Serana

Serana
I'll Be Waiting For You


__ADS_3

"Irina ...." Hati Kalea kembali terasa perih saat bukan namanya yang meluncur bebas dari bibir Gavin untuk pertama kalinya.


Tetapi, dengan mengesampingkan perasaannya sendiri, Kalea bertindak cepat memencet tombol bel yang tersedia di samping ranjang sebagai panggilan untuk tim medis agar segera datang untuk memeriksa keadaan Gavin.


Kalea sudah tidak terlalu memikirkan sakit hatinya, yang terpenting sekarang ada mereka harus segera memeriksa Gavin untuk tahu langkah selanjutnya yang harus mereka lakukan.


Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat datang ke ruang ICU. Mereka menginstruksikan kepada Kalea untuk keluar selagi mereka melakukan pemeriksaan.


Kalea paham, jadi dia segera bangkit dari kursinya dan hendak pergi keluar. Namun, tangan Gavin yang masih ada di genggamannya tiba-tiba balik menggenggam tangannya, seolah menahannya untuk tidak pergi.


Kalea terpaku sebentar menatapi tautan tangan mereka, lalu dengan lembut, dia lepaskan genggaman tangan Gavin. Setelahnya, dia menatap Gavin sebentar, sembari menyunggingkan senyum meskipun dia tidak yakin apakah lelaki itu bisa mengenali dirinya atau tidak.


Kemudian, Kalea segera keluar untuk memudahkan tim medis melakukan pemeriksaan.


Di depan ruang ICU, Karel masih setia menunggu dirinya. Sejak pertama kali Gavin dirawat, lelaki itu tidak pernah absen untuk mengantarnya ke rumah sakit, menemani sampai larut malam kemudian membawanya pulang untuk kemudian di antarkan ke sini lagi keesokan harinya.


"Apa yang terjadi sama Gavin? Kenapa tim medis datang berbondong-bondong?" tanya Karel panik. Lelaki itu tadi sedang duduk anteng di kursi tunggu, sampai kemudian tim medis berlarian menuju ruang ICU sehingga membuatnya panik bukan main.


"Gavin ... udah sadar." Suara Kalea tertahan. Ini aneh, padahal seharusnya dia senang karena Gavin akhirnya sadarkan diri setelah seratus hari lebih tertidur. Tetapi dia justru merasakan dadanya begitu sesak.


"Gavin udah sadar, Rel," ulangnya, disusul air mata yang tiba-tiba saja menetes dan dalam sekejap dia mulai terisak-isak.


Karel jelas panik. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang ICU karena memang hanya satu orang aja yang diijinkan masuk dalam sekali waktu. Dia berjalan maju, menarik Kalea ke dalam pelukan demi membantu perempuan itu menuntaskan tangis.


"Nggak apa-apa, nangis aja." Bisiknya. Usapan yang dia berikan sekarang bukan cuma bersarang di punggung Kalea, tetapi juga di helaian rambut perempuan itu.


Kalea menangis cukup lama di dalam pelukan Karel. Sampai tiba-tiba, dia menarik diri dari pelukan Karel dan menoleh ke arah pintu ruang ICU ketika dokter dan perawat yang tadi masuk muncul dari sana.


"Gimana keadaan Gavin, dok?" Karel mewakili pertanyaan yang hendak Kalea lontarkan. Lelaki itu memegangi bahu Kalea, terus memberikan usapan-usapan halus untuk menyelesaikan isakan yang masih tersisa.

__ADS_1


"Sejauh ini, kondisi pasien bisa dikatakan baik. Tetapi kita masih harus melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada penurunan fungsi otak dan organ-organ lain pasca koma yang pasien alami." Jelas sang dokter.


"Untuk beberapa hari ke depan, pasien masih harus dirawat di ICU untuk dipantau lebih lanjut perkembangannya. Kita bantu doa supaya keadaan pasien bisa berangsur membaik dan segera dipindahkan ke ruang rawat." Lanjut sang dokter.


Karel mengangguk paham. Kemudian dokter dan beberapa perawat tadi pamit undur diri setelah menginfokan bahwa pasien tetap bisa dikunjungi dengan catatan untuk tidak diajak berkomunikasi terlalu banyak karena dikawatirkan pasien akan terlalu memaksakan kerja otaknya.


"Doa kita udah didengar sama Tuhan," bisik Karel setelah mereka hanya tinggal berdua saja di depan ruang ICU. "Jangan nangis lagi, Gavin nggak akan senang lihat lo nangis. Choco juga pasti capek lo ajak sedih terus." Sambungnya.


Kalea tidak menjawab, dia malah bergumam sendiri di dalam hati. Mengadu bahwa nama yang pertama kali Gavin sebut bukanlah namanya, melainkan nama perempuan lain.


