
Mungkin sudah pukul enam pagi ketika Kalea akhirnya bisa memejamkan matanya setelah menyeret kakinya untuk kembali ke kamar. Dia ingat, ada nyawa lain yang sedang dia bawa sekarang, jadi dia tidak boleh bertindak jahat terhadap diri sendiri karena itu juga akan berdampak kepada si jabang bayi.
Setelah memejamkan matanya selama dua jam, Kalea terbangun, karena ketukan yang dilabuhkan ke pintu kamarnya berkali-kali. Tidak. Sebenarnya itu sudah tidak bisa dikatakan sebagai ketukan lagi, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai gedoran karena suara yang ditimbulkan begitu menggelegar.
Dengan kepala yang berat dan tubuh sempoyongan, Kalea turun dari kasur, berjalan gontai ke arah pintu untuk mencari tahu siapa yang telah menginterupsi tidurnya.
Kemudian, pintu yang terbuka secara perlahan itu menampilkan sosok Karel dengan raut cemas yang sejadi-jadinya. Lelaki itu melongokkan kepala pada awalnya, seolah sedang mencari sesuatu di dalam kamar Kalea. Dan ketika tidak ketemu, dia menerobos masuk. Hanya untuk dibuat semakin cemas saat yang dia cari ternyata memang tidak ada di sana.
"Mana Gavin?" tanyanya, menatap Kalea dengan raut khawatir yang kentara.
"Kenapa kamu nyariin Gavin pagi-pagi?" Kalea malah balik bertanya, membuat tingkat kecemasan Karel semakin naik.
"Jawab aja, Gavin ada di mana sekarang? Dia ada di rumah, kan? Sekarang hari Sabtu, nggak mungkin kalau di ke kantor." Cerocos Karel, dengan napas yang mulai tidak teratur seiring dengan detak jantungnya yang semakin meningkat.
"Gavin nggak ada," ucap Kalea.
"Ke mana?"
"Nggak tahu, dia pergi dari semalam dan belum pulang." Jujur Kalea pada akhirnya. Karena memang kenyataannya tidak ada Gavin di sana, dan dia tidak tahu ke mana lelaki itu pergi setelah perdebatan mereka semalam.
Mungkin Gavin pergi menemui Irina? Entahlah, Kalea tidak ingin menebak-nebak bahkan ketika dia tahu itu adalah kemungkinan yang paling masuk akal.
"Berarti Gavin memang nggak ada di rumah?" Karel masih berusaha memastikan.
"Nggak ada, Rel. Lagian kenapa sih kamu nyariin dia?"
Bukannya menjawab, Karel malah mengusap wajahnya kasar lalu menyugar rambutnya dengan gerak frustrasi yang kentara. Hal itu tentu saja menarik perhatian Kalea, membuatnya penasaran apa yang sebenarnya mendasari kedatangan Karel pagi-pagi ke sini, terlebih untuk mencari Gavin.
"Rel? Ada apa?" desaknya, ketika Karel tidak kunjung bicara setelah berpuluh-puluh detik setelahnya.
Karel mengangkat pandangan, membuat mata mereka bertemu di satu garis lurus dan Kalea bisa melihat kekhawatiran yang semakin terpancar jelas dari manik lelaki itu.
__ADS_1
"Tadi gue dapat telepon, katanya dari kepolisian." Karel memulai.
"Kepolisian? Kamu bikin ulah apa?"
"Bukan gue, tapi Gavin ... Gavin," ucapan Karel tersendat. Tenggorokannya terasa tercekat, susah sekali diajak kompromi untuk mengabarkan berita yang baru dia terima beberapa belas menit yang lalu.
"Gavin kenapa? Dia bikin malasah apa?" Kalea makin tidak sabaran. Apalagi saat dia justru melihat Karel menggigiti bibir bawahnya sendiri, bukannya menjawab pertanyaannya dengan cepat.
"Rel!" satu guncangan diberikan ke lengan Karel, berharap lelaki itu akan segera buka suara.
"Gavin kecelakaan, Kal. Kondisinya kritis. Polisi telepon gue karena memang gue adalah orang terakhir yang ditelepon sama Gavin semalam. Gue ... semalam gue nggak angkat telepon Gavin dan sekarang ... sekarang Gavin ...." Karel sudah tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya.
