
Esok paginya, Kalea terbangun lebih awal. Bukan karena rasa kantuknya sudah hilang, melainkan karena rasa mual yang teramat sangat kembali menyerangnya.
Kaela berlarian tunggang-langgang menuju kamar mandi, nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri, namun akhirnya dia berhasil sampai di depan closet tepat waktu. Karena baru saja dia mencondongkan tubuhnya ke closet, dia kembali memuntahkan isi perutnya.
Karena semalam perutnya sudah terkuras bersih, apa yang keluar dari mulutnya sekarang ini cuma berupa cairan yang berakhir membuat pangkal lidahnya terasa pahit.
Setelah yakin tidak akan ada lagi yang bisa keluar dari mulutnya, Kalea menjauh dari closet.
Dia terduduk lemas di lantai kamar mandi (yang untungnya dalam keadaan kering), menyandarkan punggung dan kepalanya di tembok. Matanya terpejam, napasnya pendek-pendek dan detak jantungnya meningkat secara signifikan. Badannya juga berkeringat sangat banyak, padahal dia sama sekali tidak merasa gerah.
Beberapa saat kemudian, ketika napas dan detak jantungnya mulai berangsur normal, Kalea membuka matanya karena merasakan sebuah sentuhan di keningnya. Ada Gavin di sana, berjongkok di depannya sambil menatapnya khawatir.
"Kayaknya kita memang harus ke rumah sakit deh, Kal. Kamu pucat banget, saya khawatir." Gavin menyeka keringat yang membasahi wajah Kalea menggunakan tangannya. Sesekali mengusap pipi perempuan itu yang telah kehilangan ronanya.
Sesaat, Kalea sempat terbuai pada sentuhan dan perhatian yang Gavin berikan. Tetapi saat dia mengingat kembali bahwa hubungan mereka tidak sedang sebaik itu, Kalea menepis pelan tangan Gavin dari wajahnya.
Lalu dengan susah payah, dia berusaha bangkit dengan usahanya sendiri sambil berpegangan tembok di belakangnya. Dia sempat terhuyung dan hampir jatuh, Gavin juga sudah siap menangkap tubuhnya, tetapi dia bersikeras untuk berusaha tegak tanpa bantuan Gavin.
"Kamu nggak kerja?" tanya Kalea setelah berhasil menegakkan kembali badannya. Tatapannya masih sedatar kemarin, seolah di sana, sudah tidak tersisa lagi perasaan untuk lelaki yang berdiri di hadapannya kini.
"Nggak. Saya mau ambil cuti lagi selama seminggu ke depan." Gavin menjelaskan, dengan tatapan yang tak lepas dari manik boba Kalea.
__ADS_1
"Jangan keseringan ambil cuti," ucapnya.
"Kamu harus bertanggung jawab sama pekerjaan kamu. Jangan jadi contoh yang nggak baik untuk orang-orang yang kamu pimpin." Kalea tidak tahu bagaimana sebuah perusahaan bekerja karena dia tidak pernah tertarik pada hal-hal semacam itu. Tapi dia selalu meyakini kalau sebuah perusahaan bisa berjalan dengan baik jika pemimpinnya mampu untuk mengatur dirinya sendiri dan orang-orang di bawahnya.
"Urusan perusahaan bisa saya kerjakan kapan saja, Kal. Tapi saya cuma punya waktu seminggu untuk bersama dengan kamu. Kamu pikir, saya akan merelakan satu minggu yang berharga itu hanya untuk mengurusi perusahaan yang sedari awal memang nggak pernah jadi milik saya?" Gavin berkata demikian dengan hati yang perih.
Kemudian, dia menggeleng pelan. "Nggak, Kal. Bahkan kalau saya harus menyerahkan hidup saya untuk ditukar dengan satu minggu bersama kamu, saya akan dengan senang hati melakukannya."
Dengan perkataan itu saja, Kalea berhasil dibuat terdiam. Tidak tahu apa alasannya, dia ikut sakit hati saat Gavin menyebut bahwa dirinya tidak pernah berhak untuk perusahaan yang sekarang dia bantu urus. Seolah dia bisa ikut merasakan betapa nelangsanya Gavin selama ini, ketika dia terpaksa bertahan di tempat yang orang-orang di dalamnya tidak mau menerima kehadirannya.
