
Venue acaranya didominasi warna putih, berpadu apik dengan warna biru muda dan pink yang cantik. Kalea sudah berkeliling, memeriksa bagian mana yang kiranya terasa kurang. Namun sekali lagi ia merasa tidak ada yang kurang sama sekali. Semua pihak sudah bekerja dengan baik, itu yang ia pikirkan.
Tapi Gavin tampaknya masih tidak puas pada beberapa hal sehingga ia beberapa kali mendapati lelaki itu berjalan menghampiri pihak wedding organizer yang sedang mengurus persiapan lain untuk mendiskusikan entah apa. Kalea enggan mengikuti kemana langkah kaki Gavin pergi, sebab ia terlalu lelah. Lagi pula, sudah jadi rahasia umum kalau Kalea itu orangnya pemalas. Jadi, di sinilah ia sekarang, duduk di salah satu kursi untuk tamu undangan sembari memukul pelan betisnya yang terasa pegal. Hah...salahnya sendiri karena memakai heels, padahal sudah paling betul pakai sneaker saja seperti biasanya.
Saat sedang memijat betisnya yang kaku, ponsel di dalam tas tangan yang ia geletakkan di atas meja berdering. Kalea kalang kabut merogoh tas karena orang-orang mulai memandanginya sebab dering yang dihasilkan oleh ponselnya terlalu nyaring. Atau barangkali, orang-orang itu menandanginya karena nada dering yang ia pakai terdengar asing.
"Halo." Sapa Kalea setelah menggeser cepat tombol hijau tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa yang menelepon.
"Lo di mana?!" sahut yang di seberang dengan suara yang membahana.
Kalea nyaris melempar ponselnya ketika suara nyaring Karel menyala indera pendengarannya, membuat gendang telinganya bergetar seolah baru saja mendengarkan suara dengan frekuensi yang tidak seharusnya didengar oleh telinga manusia.
"Di hotel."
"Di hotel?! Ngapain di hotel?! Heh, jangan main-main lo ya! Mentang-mentang mau nikah, terus udah seenaknya aja main di hotel! Pulang sekarang!"
Kalea cuma bisa memutar bola mata jengah saat Karel terus-menerus nyerocos dari seberang. Ia memang tidak memberitahu Karel kalau setelah dari butik ia dan Gavin akan pergi ke hotel untuk mengecek lokasi acara. Tapi, bukan berarti lelaki itu harus berteriak seheboh ini, benar?
"Kok diem aja? Jawab!"
"Kamu bisa nggak sih kalau ngomong tuh biasa aja? Nggak usah heboh." Kata Kalea malas. Ia sudah sering berkata begini pada Karel, tapi agaknya bocah tengik itu memang sudah terbiasa berteriak-teriak seperti sedang hidup di tengah hutan.
"Masalahnya lo pergi ke hotel sama cowok ya, Kaleooo! Gimana bisa gue nggak heboh, hah?!"
"Aku ke hotel buat survey lokasi acara, bukan mau macem-macem kayak apa yang kamu pikirin." Jelas Kalea. Kentara sekali kalau ia sedang kesal.
"Ya siapa yang nggak bakal mikir macem-macem kalau lo ditanya lagi di mana terus jawabnya lagi di hotel?!"
"Aduh, terserah deh. Aku pusing dengerin kamu ngomel-ngomel. Kalau masih mau ngomel-ngomel, mending aku tutup aja teleponnya ya." Kalea sudah ancang-ancang untuk mematikan sambungan telepon, namun Karel dengan cepat menahan.
"Jangan! Gue mau ngomong penting!"
Kalea menempelkan kembali ponsel ke telinga, dengan sabar menunggu sampai Karel menyampaikan tujuan utamanya menelepon. Tapi laki-laki itu justru terdiam dan tak kunjung buka suara, membuat Kalea menghela napas kesal dan sudah siap untuk menyembur Karel dengan segala macam sumpah serapah yang sering ia lihat dan dengar dari drama Korea favoritnya.
