
Karel berkali-kali menolehkan kepala pada Gavin dan Kalea secara bergantian. Entah sudah berapa menit mereka duduk bertiga di ruang tamu, ditemani bakwan jagung bikinan Mama dan tiga gelas teh panas yang masih mengepulkan asap.
Di luar sana, langit sudah mulai berubah warna. Semburat oranye yang semula tampak cantik menghiasi angkasa kini mulai memudar, tergantikan dengan awan pekat yang datang bersamaan dengan desau angin beraroma dingin yang menusuk. Tak lama, hujan mulai turun, meninggalkan jejak air yang tampias ke jendela kaca besar dekat pintu masuk.
Karel melayangkan pandangan ke luar, memerhatikan bagaimana pohon-pohon di pelataran rumah Kalea bergoyang terkena terpaan angin. Kemudian ketika hela napasnya terembus dengan cara yang dramatis, ia mendengar Kalea berbicara dengan suara yang teramat pelan. Hampir tak terdengar di tengah suara gemericik hujan di luar sana.
"Lo ngomong apaan?" tanya Karel lagi pada Kalea yang duduk di sebelahnya. Perempuan itu menunduk, menatapi ponsel yang padahal sedang tidak ada aktifitas apa-apa di sana. Kalea cuma menggeser layar tanpa berniat membuka satu pun dari menu yang terpampang di depan matanya.
"Suruh dia pulang." Ulang Kalea. Kali ini dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti berbisik.
"Di luar ujan deres." Sahut Karel dengan suara yang lantang. Sengaja supaya Gavin yang duduk di seberang mereka bisa mendengar dengan jelas.
"Kan dia naik mobil, nggak akan kebasahan."
"Mobilnya kan parkir di halaman, bukan di garasi. Emang lo pikir kalau ke halaman nggak akan bikin dia basah?" ketika mengatakan itu, Karel melirik ke arah Gavin. Ia menemukan tatapan lelaki itu terpaku pada Kalea, sama sekali tidak beralih sejak bermenit-menit yang lalu.
"Kan ada payung." Kata Kalea lagi masih sambil menundukkan kepala.
"Yaudah, ambilin payungnya."
"Kamu aja."
"Ogah!" pekik Karel. Rupanya hal itu cukup ampuh untuk membuat Kalea mengangkat kepala. Perempuan itu melirik panik ke arah Gavin kemudian menatapnya tajam.
__ADS_1
"Nggak usah teriak-teriak, berisik."
"Ya lagian ada-ada aja!" kesal Karel. Direbutnya ponsel dari tangan Kalea dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana, membuat si empunya tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan ponselnya direnggut paksa. "Gue nggak tahu kalian lagi kenapa, cuma nggak gini caranya." Karel lanjut mengoceh. Kembali ia layangkan tatapan ke arah Gavin dan Kalea secara bergantian.
"Metode pasif agresif lo sama sekali nggak bisa diterapkan ke semua orang, Kale." Katanya kepada Kalea yang kini sibuk melarikan pandangan ke sembarang arah. Kemana pun, asal bukan ke arah Gavin.
"Gue sama Mama mungkin udah terbiasa main tebak-tebakan sama lo, mikir sendiri lo lagi kenapa dan nyari solusi gimana caranya biar lo ngerasa lebih baik." Karel melipat tangan di depan dada, menatap Kalea serius yang dibalas perempuan itu dengan tatapan takut-takut. "Tapi orang lain belum tentu bisa, Kale. Mereka bukan dukun yang bisa baca apa maunya lo cuma dari sikap yang lo tunjukin. Well, di dunia ini sebetulnya nggak ada manusia yang bisa baca pikiran. Jadi lo nggak bisa berharap kalau orang lain bisa langsung ngerti apa mau lo kalau lo nggak bilang."
"Aku udah kasih tahu dia, kok!" sergah Kalea. Merasa tidak terima karena Karel memarahinya, terlebih itu dilakukan di depan Gavin. Yang mana hal itu membuatnya malu dan kesal di saat yang bersamaan.
"Aku cuma mau minta buat dikabarin kalau dia sampai rumah, tapi sama dia nggak dilakuin."
"Gimana mau ngabarin lo kalau hapenya aja ketinggalan di sini?" tanya Karel yang sontak membuat Kalea terdiam. Tidak mampu lagi melayangkan sanggahan.
Kalea membisu. Kembali menundukkan kepala dalam-dalam, enggan beradu tatap dengan Karel yang sedang dalam mode seirus dan galak.
"Udah hobi overthinking, demen ngambek, otaknya juga sering nggak logis pula." Celetuk Karel. Terdengar menyakitkan bagi Kalea, tapi karena Karel yang mengatakannya Kalea sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati. Malahan diam-diam ia mengamini apa yang Karel katakan.
"Lo udah gede, bukan bayi lagi yang bisa merengek sama semua orang untuk minta dimaklumi."
Kepala Kalea semakin tertunduk. Dadanya terasa sesak saat tidak ada sama sekali keramahan dari nada suara Karel. Lelaki itu betul-betul terdengar marah.
