Serana

Serana
Tell Me Your Problem, I'll Chase Them Away


__ADS_3

Sejak kembalinya Gavin dari perbincangannya dengan Taruna, lelaki itu lebih banyak diam. Dia hanya menyahuti pertanyaan yang Kalea lemparkan sekenanya, dan bahkan sama sekali tidak meninggapi guyonan yang Karel buat.


Melihat itu, Karel dan Kalea dibuat kebingungan. Mereka saling pandang untuk waktu yang cukup lama, seolah sedang bertukar pikiran melalui tatapan yang mereka lemparkan kepada satu sama lain.


Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore dan Bunda baru saja pamit pulang untuk menyiapkan segala keperluan Papa Jonathan agar ketika lelaki itu pulang, semuanya sudah siap. Sedangkan Mama dan Papa hari ini tidak datang, mereka sedang mengurus beberapa hal. Jadi, sedari tadi, tidak ada yang bisa membantu Karel dan Kalea untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada Gavin.


"Laki lo kesambet setan dari pohon besar di rumah sakit kali, ya?" bisik Karel yang kini duduk di tepian ranjang. Sedari tadi, matanya tidak lepas dari sosok Gavin yang mendudukkan diri di sofa dan terlihat sedang merenung.


"Emang di pohon itu ada setannya?" Kalea balas berbisik.


"Banyak." Sahut Karel asal. Padahal, mana dia tahu di pohon itu betulan ada setannya atau tidak. Pernah ketemu juga tidak.


"Perlu panggil ustadz?" tanya Kalea dengan polosnya.


Karel terdiam sejenak, menatap Kalea lekat-lekat sebelum akhirnya menyentil pelan kening perempuan itu. Sangat pelan, supaya perempuan itu tidak berteriak kesakitan.


"Beda server, dodol." Omel Karel masih dengan suara teramat pelan. "Kan, kita Kristen. Emang mempan kalau yang ngusir setannya ustadz?"


Kalea mengendikkan bahu. "Kan, siapa tahu setannya Islam."


"Iya juga, sih." Gumam Karel. Tapi sedetik kemudian, dia kembali menatap Kalea dan melotot. "Jangan bercanda! Ini lagi serius."


"Kan, kamu yang mulai ngomongin soal setan." Kalea mendelik. Tidak terima kalau dia justru berakhir diomeli karena mengatakan sesuatu yang padahal Karel duluan yang memancing.


Karel mendengus dengan bibir berkomat-kamit, seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra pengusir setan.


"Mending lo sekarang samperin laki lo, terus tanya dia kenapa." Saran Karel. Sumpah, sedari kemarin dia sudah melihat banyak adegan awkward yang terjadi di sekitarnya. Mulai dari interaksi Gavin dan ayahnya yang terkesan canggung, laki-laki bernama Taruna yang tiba-tiba datang membawakan buket bunga, dan sekarang sikap Gavin yang aneh. Dia tidak ingin melihat lebih banyak kejadian aneh lagi, demi kebaikan jiwa dan raganya.


"Nanyanya gimana?"


Karel gemas sekali. Ingin rasanya dia gigit pipi Kalea sampai bolong, atau meremas kedua belah pipi itu sampai memerah dan si empunya menjerit minta ampun. Perkara bagaimana bertanya apa yang sedang terjadi pada suaminya saja perempuan itu harus bertanya kepadanya? Benar-benar.

__ADS_1


"Ya lo tinggal samperin, terus bilang 'Sayang, kamu kenapa? Kok dari tadi diam aja? Ada masalah? Sini cerita sama aku.' Udah, gitu doang, beres." Kata Karel enteng. Seolah dia bisa melakukan apa yang dia katakan kepada Kalea dengan mudah.


"Aku nggak pernah manggil Gavin sayang."


Karel menepuk keningnya sendiri. Sepertinya, dia akan menyerah saja untuk menjadi teman Kalea. Menjadi guru les taekwondo untuk bayi baru lahir sepertinya lebih mudah ketimbang menjadi teman perempuan ini.


"Terserah deh, terserah. Lo mau manggil dia sayang kek, babi kek, anjing kek, terserah. Yang penting intinya lo tanya dia kenapa." Nada suara Karel mulai meninggi. Lalu ketika dia sadar, dia menoleh ke arah Gavin untuk memeriksa apakah suaranya itu sampai di telinga Gavin.


Dan ternyata, lelaki itu masih tidak bergerak dari tempatnya dan kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Karel menghela napas lega karena itu artinya Gavin mungkin tidak mendengar kata-katanya.


"Udah, sana buruan." Karel menarik pelan lengan Kalea. Sedikit mendorong punggung kecilnya agar segera berjalan ketika perempuan itu sudah berhasil menapakkan kaki di lantai.


