
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Irina berlari tergopoh-gopoh menyusul Taruna yang melangkah lebar keluar dari pusat perbelanjaan. Laki-laki itu bahkan tidak menolehkan kepala sama sekali untuk sekadar memeriksa apakah Irina masih ada di belakangnya atau tidak.
Lelah, Irina menghentikan langkah. Heels 11 senti yang sedang dia gunakan semakin memperlambat langkahnya. Ditambah barang belanjaan yang Irina bawa, yang saking banyaknya, sudah seperti orang yang sedang buka jastip barang-barang lucu.
Sementara di depan, Taruna sama sekali tidak mau mengurangi kecepatan langkahnya. Laki-laki itu terus saja mengatur langkahnya lebar-lebar.
"Na!" teriak Irina tepat sebelum Taruna mencapai pintu mobil.
Taruna menoleh, hanya untuk menghela napas kasar dan buru-buru berjalan cepat menghampiri Irina yang sudah berjongkok bagai bocah yang sedang merajuk pada ibunya karena ditinggal.
"Kaki aku sakit..." rengeknya pada Taruna. Tas-tas belanjaan berukuran besar yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu telah terlepas semua dari tangannya, tergeletak tak berdaya di sisi kanan dan kiri tubuhnya.
Taruna menghela napas. Alih-alih menanggapi rengekan Irina dengan kata-kata, Taruna malah berjongkok dan langsung menggotong tubuh Irina. Membuat yang perempuan berjengit kaget.
"Na!" Irina refleks memukul bahu Taruna.
"Diem." Sergah Taruna cepat. Dia sedang buru-buru sekarang, tidak ada waktu untuk mendebat apa pun yang keluar dari bibir Irina.
Melihat respon Taruna, Irina mengatupkan bibir rapat-rapat. Dikalungkannya kedua lengan di leher Taruna dan pasrah saja saat laki-laki itu menggendongnya menuju mobil.
Sampai di mobil, Taruna menurunkannya di kursi penumpang depan, memasangkan seatbelt dan membantunya melepaskan heels yang telah membuat kakinya terasa sakit dan lecet.
"Diem di sini. Gue mau ambilin belanjaan lo dulu."
Irina hanya menganggukkan kepala. Taruna pun bergegas kembali ke tempat di mana Irina meninggalkan tas-tas belanjaannya. Dengan susah payah Taruna membawa semua tas itu di kedua tangannya. Agak heran mengapa kaum hawa suka sekali berbelanja dan tidak merasa keberatan membawa barang sebanyak ini. Padahal Taruna sebagai laki-laki saja merasa barang-barang belanjaan ini berat.
Taruna langsung memasukkan semua barang belanjaan Irina ke dalam bagasi. Menutup pintu bagasi kasar kemudian berlarian menuju sisi pengemudi.
"Na,"
"Apa?!" Taruna sedikit sewot saat Irina menusuk-nusuk pelan lengannya menggunakan jari telunjuk. Saat menoleh, ia menemukan perempuan itu sedang menatapnya dengan tatapan polos tak berdosa.
Kalau boleh jujur, Taruna merasa gemas. Dia ingin mencubit hidung mancung itu, menariknya hingga berwarna kemerahan dan membuat si empunya berteriak kesal. Tapi sekali lagi, dia sedang terburu-buru sekarang. Jadi Taruna tidak melakukannya.
__ADS_1
"Nggak jadi, kamu galak." Irina memanyunkan bibir. Mengempaskan punggungnya keras-keras ke jok dan melipat kedua tangan di depan dada. Pandangannya lurus ke depan.
Taruna tidak menyahuti lagi. Buru-buru dia kencangkan sabuk pengaman dan langsung tancap gas. Mobil pun melaju meninggalkan area pusat perbelanjaan dalam keheningan yang mulai merayap sedikit demi sedikit.
Tanpa Taruna tahu, di jok penumpang di sampingnya, Irina mulai memerhatikannya secara diam-diam.
...****************...
Empat puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di rumah orang tua Taruna. Setelah memarkirkan mobil asal di halaman depan, Taruna segera turun. Ia berlarian menuju rumah, meninggalkan Irina yang masih terdiam di tempat dengan pandangan yang menerawang pada sosok Taruna yang telah menjauh.
"Ini aku ditinggalin nih? Serius?" tanya Irina, entah kepada siapa.