Tapi belum sempat kalimat sumpah serapah itu terucap, Kalea sudah lebih dulu dibuat melongo saat sebuah suara yang nyaring terdengar dari seberang. Bukan suara Karel yang sedang berbicara, melainkan suara kentut yang begitu membahana hingga membuat Kalea kehilangan separuh nyawanya. Kalea termenung cukup lama dengan rahang yang jatuh. Penampilannya kini sungguh tidak anggun, tidak layak untuk dipertontonkan kepada orang-orang yang sedang berlalu-lalang di sekitarnya.
Seharusnya, Kalea segera memaki Karel dengan sumpah serapah yang sudah dia simpan apik di dalam kepala, karena kini bocah kurang ajar itu sudah lebih dulu kabur dan mematikan sambungan telepon setelah meninggalkan trauma yang akan membekas untuk waktu yang cukup lama bagi Kalea.
Kalea lemas, ia merasa tak berdaya. Sepertinya, apa yang Gavin katakan ada benarnya juga. Mungkin seharusnya ia berteman dengan lebih banyak orang agar bisa menetralisir efek negatif yang ditimbulkan dari hubungan pertemanannya dengan Karel. Karena kalau sudah begini, ia bisa apa?
"Bajingan!"
"Hah?"
Kalea membungkam mulut dengan kedua tangan saat kata umpatan itu lolos dari bibirnya tepat ketika Gavin kembali ke hadapannya. Kini, lelaki itu menatapnya keheranan. Mata kelamnya seolah berkata: aku salah apa? kok dikatain bajingan? yang membuat Kalea serasa ini melemparkan diri ke planet Saturnus sekarang juga.
"Kesurupannya masih berlanjut?" tanya Gavin, mulai kembali bergidik ngeri saat mata mereka bertemu.
__ADS_1
"Aku nggak kesurupan, ya!" pekik Kalea. Nada suaranya naik beberapa oktaf. Tapi sebenarnya itu bukan karena ia betulan kesal, tapi lebih karena ia merasa malu dan sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menaikkan nada bicaranya demi menyembunyikan rasa malu.
"Terus kenapa tiba-tiba marah-marah? Kok ngatain saya bajingan? Emang saya ngapain?"
"Bukan kamu yang bajingan," Kalea bangkit, segera menyambar tas tangan dari atas meja lalu memasukkan kembali ponselnya.
"Terus?"
"Nggak ada terus terus, nanti nabrak."
"Saya serius."
Kalea menghela napas. Ia lupa kalau Gavin ini kadang juga sama keras kepalanya dengan dirinya. Dalam beberapa kesempatan, ketika lelaki ini ingin tahu sesuatu, maka ia akan terus mendesak Kalea untuk memberitahunya. Gavin tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Tapi sumpah demi apapun, Kalea tidak ingin menjawab pertanyaan Gavin yang ini.
Karena bagaimana bisa ia menceritakan kepada Gavin tentang tingkah konyol Karel yang rela bersusah payah meneleponnya hanya untuk memamerkan suara kentut yang sama sekali tidak merdu? Oh, tidak akan. Kalea tidak bisa membayangkan betapa Gavin akan melihatnya sebagai manusia aneh yang berteman dengan manusia aneh lainnya.
"Kalea," desak Gavin lagi.
"Aku laper. Mending kita cari makan, daripada aku kesurupan lagi." Ucap Kalea pada akhirnya. Pura-pura kesurupan di saat seperti ini kedengarannya tidak terlalu buruk.
"Jadi sekarang kamu ngaku kalau tadi itu kamu kesurupan?" Gavin menaikkan sebelah alisnya, dan itu menyebalkan.
"Gavin, bisa nggak sih iyain aja omongan aku tanpa banyak tanya ini itu? Kamu lama-lama bawel, kayak Karel."