"Gue keluar dulu, kalau kalian udah selesai ngobrol, gue baru balik lagi." Kata Karel kemudian segera melesat pergi dari ruangan itu setelah sempat melirik ke arah Gavin sekali lagi.


Setelah kepergian Karel, Kalea berjalan pelan menghampiri Gavin sambil memegang kantong cairan infusnya tinggi-tinggi hingga melebihi kepala.


"Gavin," panggilnya pelan.


"Kenapa, Kal? Kamu butuh sesuatu?" tanya Gavin sembari buru-buru bangkit dari sofa. Dia segera merebut kantong cairan infus yang Kalea pegang dan mengangkatnya lebih tinggi.


"Kenapa nggak panggil saya aja? Nggak perlu sampai samperin saya ke sini." Satu tangan Gavin meraih pundak Kalea, membalikkan tubuh perempuan itu dan menuntunnya untuk kembali ke ranjang.


"Kamu kelihatan nggak fokus, jadi aku nggak yakin kamu akan dengar kalau aku panggil." Kata Kalea sembari sedikit mendongak untuk menatap Gavin.


Langkah kaki Gavin terhenti. Dia menoleh dan menatap Kalea sekilas sebelum kembali melanjutkan langkah dengan tatapan lurus ke depan.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Kalea selagi Gavin membantunya naik kembali ke atas ranjang. Dengan hati-hati, lelaki itu memasang kembali kantong infus di tiang dan memastikan cairannya tidak mengalir berbalik.


"Nggak ada." Gavin menjawab singkat. Tetapi karena lelaki itu masih tidak mau beradu tatap dengannya, Kalea tahu Gavin sedang menyembunyikan sesuatu.


"Mau cerita, nggak?"

__ADS_1


Gavin yang sedang menarik selimut untuk menutupi kaki Kalea praktis berhenti. Dia kembali menatap Kalea.


"Cerita soal apa?" tanya Gavin kemudian melanjutkan kegiatannya memasangkan selimut hingga menutupi ke pangkal paha Kalea.


"Masalah kamu. Just tell me your problem, Gavin. And I'll chase them all away." Kata Kalea dengan lagak sok bisa.


Padahal, seandainya Kalea tahu apa yang kini sedang mengganggu pikiran Gavin, dia mungkin akan jadi orang pertama yang memutuskan untuk pergi.


"Gimana caranya kamu akan usir mereka?" tanya Gavin setelah mendukkan dirinya di kursi. Dia meraih tangan kiri Kalea yang dipasangi selang infus. Mengusapnya tepat di bagian yang tertancap jarum dengan lembut, berharap sentuhan kecil itu bisa sedikit meringankan nyeri yang mungkin terasa.


"Kasih tahu aku dulu masalahnya, supaya aku juga bisa kasih tahu kamu cara ngusirnya." Kalea menegakkan punggung. Sedikit mencondongkan tubuh ke arah Gavin untuk melihat ekspresi di wajah lelaki itu dengan lebih jelas.


"Tell me, Gavin." Desaknya dengan tatapan serius.


Gavin tersenyum, membawa tangan Kalea yang sedari tadi dia genggam ke depan wajahnya kemudian melabuhkan sebuah kecupan di punggung tangan itu. Lalu, Gavin kembali menatap Kalea lekat-lekat.


"I think I'm fallin in you, Kal. Deeply and slowly." Kata Gavin dengan suara rendah, yang demi Tuhan membuat Kalea ingin segera menenggelamkan diri ke dalam lautan lepas, saking salah tingkahnya.


"That's the problem." Sambung Gavin, dengan tatapan yang kian lekat dan dalam. "Tell me, how will you take responsibility for that?"


Seketika itu juga, Kalea lupa bahwa tujuan awalnya adalah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi kepada Gavin dan membuat lelaki itu bercerita kepadanya.


Karena kini pipinya sudah terasa panas dan mungkin telah berubah warna menjadi merah, Kalea segera menarik tangannya dari genggaman Gavin lalu buru-buru berbaring dengan posisi miring ke kanan, membelakangi lelaki itu.


"Aku ngantuk, mau tidur." Dia berkata pelan, berusaha untuk tidak menampakkan kegugupannya melalui suaranya yang padahal terdengar jelas sedikit bergetar.


"Tapi ini masih sore."


"Aku lagi sakit, jadi bebas mau tidur kapan aja." Sahut Kalea sembari pura-pura memejamkan mata.


Di belakangnya, Gavin terkekeh. Meskipun pada kenyataannya, jauh di dalam hatinya dia sedang menangis dan meratapi banyak hal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2