
Dari sekian banyak hal menyakitkan di dunia, Karel tidak pernah menyangka bahwa melihat laki-laki lain memeluk dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Kalea akan meninggalkan memar yang begitu terasa sakit di dadanya. Padahal sudah berulang kali Karel meyakinkan diri bahwa menjadi sebatas teman bagi Kalea adalah porsi terbaik yang bisa ia ambil dalam kehidupan perempuan itu. Ada perasaan menyesal yang membebaninya hingga sekarang, karena ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya walau hanya sekali. Ia tidak pernah berusaha, di situlah yang membuatnya merasa banyak waktu dan kesempatan yang telah ia sia-siakan begitu saja.
Hujan turun makin deras, seiring air mata yang jatuh di dalam hati Karel saat ia memutuskan untuk sepenuhnya meninggalkan Gavin dan Kalea bersama perasaan mereka. Setidaknya, Karel perlu memberi ruang bagi mereka untuk saling mengerti satu sama lain. Sebab setelah pernikahan mereka resmi digelar dalam beberapa hari ke depan, Karel mungkin tidak akan bisa lagi sesering itu berada di sisi Kalea.
Karel mengayunkan langkah ke halaman belakang, berhenti sebentar di dapur untuk mengamati bagaimana Bi Imah sibuk menata meja makan untuk persiapan makan malam sementara Mama tampak anteng di depan kompor yang menyala dengan apron yang melilit tubuh rampingnya.
"Menu makan malam kita apa?" tanya Karel seraya berjalan mendekat ke arah meja makan. Begitu matanya menangkap beberapa keping nuget berbentuk dinosaurus di atas piring, tangan nakalnya langsung bergerak cepat mencomot satu, melahapnya dalam sekali suapan setelah mencocolkannya ke mangkuk kecil berisi sambal terasi. "Hmmmm...yummy." Gumamnya di tengah-tengah kegiatannya mengunyah. Tingkahnya itu sukses membuat Bi Imah terkekeh dengan kepala yang menggeleng pelan.
"Nih, lagi."
Karel segera membuka mulut saat Bi Imah menyodorkan sekeping lagi nuget ke depan mulutnya. Dalam sekejap nuget itu sudah menjadi penghuni baru di lambungnya.
"Kalea sama Gavin udah baikan?" kali ini, Mama yang bersuara. Karel mencurahkan atensinya pada wanita yang kini sibuk memindahkan oseng kangkung dari wajan ke atas piring besar.
"Lagi proses." Ucap Karel setelah mencomot sekeping lagi nuget dino.
"Si Gavin pusing nggak ya menghadapi tingkah Kalea yang kayak gitu?" tanya Mama setelah selesai dengan kegiatannya. Wanita itu melepas apron yang melilit tubuhnya kemudian berjalan mendekati Karel.
"Biarin lah, udah resiko." Celetuk Karel. Kini ia sudah duduk anteng di salah kursi, tersenyum genit pada Bi Imah yang baru saja kembali membawa empat buah gelas dan menatanya di atas meja.
"Mama takutnya dia nyerah duluan di tengah jalan."
"Nggak akan. Orang modelan Gavin gitu kalau udah punya mau pasti nggak akan mundur gitu aja."
"Sok tahu kamu." Cibir Mama. Namun tak urung menyodorkan segelas air putih kepada Karel yang terlihat seret setelah menghabiskan beberapa keping nuget.
Karel menerima air yang Mama sodorkan. Segera ia teguk air itu, membiarkannya mengalir melewati tenggorokannya membawa serta remahan nuget yang tersangkut di sana. "Bukan sok tahu, tapi emang begitu kenyataannya." Lanjutnya. Semoga saja memang begitu, Ma. Semoga Karel memang nggak sebatas sok tahu saja.
Mama hanya menganggukkan kepala, malas mendebat Karel karena itu adalah sesuatu yang sia-sia.