Apanya yang tidak mau disamakan? Padahal Gavin dan Karel itu memang mirip. Keduanya menyebalkan walau dengan cara yang berbeda. Dalam beberapa kesempatan, Kalea juga menemukan Gavin sama cerewetnya dengan Karel. Saat lelaki itu memarahinya karena telat makan, misalnya. Kecepatan berbicaranya sudah seperti rapper top dunia yang lagunya merajai tangga lagu selama berminggu-minggu. Intinya Gavin itu sebetulnya sebelas dua belas dengan Karel, hanya saja dia sedikit lebih tampan ketimbang Karel.
Kalea mendengus sebal, namun tetap mengayunkan langkah demi menyusul Gavin.
"Tungguin!" teriak Kalea saat Gavin sudah melangkahkan jauh di depan, seolah tak menggubrisnya sama sekali.
Ketika ia berhasil menyejajarkan langkah dengan Gavin dan mereka sampai di lobby, Kalea tidak sengaja melihat sosok yang tidak asing tengah berdiri di depan meja resepsionis dengan membawa sebuah koper berukuran sedang. Langkahnya otomatis terhenti, membuat Gavin dibuat bingung hingga akhirnya ikut-ikutan berhenti mengayunkan kaki.
Kalea memicing, berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang salah lihat. Kemudian saat orang itu menoleh dan mata mereka bertemu dalam jarak yang lumayan jauh, Kalea akhirnya tahu kalau dia memang tidak salah lihat. Maka dengan semangat menggebu juga senyum yang tersungging lebar, Kalea berlari menghampiri orang itu yang juga sedang tersenyum kepadanya. Meninggalkan Gavin yang masih tidak bisa mencerna situasinya.
"Irina!" panggil Kalea saat sudah berada tepat di hadapan perempuan itu. Ia perlu sedikit mendongak untuk bisa bertatapan dengan Irina sebab postur tubuh perempuan itu memang lebih tinggi darinya.
"Halo, Kalea." Irina balik menyapa dengan senyum yang kian terkembang.
"Oh my God, you remember my name." Kalea tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya hanya karena Irina mengingat namanya.
"Why not? Nama kamu cantik, just as beautiful as you."
"Orang cantik yang ngatain orang lain cantik." Kalea mencebik, namun sedetik kemudian, ia kembali tersenyum.
"Omong-omong, kamu sekarang udah tahu siapa saya?" tanya Irina yang sontak membuat Kalea bersemangat.
__ADS_1
"Ofcourse. Kamu salah satu model andalan di KL Group." Senyum Kalea kian lebar, tapi hal itu justru mengundang kerutan lain di kening Irina. Karena, dari sekian banyak orang yang ia temui belakangan ini, cuma Kalea yang menjawab demikian. Cuma Kalea yang tidak membahas tentang rumor kencannya dengan Gabriel Permana. Cuma Kalea yang justru dengan semangat menyebutnya sebagai model andalan alih-alih tante girang seperti yang sering ia dengar akhir-akhir ini.
"Model andalan apanya, yang ada saya ini beban perusahaan." Irina tersenyum miris di akhir kalimat. Itu bukan keinginannya, terlibat skandal dengan bocah bau kencur sama sekali tidak masuk ke dalam daftar kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya. Jadi ketika rumor kencannya dengan Gabriel menyeruak hanya karena mereka beberapa kali kedapatan berada di satu tempat yang sama, ia cuma bisa mencibir takdir yang terkesan suka bermain-main dengan dirinya. Padahal ia membangun karir ini dengan susah payah. Padahal sudah banyak keringat dan air mata yang dia tumpahkan untuk bisa di titik ini. Dan si bocah bau kencur bernama Gabriel itu tidak seharusnya hadir untuk memperburuk semuanya.
"Siapa yang berani ngatain kamu beban? Sini, biar aku tinju mukanya sampe babak belur nggak berbentuk."
