Serana

Serana
Cerita Tentang Rumah yang Berbeda


__ADS_3

"Vin?" Irina memanggil pelan. Gavin yang sedang terbaring di pelukannya cuma berdeham sebagai jawaban. Sejak beberapa menit yang lalu, mereka menghabiskan waktu untuk berbaring di atas kasur dan saling berpelukan. Melepaskan rindu yang tertabung selama berhari-hari.


"Udah malam. Kamu nggak mau pulang?"


Gavin mengangkat kepala sehingga tatapan mereka bertemu. Kemudian tatapan Gavin beralih pada jam weker yang ada di atas nakas samping kasur. Pukul setengah dua belas malam. Tentu saja Gavin harus pulang karena Kalea pasti sudah menunggunya. Tapi, Gavin masih ingin ada di sini. Dia masih merindukan Irina.


"Aku masih kangen kamu, Rin." Katanya sembari menenggelamkan wajahnya di dada Irina. Tangannya memeluk pinggang perempuan itu kian erat. "Sebentar lagi, ya." Lanjutnya dengan suara teredam.


"Aku sih nggak keberatan kamu di sini. Malahan aku senang kalau kamu bisa menginap." Irina mengulas senyum. Hanya membayangkan Gavin menginap saja sudah bisa membuat jantungnya berdebar-debar. Tapi tentu saja debaran itu tidak boleh dipelihara lebih lama karena Irina sadar Gavin harus pulang ke rumahnya.


"Tapi kamu harus pulang sekarang. Jangan sampai bikin Kalea curiga."


Setelah mendengar nama Kalea kembali mengudara, Gavin tidak cuma mengangkat kepalanya tapi langsung menarik diri dari pelukan Irina. Ia terduduk di atas kasur. Menatap sendu pada manik kelabu Irina sebelum mengembuskan napas keras-keras.


"Aku minta kamu untuk nggak ninggalin aku, tapi selalu aku yang pergi ninggalin kamu." Ucap Gavin dengan suara lesu. Ia tidak berbohong saat mengatakan itu. Ia menyesal karena harus meninggalkan perempuan yang dia sayang untuk kembali pada perempuan lain yang juga dia sayang.


Gavin merasa kepalanya mulai berdenyut memikirkan betapa kacau hidupnya berjalan sekarang. Ketidakmampuannya untuk memilih satu di antara dua telah mendatangkan begitu banyak persoalan, tapi dia masih selalu menolak untuk sadar.


"I can wait." Ucap Irina dengan senyum yang berusaha disunggingkan senatural mungkin. "Nggak masalah mau sejauh apa pun kamu pergi, aku akan menunggu di sini karena aku tahu kamu akan selalu kembali." Terlalu percaya diri? Anggap saja begitu. Irina tidak mau ambil pusing.


"Maaf, dan terimakasih." Gavin mengecup bibir Irina dan membelai lembut helaian rambutnya. "I promise I'll always going back to you."


Irina menganggukkan kepala. Senyum tersungging lebih lebar disusul kecupan-kecupan hangat yang ia labuhkan ke bibir tebal Gavin. Lama kelamaan, kecupan itu berubah menjadi gerakan-gerakan lamat yang membuat dua orang itu saling menyesap rasa manis dari bibir masing-masing.


Gavin menarik tengkuk Irina demi memperdalam pagutan mereka. Mata keduanya telah terpejam dan mereka semakin tenggelam dalam suasana.


Sampai akhirnya, Irina menarik diri lebih dulu demi meraup oksigen yang sudah mulai menipis. Dengan tatapan sayu yang terpaku pada manik kelam Gavin, Irina meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Dadanya naik turun, ia kelelahan, tapi rasa manis yang tertinggal dari bibir Gavin membuat senyumnya merekah.


"Mine." Irina mengecup bibir Gavin sekali lagi sebelum menarik diri dan membiarkan laki-laki itu beranjak dari tempatnya.


"Aku ke sini lagi besok." Kata Gavin sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia telah berdiri di sisi ranjang, menatap Irina yang duduk di atas kasur dengan tatapan penuh damba. Sejujurnya, perasannya kepada Irina masih sama besarnya seperti dulu. Debar-debar itu masih ada dan Gavin percaya diri dia tidak akan kehilangan perasaan ini dengan mudah.


"Iya." Irina menjawab pelan.

__ADS_1


Kemudian, Gavin mendaratkan kecupan di kening Irina. "See you, sayang." Ucapnya.


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Gavin melenggang keluar dari kamar Irina dan menolak ketika perempuan itu berniat mengantarnya ke depan. Biar dia jalan sendiri, karena kalau Irina membuntutinya sampai pintu depan, dia mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menyesap bibir itu sekali lagi.


Senyum Irina masih tidak luntur bahkan bermenit-menit setelah Gavin meninggalkannya. Kemudian, dengan suara yang teramat pelan, ia berkata. "Maaf, Na. Ternyata ini belum waktunya untuk aku melepaskan Gavin."


...****************...


