alih-alih mendapatkan sambutan yang hangat seperti biasa, Gavin justru mendengar sesuatu yang terlalu sulit untuk bisa dia terima. Dengan suara yang berat dan dipenuhi amarah, Om Arya berkata "Jangan hubungin saya lagi. Sudah cukup kamu menjadi duri dalam kehidupan adik perempuan saya. Saya nggak sudi berhubungan lagi dengan kamu" yang membuat Gavin terdiam dengan napas yang tercekat.


"Harusnya, Jonathan membiarkan kamu mati bersama ibu kamu yang murahan itu. Tidak seharusnya dia membawa kamu kepada adik perempuan saya dan membuatnya harus merawat kamu di saat hatinya remuk redam karena kelakuan bejatnya. Kamu anak haram, saya menyesal sudah menyayangi kamu dan memperlakukan kamu dengan baik karena saya pikir kamu adalah darah daging Mutiara. Kamu sama bangsatnya dengan ayah kamu, Gavin. Saya membenci kamu." 


Dan telepon dimatikan begitu saja. Membuat Gavin hanya bisa terdiam, berusaha keras mencerna apa maksud dari ucapan omnya. Kenapa ia dikatai anak haram? Kenapa om yang selama ini menyayanginya tiba-tiba mengatakan hal-hal buruk kepada dirinya? Apa Gavin telah berbuat salah kepada Om Arya? Tapi kesalahan macam apa sehingga Om Arya bisa berkata sejahat itu kepada dirinya?


Beribu pertanyaan mengerubungi kepala Gavin hanya dalam waktu singkat. Dengan setengah nyawa yang seolah ditarik pergi, Gavin berjalan gontai menghampiri Bunda yang malam itu sedang duduk menyendiri di halaman belakang. 


Saat itu juga Gavin meminta penjelasan kepada Bunda. Ia ceritakan semua hal yang menganggu pikirannya, mulai dari Om Arya yang tak menyapanya saat berpapasan di persimpangan hingga kalimat jahat yang Om Arya katakan kepadanya melalui sambungan telepon. 


Dengan berurai air mata, Bunda menjelaskan semuanya. Mulai dari hubungan gelap Papa dengan ibu kandungnya, sampai malam ketika Papa pulang ke rumah membawa seorang bayi baru lahir ke hadapan Bunda. Semua itu Bunda ceritakan sembari menggenggam tangannya seerat-eratnya, seolah jika dilepas sebentar saja, Bunda akan kehilangan dirinya saat itu juga. 


Malam itu, Gavin merasa langit di atas kepalanya runtuh hingga membuat tubuhnya luluh lantak tak bersisa. Gavin hancur, ia bahkan berharap bisa mati saat itu juga saking tidak mampunya menerima kenyataan yang baru disodorkan ke hadapannya. 


Dalam sekejap mata, hubungannya dengan Om Arya memburuk dan ia tidak pernah punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Sejak malam di mana fakta menyakitkan itu terungkap, Om Arya tidak pernah sudi lagi menginjakkan kaki ke rumah ketika Gavin sedang ada di dalamnya. Lelaki itu bahkan sempat memutus kontak dengan Bunda saking kecewanya karena merasa telah dibohongi selama belasan tahun. Memang, Om Arya tidak menyaksikan sendiri bagaimana Bunda mengandung dan melahirkan karena selama empat tahun Om Arya sibuk menempuh pendidikan di Jerman. Sehingga saat lelaki itu kembali dan mendapati ada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun yang kemudian Bunda perkenalkan sebagai putranya, Om Arya percaya-percaya saja. Begitu juga dengan orangtua Bunda yang kala itu masih hidup dan tinggal di Balikpapan, mereka juga tidak mengetahui bahwa Bunda tidak pernah benar-benar hamil dan melahirkan.