Sejak menerima kabar bahwa Gavin mengalami kecelakaan, dia terus menyalahkan diri sendiri karena melewatkan telepon Gavin semalam. Dia berpikir, mungkin saja Gavin meneleponnya di saat lelaki itu sedang benar-benar membutuhkan pertolongan.
"Kamu nggak usah bercanda, ini masih pagi." Suara Kalea nyaris tak terdengar. Dia masih berusaha mencerna informasi yang Karel berikan, sekaligus berharap bahwa semua yang dia dengar hanyalah bualan yang lelaki itu katakan untuk mengerjai dirinya.
Tapi, ekspresi Karel terlalu serius untuk ukuran seseorang yang sedang bercanda.
Namun sayangnya, Karel malah menggelengkan kepala. Mata lelaki itu bahkan mulai berkaca-kaca, dan suaranya terdengar bergetar ketika dia berkata, "Maaf, Kal ... " begitu lirih dan pilu.
Kepala Kalea tiba-tiba saja terasa berat, pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya limbung hingga jatuh tersungkur ke atas lantai.
Kabut bening mulai memenuhi pelupuk matanya. Dadanya kembali terasa sesak, bahkan sesak yang kali ini dia rasakan seperti dilipatgandakan daripada yang sebelumnya.
Kalea tidak bisa berkata-kata, cuma bisa menangis lagi, menguras stok air mata yang ternyata masih tersisa banyak.
Sementara Karel, mulai ikutan menangis sambil memeluk tubuh Kalea yang terduduk lemas di atas lantai.
...****************...
Setibanya di rumah sakit, sudah ada Bunda dan Papa Jonathan yang menunggu di depan ruang ICU. Keduanya duduk bersebelahan di kursi, di mana Bunda terlihat menundukkan kepala dalam-dalam sedangkan Papa Jonathan menepuk-nepuk pelan punggung perempuan itu.
__ADS_1
Kalea menyeret langkahnya lebih cepat ke arah mereka, meninggalkan Mama dan Karel yang sedari tadi memegangi lengannya agar dia tidak jatuh.
"Bun," panggilnya lirih.
Bunda mengangkat kepala, dan Kalea seketika itu juga meringis mendapati jejak air mata di wajah perempuan itu.
"Gavin ..."
"Nggak apa-apa," potong Bunda. Di saat hatinya remuk redam, perempuan itu masih bisa menyunggingkan senyum ketika dia bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Kalea.
"Gavin nggak akan kenapa-kenapa, Sayang." Kata Bunda lagi, sembari meraih tangan Kalea dan menggenggamnya erat.
"Gavin anak yang kuat, jadi dia pasti bisa melewati masa kritisnya dan kembali kepada kita."
Air mata yang sedari tadi Kalea tahan di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya tumpah juga saat menyaksikan betapa Bunda berusaha meyakinkan dirinya sendiri, di saat kenyataannya perempuan itu juga terlihat begitu ketakutan.
Kalea menghambur ke dalam pelukan Bunda, lalu menangis sejadi-jadinya.
Di tengah-tengah tangisannya itu, dia mulai menyalahkan diri sendiri. Mengutuk perbuatannya yang telah memaki-maki Gavin tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu sehingga lelaki itu memutuskan untuk pergi.
Kalau saja semalam dia tidak mengedepankan emosi untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua, Gavin mungkin tidak akan mengalami kecelakaan. Lelaki itu pasti masih ada di sampingnya sekarang, sedang membujuknya untuk mendiskusikan jalan tengah paling baik untuk masalah rumah tangga mereka.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar kembali, dan Kalea cuma bisa pasrah menghadapi ketakutan yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi kepalanya.
Bagaimana kalau Gavin tidak berhasil melewati masa kritisnya? Bagaimana jika Tuhan tidak mau berbaik hati untuk memberikan lelaki itu kesempatan kedua, agar mereka bisa menyelesaikan masalah yang saat ini masih menimpa rumah tangga mereka? Bagaimana kalau Gavin harus pergi tanpa sepatah pun kata pamit. Bagaimana jika ... dia tidak akan pernah bisa memperkenalkan Gavin kepada anak mereka?
Seiring dengan lebih banyak kemungkinan buruk yang muncul di kepalanya, tangis Kalea semakin pecah di dalam pelukan Bunda.
Sementara Karel, Mama dan Papa Jonathan cuma bisa terdiam dengan hati yang sama-sama perih melihat betapa hancurnya Kalea sekarang.
Bersambung
__ADS_1