Irina tergelak saat Kalea menunjukkan kepalan tangan ke depa wajahnya. Dengan raut yang begitu serius, gadis itu seolah bisa betulan melayangkan tinju kepada siapapun yang berani menganggunya.
"Omong-omong, kamu ngapain di sini?" tanya Kalea kemudian saat perhatiannya kembali teralih pada koper besar yang ada di sisi tubuh Irina.
"Bosen di apartemen, jadi mau stay selama beberapa hari di sini, sekalian ngerjain beberapa kerjaan. Ya, hitung-hitung healing biar nggak sinting. Saat mengatakan itu, Kalea melihat pandangan Irina tertuju ke arah lain. Jadi ia mengikuti arah pandang perempuan itu dan menemukan Gavin sudah berdiri menjulang di sebelahnya.
Sadar bahwa Irina dan Gavin sama-sama terlihat kebingungan karena belum saling mengenali, Kalea pun berinisiatif untuk memperkenalkan mereka kepada satu sama lain.
"Oh iya, Irina, kenalin, ini Gavin, calon suami aku." Kata Kalea. Sedikit memelankan suara saat menyebut kata calon suami karena sejujurnya ia masih tidak terbiasa. Rasanya masih aneh saja saat menyebut Gavin dengan sebutan itu. Karena rasanya baru kemarin mereka bertemu dan saling mengenal nama masing-masing.
Irina tampak tersenyum lebih lebar, tangannya terulur ke arah Gavin dan tidak butuh waktu lama untuk lelaki itu menyambut uluran tangannya.
"Salam kenal, saya Irina." Ucap Irina dengan suara yang terdengar begitu anggun di telinga Kalea.
"Gavin." Berbeda dengan Irina yang terkesan ramah, Gavin justru terlihat tidak terlalu berminat untuk berkenalan dengan perempuan itu. Well, Kalea paham. Bunda pernah mengatakan padanya bahwa Gavin hanya akan beramah-tamah kepada orang-orang yang dia kehendaki saja. Selain itu, ia akan bersikap dingin dan cenderung terkesan tidak bersahabat. Jadi Kalea tidak terlalu memusingkan respon Gavin sekarang.
"Saya mau menelepon sebentar." Pamit Gavin setelah menarik kembali tangannya, membuat Kalea keheranan namun tetap menganggukkan kepala. Lelaki itu kemudian berjalan cepat meninggalkannya dan Irina.
Selepas Gavin benar-benar tidak nampak lagi dalam jangkauan pandangnya, barulah Kalea kembali menoleh ke arah Irina. "Minggu depan kami menikah. Kebetulan resepsinya digelar di sini, jadi kalau kamu ada waktu, kamu boleh datang." Terang Kalea dengan senyum tipis.
"Saya boleh datang?" tanya Irina keheranan.
Kalea mengangguk mantap. "Boleh."
"But we're totally strangers."
"Nope. Mulai sekarang kita berteman." Kata Kalea, yang sekali lagi berhasil membuat Irina keheranan.
Karena orang macam apa yang akan mengundang orang asing ke acara pernikahannya? Gadis bernama Kalea ini benar-benar menarik rupanya. Pantas saja...ah, Irina menggelengkan kepala saat pikiran sialan itu kembali mampir ke kepalanya. Ia berusaha mengulaskan senyum, kemudian menganggukkan kepala singkat.
"Oke, nanti saya datang."
"Janji?"
Sejujurnya Irina terkejut saat Kalea tiba-tiba mengulurkan jari kelingking ke hadapannya. Namun pada akhirnya Irina hanya tersenyum dan mengulurkan kelingkingnya lalu ditautkan bersama kelingking kecil milik Kalea.
"Janji."
Irina merasakan jantungnya seperti dihujam belati saat senyum Kalea kian lebar. Sementara di belakang tubuh kecilnya, Gavin berdiri beberapa langkah, menatap mereka berdua dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
Bersambung.
__ADS_1