
Gavin masih enggan beranjak dari tempatnya meski Irina sama sekali tidak memedulikan keberadaannya sejak belasan menit yang lalu. Ia berdiri di dinding pembatas dapur dan ruang tamu, mengamati bagaimana perempuan itu duduk di kursi dapur, meneguk red wine langsung dari botolnya tanpa peduli pada noda kemerahan yang membekas di kerah kemejanya ketika ia tak sengaja menjatuhkan beberapa tetes red wine dari belah bibirnya yang penuh.
Semula, Gavin datang hanya dengan tujuan untuk menanyakan perihal Taruna dan akan langsung pulang ketika jawaban yang ia mau telah didapat. Tetapi melihat bagaimana obrolan mereka berakhir tanpa sebuah solusi apa-apa, Gavin terpaksa melenceng lebih jauh dari rencana awalnya. Ia memutuskan untuk menginap, sebab ia tidak mungkin meninggalkan Irina dalam keadaan yang kacau seperti sekarang ini. Meski ada lebih banyak kekhawatiran di benaknya sekarang, Gavin hanya akan terus berusaha mengatakan kepada dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Dari dulu, hidup aku memang udah berjalan kayak bajingan." Ucap Irina setelah menelan cairan kental berwarna merah itu. Matanya menatap kosong ke arah botol di tangannya yang sedikit lagi tandas. Bibirnya terangkat, mengulas sebuah senyum tipis yang sarat akan kepedihan. "Tapi aku nggak pernah menyangka bahwa Tuhan juga akan merenggut kamu dari aku." Tepat ketika Irina menolehkan kepala, Gavin merasakan sekujur tubuhnya terasa ngilu. Manik kelabu itu menatapnya sayu, terlihat begitu rapuh dan tak berdaya.
Di hari-hari sebelum ini, Gavin akan langsung berlari ke arah Irina untuk memeluk tubuh langsing itu, menepuk punggung perempuan itu pelan-pelan sampai air mata yang susah payah ditahan berhasil mengalir membawa serta seluruh beban yang ditimbun dalam dada. Tapi malam ini, Gavin tidak bisa melakukan apa-apa. Sebab ia tahu betul bahwa sumber rasa sakit yang perempuan itu rasakan kini adalah dirinya.
"Aku pikir, melepaskan kamu untuk menikah sama Kalea nggak akan berdampak seburuk ini. Toh kamu bilang pernikahan ini cuma formalitas dan kamu nggak akan kasih celah untuk Kalea masuk ke dalam hidup kamu." Irina masih menatapnya, kali ini satu tetes air mata berhasil jatuh, namun buru-buru diseka oleh si empunya sebelum cairan bening itu sampai ke pipinya. "Ternyata aku lupa kalau hati manusia itu berubah-ubah. Aku lupa, kalau ada kehendak lain yang lebih berkuasa atas hati manusia. Aku lupa, Vin, kalau sejak awal, kamu memang nggak pernah sepenuhnya milik aku." Suara Irina terdengar bergetar, membangkitkan perih di sisi hati Gavin yang sudah remuk redam sejak lama. Ada bagian yang terasa nyeri ketika potongan-potongan ingatan tentang dirinya yang hancur di masa lalu datang silih berganti, menampilkan bagaimana ia hanyalah seonggok daging yang bernyawa, tak berarti jika tangan-tangan lembut Irina tak membantu menopang jiwanya agar tidak lebur bersama duka.
Dan malam ini, dengan tidak tau dirinya, ia menghancurkan jiwa murni yang telah membantunya bangkit itu. Ia menghancurkan Irina, dengan dalih untuk melindungi mereka berdua. Padahal jika orang itu bukan Kalea, Gavin mungkin tidak akan berjalan sejauh ini. Ia percaya selalu ada cara untuk menyelematkan hubungannya dengan Irina. Tapi ketika itu sudah menyangkut Kalea, maka Kalea akan selalu menang. Dari dulu, dari sejak awal, Kalea memang sudah jadi pemenangnya.
"Pernikahan kalian bahkan belum sah, tapi aku udah kehilangan kamu." Tepat setelah bibirnya mengatup, Irina bangkit. Ia berjalan dengan sempoyongan ke arah Gavin, hanya untuk mendaratkan sebuah pukulan di dada bidang lelaki itu.
"Aku benci kamu karena udah bawa hubungan kita ke situasi yang serumit ini." Ucap Irina. Kali ini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia menangis, sejadi-jadinya. "Tapi aku lebih benci diriku sendiri karena nggak bisa berhenti mencintai kamu, Vin. Aku benci karena aku bodoh dan nggak berani untuk sepenuhnya melepaskan kamu. Aku..." ucapannya tersendat karena kini ia sudah terisak. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak dan berat, seperti ada bongkahan batu besar yang mengganjal di sana sehingga menyumbat aliran napasnya.
"I hate you, Vin." Suara Irina melemah. Tubuhnya luruh, bersimpuh di lantai dengan bahu yang bergetar hebat seiring tangisannya yang semakin menjadi.
Sedangkan Gavin, masih tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya terpaku di tempatnya, menikmati perih di dadanya sendiri tanpa punya daya untuk merangkul perih yang Irina rasa.