Kalea tidak bisa mengatakan itu kepada Karel. Karena, permalasahan Irina dan Taruna benar-benar hanya menjadi rahasia antara dirinya, Bunda dan Papa Jonathan saja. Dia menutuskan untuk tidak memberi tahu Karel dan kedua orang tuanya karena takut mereka akan memojokkan Gavin.


"Udah, ya, jangan nangis lagi." Bisik Karel lagi, dan Kalea cuma bisa mengangguk.


...****************...


Dua jam setelahnya, Kalea memberanikan diri masuk lagi ke dalam ruang ICU. Gavin kembali terlelap, membuatnya kembali merasa takut kalau-kalau terlelapnya Gavin kali ini akan membuat lelaki itu tidak akan bangun lagi.


Kalea duduk di kursi, memandangi Gavin cukup lama sebelum akhirnya kembali meraih tangan lelaki itu untuk dia simpan di dalam genggaman. Tangan itu sudah tidak sedingin sebelumnya, membuat ketakutan berkurang lagi sedikit.


"Makasih udah mau bangun, Abang." Itu jadi kalimat pertama yang dia ucapkan setelah terdiam cukup lama. Tatapannya tertuju lurus pada tangan Gavin yang sedang dia genggam.


"Jujur aja, aku sedih waktu kamu sebut nama Irina tadi." Adunya, merasa cuma di depan Gavin saja dia bisa mengadukan soal ini. "Tapi nggak apa-apa, aku nggak akan berpikir negatif sama kamu. Nggak apa-apa, Abang. Nggak apa-apa." Lama-kelamaan, suaranya mengecil, dan dia kembali menangis. Meskipun kali ini tangisnya cenderung lebih tenang dan tidak sampai terisak-isak.


"Pelan-pelan, ya, Abang. Kita selesaikan masalah kita pelan-pelan."


"Irina ...." lirih Gavin tiba-tiba, membuat Kalea buru-buru mengusap air matanya dan menatap ke arah Gavin yang ternyata sudah membuka mata.


"Irina ...." lirih Gavin lagi.

__ADS_1


"Kamu mau ketemu sama Irina? Mau aku panggilkan Irina ke sini?" tawar Kalea, sekuat hati menahan sesak di dadanya saat dia harus berkali-kali menyebut nama perempuan itu.


Dia sudah hendak bangkit dari kursi (meksipun tidak bisa gesit karena perutnya yang sudah membesar), namun Gavin menggenggam tangannya erat seolah tidak ingin dia pergi.


"Aku keluar sebentar buat telepon Irina. Kamu mau ketemu sama dia, kan?" tanyanya, berusaha melepaskan genggaman tangan Gavin.


Namun, Gavin malah menggelengkan kepala pelan. Lalu, Kalea dibuat panik saat Gavin tiba-tiba saja bergerak membuka masker oksigen yang terpasang untuk membantu lelaki itu bernapas. Kalea hendak memasangkan kembali masker oksigen itu, tetapi Gavin mengisyaratkan untuknya kembali duduk.


"Bahaya, Gavin. Kondisi kamu masih belum stabil, masih butuh-"


"Irina," sela Gavin, membuat Kalea mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Ini soal Irina," ucap Gavin lagi, dengan suara yang begitu lirih dan napas yang terlihat susah payah diambil. Tatapan lelaki itu tampak sendu.


"Irina kenapa?" Kalea bertanya dengan sabar. Genggaman Gavin terasa semakin erat, dan dia cuma bisa membalas genggaman tangan itu sambil berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mendengar apapun yang akan Gavin katakan.


"Irina ... nggak ... Irina nggak hamil anak saya, Kal." Kata Gavin susah payah.


"Saya nggak pernah ... nggak pernah sentuh dia, saya-"


"Iya, aku tahu." Kalea menganggukkan kepala, air matanya kembali meleleh tanpa bisa dicegah.


"Aku tahu, Gavin. Aku tahu." Ulangnya. Lalu, dia membantu Gavin untuk mengenakan kembali masker oksigennya karena lelaki itu masih terlihat kepayahan untuk bernapas sendiri tanpa bantuan ventilator.


"Aku tahu kamu mau jelasin banyak hal sama aku, tapi nggak perlu buru-buru. Pelan-pelan aja, Gavin. Aku nggak akan ke mana-mana, kok." Seulas senyum dipersembahkan di tengah tangis yang masih belum reda.


"Pelan-pelan aja, oke?" ulangnya, lalu tangisnya makin pecah saat air dia lihat air mata Gavin meleleh.


Bersambung

__ADS_1


Kal, Vin, ayo kita tamat, Nak, ibu udah lelah melihat drama kehidupan kalian 😭😭


__ADS_2