
Dalam sejarah hidupnya, Kalea tidak pernah dilanda rasa gugup sebesar ini. Bahkan saat dihadapkan pada sidang skripsi yang nyaris merenggut seluruh kewarasannya bertahun-tahun yang lalu, Kalea masih bisa menghadapinya dengan baik. Menarik dan membuang napas secara teratur adalah cara paling ampuh yang biasa Kalea lakukan untuk meredakan kecemasannya.
Tapi kali ini, gugup dan tegang menguasainya secara brutal. Terang-terangan dan bertubi-tubi, sampai bernapas pun rasanya teramat sulit.
Gavin dan wajah rupawannya yang hanya berjarak beberapa senti di atasnya bukanlah perpaduan yang baik untuk jantungnya. Ditambah tatapan laki-laki itu yang terkesan penuh puja dan damba serta embusan napas hangat mereka yang saling bersahutan-sahutan membuat Kalea semakin sulit mengendalikan dirinya.
Sementara di atasnya, Gavin mulai meneliti setiap bagian di wajah Kalea, seakan tengah mengingat detail wajah mungil nan cantik itu untuk dia simpan baik-baik di dalam kepala.
Kemudian, Gavin menyadari sesuatu. Bahwa Kalea selalu jadi pemenang. Baik dulu saat pertama kali mereka bertemu di usia belasan, saat Gavin meninggalkan gadis itu tanpa sepatah pun kata pamit, atau bahkan sekarang ketika hanya ada mereka di sini.
Kalea selalu jadi pemenang, dan Gavin mengakui kalau pecundang sepertinya akan selalu kalah telak jika dihadapkan dengan sosok di bawah kungkungannya ini.
Maka saat dia sadar kalau dirinya sudah terlanjur jatuh ke dalam kepekatan yang tak berujung selama bertahun-tahun, dan sore ini Kalea membuatnya menemukan jalan pulang, Gavin membuang kewarasannya jauh-jauh. Kepalanya menyingkirkan semua ragu dan berusaha mengenyahkan semua beban yang dia punya.
Sore ini, hanya ada Kalea dan Gavin hanya ingin mengingat sosok Kalea bahkan jika esok hari dia harus bangun dalam penyesalan.
Maka saat benaknya hanya terisi oleh Kalea, Gavin tanpa ragu melayangkan sebuah pertanyaan yang terasa menggelitik telinga Kalea karena lelaki itu mengatakannya tepat di depan wajahnya.
Katanya, "Kal, wanna see the heaven with me?"
Kalea dengan pipi merah meronanya bertanya kebingungan. "Heaven?"
Gavin mengangguk sebelum kembali membawa Kalea ke dalam pagutan dalam. Gavin mulai mengetuk permukaan bibir Kalea dengan lidah dan Kalea menyambut dengan membuka mulutnya, membiarkan benda lunak itu menginvasi ke dalam sana tanpa aba-aba. Lidah Gavin mengabsen satu persatu bagian di dalam sana, menyapa dan mengecap untuk tetap bisa menarik napas dengan benar di tengah pagutan mereka.
"Kalea..."
Kalea terengah, napasnya berantakan. Matanya terbuka kala mendengar Gavin memanggil dan membalas tatapan yang terpaku padanya itu.
Tak membalas panggilan Gavin, Kalea malah sibuk mencari cara untuk bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar ke seluruh pipinya. Sungguh, Kalea tidak ingin terlihat lemah di depan Gavin.
__ADS_1
"Saya tanya sekali lagi, wanna see the heaven with me?"
Pertanyaan itu kembali datang bersamaan dengan jemari Gavin yang menggapai wajah Kalea, membuat perempuan itu harus memaku tatap dengan sosok yang tengah mengungkungnya itu walau wajahnya terasa terbakar.
Sementara Gavin kembali meneliti tiap sudut wajah Kalea dengan ujung telunjuknya, membiarkan sidik jarinya membentuk pola acak di permukaan halus itu dan mengagumi paras sempurna itu dari jarak kurang dari sejengkal.
****, she's so damn pretty and I swear she's the prettiest thing has ever happened to me. Kalimat itu terujar hanya di dalam kepala Gavin, ia bahkan tidak bisa mengudarakan kalimat itu secara nyata.
Sedangkan di dalam dunia kecil yang dia susun di kepala, Kalea tengah berperang dengan suara batinnya sendiri. Diam-diam, ada sebuah ragu yang memenuhi kepala cantik itu. Sebab jika dia menggerakkan kepalanya naik turun sebagai tanda setuju, Kalea paham apa yang terjadi di antara mereka berdua akan berubah sepenuhnya. Entah dalam artian baik atau buruk.
Maka di detik ketika Gavin baru akan membuka mulutnya lagi, Kalea mencoba peruntungannya sendiri. Perempuan itu secara tiba-tiba menarik Gavin lebih dekat ke arahnya, lalu menautkan bibir mereka kembali.
Lalu saat nama miliknya terdengar di sela erangan berat nan dalam milik Gavin, Kalea meyakinkan dirinya untuk maju selangkah lebih lanjut.