Tiba-tiba saja, Kalea merasa dadanya sesak. Ada kesedihan yang terlalu sulit untuk dijelaskan. Jadi, Kalea memilih untuk pergi meninggalkan Gavin sebelum air matanya keluar tanpa dia kehendaki.
...****************...
Tengah hari bolong, Kalea ngidam menonton serial netflix yang sebenarnya sudah pernah dia tonton. Ini agak aneh, karena biasanya dia tidak pernah menonton serial yang sama dua kali, sebab menurutnya feel-nya sudah tidak akan terasa lagi.
Kalea fokus menatapi layar televisi besar di kamar, duduk anteng di atas kasur sembari nyemil buah apel. Iya, dia masih tidak bisa memasukkan makanan lain ke dalam mulutnya selain buah apel. Karena setiap kali dia mencoba menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, dia akan kembali merasa mual.
Sejak pagi tadi, dia sudah beberapa kali bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya (yang padahal tidak berisi apa-apa selain cairan dari air yang dia minum). Barulah setelah hari menjelang siang, kondisinya membaik dan Gavin berinisiatif memberinya apel agar perutnya tidak benar-benar kosong. Dan, yah, ternyata perutnya tidak menolak kehadiran buah apel.
Kalea masih menikmati jalannya cerita sambil mengunyah apel, sampai tiba-tiba serial yang dia tonton sampai pada adegan sedih, yang seketika membuatnya tergugu. Kalea menangis, terisak-isak hanya karena sebuah adegan yang sebenarnya tidak sedih-sedih amat.
__ADS_1
Reaksi Kalea tersebut membuat Gavin yang duduk di atas kasur lantai dan menemaninya menonton tanpa bersuara itu bergerak cepat menghampiri. Lelaki itu tampak panik saat mendudukkan dirinya di tepian kasur.
"Hei, hei, it's okay, itu cuma akting." Katanya, berusaha menenangkan Kalea sembari mengusap pelan bahunya.
Namun, bukannya mereda, tangis Kalea malah semakin menjadi-jadi. Isakannya semakin terdengar lirih dan menyakitkan, membuat Gavin meringis karena dia seperti bisa ikut merasakan apa yang Kalea rasakan saat ini.
Karena tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menenangkan Kalea dan dia ingat kalau perempuan itu suka dipeluk saat sedang sedih, Gavin pun terdiam sejenak, menimbang apakah dia harus memeluk istrinya ini atau tidak.
Lalu, karena kepalanya sudah buntu, Gavin semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Kalea, kemudian berbisik pelan di telinga perempuan itu.
"Boleh saya peluk? Kamu biasanya suka dipeluk kalau lagi sedih,"
Kalea, dengan isakan yang semakin menjadi-jadi, menganggukkan kepala. Jadi tanpa menunggu lama, Gavin menarik tubuh Kalea ke dalam pelukannya, mengusap-usap punggung perempuan itu demi memberikan kenyamanan.
"Its okay, Boo. Its okay."
Mendengar panggilan Boo mengudara, Kalea semakin merasa dadanya sesak. Tiba-tiba saja dia merasa takut. Bagaimana kalau hidupnya akan memburuk jika dia benar-benar melepaskan Gavin setelah satu minggu nanti? Bagaimana kalau dia tidak akan bisa terbiasa tanpa kehadiran laki-laki ini? Tanpa pelukannya, tanpa kata-kata menenangkan yang selalu digaungkan setiap kali resah mendatanginya?
Mungkin karena pemikiran itu datang bertubi-tubi dan seolah tanpa henti, Kalea jadi terdorong untuk mengeratkan pelukannya di pinggang Gavin. Membenamkan wajahnya di dada bidang Gavin selagi hidungnya mengendus dalam-dalam aroma tubuh lelaki itu, yang pasti akan dia rindukan nantinya.
Bersambung
__ADS_1