"Omong-omong, Mama perhatiin kamu udah jarang ke cafe. Kenapa?" tanya Mama penasaran.
"Males, ada si royco di sana."
Alis Mama bertaut, bingung. Royco? Siapa lagi itu? Kenapa Karel gemar sekali menamai orang dengan panggilan aneh semacam itu? Bulan lalu bocah itu juga menamai anak tetangga depan komplek yang baru lahir dengan sebutan cimol karena pipinya yang gembul.
__ADS_1
"Mama nggak tahu royco?" tanya Karel yang menyadari kebingungan di raut wajah Mama.
Mama hanya menggeleng pelan. Bi Imah yang baru selesai meletakkan oseng kangkung hasil masakan Mama ke meja makan juga ikut-ikutan menggeleng.
"Itu loh, anaknya Pak Syamsudin yang anggota DPR. Yang kuliah di Kanada, baru balik sebulan lalu." Jelas Karel yang membuat Mama dan Bi Imah saling berpandangan, sama-sama memeras otak untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri.
Lama tak mendapat sahutan, Karel mendengus. "Beneran nggak tahu?"
Mama dan Bi Imah serempak menggelengkan kepala.
"Rico! Namanya Rico, bukan Royco!"
"Aduh!" Karel memekik saat kepalanya ditempeleng dengan keras oleh seseorang dari arah belakang. Ketika menoleh, ia menemukan Kalea sudah berdiri di hadapannya dengan mata sembab dan memerah. Di sebelahnya ada Gavin yang berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana. Raut wajahnya terlalu sulit untuk dibaca, dan Karel sudah menyerah duluan sebelum mencoba.
"Mamaaaa...anaknya kasar nih." Adu Karel pada Mama yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala.
"Badan doang gede, bisanya ngadu ke Mama." Cibir Kalea sembari mendudukkan dirinya di sebelah Karel. Sementara Gavin masih setia berdiri di tempatnya, masih enggan mengalihkan pandangan dari Kalea.
"Lo kurang ajar! Adek mana yang boleh mukul abangnya kayak gini, hah?!"
"Kalo orang lagi ngomong tuh perhatiin, jangan malah melengos!" Karel menggeplak tanga Kalea, membuat nugget yang perempuan itu pegang terjun bebas ke lantai.
"Rellllllll...nuget aku jatuh!" Kalea balas mengomel, memelototi Karel yang sama sekali tidak menampakkan sedikit pun rasa bersalah terhadap nuget dino yang kini sudah menyatu dengan debu dan kuman di lantai.
"Ya lagian, orang lagi ngomong malah lo tinggal makan nuget!"
"Kamu ngeselin!"
"Dih, ada juga lo yang ngeselin. Apaan banget jadi gue yang salah."
"Mamaaaaaa..."
Tanpa diduga oleh semua orang, Kalea kembali menangis. Kali ini air matanya mengalir lebih deras, disertai isakan yang dramatis seolah perempuan itu baru saja mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan di dalam hidupnya.
Melihat hal itu, Karel cuma bisa melongo. Padahal sedari tadi ia sudah begitu bersemangat untuk mengomeli Kalea, tapi begitu melihat air mata yang tak kunjung selesai dikeluarkan oleh perempuan itu, nyalinya mendadak ciut.
__ADS_1
Sementara itu, Gavin yang tidak kalah terkejut langsung bergerak cepat ke sisi Kalea. Buru-buru ia bawa tubuh Kalea ke pelukan, membiarkan perempuan itu memeluk pinggangnya erat dan menyembunyikan wajah di perutnya.
"Dih, drama banget asli." Lirih Karel. Ia ingin mengatakannya dengan suara lantang, tetapi saat manik kelam Gavin menatapnya lekat, Karel merasa seolah dirinya menyublim.
"Udah, nggak usah nangis. Nugetnya masih ada banyak." Mama berusaha membujuk. Diusapnya pelan lengan Kalea yang masih melingkar di pinggang Gavin. Tetapi perempuan itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Bukannya mereda, tangisnya malah semakin menjadi.
