
"Halo?"
Kalea terdiam saat sebuah suara perempuan menyapa dari seberang, menggantikan suara berat milik Gavin yang seharusnya ia dengar begitu telepon ini tersambung. Gerakan mondar-mandir yang sedari tadi ia lakukan otomatis terhenti seiring dengan kebingungan yang mulai menguasai dirinya. Saking bingungnya, Kalea sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga hanya untuk memastikan bahwa ia tidak sedang salah menelepon orang.
Ketika matanya menatap layar ponsel, ia mengembuskan napas pelan. Nama Gavin jelas-jelas tertera di sana. Bahkan bukan cuma namanya saja, foto lelaki itu juga terpampang nyata di layar. Jadi sudah bisa dipastikan kalau Kalea menelepon ke nomor yang benar.
Tapi kenapa ia justru menemukan suara seorang perempuan, terlebih lagi perempuan itu adalah Bi Imah? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Neng?" panggil Bi Imah lagi saat ia tak kunjung menyahut.
"Halo, Bi. Kok hape Gavin bisa ada sama Bi Imah?" tanyanya keheranan. Ia berjalan mendekat ke arah kasur, mendudukkan dirinya di tepian sedangkan tangannya mulai sibuk memilin seprai sembari menunggu Bi Imah menjawab pertanyaannya.
"Ini hape Mas Gavin ternyata ketinggalan di counter dapur, Bibi juga baru tahu. Tadi Bibi ke dapur buat ambil minum, terus denger ada suara hape. Pas Bibi cek ternyata hapenya Mas Gavin."
Kalea mendengarkan penjelasan Bi Imah dengan seksama kemudian menganggukkan kepala. Kalau begini, semuanya jadi masuk akal. Pantas saja Gavin tidak kunjung mengabarinya, rupanya bukan karena lupa atau tidak mau, melainkan tidak bisa karena ponsel lelaki itu tertinggal di rumahnya.
Hah...ada-ada saja. Jadi sedari tadi Kalea menunggu kabar dari seseorang yang bahkan tidak punya akses untuk menghubunginya? Sedikit menyebalkan.
"Hapenya mau Bibi anterin ke kamar Neng Kalea atau gimana?" suara Bi Imah kembali menarik perhatiannya.
Kalea segera bangkit dari duduknya, berjalan cepat menuju pintu sambil berkata, "Nggak usah, Kalea aja yang ke situ. Bibi masih di dapur, kan?"
"Iya, masih Neng."
"Yaudah, tunggu sebentar."
Kalea bergegas keluar dari kamar setelah mematikan sambungan telepon. Kaki kecilnya berjalan cepat menuruni tangga, mengabaikan fakta bahwa rumah sudah dalam keadaan gelap dan ia bisa saja tersandung kalau tidak berhati-hati.
__ADS_1
Sesampainya di dapur, ia menemukan Bi Imah sedang duduk di salah satu kursi sembari memegangi sebuah ponsel. Ketika menyadari kedatangannya, Bi Imah langsung bangkit. Tanpa basa-basi wanita itu mengulurkan ponsel Gavin kepadanya dan ia terima ponsel itu segera.
"Gavin kayaknya hobi banget ninggalin hape." Gerutunya. Kalau diingat-ingat lagi, ia sudah beberapa kali mendapati Gavin meninggalkan ponselnya. Padahal bagi seseorang seperti Gavin, bukankah ponsel adalah salah satu benda yang paling wajib dibawa kemana saja, karena ia perlu menghubungi orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaannya?
"Yaudah, Neng, karena hapenya udah sama Neng Kalea, Bibi pamit kembali ke kamar ya." Ucap Bi Imah.
"Iya, Bi. Makasih."
Setelah Bi Imah berlalu, Kalea kembali terdiam. Ia masih berdiri di tempatnya, memandangi ponsel Gavin yang ada di tangannya untuk waktu yang cukup lama. Sempat terbersit sebuah keinginan untuk memeriksa apa yang ada di dalam ponsel lelaki itu ketika ia menemukan Gavin sama sekali tidak memasang pin di sana. Karena barangkali, ia bisa menemukan sedikit jawaban tenang rasa penasarannya soal hubungan Gavin dan Taruna. Barangkali ia bisa menemukan sedikit kelegaan agar kepalanya tidak semakin ribut dan hatinya tidak bertambah gelisah.
Jemarinya sudah bergerak pelan mengusap layar ponsel Gavin hingga kuncinya terbuka.
