Serana

Serana
Malam Pertama


__ADS_3

"Kamu mau mandi juga nggak, Kal?" tanya Gavin sesaat setelah keluar dari kamar mandi.


Kalea yang semula sedang membongkar koper dan memasukkan bajunya ke dalam lemari pun menghentikan aktivitasnya. Saat mendongakkan kepala, Kalea menemukan Gavin berdiri beberapa langkah di depannya dengan rambut yang setengah basah. Beberapa tetes air mengalir menuruni lekuk lehernya hingga menyentuh dada bidangnya yang telanjang. Kalea menelan ludah susah payah saat perut kotak-kotak Gavin terpampang nyata di depan matanya. Sungguh, Kalea sama sekali tidak pernah membayangkan akan melihat perut kotak-kotak yang biasanya tersembunyi di balik kaus itu dalam waktu secepat ini.


Oke, oke. Kalea tahu mereka sudah menikah. Hubungan mereka sah di mata hukum dan agama. Hanya saja, tidak bisakah Gavin memberinya sedikit lebih banyak waktu untuk membiasakan diri?


"Kal?"


"Iya." Sahut Kalea sembari mengalihkan pandangannya cepat-cepat. Kini pipinya terasa panas dan degup jantungnya mulai kembali tak terkendali.


"Iya apa?"


"Iya, mau mandi." Saat membalikkan badan dengan niat untuk mengembalikan koper kosong ke pojok kamar, Kalea nyaris mendapati jantungnya bergedebuk di lantai saat tahu-tahu Gavin sudah berdiri menjulang di depannya sehingga perut kotak-kotak itu kini terpampang semakin jelas di depan matanya.


Kalea berdeham pelan, berusaha melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering sembari membuang pandangan ke sembarang arah. Namun usahanya sia-sia saat Gavin bergerak maju sehingga Kalea terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh lemari yang pintunya masih terbuka. Seharusnya, ia bisa kabur karena Gavin tidak sedang mengungkungnya dengan lengan besarnya. Tetapi yang bisa Kalea lakukan cuma pasrah saja walau harus merutuk dalam hati ketika aroma sampo menguar begitu kuat menusuk indera penciumannya. Kalea mengenali aroma ini dengan baik, sebab di rumah, Papa juga menggunakan sampo dengan merk dan aroma yang sama.


"Geser dikit boleh? Saya mau ambil kaus, dingin kalau terlalu lama nggak pakai baju."


Tanpa mengatakan apa-apa, Kalea menggeser tubuhnya sedikit ke sisi kiri. Betulan hanya bergeser sedikit sampai Gavin bisa mengambil sebuah kaus berwarna biru tua dari dalam lemari kemudian lelaki itu berjalan mundur.


Selama menunggu Gavin mengenakan kausnya, Kalea cuma bisa terdiam. Diam-diam mencuri pandang pada enam kotak yang tercetak jelas di perut Gavin sebelum kotak-kotak itu hilang dari pandangan saat Gavin berhasil mengenakan kausnya.


"Saya mau keluar bentar, ya. Cari angin." Ucap Gavin.


Kalea cuma bisa menganggukkan kepala. Lidahnya terlalu kelu dan sejujurnya otaknya mulai tidak bisa bekerja dengan benar sejak matanya diberi asupan perut kotak-kotak milik Gavin.


"Nanti kalau udah selesai mandi, kabarin aja biar saya langsung balik." Gavin mendaratkan tangan besarnya di kepala Kalea, mengusap pelan rambut lembut perempuan itu kemudian berlalu setelah meraih ponselnya yang ada di atas nakas.


Kalea mematung selama beberapa saat bahkan setelah tubuh Gavin sepenuhnya menghilang dari pandangan. Selama bermenit-menit itu, ia sibuk mengendalikan detak jantungnya yang semakin liar.


Tenang, Kal. Tenang...


...****************...

__ADS_1


Di teras belakang, ditemani gerimis yang mulai turun tipis-tipis, Gavin menyalakan rokok ke-dua nya. Dibawanya rokok di sela jarinya itu ke hadapan mulut kemudian mulai menghisapnya perlahan-lahan. Hisapan pertama, ia biarkan asap rokok itu berputar-putar di rongga dadanya untuk waktu yang cukup lama sebelum mengembuskan asapnya ke udara. Aroma asap yang bercampur dengan aroma tanah basah yang menguar di udara adalah perpaduan yang pas untuk menemani perasaannya yang gelisah.


Kemudian setelah beberapa kali hisapan, Gavin meletakkan rokoknya di atas asbak. Belum berniat untuk mematikannya, hanya menitipkannya sebentar di sana selagi ia merogoh ponsel dari dalam saku celana karena ponsel itu bergetar menandakan adanya sebuah pesan masuk.


