Serana

Serana
Masih Harus Jaga Jarak!


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Kalea langsung naik ke kamar. Sementara Gavin melipir dulu ke dapur untuk meneguk air karena sedari tadi tenggorokannya memang terasa kering.


Selesai mengatasi masalah dahaga, Gavin mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menyalakannya. Sembari menunggu ponsel menyala, Gavin mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan. Matanya menerawang jauh ke arah tangga yang tadi dilewati Kalea dengan langkah yang terburu-buru.


Tadi, sewaktu perempuan itu melompat turun dari mobil, Gavin sempat melihat semburat merah yang telah muncul di kedua belah pipinya. Mengingat itu saja sudah bisa membuat senyum Gavin terkembang sempurna.


"Gemes." Gumamnya seolah ada sosok Kalea di hadapannya saat ini.


Lalu, saat ponsel di tangan sudah menyala, senyum Gavin perlahan-lahan memudar. Bibir yang semula tertarik ke atas kini kembali membentuk garis lurus.


Gavin menatap layar ponselnya dengan perasaan yang terlalu sulit untuk dijelaskan. Di sana, jelas tidak ada satu pun notifikasi yang berasal dari Irina atau pun Taruna. Dua orang itu seolah menghilang ditelan bumi, bersama dengan beribu pertanyaan yang mengerubungi kepala Gavin sejak kemarin.


Setelah menimang selama beberapa saat, Gavin memutuskan untuk kembali menelepon Irina.


Namun lagi-lagi yang ia dengar di ujung telepon adalah suara operator yang mulai terdengar menyebalkan di telinganya.


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."


Gavin bahkan sampai hafal setiap kata yang operator itu ucapkan.


"Kamu kemana sih, Rin?" gumamnya sembari memandangi ponselnya sendiri.


Di kesempatan kali ini, Gavin tidak berniat untuk menghubungi Taruna karena terakhir kali ia mencoba, laki-laki itu tidak mengangkatnya dan tidak mengatakan apa-apa selain mengirimkan jadwal harian Irina seperti biasa.


Pasrah, Gavin kembali mematikan ponselnya. Kemudian ia bangkit, melangkah gontai menaiki tangga, menapaki anak tangganya satu persatu dengan pikiran yang mulai melayang ke mana-mana.


Sampai di depan pintu kamar, Gavin berhenti sebentar. Dipandanginya pintu itu lekat-lekat, seperti sedang menerka apa yang tengah dilakukan oleh Kalea di dalam sana. Apakah perempuan itu sedang bergelung di bawah selimut untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah? Atau malah mengunci diri di kamar mandi seperti yang beberapa hari lalu dia lakukan?


Tanpa sadar, Gavin kembali tersenyum. Segala hal tentang Kalea mulai sedikit demi sedikit mencuri lebih banyak tempat di kepalanya. Perempuan itu berhasil membuatnya merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan.


Sekitar tiga menit ia berdiri di depan pintu kamar, kemudian Gavin melanjutkan langkahnya. Saat pintu di hadapan terbuka, Gavin menemukan Kalea ada di atas kasur. Tapi perempuan itu tidak sedang menyembunyikan diri di balik selimut seperti yang ia kira sebelumnya.


"Ngapain?" tanya Kalea saat Gavin tak kunjung berjalan ke arahnya. Laki-laki itu berhenti tiga langkah dari kasur sembari menatapnya lekat-lekat.


"Saya lagi mikir." Sahut Gavin tanpa ragu.

__ADS_1


"Mikir? Soal apa?"


"Saya masih harus jaga jarak nggak sih sama kamu?"


Kalea terdiam selama beberapa saat. Hatinya mulai bimbang. Kalau dia bilang Gavin sudah diperbolehkan menumpas jarak dua meter yang ia berlakukan, Kalea khawatir lali-laki itu akan menerjangnya saat ini juga. Tapi kalau dia tetap memberlakukan aturan jarak itu, Kalea khawatir dirinya sendiri yang akan kelabakan nantinya.


"Kal?"


"Iya." Jawab Kalea pada akhirnya, setelah melewati perdebatan hebat dengan dirinya sendiri.


"Iya apa?" Gavin bertanya dengan satu alis yang terangkat. Tangannya disilangkan di depan dada dan ia mulai menatap Kalea serius.


"Kamu masih harus jaga jarak."


Gavin melenguh kecewa. Padahal ia pikir jarak sialan itu sudah tidak berlaku lagi setelah tadi Kalea bersikap bagai pahlawan dengan menjauhkannya dari Mumu. Tapi ternyata perempuan itu masih saja bersikukuh untuk membentangkan jarak di antara mereka.


"Kenapa?"


