
Memasuki usia kandungan enam bulan, Kalea sudah tidak lagi merasakan mual ataupun keinginan untuk memakan sesuatu seperti ketika usia kandungannya masih awal. Ia juga mulai terbiasa dengan perutnya yang semakin membesar dan bulat, tidak lagi merasa keberatan karena sudah tahu beberapa kiat agar tetap bisa menjalani hari-harinya dengan nyaman bersama perut buncitnya itu.
"Choco,"
Kalea tersenyum kala merasakan tangan besar Gavin melingkar di perutnya, mengusap-usap pelan perut buncitnya selagi dagu lelaki itu bersandar damai di pundaknya.
"Kamu udah mandi?" Kalea sedikit menoleh, membuat hidung mancungnya bersentuhan dengan pipi Gavin.
Gavin hanya mengangguk. Usapannya di perut Kalea semakin intens. Lalu tanpa aba-aba, ia labuhkan kecupan singkat ke bibir Kalea yang basah karena perempuan itu memang baru saja menghabiskan susu hamilnya.
Rasa vanila yang menempel di bibir Kalea berpindah ke lidahnya ketika Gavin menyapukan lidah ke bibirnya sendiri.
"Manis," bisiknya. Kemudian, satu kecupan lagi dia labuhkan. "Enak, Kal." Godanya.
Kalea terkekeh, kemudan membalikkan tubuhnya pelan-pelan sehingga kini mereka saling berhadap-hadapan.
Kedua tangan Kalea berada di pipi Gavin, menangkup wajah lelaki itu lembut selagi matanya menyelami manik kelam milik Gavin dalam-dalam.
Keputusannya untuk memberikan Gavin kesempatan ke-dua tidak pernah mudah. Ada banyak sekali keragu-raguan yang awalnya terus berdatangan, dan hampir membuatnya goyah. Namun, manik kelam itu menjadi satu-satunya jalan keluar ketika dia terjebak dalam keragu-raguannya sendiri.
Dan sekarang, setelah dia merelakan semua yang sudah terjadi, Kalea merasakan hatinya menjadi lebih ringan. Hanya ada satu hal yang kini selalu dia putar di kepalanya, yaitu kehidupan bahagia bersama Gavin dan anak yang akan dia lahirkan tidak lama lagi.
"Gavin," panggilnya pelan usai puas menyelam di dalam manik kelam sang suami.
Gavin hanya berdeham. Ia berusaha membawa tubuh Kalea untuk lebih dekat dengannya, namun perut buncit perempuan itu membuat usahanya tidak terlalu banyak membuahkan hasil karena jarak di antara tubuh mereka masih cukup jauh menurutnya.
Gemas karena Kalea tidak kunjung bicara lagi, dan malah memainkan jemari untuk menyentuh daun telinganya dengan gerakan pelan nan menggoda, Gavin kembali melabuhkan kecupan demi kecupan ke bibir sang istri. Awalnya cuma di bibir, namun lama-kelamaan mulai merembet ke pipi, hidung, kening bahkan sampai ke kelopak mata perempuan itu.
"You're mine," bisiknya setelah melabuhkan kecupan terakhir di bibir Kalea.
"No," Kalea tidak setuju. "I'm mine." Sambungnya.
"You're mine, and I'm yours. Udah, titik."
Sebelum Kalea yang keras kepala kembali menyahuti perkataannya, Gavin segera melakukan langkah pencegahan dengan membungkam bibir perempuan itu menggunakan bibirnya.
Sekarang, bukan lagi kecupan yang dia berikan untuk bibir ranum itu, melainkan sesapan-sesapan halus yang sama sekali tidak terkesan menuntut. Ia bergerak perlahan, memastikan tidak ada satu bagian pun dari bibir Kalea yang luput dari jamahannya.
Gavin tersenyum di tengah ciuman mereka kala merasakan tangan Kalea mulai bergerak turun. Yang tadinya masih berada di pipi, kini bertengger di lehernya. Baginya, itu adalah sebuah bentuk persetujuan, bahwa dia bisa menjelajah lebih banyak dan bermain lebih lama di bibir perempuan itu.
"Your lips are so fcking addictive, Kal." Bisiknya, setelah tautan dilepas sebentar agar mereka bisa mengisi kembali pasokan oksigen di dalam paru-paru.
__ADS_1
"I know," Kalea tersenyum tipis. Dia sudah lebih dulu selesai mengisi paru-parunya dengan oksigen, maka kali ini, dia yang berinisiatif memulai kembali kegiatan mereka yang terjeda.
Gavin iya-iya saja, tidak pernah mencoba menolak setiap sentuhan yang Kalea berikan kepadanya. Sebab setiap sentuhan yang datang, sudah serupa obat untuk setiap lebam yang dia punya.
Pertemuan antara dua bibir itu terus berlanjut, semakin intens dan dalam hingga membuat keduanya hanyut dalam arus yang mereka ciptakan sendiri. Sampai mereka tidak sadar, kalau sedari tadi, ada Karel yang berdiri di ambang pintu dapur, menyaksikan kegiatan mereka dengan hela napas yang berkali-kali diloloskan.