Namanya kembali terdengar di tengah pagutan mereka, bahkan tanpa jeda digaungkan oleh Gavin hanya karena sebuah ciuman. Maka untuk itu, Kalea memberanikan diri meletakkan genggaman halus di rambut Gavin, memberi tanda untuk memperdalam pagutan mereka.
Dalam sekejap, mata Gavin berkabut. Saat suara halus Kalea menyapa indera pendengarannya, Gavin membuang jauh-jauh semua rasa takut dan khawatir yang tadinya membuncah memenuhi setiap sel di tubuhnya. Kini, hanya ada Kalea dan ciuman mereka yang semakin dalam. Sampai kemudian Gavin bergerak turun ke leher terbuka Kalea, mendaratkan kecupan dan hisapan-hisapan pelan di sana. Jejak kemerahan membekas, Gavin memandang puas ke tanda yang dia berikan itu sebelum kembali mendaratkan kecupan-kecupan lain di sana.
Lalu ketika dalam satu gerakan Gavin membawa tangannya menuju area yang seumur hidup hanya pernah dilihatnya sendiri, Kalea kembali tersentak. Tubuhnya lemas dan pikirannya melayang tanpa bisa menemukan jalan keluar.
Saat dalam satu hentakan tak kentara Gavin menggunakan tangannya untuk menurunkan tali yang tersampir lemas di bahu Kalea dan bergerak mengecup lalu memberi tanda lain di bahu telanjang Kalea, Gavin tahu dirinya tidak akan berhenti kecuali jika perempuan itu yang meminta.
Ketika satu-satunya yang menghampiri pikiran adalah bagaimana cara agar dirinya bisa membuat Kalea meletakkan percaya padanya, Gavin mencoba menyentuh di bawah sana dengan satu gerakan, matanya mengawasi perubahan ekspresi wajah Kalea. Perempuan itu jelas terlihat menahan diri dengan menggigit bibirnya bawahnya sendiri.
Tangan Gavin yang bebas mengarah ke lipatan ranum Kalea yang tergigit, mengetuk pelan dan membuat gigitan itu terlepas. Lalu detik berikutnya, kecupan basah kembali Gavin alamatkan di bibir tipis Kalea, berlanjut dengan gigitan dan kabut gairah yang memenuhi. Rasanya basah, penuh dan sesak.
Tapi baik Kalea dan Gavin sama sekali tidak punya keinginan barang secuil bahkan untuk berhenti sejenak. Mereka terlalu mabuk, terlalu jatuh ke dalam lubang yang mereka gali sendiri, terlampau jauh jika harus kembali ke permukaan.
Bermenit-menit berikutnya, kaos putih polos yang Gavin kenakan sudah jatuh ke lantai. Kedua manik kelamnya semakin berkabut kala menemukan bahwa di bawah kungkungannya, Kalea sudah sepenuhnya bersih. Napas terengah dan rambutnya menyebar di atas bantal serupa hamparan bunga membuat Gavin semakin kehilangan kewarasan. Kalea terlalu cantik, terlalu menghanyutkan dan terlalu indah sampai rasanya Gavin ingin menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kal, look at you..." bisikan itu seirama dengan napas berat Gavin di telinganya. "You're so fucking gorgeous."
Kalea tidak tahu bagaimana harus merespon selain berusaha merapatkan kedua pahanya, tapi gerakan itu ditahan dengan sigap oleh satu tangan Gavin. Ini buruk, sebab di detik selanjutnya Kalea memekik dan kedua tangannya mencengkeram erat lengan kekar Gavin sebagai tumpuan.
Sebab kini jemari panjang itu tengah menyapa bagian paling panas dari dirinya. Menyentuh lembut seakan Kalea akan hancur jika diperlakukan lebih dari itu. Kepala Kalea terangkat ke atas, kedua matanya terpejam erat menahan euforia yang dia dapatkan di bawah sana.
Sore itu, ketika senja perlahan naik dan hujan mulai berhenti meninggalkan sisa-sisa gerimis tipis, hanya deru napas keduanya yang saling bersahutan-sahutan yang menjadi saksi ketika Gavin berhasil memiliki Kalea seutuhnya, menghentak dengan pola acak dan kecepatan yang semakin menggila.
Saat kemudian puncak mereka menyapa, dua orang itu baru menghentikan friksi yang mereka ciptakan sendiri. Tubuh Gavin jatuh memeluk Kalea di bawahnya, mendekap tubuh mungil yang bergetar itu dan mengelus punggungnya.
"Thank you, Boo. Thankyou so much," ucap Gavin.
Sore itu, untuk pertama kalinya Kalea menyapa puncak yang orang-orang bilang adalah surga dunia. Gavin membawanya terbang, mengambil sesuatu paling berharga yang dia junjung tinggi-tinggi seumur hidup dan memeluknya hingga getar di seluruh tubuhnya mereda.
Saat keduanya terpejam dan kantuk mulai menjemput, baik Kalea maupun Gavin sama-sama lupa kalau esok hari, sesuatu mungkin saja bisa terjadi.
.
.
.
.
Bersambung
Uwu uwu aja dulu, abis ini mau ada huru-hara soalnya.
Bye!
__ADS_1