Serana

Serana
Kejutan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam untuk duduk berdua di ruang meeting bersama Gitta, Gavin akhirnya tahu kalau biang kerok dari permasalahan yang terjadi di proyek terakhir yang sedang dia dan tim kerjakan adalah Claretta dan ayahnya. Entah bagaimana, dua manusia itu mencari-cari cara untuk menghambat jalannya proyek yang sedang dikerjakan. Alasannya tentu hanya satu, agar Gavin dinilai tidak becus mengerjakan proyek penting ini dan Claretta bisa mengambil alih.


Gavin menyugar rambutnya menggunakan jari-jari panjang miliknya dengan gerak frustrasi. Sejatinya, dia tidak terlalu tertarik dengan dunia bisnis yang sejak awal menjadi ambisi bagi ayahnya.


Dia bertahan di perusahaan ini semata-mata karena cuma ini satu-satunya cara untuk membantu Irina tetap aman selama melakoni pekerjaannya sebagai model. Cuma dengan kekuasaan ini, dia bisa melindungi Irina dari tangan-tangan kotor para sponsor yang sering menganggap model sebagai pekerjaan jual diri yang terselubung.


Selain itu, Gavin juga mau bertahan karena Bunda terus memohon kepadanya untuk mempertahankan posisinya. Entah karena alasan apa.


Di seberangnya, Gitta masih menunggu keputusan yang akan dia buat. Perempuan itu sedari tadi sudah sabar menerima segala ocehan yang sejatinya bukan Gavin lontarkan untuknya. Maka, untuk menebus waktu dan telinga yang sudah Gitta relakan untuk dirinya, Gavin bangkit dari kursi sebagai pertanda berakhirnya pembahasan mereka hari ini.


"Saya yang akan urus semuanya. Kamu cukup sampaikan ke tim terkait untuk tetap jalankan proyek sesuai rencana. Urusan Claretta dan Pak Arya, serahkan sama saya."


Gitta mengangguk paham. Dia segera berdiri dan membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas meja. Kemudian setelah semua berkas berhasil dia angkut ke dalam pelukan, Gitta pamit undur diri.


Setelah kepergian Gitta, Gavin menghabiskan hampir lima belas menit di ruang meeting tanpa melakukan apa-apa. Dia cuma berdiri diam di depan jendela kaca besar yang mengarah ke jalanan sembari menyakui satu tangannya. Satu tangan lagi dia tempelkan ke kaca jendela, meninggalkan jejak telapak tangan yang kentara ketika dia akhirnya menarik tangannya dari sana.


"Bangsat." Umpatnya ketika mengingat lagi seberapa banyak kekacauan yang telah Claretta dan Om Arya perbuat dalam hidupnya.


Melihat bagaimana mereka begitu berambisi untuk mendepaknya keluar dari perusahaan membuat Gavin semakin yakin kalau segala teror yang dikirimkan kepada Kalea dan Irina pasti ada hubungannya dengan sepasang ayah dan anak itu.


Karena kepalanya semakin tibur dan dadanya semakin bergemuruh tidak keruan, Gavin bergegas meninggalkan ruang meeting setelah menyambar ponsel yang sedari tadi dia geletakkan begitu saja di atas meja.


Gavin berjalan terburu-buru menuju lift ketika melihat benda besi itu nyaris tertutup. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di sini, jadi dia malas kalau harus menunggu sampai lift selanjutnya tiba.


Sementara itu, tepat ketika Gavin berhasil measuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup sempurna, seorang pemuda berpakaian serba hitam, mengenakan topi dan masker segera melesat masuk ke ruang meeting. Untuk masuk ke sana diperlukan kartu akses yang hanya dimiliki oleh beberapa orang di perusahaan, dan pemuda itu memilikinya. Maka, tidak ada lagi kendala.


Setelah berhasil masuk, pemuda itu segera berjalan menuju meja tempat di mana Gavin dan Gitta sebelumnya mengadakan pertemuan. Pemuda itu membungkuk, mengambil sesuatu dari bawah meja dan tersenyum puas ketika benda berbentuk bulat seukuran jempol orang dewasa itu berhasil dia ambil.


Sebuah voice recorder yang sudah dipasang untuk menangkap semua percakapan yang terjadi antara Gavin dan Gitta.


"Sempurna." Gumamnya sebelum memasukkan benda mungil itu ke saku jaket dan segera pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


...****************...


Ketika sampai di rumah sakit, Gavin bergegas menuju kamar rawat Kalea. Namun, dia dibuat kebingungan saat tidak menemukan siapa-siapa di sana.


Sebagai gantinya, Gavin menemukan keranjang berisi buah-buahan dan buket bunga Hydrangea di atas nakas. Ranjang pasien terlihat rapi dan sampah-sampah makanan ringan yang tadi pagi masih berserak di atas meja dekat sofa sudah dibersihkan.


Segera Gavin keluarkan ponsel untuk menghubungi Bunda. Nomor berhasil ditekan dan dia hanya perlu menunggu sampai tujuh detik sebelum telepon tersambung.