Tapi sebelum keinginan itu semakin menjadi-jadi, Kalea buru-buru menggelengkan kepala. Ia berusaha keras untuk mengenyahkan pemikiran bodohnya karena sadar tindakan semacam itu sama sekali tidak pantas. Semua orang memiliki privasi, dan ia jelas tidak mau melanggar privasi milik Gavin.
Akhirnya setelah berhasil mengenyahkan niat itu sepenuhnya dari kepala, Kalea beranjak. Ia tapaki satu demi satu anak tangga sampai ia tiba di lantai dua. Tapi bukannya masuk ke dalam kamarnya, Kalea malah berbelok ke kiri menuju kamar orangtuanya.
Tangannya terulur, meraih kenop pintu dan dengan seenak jidatnya membuka pintu kamar orangtuanya bahkan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Saat pintu itu terbuka, ia menemukan Mama sudah terlelap sedangkan Papa masih terjaga, duduk di atas kasur dengan sebuah iPad di tangan.
"Masih ada kerjaan. Bentar lagi Papa tidur." Papa menjawab dengan mata yang fokus menatap layar iPad.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Nggak bisa tidur." Ucapnya terus terang.
Mendengar itu, Papa mengangkat kepala. Dalam sekejap perhatiannya sudah teralih sepenuhnya kepada Kalea. Papa melepas kacamata baca yang sedang digunakan kemudian meletakkannya ke atas nakas, disusul iPad yang layarnya masih menyala.
"Kenapa?" tanya Papa.
__ADS_1
Kalea mengangkat bahu. "Just can't."
"Mau tidur di sini?" tawar Papa, sudah sepenuhnya lupa pada pekerjaan yang semula menyita seluruh perhatiannya.
"Emang muat?"
"Muat, lah. Lha wong badan kamu cungkring begini kok."
Kalea mendengus sebal saat Papa terkekeh setelah mengatainya cungkring. Namun tak lama setelah itu, ia tersenyum. Tidur bertiga dengan Mama dan Papa sepertinya bukan ide yang buruk. Hitung-hitung menikmati lebih banyak momen bersama sebelum ia resmi menjadi istri Gavin dalam beberapa hari ke depan.
Jadi tanpa menunggu Papa menwarkan untuk yang ke-dua kalinya, Kalea segera naik ke atas kasur. Ia sama sekali tidak berusaha bergerak dengan hati-hati sehingga membuat Papa menggelengkan kepala pelan.
Akibat gerakannya yang bar-bar itu Mama yang semula tertidur lelap mulai bergerak gelisah sampai akhirnya membuka mata. Ketika tatapan mereka bertemu, Kalea menemukan sudut bibir Mama terangkat, membentuk sebuah senyuman yang seketika berhasil membuat hatinya menghangat.
Kemudian Mama mengulurkan tangan, menarik pelan tubuhnya hingga kini ia terbaring di dalam pelukan Mama yang hangat.
"Anak bayi Mama mau tidur di sini?" tanya Mama dengan suara serak. Lalu Kalea merasakan kepalanya diusap pelan sehingga ia otomatis memejamkan mata.
"Aku bukan anak bayi. Tapi, iya. Aku mau tidur sama Mama dan Papa."
"Tidur sama Mama dan Papa tapi yang dipeluk cuma Mama." Itu suara Papa. Terdengar kesal, tapi Kalea jelas tahu bahwa Papa hanya berpura-pura. Jadi ia hanya menanggapi ucapan Papa dengan sebuah tawa renyah sebelum akhirnya ia melepaskan pelukan Mama dan berbalik memeluk Papa.
"Udah tua, jangan suka iri." Katanya dengan suara yang teredam karena kini ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Papa. Aroma parfum Papa yang selama ini menjadi favoritnya langsung memenuhi indera penciuman, membuat keresahan di hatinya perlahan-lahan menyingkir dan tergantikan dengan sebuah perasaan nyaman yang terlalu sulit untuk ia wakilkan dengan kata-kata.
"Nah, giliran Mama yang dicuekin." Kali ini gantian Mama yang protes.
Kalea dan Papa serentak tertawa. Kemudian Kalea melepaskan pelukan Papa, menelentangkan tubuh lalu mendaratkan kedua lengannya masing-masing di perut Mama dan Papa.
__ADS_1
"Nggak usah rebutan." Katanya dengan mata yang terpejam dan senyum yang terkembang sempurna.
Tidak ada lagi protes-protes yang terdengar setelah itu. Karena kini Kalea merasakan tubuhnya dipeluk oleh Mama dan Papa, membuatnya merasa aman, seperti seorang bayi yang tidur lelap dalam kandungan.