Kenapa? Kamu nanya kenapa, Kal? Serius? Gavin mendumal dalam hati. Padahal mau sepanjang apa paragraf yang ia tulis di dalam kepala, Kalea tetap tidak akan bisa mengetahuinya jika ia tidak mengatakannya.


"Terus saya tidur di mana?" akhirnya, hanya itu yang bisa Gavin tanyakan.


"Katanya harus jaga jarak dua meter!" Gavin sedikit meninggikan nada suaranya, membuat Kalea yang semula duduk anteng di atas kasur sedikit terperanjat.


Bisa teriak juga ini orang ternyata? Batinnya. Namun kalimat itu ia simpan sendiri dan tak berniat untuk dia keluarkan sama sekali.


"Kalau pas tidur jaraknya nggak perlu sejauh itu."


"Terus berapa? Dua jengkal? Satu?"


"Ya pokoknya jangan sampai nempel-nempel. Aku tidur di ujung sini, kamu tidur di ujung sana." Kata Kalea sembari menunjuk bagian ujung di sisi kanan dan kiri kasur.


"Nggak mau!" Gavin menolak keras ide itu. "Saya maunya tidur sambil meluk kamu."


Demi Tuhan! Kalea nyaris tertawa terpingkal-pingkal saat melihat ekspresi memelas di wajah Gavin. Bibir tebal merah alaminya maju beberapa senti hingga membuat kesan garang dan serius dari wajahnya menghilang seketika. Tergantikan dengan raut menggemaskan yang membuat Kalea ingin sekali menarik hidung bangir itu sepuas hatinya.

__ADS_1


"Udah deh, nggak usah banyak protes. Atau kamu mau tidur di kamar sebelah?" tantang Kalea. Semakin merasa terhibur saat Gavin menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Nggak!"


"Nah, ya udah. Pokoknya jangan dekat-dekat aku dulu." Final Kalea.


Kemudian Kalea melompat turun dari kasur. Ia berjalan ke arah lemari pakaian. Mengabaikan Gavin yang masih menggerutu samar-samar di tempatnya berdiri.


Setelah itu, Kalea membuka pintu lemari dan seketika itu juga matanya mulai fokus menelisik satu persatu pakaian yang tertata rapi di sana. Ia sibuk memilih setelan mana yang akan dia siapkan untuk Gavin berangkat ke kantor besok.


Dan pilihannya jatuh pada sebuah kemeja lengan panjang warna biru muda, celana bahan warna hitam dan dasi warna biru tua. Segera Kalea ambil setelan itu dari dalam tumpukan dan dibawanya ke hadapan Gavin.


"Besok ke kantor pakai setelan ini, mau?" tanya Kalea sembari menunjukkan setelan pilihannya kepada Gavin.


Gavin yang semula masih mendumal dan menampakkan raut cemberut seketika merubah ekspresi wajahnya. Matanya fokus menatapi setelan yang dibawa Kalea. Kemudian, ia mengulum senyum sebelum menaikkan pandangan demi bisa menatap istri tercintanya.


"Mau." Katanya tanpa sedikit pun keraguan.


"Oke, apa lagi yang harus aku siapin?" tanyanya setelah meletakkan setelan kerja Gavin ke atas meja rias.


"Morning kiss?" celetuk Gavin, membuat Kalea seketika melemparinya tatapan tajam.


"Kamu bilang apa? Mau dibanting?" tanya Kalea dengan bibir nyaris terkatup. Sumpah, ia kesal sekali pada Gavin. Laki-laki itu gemar sekali menggodanya hingga menimbulkan semburat merah muncul di belah pipinya.


"Pelit amat sih sama suami sendiri." Cibir Gavin. Tapi dia tidak melayangkan protes lagi karena memang tujuannya mengatakan itu kepada Kalea hanya untuk menggoda perempuan itu. Gavin sudah pernah bilang, kan, kalau dia suka melihat semburat kemerahan yang muncul di belah pipi Kalea?


Malas menanggapi Gavin yang hanya akan membuatnya berakhir malu dan salah tingkah, Kalea melenggang pergi keluar kamar.


"Mau kemana?" tanya Gavin sebelum Kalea mencapai pintu.


"Dapur." Kalea menjawab cepat tanpa menolehkan kepala.


"Ngapain?"


Pertanyaan itu tidak terjawab karena Kalea malah terus melanjutkan langkahnya. Gavin masih terdiam di tempatnya, mengamati punggung sempit itu semakin menjauh dari jangkauan pandangnya sampai akhirnya benar-benar menghilang di balik belokan.

__ADS_1


Tepat saat tubuh Kalea tidak lagi terlihat oleh matanya, Gavin bergumam pelan. "Gemes banget sih, istri gue."


Bersambung


__ADS_2