Ketika ponsel itu ia keluarkan dari dalam saku celana, nama Kalea muncul di layar.


Aku udah selesai mandi


Begitu bunyi pesan yang Kalea tuliskan. Gavin tersenyum tipis sembari mengetikkan balasan.


Oke, saya masuk sekarang.


Tak lama setelah balasan pesannya dikirimkan kepada Kalea, Gavin mematikan rokok yang bertengger di atas asbak kemudian buru-buru berjalan masuk ke dalam rumah. Lagipula malam sudah larut dan angin dingin semakin keras menerpa tubuhnya yang hanya terbalut kaus dan celana pendek sedikit di atas lutut.


Sampai di dalam rumah, Gavin tidak langsung naik ke kamar mereka di lantai dua. Ia melipir dulu ke dapur, menenggak air jeruk dari dalam kulkas dengan maksud untuk menghilangkan aroma asap rokok dari bibirnya. Kemudian setelah memastikan tidak ada lagi bau rokok yang mungkin bisa terendus oleh Kalea, barulah Gavin melangkahkan kakinya menaiki tangga. 


Seiring dengan langkah yang semakin dekat dengan pintu kamar, jantung Gavin perlahan-lahan berdegup sedikit demi sedikit lebih cepat ketimbang biasanya. Hal itu semakin parah ketika telapak tangannya menyentuh gagang pintu dan hendak membukanya. Gavin sempat berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan sebelum lanjut membuka pintu. 


Ketika pintu di hadapannya terbuka, Gavin disuguhi pemandangan yang sebetulnya tidak terlalu membuatnya terkejut. Mengingat bagaimana reaksi gugup Kalea setelah melihat tubuh bagian atasnya yang telanjang tadi setelah mandi, Gavin tidak heran kalau sekarang yang ia temui di depan mata adalah punggung sempit Kalea yang mengintip sedikit dari balik selimut yang tidak dipakai dengan benar. 


Satu langkah ia ayunkan, disusul langkah-langkah lain sampai tubuhnya tiba di sisi ranjang. Gavin terdiam cukup lama, memandangi tubuh mungil Kalea di dalam balutan selimut yang sesekali bergerak gelisah. Di mata Gavin, itu tampak lucu. Walaupun tempo hari mereka pernah tidur di satu ranjang yang sama, tapi Gavin jelas paham kalau Kalea sekarang merasa khawatir pada banyak hal. Karena biar bagaimanapun, mereka sekarang sudah terikat pernikahan yang sah. 


"Kal?" panggil Gavin pelan. Hanya untuk mengetes apakah Kalea akan menyahuti panggilannya atau malah berpura-pura tidur seperti yang perempuan itu lakukan tempo hari ketika mereka menginap di rumah ini untuk pertama kalinya. 


Dan ternyata perempuan itu menyahuti panggilannya. Walau masih enggan membalikkan badan. 


"Saya boleh naik ke kasur? Mau tidur, udah malam." tanya Gavin lagi dengan nada menggoda. Sengaja ingin melihat reaksi Kalea yang tampak lucu saat sedang salah tingkah.


Lama sekali tidak ada jawaban dari Kalea. Perempuan itu terlihat bergerak gelisah. Sesekali menggaruk kepalanya yang Gavin yakin sama sekali tidak gatal dan berdeham pelan beberapa kali. Ah, rasanya Gavin ingin melompat ke atas kasur dan memeluk tubuh itu erat-erat. Menyembunyikannya di dalam dekapan hangat agar tidak ada satupun yang bisa menyakiti makhluk menggemaskan itu.


"Halo? Saya bicara sama kamu, Kal." Ulang Gavin.


"Naik aja. Tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?" sela Gavin cepat.


"Tapi jaga jarak." 


Gavin meloloskan gelak tawa saat kalimat itu terucap dari bibir Kalea dengan suara yang teramat pelan dan setelahnya perempuan itu langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya. Kini, di mata Gavin, Kalea terlihat seperti kepompong yang tidur nyenyak sembari menunggu waktu yang tepat untuk menetas menjadi kupu-kupu yang cantik.


Setelah mati-matian membungkam tawanya sendiri, Gavin akhirnya bergerak pelan naik ke atas kasur. Ia berbaring, telentang dengan satu tangan sebagai bantal dan satu lagi beristirahat damai di atas perut. Tatapannya jatuh pada langit-langit kamar yang putih bersih, hanya diisi satu buah lampu berwarna kemuning yang akan menyala ketika sudah waktunya tidur. Dari dulu, Gavin tidak suka memakai lampu tidur yang ditaruh di atas nakas karena menurutnya itu merepotkan. Jadi ia lebih memilih menggunakan lampu tidur yang dipasang bersandingan dengan lampu utama agar tidak repot ketika menyalakannya. Karena ketika lampu utama dimatikan, lampu tidur akan otomatis menyala. 