Saat sampai di rumah, Gavin menemukan semua lampu telah dimatikan. Hal itu membuatnya berpikir bahwa Kalea sudah tidur. Mengingat bahwa perempuan itu juga tidak suka begadang.


Tadi saat ia dalam perjalanan pulang dari apartemen Irina, Gavin sempat memeriksa ponselnya dan mendapati ada satu panggilan tak terjawab dari Kalea. Benar-benar hanya satu. Seolah perempuan itu tidak mau merecokinya dengan panggilan-panggilan lain dan juga pesan-pesan teks hanya untuk menanyakan di mana keberadaannya.


Kalau ini orang lain, Gavin akan menganggap bahwa dirinya tidak dipedulikan. Tetapi karena ini Kalea, Gavin tahu bahwa perempuan itu hanya tidak ingin terlihat menyebalkan.


Gavin terkekeh saat membayangkan bagaimana raut wajah Kalea ketika sedang merasa bimbang antara harus meneleponnya lagi atau tidak. Kalau kebiasannya masih sama seperti dulu, pasti perempuan itu tadi sempat berjalan mondar-mandir sembari menggigiti kuku tangannya sambil memikirkan langkah apa yang harus diambil selanjutnya.


"Gemas." Gumam Gavin tanpa sadar. Entah sejak kapan, dia mulai suka melabeli Kalea dengan kata itu. Karena pada kenyataannya, Kalea memang menggemaskan.


Lalu, langkah kaki Gavin yang semula terayun santai seketika terhenti saat matanya menangkap sosok Kalea yang terbaring di atas sofa ruang tengah.


"Kal," panggilnya pelan sembari mengusap pipi Kalea yang terasa dingin.


Kalea menggeliat pelan merasakan kehangatan yang berasal dari telapak tangan Gavin. Ia membuka matanya perlahan kemudian tersenyum tipis saat mendapati wajah Gavin ada di depannya.


"Kamu udah pulang?" tanyanya dengan suara serak. Perlahan-lahan Kalea bangun dari tidurnya dan mulai merapikan helaian rambutnya yang berantakan.


"Kamu nungguin saya di sini?" tanya Gavin sembari membantu Kalea merapikan rambutnya.


Kalea mengangguk dengan polosnya, membuat Gavin menghela napas berat karena perasaan bersalah yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya.


"Kenapa nggak tunggu di kamar aja?"


"Tadinya aku pikir kamu bakal pulang cepet." Ucap Kalea apa adanya. Dia memang tidak menyangka bahwa Gavin akan pulang selarut ini.

__ADS_1


"Maaf, ya, udah bikin kamu nunggu. Pekerjaan saya numpuk, jadi saya terpaksa lembur."


"Nggak apa-apa, Gavin. Nggak perlu minta maaf." Kalea menurunkan kakinya dari sofa. Bergerak mencondongkan tubuhnya ke arah Gavin. Kemudian, tangannya bergerak mengusap kepala Gavin, membuat si empunya terpaksa menahan napas karena tidak siap pada gerakan tiba-tiba itu.


"Pasti capek, ya?" tanya Kalea dengan seulas senyum yang menenangkan. "Udah makan? Mau aku masakin sesuatu?" tawarnya. Namun Gavin langsung menjawab dengan gelengan kepala.


"Saya nggak lapar." Gavin meraih tangan Kalea yang masih mengusap kepalanya. "Saya mau tidur, Kal." Ucapnya sembari menggenggam erat tangan Kalea.


"Ya udah, ayo kita tidur." Kalea hendak berdiri, namun Gavin menahannya sehingga membuatnya kebingungan. "Katanya mau tidur?"


"Tidurnya boleh sambil peluk? Saya butuh charge energi."


Sebetulnya, Gavin ragu Kalea akan mengijinkannya. Mengingat perempuan itu masih memberlakukan aturan jaga jarak dua meter.


Tetapi, keraguan itu seketika hilang saat Kalea menganggukkan kepala. "Boleh."


"Beneran boleh?" tanya Gavin tak percaya.


"Iya, Gavin. Boleh."


Gavin kegirangan. Saking girangnya, ia sampai bergerak tiba-tiba mengangkat tubuh Kalea ke dalam gendongan hingga membuat istrinya itu memekik kaget.


"Gavin!"


Gavin tidak menyahut. Dia juga tidak keberatan saat Kalea melayangkan pukulan-pukulan ke dadanya.


"Aku mau turun!"


Tapi Gavin tidak peduli. Ia terus melangkah menaiki tangga sampai akhirnya mereka tiba di kamar.


Gavin membaringkan tubuh Kalea pelan-pelan. Kemudian setelah melepaskan sepatu, Gavin melompat naik dan langsung masuk ke dalam pelukan Kalea. Ia sembunyikan wajahnya di lekuk leher Kalea sehingga membuat sang empunya bergidik geli.


"Good night, Kalea." Bisik Gavin.

__ADS_1


Kalea cuma tersenyum, kemudian mulai menepuk-nepuk punggung Gavin persis seperti seorang ibu yang sedang berusaha meninabobokan bayinya.


Bersambung


__ADS_2