Serana

Serana
Sebuah Upaya


__ADS_3

Gavin pikir, Karel dan Kalea akan membiarkannya berdiri di ambang pintu sambil memerhatikan mereka mengobrol. Tidak masalah kalau dia memang tidak diijinkan untuk mendengarkan isi pembicaraan mereka, yang penting Gavin tetap bisa memantau keduanya demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Adegan Karel memeluk Kalea, misalnya.


Namun ternyata dugaannya salah. Kedua orang itu benar-benar tidak mengijinkannya mendekat sama sekali. Pintu kamar bahkan dikunci dan dia dibiarkan berdiri di depan pintu seperti orang bodoh.


Tanpa sadar, karena rasa penasarannya yang begitu tinggi, Gavin maju satu langkah. Ditempelkannya telinga ke pintu, berharap bisa sedikit mencuri dengar obrolan dari dalam sana.


Tapi tentu saja hal itu tidak terjadi. Pintu di hadapannya ini sudah didesain sedemikian rupa untuk memblokir suara dari dalam terdengar ke luar, begitu juga sebaliknya. Nah, terimakasih kepada dirinya sendiri karena sudah mendesain seluruh bagian di rumah ini, yang akhirnya menimbulkan kesulitan untuk dirinya sendiri.


Sadar usahanya untuk menguping tidak akan menghasilkan apa-apa, Gavin pun memilih untuk mendudukkan dirinya di depan pintu. Ia bersandar di pintu dengan kedua lutut yang ditekuk. Setelah itu, ia merogoh ponsel dari dalam saku celana. Bukan ponsel yang dia gunakan untuk menelepon Irina, melainkan ponsel yang satu lagi.


Saat ponsel sudah berada di tangan, Gavin iseng membuka akun sosial media miliknya yang sudah lama tidak dia jamah karena kesibukan yang terlalu menguras banyak waktu dan tenaga. Logo burung berwarna biru seketika menyapa indera penglihatannya ketika aplikasi itu pertama kali dibuka. Di sana, tagar bertajuk Save Irina Ayu menempati urutan pertama. Gavin tidak perlu meng-klik tagar itu untuk tahu apa isinya. Karena sudah pasti postingan yang menyertakan tagar itu berisi berita kencan Irina dan Gabriel yang sudah terbukti salah. Barangkali, pihak managemen akhirnya berkenan mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa Irina dan Gabriel tidak berkencan. Sebuah kelegaan tersendiri bagi Gavin karena dia tidak bisa banyak membantu dalam masalah ini.


Kemudian, turun sedikit di deretan nomor tiga, Gavin menemukan tagar yang sedikit asing. Tagar bertajuk Bertemu Teman Masa Kecil itu agak terlihat aneh. Sebab, tagar yang berhasil masuk ke jajaran lima besar pencarian biasanya hanya meliputi kabar aktris, aktor dan orang-orang berpengaruh lainnya. Kadang juga diisi beberapa kejadian yang baru hangat terjadi.


Tagar yang asing itu rupanya berhasil menarik perhatian Gavin, sehingga jemarinya langsung bergerak menelusuri satu demi satu postingan yang menyertakan tagar tersebut.


Seketika matanya dimanjakan dengan banyaknya gambar pernak-pernik lucu khas bocah yang diposting oleh beberapa akun, menyertakan informasi mengenai barang-barang tersebut juga maksud dan tujuan gambar-gambar itu diposting.


Tanpa sadar, Gavin tersenyum saat menemukan sebuah postingan dengan gambar boneka beruang kecil berwarna cokelat. Di bagian informasi, si pemilik akun menyertakan kalimat yang berhasil menenangkan jiwanya. Bunyinya begini : Halo, teman masa kecil. Aku nggak tahu sekarang kamu ada di mana, tapi kamu harus tahu bahwa aku selalu berterima kasih sama kamu karena berkat Ben (boneka beruang yang kamu kasih ke aku), aku udah nggak pernah lagi mimpi buruk. Kalau kamu lihat postingan ini dan mengenali aku, DM aku ya! I miss you so much.

__ADS_1


Masih ada banyak postingan lain yang Gavin baca setelahnya. Postingan-postingan itu berhasil menyita seluruh perhatiannya sampai ia sepenuhnya lupa pada rasa penasarannya terhadap obrolan rahasia Karel dan Kalea.