Cukup lama Irina terdiam di posisinya. Bahkan tak bergerak sedikit pun walau hanya untuk sekadar melepaskan seatbelt yang melilit tubuhnya. Kepalanya mulai sibuk menerka-nerka apa yang terjadi pada Taruna sehingga laki-laki itu buru-buru mengajaknya pulang padahal ia masih asik berbelanja beberapa keperluan untuk dirinya dan beberapa mainan untuk Sierra.
Taruna tidak menjelaskan apa-apa. Setelah menerima telepon, laki-laki itu langsung bergegas mengajaknya pulang.
Sekiranya sepuluh menit berselang, Taruna muncul dari dalam rumah. Tergopoh-gopoh menuju ke mobil dengan raut wajah serius.
"Kenapa nggak turun?" tanya Taruna setelah Irina menurunkan sedikit kaca jendela.
"Buruan." Kata Taruna sembari membantu Irina membuka pintu mobil.
Namun yang diajak bicara malah terdiam sembari menatapnya lekat-lekat. Taruna gemas, jadi dia lagi-lagi bergerak maju dan langsung mengangkat tubuh Irina.
Protes kembali dilancarkan, kali ini disertai pukulan-pukulan yang lebih keras ketimbang saat ia menggendong Irina di depan pusat perbelanjaan tadi.
"Na! Turunin aku!" Irina masih terus melayangkan protes, tapi Taruna sama sekali tidak terlihat peduli. Ia terus melangkahka kaki. Mengayunkan kaki panjangnya lebar-lebar sampai akhirnya mereka tiba di dalam rumah.
Di ruang tamu, Dewi, ibu Taruna menyambut keduanya dengan senyum yang terkulum. Sudah tidak heran lagi melihat Irina berada di dalam gendongan Taruna karena ini bukan yang pertama ia melihat pemandangan semacam itu.
"Halo, Tante." Sapa Irina kikuk dari dalam gendongan Taruna. Kedua lengannya bergelayut di leher laki-laki itu, walau tadi ia protes minta diturunkan.
"Halo, Rin." Dewi membalas sapaan Irina diikuti senyum hangat yang menenangkan.
__ADS_1
Sebagai seseorang yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, mendapatkan seulas senyum keibuan seperti yang Dewi sunggingkan kini tentu merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Ada sudut hatinya yang lebam-lebam dan biru kini berangsur membaik.
"Kita bawa ke rumah sakit aja deh, Ma." Kata Taruna tiba-tiba, membuat Irina menoleh kepadanya dengan kerutan samar di keningnya.
"Ke rumah sakit? Siapa? Kenapa?" berondongan pertanyaan itu tentu tidak dapat dihindari. Irina menatap Taruna lekat, menuntut jawaban.
"Sierra demam."
"Aku mau lihat Sierra!" Irina heboh sendiri. Bergerak gelisah di dalam gendongan Taruna. Tidak tahu juga kenapa laki-laki itu tak kunjung menurunkan dirinya.
"Lo tuh berat, Rin. Jangan banyak gerak!" omel Taruna.
Irina seketika diam. Taruna seram kalau sudah marah. Jadi lebih baik dia tidak memperpanjang masalah.
"Nggak perlu dibawa ke rumah sakit, kamu udah liat sendiri kan tadi demamnya mulai turun." Dewi bersuara. Nadanya lemah lembut khas ibu-ibu bersahaja.
"Tapi aku khawatir, Ma."
"Nggak apa-apa, Na. Sierra cuma demam biasa kok." Dewi masih berusaha menenangkan putranya.
"Na," Irina menyela. Tentu saja dengan suara teramat pelan karena tidak mau kena semprot lagi oleh Taruna.
Taruna tidak menjawab, hanya menolehkan kepala sehingga tatapan mereka bertemu.
"Kamu nggak ada niatan buat turunin aku dulu?" tanya Irina.
Lagi-lagi Taruna tidak menjawab dan langsung menurunkan Irina dari dalam gendongannya.
"Sierra ada di mana, Tante? Irina mau ketemu." tanya Irina kepada Dewi setelah ia merapihkan sedikit penampilannya.
"Ada di kamarnya. Ayo, Tante antar."
Dewi mengulurkan tangan kepada Irina dan perempuan itu segera menyambutnya dengan senang hati. Lalu keduanya berjalan menuju tangga untuk sampai ke lantai dua di mana kamar Sierra berada.
__ADS_1
Di tempatnya, Taruna terdiam untuk waktu yang cukup lama. Memandangi punggung Irina yang perlahan-lahan menjauh seiring dengan isi kepalanya yang kian keruh.
Bersambung