"Cukup sama gue, Mama dan Papa lo boleh tetap bersikap seperti anak kecil. Sama orang lain jangan, karena belum tentu mereka bisa maklum sama sikap lo yang kekanakan itu." Setelah mengatakannya, Karel bangkit. Ia melirik ke arah Gavin, memberi kode pada lelaki itu untuk bergerak mendekat ke arah Kalea yang masih tertunduk dengan bahu yang mulai bergetar. Karel yakin Kalea sedang menahan tangis sekarang, dan ia ingin Gavin menggantikan tugasnya untuk merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan. Sebab Karel ingin Gavin tahu apa yang harus dilakukan ketika gadisnya sedang dalam keadaan buruk seperti sekarang.
__ADS_1
Gavin menerima sinyal yang diberikan oleh Karel. Perlahan ia berjalan mendekati Kalea, mendudukkan dirinya di samping gadis itu kemudian mengusap pelan bahunya yang bergetar.
"Obrolin semuanya sekarang. Gue mau ini terakhir kalinya gue lihat lo bersikap kekanakan kayak begini sama orang lain. Satu lagi, hape lo gue sita buat sementara waktu, sampe lo bener-bener udah baikan sama Gavin." Kemudian Karel berlalu dari sana. Memberikan ruang dan waktu bagi dua anak manusia itu untuk menyelesaikan masalah mereka walau Karel tahu itu sebenarnya bukan masalah besar. Ini hanya soal Kalea yang sedang dalam masa pra-menstruasi sehingga membuat suasana hatinya gampang berubah-ubah dan cenderung lebih mudah marah. Tapi kalau dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin kalau masalah sepele ini akan menjadi sesuatu yang lebih besar dan merepotkan nantinya.
Lama setelah Karel menghilang dari sana, Kalea masih tak kunjung buka suara. Kepalanya masih menunduk dan mulai terdengar suara isakan yang lolos dari belah bibirnya. Merasa tidak bisa berbuat apa-apa selain menawarkan sebuah pelukan dan tepukan halus di punggung perempuan itu, Gavin pun bergerak semakin dekat. Sebelum menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan, ia bertanya lebih dulu kepala Kalea apakah ia diijinkan untuk memeluknya. Dan ketika perempuan itu tidak menjawab, Gavin menangkapnya sebagai sebuah sinyal bahwa ia diijinkan.
Maka dengan gerakan pelan, Gavin meraih tubuh Kalea dan langsung mendekapnya erat. Ditepuk-tepuknya punggung Kalea berkali-kali untuk membantu perempuan itu melepaskan lebih banyak air mata yang tertahan. Isakan yang keluar dari bibir Kalea semakin kencang, seiring dengan basah yang terasa di kaus bagian depan yang Gavin kenakan.
"Keluarin semua, Kalea. Keluarin semua emosi negatif yang kamu timbun, saya siap nemenin kamu sampai tangis kamu tuntas." Ucap Gavin yang kini menyandarkan dagunya di kepala Kalea. Sesuai apa yang ia katakan, tangis Kalea kian pecah. Ia biarkan air mata Kalea merembes membasahi kausnya sampai benar-benar kuyup. Tak dihiraukannya lagi kaus yang kini sudah lecek karena diremas oleh Kalea setiap kali sesak merambati dada perempuan itu kian hebatnya.
Bermenit-menit mereka bertahan di posisi itu. Gavin masih setia menepuk-nepuk punggung Kalea sampai akhirnya isakan perempuan itu berangsur reda. Tapi walau tangis yang keluar sudah tidak sehisteris tadi, Kalea masih enggan menjauhkan diri dari pelukan Gavin. Malahan Gavin merasakan tangan Kalea meremas kausnya makin erat dan perempuan itu semakin menyembunyikan wajah di dada bidangnya. Sejujurnya Gavin tidak masalah dengan hal itu. Ia tidak keberatan. Bahkan kalau harus bertahan di posisi ini semalam pun, ia Sam sekali tidak keberatan.
"Sorry." Kata Kalea dengan suara yang teredam.
"It's ok. My bad karena nggak bisa penuhi keinginan kamu, padahal cuma hal sederhana."
"Aku cuma khawatir. Setiap kamu belum ngabarin, aku selalu was-was takut terjadi apa-apa sama kamu selama di jalan. I just want to know that you got home safely, that's it."
"I'm so sorry. I promise I'll let you know that I arrived home safely as soon as I can. Ini terkahir kalinya saya bikin kamu nungguin kabar dari saya. Nggak akan saya ulangi lagi." Kata Gavin sungguh-sungguh.
"Promise me?" Kalea menarik dirinya dari pelukan Gavin, sedikit mendongak agar tatapan mereka bisa bertemu.
Gavin mengangguk yakin. "I promise." Kemudian entah darimana datangnya keberanian itu, Gavin mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Kalea. Sebuah kecupan singkat yang menjadi awal dari kerumitan baru bagi hatinya. "I promise, Kal. I promise."
__ADS_1