Tapi, ada yang lebih sedih dari fakta bahwa Gavin bukanlah anak kandung Bunda. Itu adalah kenyataan bahwa Bunda pernah mengalami kejadian buruk yang mengakibatkan rahimnya rusak dan terpaksa diangkat sehingga wanita itu tidak akan pernah bisa mempunyai anak. Mungkin, itu juga sebabnya Bunda sudi mengurus dirinya sampai sebesar ini walau konsekuensinya adalah Bunda harus menahan perih setiap melihat wajahnya yang barangkali akan mengingatkan Bunda pada wanita jahat yang telah merebut kasih sayang suaminya.


Pukul setengah satu dini hari, Gavin merebahkan tubuhnya, menatapi langit-langit kamar yang berwarna putih pucat, sepucat kehidupannya di mana warna-warni telah lama direnggut dari sana. Sejak fakta menyakitkan tentang dirinya terkuak, Gavin sudah tidak pernah lagi merasakan yang namanya tidur dengan nyenyak. Sebab mimpi buruk selalu datang menghampiri bahkan ketika ia baru saja memejamkan mata.


Lalu di tengah keributan di kepala, ia tiba-tiba teringat Kalea. Gavin baru ingat bahwa ia telah berjanji untuk menelepon perempuan itu sesampainya di rumah. Tapi karena kejadian tak terduga antara Bunda dan Om Arya, ia jadi melupakan janji itu. Untuk itu, Gavin bergegas bangkit dari tidurnya, bergerak serabutan meraih ponsel dari atas nakas dan langsung kelabakan mencari kontak Kalea untuk segera dia telepon. Gavin tidak tahu apakah Kalea masih terjaga sekarang, tapi setidaknya ia tetap ingin mencoba menepati janjinya. Karena ia pernah ingkar sekali, dan tidak ingin mengulanginya lagi.


Tak lama berselang setelah ponsel itu ia tempelkan ke telinga, suara nada sambung menghilang, berganti dengan suara Kalea yang mengalun lembut serupa nyanyian pengantar tidur yang seketika membuat perasaannya berangsur nyaman.


"Halo, Gavin?" detik saat suara itu kembali mengalun, Gavin bersumpah tidak akan melewatkan perempuan itu lagi.

__ADS_1


*******


Jam setengah satu dini hari, Kalea masih terjaga di atas kasurnya sembari memandangi ponsel di tangan yang layarnya terlihat padam. Ia sedang menunggu telepon dari Gavin, karena lelaki itu telah berjanji akan menghubunginy setelah sampai di rumah. Tapi setelah berjam-jam kemudian, telepon yang ditunggunya tak kunjung datang dan ia tidak punya keberanian untuk menelepon Gavin lebih dulu. Bukan karena ia gengsi, tapi ia takut kalau-kalau Gavin memang belum sampai di rumah dan sedang mengurusi hal lain sehingga telepon darinya hanya akan mengganggu. Atau lebih parah lagi, lelaki itu mungkin sedang menyetir dan telepon darinya hanya akan membuatnya kehilangan konsentrasi dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Kalea menggelengkan kepala kuat saat skenario buruk mulai berputar di kepalanya. Ia masih mencoba berpikir positif sampai bermenit-menit kemudian. Matanya mulai terasa lelah, ia mengantuk dan sudah berniat untuk menyerah menunggu telepon dari Gavin ketika benda pipih di tangannya itu bergetar hebat.


Kalea terlonjak, ia bangkit dari tidurnya, mengambil posisi duduk yang nyaman dengan tatapan yang masih tidak bisa lepas dari layar ponselnya yang kini menyala dan menampakkan nama Gavin.


Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai lima, barulah Kalea menggeser log hijau sehingga telepon pun tersambung.


"Halo?" sapanya dengan suara pelan. Itu tidak dibuat-buat, karena ia memang sudah lelah dan suaranya cenderung menjadi lebih halus ketika ia kelelahan.


Selama beberapa detik, tidak ada yang Kalea dapati selain keheningan. Gavin di seberangnya sana entah sedang melakukan apa karena Kalea sama sekali tidak bisa mendengar tanda-tanda kehidupan.


"Halo, Gavin?" sapanya sekali lagi, sekadar memastikan bahwa telepon mereka masih tersambung dan Gavin masih ada di tempatnya.