Bermenit-menit berlalu. Irina masih menangis dan Gavin tetap pada posisinya. Meratapi lebih banyak hal seiring waktu yang semakin bergerak. Kemudian, perhatian keduanya teralihkan oleh suara bel dari pintu depan.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan dan lemah, Irina bangkit. Ia seka air mata yang masih terus merembes membasahi pipinya dengan punggung tangan. Isakannya masih terus berlanjut, tapi kaki-kaki jenjangnya juga tidak bisa jika harus berdiam ketika suara bel yang nyaring terus berbunyi.
Di belakangnya, Gavin berjalan membuntuti dengan langkah pendek dan terkesan hati-hati. Ia menatap punggung sempit Irina yang semakin jauh dari pandangan, dan langkahnya terhenti dua meter di belakang perempuan itu ketika Irina sampai di ambang pintu.
Ketika pintu itu terbuka, Irina tidak menemukan siapa-siapa. Sebagai gantinya, ia menemukan sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam dengan pita berwarna merah yang menghiasi. Irina berjongkok, meraih kotak itu dengan satu tangan kemudian membawanya ke dalam. Ia melewati Gavin begitu saja, membiarkan lelaki itu bergelung dengan pikirannya sendiri.
Irina meletakkan kotak itu di atas meja dapur, bersisian dengan botol wine yang hampir kosong. Dengan tangan bergetar sisa tangis yang belum sepenuhnya reda, ia membuka tutup kotak itu.
Apa yang ada di dalam kotak itu sukses membuat sebuah senyum miris terbit menghiasi wajah pucatnya. Di dalam kotak itu ada banyak sekali foto dirinya, yang seharusnya tidak dimiliki oleh siapapun karena itu jelas diambil tanpa sepengetahuannya. Bukan hanya foto, di dalam kotak itu juga ada sebuah boneka beruang kecil yang bagian matanya sudah dilepas, bagian leher dan perut terkoyak serta terdapat cairan berwarna merah kental berbau anyir yang Irina yakin merupakan darah binatang.
Walau apa yang dia dapati di depan matanya adalah sesuatu yang mengerikan, tapi Irina sama sekali tidak terkejut. Ia tidak berteriak histeris seperti yang seharusnya. Malahan, ia terlihat cukup tenang ketika membawa kotak itu ke sisi pojok dapur dan melemparkannya ke tong sampah.
"What the hell!" pekiknya.
Gavin tertegun saat Irina melepaskan tangannya dengan gerakan pelan. Kemudian perempuan itu mendudukkan diri di kursi, masih dengan raut wajah tenang yang terlalu sulit untuk Gavin pahami.
"Nggak usah heboh, yang kayak gitu udah biasa." Ucap Irina. Ia teguk lagi wine yang tersisa, kemudian mencampakkan botol kosongnya begitu saja.
"Udah biasa? Maksudnya kamu udah sering dapat yang beginian?" Gavin bertanya dengan suara meninggi. Tak habis pikir mengapa Irina masih bisa bersikap tenang menghadapi situasi yang sekarang.
Irina mengangkat kepala, menatap Gavin dengan mata lelahnya kemudian menghela napas beras sebelum menarik kembali pandangannya.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang sama aku?"
"Kamu sibuk." Jawab Irina cepat. Tatapannya kosong, berbanding terbalik dengan kepalanya yang kian terasa penuh.
Mendengar jawaban Irina membuat Gavin menghela napas berat. Ia menarik kursi, membawanya ke samping Irina kemudian segera duduk di atasnya.
"Sesibuknya aku, kamu tetap harus kasih tahu. Ini udah nggak bener, Rin. Udah bahaya." Gavin menarik pelan lengan Irina, bermaksud membuat perempuan itu menoleh ke arahnya.
"Sibuknya kamu beda." Tegas Irina. "Sibuknya kamu yang sekarang cuma soal Kalea. Dan kalau udah begitu, kamu nggak akan punya waktu untuk mikirin hal lain." Lanjutnya. Ia menarik lengannya dari tangan Gavin kemudian memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan lelaki itu.
"Aku bisa urus diri aku sendiri." Ucap Irina kemudian. Ia menatap Gavin lekat-lekat, berusaha mencari sedikit saja alasan untuk tetap berada di sisi laki-laki itu. Namun yang ia dapati justru perih yang semakin terasa karena dari manik kelam itu, Irina tidak lagi menemukan sorot yang sama.
Setelah satu hela napas berat tertembus dari belah bibirnya, Irina bangkit. "Udah malem, mendingan kamu pulang." Ucapnya sebelum mengambil langkah.
"Aku nginep di sini."
Langkah yang baru hendak diambil otomatis urung ketika suara Gavin mengudara. Irina menoleh, menatap Gavin datar ketika lelaki itu ikut-ikutan bangkit dari duduknya.
"Aku nggak akan ninggalin kamu di saat kayak gini." Kata Gavin ketika mereka berdiri berhadapan. "Nggak. Aku nggak akan ninggalin kamu dalam keadaan apapun." Ralatnya, kemudian ia raih tangan Irina. Ia genggam tangan itu erat-erat sebelum menuntun Irina menuju kamarnya.
Aku nggak akan ninggalin kamu, Rin. Nggak akan.
__ADS_1