"Halo, Vin?"


"Bunda lagi ajak Kalea jalan-jalan, ya? Soalnya di kamarnya nggak ada." tanya Gavin sembari berjalan menuju lemari penyimpanan untuk memeriksa apakah ada barang-barang yang perempuan itu bawa pergi.


"Oh, Kalea lagi berkunjung ke kamar sebelah sama Karel. Bunda lagi di luar cari makan."


Kamar sebelah? Gavin berpikir sebentar. Kemudian, setelah dia ingat kalau kamar sebelah adalah kamar tempat Sierra dirawar, Gavin segera mematikan telepon. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa kepada Bunda, tidak peduli kalau wanita itu akan berakhir kebingungan.


Dengan langkah yang terayun lebar, Gavin keluar dari kamar rawat Kalea. Dia berjalan cepat menuju kamar rawat Sierra dan berhenti tepat di depan pintu. Dia berdiam diri di sana selama hampir setengah menit. Kemudian, dia mengangkat tangan dan melabuhkan beberapa ketukan di pintu tersebut.


Dan ketika pintu itu dibuka, hal pertama yang mencuri perhatian Gavin bukanlah Kalea yang sedang bermain bersama Sierra di atas ranjang pasien. Bukan juga Karel yang duduk anteng di sofa ataupun Taruna yang baru keluar dari kamar mandi. Melainkan sosok perempuan cantik bertubuh langsing yang duduk di kursi dekat ranjang dan menatap ke arahnya tepat ketika dia muncul dari balik pintu.


Gavin merasakan seluruh otot ditubuhnya menegang. Kepala bagian belakang terasa berat dan perutnya mendadak mual tanpa alasan. Perempuan itu, Irina, masih tidak melepaskan tatapan darinya.


"Kamu udah pulang?"


Gavin menarik pandangan dari perempuan tadi, beralih menatap Kalea dan memaksakan senyum yang sebenarnya sulit sekali untuk bisa dia ukir di saat-saat seperti ini.


"Masuk, Vin." Kata Taruna yang kini sudah berdiri di samping ranjang Sierra.


Gavi melangkah masuk dengan berat hati. Kalau bisa dia memutar waktu, dia akan berdiam diri saja di kamar rawat Kalea dan menunggu sampai perempuan itu kembali, tidak perlu dia susuk perempuan itu ke sini dan berakhir pusing sendiri.


"Masalah di kerjaan udah selesai?"

__ADS_1


"Udah. Cuma masalah kecil, nggak perlu khawatir." Bohongnya.


Lalu, Gavin dengan sigap menangkap tubuh Kalea saat perempuan itu bergerak turun dari ranjang. Sesekali dia melirik ke arah Irina untuk memeriksa reaksinya. Tetapi apa yang tampak di wajah Irina benar-benar tidak bisa dia baca. Gavin kesulitan untuk menerka apa yang sedang ada di dalam kepala perempuan itu sekarang.


"Kamu udah makan? Minum obat?"


"Udah semua." Kalea menjawab cepat.


"Sierra juga udah?" tanya Gavin kepada sosok anak perempuan yang kini menatapnya dari atas ranjang pasien.


Sierra cuma menganggukkan kepala. Terlihat belum terlalu nyaman untuk berbicara banyak dengannya.


Gavin maklum saja. Mukanya memang terlihat galak untuk orang-orang yang baru pertama kali bertemu. Dia juga tidak terlalu bisa mengambil simpati anak-anak. Jadi, setelah mendapatkan anggukan kepala dari Sierra, Gavin tidak bertanya apa-apa lagi.


"Gavin, aku masih boleh main sebentar nggak sama Sierra? Setengah jam lagi?" tanya Kalea dengan ekspresi wajah sendu.


Kalau sudah begitu, Gavin bisa apa selain menganggukkan kepala tanda setuju? Kalea jelas kegirangan, dia langsung melepaskan diri dari genggaman Gavin dan kembali melompat naik ke atas ranjang, menyusul Sierra yang sama senangnya.


Dalam sekejap, Kalea dan Sierra sudah tenggelam dalam dunia mereka masing-masing.


Gavin masih sesekali melirik ke arah Irina. Berusaha keras agar gerak-geriknya tidak terbaca oleh Karel di belakangnya.


Kemudian, ketika tatapannya bertemu dengan Taruna, Gavin secara impulsif berkata, "Gue mau ngobrol sebentar sama lo di luar."


"Oke," Taruna mengangguk. Dia berpamitan sebentar kepada Sierra sebelum berjalan mendahului.


Sementara Gavin melipir dulu ke arah Karel sebelum menyusul Taruna yang sudah berada di luar ruangan. "Saya titip Kalea lagi." Katanya sembari mendaratkan tepukan pelan di bahu Karel.


Yang ditepuk bahunya cuma manggut-manggut dan Gavin pun melesat pergi dari sana. Meninggalkan tanda tanya bukan cuma di benak Karel, tetapi juga Irina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2