Kantuk yang tadi sempat menyerang perlahan menyingkir ketika suara berat Gavin balik menyapa dari seberang. Membuatnya bisa menghela napas lega karena kenyataannya lelaki itu baik-baik saja, tidak seperti skenario buruk yang bertebaran di dalam kepalanya.


"Kamu kok belum tidur?" tanya Gavin dengan suara yang kini terdengar lebih berat dan sedikit serak.


"Astaga! Jadi, kalau saya nggak telepon, kamu nggak akan tidur sampai pagi?" Gavin terdengar syok, dan hal itu cukup menghibur untuk Kalea sehingga ia pun tertawa.


"Kamu kan udah janji buat ngabarin kalau udah sampai rumah, jadi ya aku tungguin." Kalea bergerak pelan, kembali membaringkan tubuhnya miring ke kanan. "Kamu baru sampai rumah?"


"Nggak. Saya udah sampai dari berjam-jam yang lalu, cuma tadi ada sedikit masalah yang harus saya bereskan terlebih dahulu, jadinya saya baru bisa telepon kamu sekarang."


"Masalah apa?"


"Bukan sesuatu yang serius."


"Bukan sesuatu yang serius tapi nyelesaiinnya butuh waktu berjam-jam." Cibir Kalea. Tapi ia tidak benar-benar merasa kesal. Tidak apa kalau Gavin memang belum mau terbuka padanya tentang masalah-masalah yang sedang lelaki itu hadapi. Pelan-pelan saja.


"Maaf."


Kalea terkekeh mendengar permintaan maaf yang datang secara tiba-tiba itu. Padahal ia sama sekali tidak mempermasalahkan soal Gavin yang telat meneleponnya. Toh sekarang lelaki itu sudah meneleponnya dan sudah cukup baginya untuk tahu bahwa Gavin telah sampai di rumah dengan selamat.


"Kenapa ketawa?"

__ADS_1


"Kamu lucu."


"Lucu?"


"Iya, lucu." Entah kenapa Kalea menganggukkan kepala, padahal ia tahu Gavin tidak akan bisa melihatnya. "Padahal nggak perlu minta maaf karena kamu nggak berbuat salah."


"Tapi saya udah bikin kamu nunggu."


"Nunggu sejam dua jam mah nggak masalah buat aku, Gavin. Poin pentingnya adalah bahwa kamu ingat untuk mengabari aku kalau kamu udah sampai di rumah dengan selamat. Itu aja udah cukup buat aku."


Lagi-lagi hening. Kalea sampai harus memeriksa ponselnya untuk melihat apakah telepon mereka masih tersambung.


"Gavin?" panggilnya saat Gavin tak kunjung bersuara.


Tapi lelaki itu masih tidak menyahut juga, mengundang kerutan samar di keningnya. "Halo, Gavin? You okay? Kenapa diem aja?"


"Saya bingung." Akhirnya Gavin bersuara, tapi hal itu justru membuat kerutan di dahi Kalea semakin kentara.


"Bingung kenapa?"


"Bingung aja, kenapa orang kayak saya bisa seberuntung ini bertemu dengan kamu."


Kalea tidak tahu akan dibawa kemana arah pembicaraan mereka ini. Tapi mendengar suara Gavin yang lirih dan sarat akan kesedihan membuat Kalea menggigit bibir bawahnya demi meredam perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba timbul di benaknya.


"Kalea,"


"Apa?"


"Terimakasih sudah kembali ke kehidupan saya."


Kalea tidak mengerti dengan apa yang barusan Gavin katakan. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tapi telepon tiba-tiba terputus dan saat ia periksa, ponselnya ternyata mati karena kehabisan daya.


"Kembali ke kehidupan Gavin? Maksudnya gimana?" Kalea bermonolog.


Terimakasih kepada Gavin, karena berkat pernyataannya yang membingungkan itu, Kalea harus menghabiskan malam dengan tanda tanya besar di kepala. Yang bahkan masih ada ketika ia membuka mata keesokan harinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2