Serana

Serana
Protect You


__ADS_3

Ketika matahari perlahan-lahan naik, menelan warna putih biru yang berpadu cantik dan merubahnya menjadi semburat oranye yang eksotik, Kalea berjalan gontai menuju halaman depan.


Di sana, di samping badan mobil, Gavin sudah menunggunya sejak bermenit-menit yang lalu. Laki-laki itu mengatakan bahwa mereka tidak bisa menginap lagi malam ini karena ia harus bekerja esok hari.


Maka dengan berat hati, Kalea menyeret langkahnya setelah memeluk Mama selama yang ia bisa.


Di belakangnya, Karel ikut berjalan pelan. Digendongan laki-laki itu ada seekor anak kucing yang tadi siang, badannya kini sudah bersih hingga nampaklah bulu-bulu halus perpaduan warna cokelat dan hitam yang cantik.


"Kabarin gue kalau udah sampai di rumah." Kata Karel saat kakinya berhenti melangkah di depan mobil Gavin.


Kalea membalikkan badan, mengangguk lemah dengan masih mempertahankan raut cemberut yang kentara. Karel terkekeh melihatnya. Usia Kalea boleh saja sudah 25, tapi di mata Karel, perempuan itu akan tetap menjadi adik kecil yang selalu ingin dia jaga.


"Nggak usah sedih, nanti tiap weekend bisa ke sini buat jengukin Mumu." Bujuk Karel agar Kalea berhenti cemberut.


"Mumu?" Gavin menyahut. Badannya yang semula bersandar di badan mobil seketika tegak. Satu tangannya masuk ke saku celana dan matanya mulai menelisik Karel dan anak kucing dalam gendongannya secara bergantian.


"Iya, Mumu." Karel menjawab santai. "Bocah kecil ini namanya Mumu." Lanjutnya sembari menunjukkan anak kucing dalam gendongannya ke arah Gavin.


Tanpa ada yang menduga, Kalea tiba-tiba saja berdiri di depan Gavin, merentangkan tangan lebar-lebar dan memasang sikap awas seolah ia ingin melindungi Gavin dari serangan monster jahat.


"Jangan biarin Mumu dekat-dekat sama Gavin, Karel!" gerutunya. Tampak lucu ketika pipinya menggembung dan bibirnya sedikit maju.


"Ini cuma buntelan bulu, Kaleo, bukan monster pemakan daging. Biasa aja reaksinya, nggak usah heboh." Karel terkikik geli. Kembali dipeluknya Mumu erat-erat. Tangannya mulai mengelus bulu-bulu halus Mumu.


"Gavin kan alergi sama bulu kucing, Karel! Gimana kalau bulunya terbang terus kena ke badan Gavin?"


Karel memutar bola mata malas. Sedari dulu, Kalea memang selalu seheboh ini. Apapun masalahnya, sekecil apa pun itu, bagi Kalea itu adalah masalah besar.

__ADS_1


"Iye, iye. Bawel bener jadi manusia, heran." Setelah mengatakan itu, Karel beralih menatap Gavin. Karel mengulum senyum saat menemukan Gavin tengah menatap takjub ke arah Kalea.


"Lo lihat tuh gimana usahanya Kalea buat ngelindungin lo dari hal-hal yang berbahaya." Karel berkata dengan mata yang menatap lekat ke arah Gavin. "Jadi kalau suatu hari gue tahu lo nyakitin Kalea..." Karel memberi jeda, hanya untuk mengangkat satu tangannya hingga sebatas leher kemudian menggerakkan jempolnya seperti seseorang yang sedang menyembelih ayam. "Mati lo sama gue."


Alih-alih takut akan ancaman Karel, Gavin malah terkekeh. Ditariknya tubuh Kalea ke dalam rangkulan. Kemudian, dengan percaya dirinya Gavin berkata. "Kalea aman sama saya." Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Gavin jelas tahu kalau sumber sakit hatinya Kalea nanti adalah dirinya.


"Oke, gue pegang omongan lo." Kata Karel pada akhirnya. Untuk saat ini, biar dia coba percaya pada Gavin. Tapi kalau suatu hari nanti dia menemukan Gavin menyakiti Kalea, Karel sudah benar-benar membuat sumpah untuk menghabisi Gavin dengan tangannya sendiri.


"Yaudah, sana pulang." Karel menggerakkan tangannya menunjukkan gestur seolah mengusir.


Kalea berdecak sebal. Tapi tak urung membalikkan badan dan beringsut membuka pintu mobil lalu segera memasukkan tubuhnya ke sana.