"Gue ke dapur mau minum ya, bangsat! Bukan mau ngeliat adegan porno kayak gini!" gerutunya. Tapi anehnya, dia tidak kunjung pergi, dan tetap saja berdiam diri menyaksikan bagaimana Kalea dan Gavin saling menyentuh satu sama lain.
Ha ... dasar Karel si tukang cari penyakit.
.
...****************...
Menyaksikan Gavin dan Kalea berciuman saja sudah membuat Karel kesal, dan sekarang, dia semakin dibuat naik darah saat Kalea dengan semena-mena menyodorkan kostum berbentuk pohon natal berwarna hijau dengan hiasan lampu warna merah ke arahnya.
Usai puas bercumbu dengan suaminya, Kalea berlarian menghampirinya yang sedang duduk di atas sofa ruang tamu, berkata bahwa Gavin sedang ngidam ingin melihatnya mengenakan kostum yang lucu.
"Reeeelll," rengek perempuan itu saat dia tidak kunjung meraih kostum yang disodorkan.
"Nggak sudi," Karel mendorong kostum itu, menolaknya mentah-mentah.
"Ini mah bukan kemauan Choco! Tapi emang laki lo aja yang demen ngerjain gue!" Karel begitu menggebu-gebu. Ia melotot ke arah Gavin yang sedari tadi senyum-senyum saja melihat Kalea memaksanya memakai kostum pohon natal yang aneh itu.
"Nggak! Pokoknya gue nggak mau!" kekeuh Karel. Ia membuang muka, melipat tangan di depan dada dan sok-sokan tidak peduli meksipun sebenarnya dia was-was juga kalau nanti Choco betulan akan jadi ileran kalau kemauan Gavin tidak dituruti kali ini.
Karel memang belum pernah merasakan jadi seorang suami yang istrinya sedang hamil, tetapi dia pernah mendengar bahwa dalam beberapa kasus, justru para suami lah yang mengidamkan sesuatu selama masa kehamilan sang istri. Jadi sebetulnya, Karel tidak terlalu curiga pada Gavin, karena memang bisa saja Gavin betulan ngidam karena Choco.
"Tolong lah, Rel. Kali ini aja,"
Sekarang, bukan cuma Kalea saja yang merengek, tetapi Gavin juga ikutan. Lelaki itu bahkan melangkah maju, meraih lengannya kemudian menggoyang-goyangkannya.
"Apaan sih, anjir!" Karel menepis lengan Gavin, seketika bergidik geli saat mendapati wajah Gavin yang memelas. Ekspresi muka sama badan kontras banget, anjir. Batinnya. Sebab memang raut memelas itu sama sekali tidak cocok dengan badan Gavin yang besar dan berotot. Jomplang sekali!
Ditolak begitu, Gavin bukannya menyerah, malah semakin menjadi-jadi. Raut wajahnya semakin dibuat memelas dan sedih, membuat Karel semakin merinding sebadan-badan.
"Najis banget laki lo," ia mengadu pada Kalea. Dan tentu saja itu adalah langkah yang salah, sebab Kalea malah memelototinya.
"Kan, sikopat dua-duanya." Gerutunya saat Kalea semakin menatap galak ke arahnya.
"Mau pakai, atau kamu aku tendang sampai ke Mars?" ancam Kalea.
__ADS_1
Karel tidak pernah takut terhadap ancaman itu. Sungguh! Karena dia tahu Kalea tidak akan mampu untuk melakukannya. Jangankan menendangnya sampai ke Mars, membawa perutnya yang buncit saja perempuan itu sudah kewalahan.
Meskipun begitu, Karel akhirnya tetap mengalah. Ia meraih kostum pohon natal dari tangan Kalea, kemudian menatap Gavin yang kini raut wajahnya seketika berubah cerah.
"Sekali ini doang, ya. Awas aja kalau habis ini lo minta yang aneh-aneh lagi!" ketusnya pada Gavin.
Bak seorang bocah yang keinginannya dituruti, Gavin tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Sambil menggerutu, Karel mulai mengenakan kostum pohon natal itu, disaksikan langsung oleh Kalea dan Gavin yang begitu bersemangat menanti transformasinya.
"Udah nih, puas?!" ocehnya.
Kalea dan Gavin saling pandang, kemudian serempak menoleh ke arahnya dan menganggukkan kepala.
"Kal, ayo kita ambil foto." Kata Gavin.
Karel tidak sempat mengelak ketika Gavin tiba-tiba mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana lalu berpose di sampingnya dan langsung mengambil gambar.
Beberapa foto diambil. Dan di dalam semua foto itu, tidak ada satupun yang menunjukkan wajah Karel yang tersenyum.
"Bangsat kalian semua!" geram Karel, yang hanya dianggap angi lalu oleh Gavin dan Kalea karena sepasang suami istri gesrek itu masih terus berpose dan mengambil lebih banyak foto.
.
.
.
.
Nasibmu sedih kali, Rel 🤧
Sabar ya, Nak, Ibu lagi semedi dulu buat nyariin kamu cewek biar hidupmu nggak ngenes-ngenes amat.
Anw, kek gini lah kira-kira penampakan Karel pakai kostum pohon natal...
Gemessssshhhh nggak siiiiih???
Udah, ah, bye!
__ADS_1