Tahu situasinya tidak akan membaik dengan mudah, Karel pun berinisiatif untuk memberikan sebuah penawaran. Penawaran yang ia yakin seratus persen tidak akan pernah bisa Kalea tolak. Bahkan kalau dunia kiamat sekalipun, perempuan itu pasti akan menerima tawaran ini ketimbang pergi menyelematkan dirinya sendiri.
Dengan percaya diri, Karel bangkit dari duduknya. Melirik Gavin sekilas sebelum mengeluarkan jurus andalannya.
"Udahan nangisnya, ayo ke Indomaret jajan kinderjoy."
Bagai sebuah mantra yang mengandung daya magis kuat, ucapan Karel barusan nyatanya ampuh untuk membuat tangisan Kalea berhenti. Secepat kilat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya, Kalea menarik diri dari pelukan Gavin. Wajahnya yang masih dipenuhi jejak air mata seketika berseri ketika matanya bersirobok dengan milik Karel. Senyum perlahan-lahan terbit dari belah bibirnya, membuat lawan yang sedang ditatapnya diam-diam menghela napas lega.
"Sebelas?" tanyanya dengan tampang polos tak berdosa
Tak perlu banyak berpikir sebelum Karel menganggukkan kepala. "Iya, sebelas. Plus es krim coklat satu lusin."
Karel nyaris terjungkal saat Kalea tiba-tiba bangkit dari duduknya dan langsung menghambur ke dalam pelukannya. Perempuan itu melompat-lompat kegirangan, membuat tubuh Karel yang sedang dipeluk ikut-ikutan berguncang.
"Let's goooo!" teriak Kalea penuh semangat setelah melepaskan pelukannya. Dengan tenaga penuh, Kalea menyeret lengan Karel untuk beranjak dari tempatnya.
Karel menurut saja. Tapi sebelum mereka berdua betulan berlalu dari hadapan semua orang, Karel sempat beradu tatapn dengan Gavin selama beberapa saat. Dengan senyum tipis yang tersungging, Karel seolah sedang berkata pada Gavin seperti ini Gini caranya kalau mau bikin mood Kalea membaik, Bro.
Dan seolah sedang bertelepati, Gavin ikut-ikutan tersenyum sebelum tubuh Karel dan Kalea menghilang di balik belokan. Menyisakan kelegaan juga setitik perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di belakang tubuhnya, Mama dan Bi Imah kompak menggelengkan kepala. Bagi mereka, pemandangan seperti ini sudah biasa. Saat mendekati masa menstruasi, Kalea memang cenderung mengalami mood swing yang parah. Sebentar tertawa, sebentar menangis dan sebentar marah-marah.
Tapi bagi Gavin, hal ini tentu merupakan pemandangan baru. Jadi ketika melihat Gavin yang tak kunjung mengalihkan pandangan walau Karel dan Kalea sudah tidak tampak di depan mata, Mama bangkit dari duduknya dan menghampiri Gavin. Sebuah tepukan ringan dilabuhkan ke bahu tegap lelaki itu, hanya untuk membuat si empunya menoleh dengan pandangan yang bertanya-tanya.
"Ke depannya, kamu bakal lebih sering lihat tingkah Kalea yang seperti ini. Mama harap kamu nggak akan menyerah duluan ya menghadapi sikap Kalea yang kadang aneh."
Gavin hanya tersenyum tipis. Sama sekali tidak terbersit di benaknya untuk menyerah pada Kalea. Tidak peduli sesulit apapun rintangan yang ada di depan sana, Gavin tidak akan pernah berhenti menggenggam tangan perempuan itu. Karena untuk sampai di sini, ia telah melewati begitu banyak rasa sakit dan patah hati.
Sekali lagi, Gavin tidak akan menyerah pada Kalea. Tidak akan pernah.
__ADS_1