Selama beberapa saat, cuma ada keheningan. Yang bisa terdengar di telinga Gavin hanyalah suara deru napasnya sendiri. Tidak ada perpaduan dengan suara detak jarum jam sebab ia juga tidak suka memakai jam dinding. Suara detak jarum jam di kala malam selarut ini hanya selalu membawanya berakhir dalam sebuah keresahan tak berujung, mengantarkannya pada gerbang mimpi buruk yang akan datang hanya sesaat setelah ia memejamkan mata. Jadi sejak mimpi buruk kembali datang menghantuinya bertahun-tahun lalu, Gavin tidak lagi mau memasang jam dinding di kamarnya. Satu-satunya cara untuk dia mengetahui waktu hanyalah dari ponsel miliknya saja. 


Puas bergelung dengan pikirannya sendiri, Gavin pun kembali mencurahkan atensinya pada Kalea. Tubuh kecil berbalut selimut itu sudah tidak nampak bergerak lagi, membuat Gavin sempat berpikir bahwa Kalea mungkin sudah jatuh tertidur. Serangkaian acara pernikahan yang mereka lalui hari ini benar-benar melelahkan dan menguras tenaga, jadi Gavin tidak akan heran kalau Kalea betulan bisa jatuh tertidur secepat itu walau beberapa saat sebelumnya perempuan itu masih bergerak gelisah akan kehadiran dirinya. 


Namun pemikiran itu sirna saat suara Kalea yang teredam mengalun indah di telinganya, disusul dengan kepala perempuan itu yang perlahan-lahan menyembul keluar dari dalam selimut. Kalea tidak sepenuhnya membalikkan badan, hanya menengok sedikit dari balik bahu, membuat Gavin khawatir kalau-kalau leher perempuan itu akan sakit. 


"Apa?" tanya Gavin saat Kalea terdiam cukup lama dan masih dalam posisi kepala yang menoleh.


"Kamu...kita...itu..." ucap Kalea penuh keragu-raguan. Dari raut wajahnya, tampak perempuan itu sedang berusaha mencari diksi yang tepat untuk menyampaikan kalimatnya agar bisa diterima dengan baik oleh Gavin. "Kita nggak akan...you know, ughhh prosesi malam pertama..."


"Nope." Sela Gavin cepat. Tidak seperti Kalea yang penuh keragu-raguan, Gavin mengatakannya dengan yakin dan tegas. Gavin bergerak pelan, memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Kalea dengan lebih jelas walau perempuan itu masih bersikeras menolehkan hanya kepalanya saja. "Saya nggak akan menyentuh kamu sebelum kamu ijinkan." Lanjut Gavin sungguh-sungguh.


Kalea tidak mengatakan apa-apa, tapi perempuan itu bergerak pelan merubah posisi tidurnya menjadi menghadap Gavin. Cukup lama keduanya terdiam, saling menyelami manik masing-masing dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk di dalam dada. 


"Perlu tanda tangani surat kontrak, nggak?" tanya Gavin tiba-tiba di tengah keheningan, membuat Kalea mengernyit kebingungan.


"Surat kontrak untuk apa?"


"Untuk menjamin kalau saya nggak akan menyentuh kamu sembarangan, maybe?"


"Itu konyol."


"Nggak konyol sama sekali. Kalau dengan adanya surat kontrak itu bisa bikin kamu lebih tenang, kenapa nggak?" ucap Gavin diiringi sebuah senyum tipis.


"Nggak perlu yang kayak gitu." Kata Kalea. Kemudian perempuan itu membalikkan badan, kembali memunggungi Gavin. "Aku percaya sama kamu." Lanjutnya sebelum memejamkan mata walau dengan detak jantung yang menggila.

__ADS_1


Di belakangnya, senyum yang Gavin sunggingkan perlahan-lahan memudar. Seharusnya ia senang karena Kalea menaruh percaya kepadanya, tapi mengingat betapa buruk rahasia yang dia sembunyikan dari perempuan itu, Gavin jadi dilanda perasaan bersalah yang begitu menyiksa.


Kalau nanti, saat waktunya tiba dan Tuhan sudah tidak berpihak kepadanya sehingga semua rahasia yang ia simpan rapat-rapat dari Kalea terungkap, apakah perempuan ini masih mau menerima dirinya? Bukan cuma soal Irina, tapi juga soal jati dirinya yang sesungguhnya. Akankah perempuan itu bisa tetap bertahan di sisinya selamanya? Bisakah? Bolehkah Gavin berharap banyak?


__ADS_2