Lalu, sebuah pemikiran menyapa kepala ketika ia selesai membaca satu postingan lagi. Ternyata, ada begitu banyak orang yang mengalami hal yang sama dengan dirinya. Terpisah dengan teman kecil yang begitu berharga dan merindukan mereka sampai sebegitunya. Ternyata, Gavin tidak sendirian. Hanya saja, orang-orang ini begitu getol mencari keberadaan teman-teman masa kecilnya. Sedangkan dirinya hanya bisa terus menyembunyikan diri di saat teman kecil yang dia rindukan setengah mati sudah ada di depan mata, bahkan berhasil dia miliki. Gavin tidak punya nyali untuk mengaku, tapi lebih dari itu, dia tidak yakin bahwa Kalea masih mengingat dirinya. Dari gerak-gerik yang perempuan itu tunjukkan, sepertinya Gavin sudah tidak ada lagi di dalam ingatan perempuan itu.


Fakta itu menampar Gavin begitu keras, membuatnya tersadar bahwa waktu telah banyak merubah segala sisi di hidupnya. Sekarang, Gavin tidak akan berharap banyak. Tidak apa kalau Kalea memang tidak mengingat dirinya yang dulu. Yang penting, Gavin masih bisa menatap perempuan itu dari jarak dekat. Itu sudah cukup.


...****************...


Di dalam kamar, Kalea masih tidak mengalihkan tatapan dari Karel yang sejak tadi begitu antusias menjelaskan ini dan itu. Lelaki itu menjelaskan rencananya secara detail, seolah sedang melakukan presentasi untuk proyek terbaru dalam sebuah perusahaan besar.


"Jadi, kamu yang udah bikin tagar ini naik?" tanya Kalea setelah Karel mengatupkan bibir. Yang laki-laki mengangguk mantap, tersenyum jumawa membanggakan hasil kerjanya sendiri.


"Ternyata banyak juga ya yang mau cari teman masa kecilnya."


"Banyak, lah." Karel merebut ponsel dari tangan Kalea kemudian bangkit dari duduknya. "Nanti, kalau udah ada yang DM, gue akan langsung kabari."


"Tapi, Rel." Kalea ikut bangkit. "Gimana caranya kita tahu kalau orang itu beneran Abang? Bisa jadi, kan, dia cuma bohong? Kalau yang DM kamu malah orang jahat gimana?"


"Lo tenang aja, gue nggak akan semudah itu percaya." Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku celana, Karel menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari jemarinya yang kurus dan panjang. Kalea memperhatikan itu tanpa berkedip. Kalau boleh jujur, Karel terlihat tampan saat sedang melakukan itu. "Gue udah siapin beberapa pertanyaan berdasarkan informasi yang lo kasih. Ya, walaupun informasinya benar-benar cuma sedikit. Tapi gue yakin, kita bisa temuin Abang lo itu dalam waktu dekat."

__ADS_1


Kalea manggut-manggut. Sempat tersenyum sebelum akhirnya senyum itu pudar saat dirinya teringat pada Gavin. Mendadak, ia merasa gusar.


Karel yang menyadari adanya perubahan ekspresi di wajah Kalea sontak mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya.


"Gavin."


"Gavin kenapa?" tanya Karel semakin bingung. Apa hubungannya upaya mereka mencari teman masa kecil Kalea dengan Gavin?


"Kalau Gavin tahu aku lagi cari teman masa kecil aku, kira-kira dia bakalan marah nggak ya?"


"Lah, marah kenapa?"


"Kan, dia suami aku. Mungkin nggak sih kalau dia nggak suka aku masih cari-cari orang dari masa lalu? Apalagi orang yang aku cari kan juga laki-laki."


Mendengar kata suami keluar dari bibir Kalea, Karel seperti ditampar. Untuk beberapa saat, dia sempat lupa kalau Kalea sudah menjadi istri orang. Karel masih terus melihat Gavin dengan cara yang sama. Yaitu sebagai seorang laki-laki yang dekat dengan sahabat perempuan yang begitu dia sayangi. Untuk melihat Gavin sebagai suami Kalea...ah, rasanya masih terlalu aneh untuk Karel.


"Rel?"


Karel mengerjap beberapa kali saat Kalea mengibaskan tangan di depan wajahnya. Setelah menghela napas berat, ia berkata. "Nggak akan. Gavin pasti ngerti." Kemudian berlalu meninggalkan Kalea yang masih disemuti keraguan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2