"Hati-hati nyetirnya, nggak usah ngebut." Pesan Karel kepada Gavin sebelum laki-laki itu menyusul Kalea masuk ke dalam mobil.


"Saya dan Kalea pulang dulu." Pamit Gavin setelah duduk di balik kemudi.


Kemudian, mobil dilajukan. Karel melambaikan tangan kuat-kuat, dibalas oleh Kalea dengan malas-malasan. Bukan karena Kalea tidak mau membalas lambaian tangan Karel dengan semestinya, dia hanya tidak suka berpisah dengan bocah tengik itu. Karena biar bagaimanapun, ada kebahagiaan tersendiri ketika ia bisa bercengkrama dengan Karel.


Dalam hitungan menit saja, mobil yang mereka tumpangi sudah membaur dengan kendaran lain di jalan raya. Karena masuknya mereka ke jalan raya bertepatan dengan jam pulang kerja, maka mereka tidak bisa menyelamatkan diri dari kemacetan.


Mobil merayap pelan-pelan. Lampu kendaraan di depan mereka yang menyala terang membuat Kalea bebrapa kali berdecak sebal. Belum lagi suara klakson yang mulai bersahut-sahutan, Kalea semakin gencar mengomel.


Gavin cuma tertawa melihat reaksi Kalea. Sebelum ini, jauh sebelum hari ini, Gavin selalu khawatir bahwa Kalea akan menunjukkan reaksi yang buruk setiap kali mendengar suara klakson yang berisik seperti sekarang ini. Tetapi sepertinya perempuan itu telah berhasil mengatasi traumanya sedikit demi sedikit.


"Kal," panggil Gavin saat mobil berhenti di lampu merah. Ia menoleh, hanya untuk menemukan Kalea sedang menatapnya dengan mata boba yang sedikit terlihat lelah.


"Apa?" tanya Kalea saat Gavin tak kunjung membuka suara. Agak sewot karena dia masih kesal dengan pengendara di belakangnya yang terus saja membunyikan klakson padahal sudah jelas kalau lampu lalu lintas sedang berwarna merah.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Gavin disertai senyum manis madu.


"Untuk?"


"Udah ngelindungin saya dari Mumu." Lagi-lagi Gavin menyunggingkan senyum yang teramat manis. Membuat degup jantung Kalea tiba-tiba saja menggila.


Kalea berdeham beberapa kali untuk melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa serak. Buru-buru ia melarikan pandangan ke luar jendela, menatapi apa saja yang terlihat oleh matanya.


Di seberang jalan sana, di trotoar yang sebagian besar bagiannya telah beralih fungsi menjadi tempat jualan pedagang kaki lima, Kalea melihat seorang anak perempuan sekitar usia belasan tahun sedang sibuk menghitung uang receh yang barusan dia keluarkan dari dalam bungkus permen bekas. Di samping tubuh anak itu ada sebuah gitar kecil, yang Kalea yakin merupakan senjata utama bagi anak itu untuk mengais rejeki.


Kalea menghela napas berat. Pernah suatu kali, ia bertanya-tanya mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan derajat ekonomi yang berbeda. Mengapa ada si kaya dan si miskin padahal Tuhan bisa saja membagi rata semuanya. Dan sampai hari ini, Kalea masih tidak tahu jawabannya.


Sosok anak perempuan di seberang jalan masih berada di tempatnya, tapi mobil yang Kalea tumpangi sudah kembali melaju sehingga ia tidak bisa lagi memandangi betapa gigih anak itu berusaha mempertahankan hidupnya sendiri di tengah kehidupan yang keras ini.


"Kal,"


Kalea merasakan tangannya disentuh oleh Gavin. Ia menoleh, menemukan Gavin sedang mencuri pandang padanya di tengah kefokusan laki-laki itu menyetir.


"Saya..." Gavin sejenak memberi jeda, tampak ragu pada apa yang akan diucapkan. Namun Kalea masih dengan sabar menunggu sampai Gavin mendapatkan keyakinan untuk mengatakan apa pun yang ada di kepala.


"Saya... sayang sama kamu, Kal."


Kalau ada hari di mana Kalea merasa isi kepalanya berubah menjadi hamparan luas taman bunga, maka saat ini lah hari itu tiba.


Ketika langit di atas mereka sudah sepenuhnya menjadi gelap, Kalea merasakan hatinya menghangat bersamaan dengan genggaman tangan Gavin yang kian erat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2