
Setelah melalui pertimbangan dan perdebatan panjang, akhirnya diputuskan bahwa Kalea harus kembali tinggal di rumah Mama demi keamanan dan keselamatan dirinya dan calon anak mereka.
Pagi ini, di hari terakhir dari satu minggu yang dia minta (yang mana sudah dihapuskan oleh Kalea dan diperpanjang sampai berapa bulan ke depan), Gavin memboyong Kalea kembali ke rumah orang tuanya.
Mereka disambut sorak-sorai penuh gembira oleh seluruh anggota keluarga, termasuk Bunda dan Papa Jonathan yang entah bagaimana sudah lebih dulu tiba di rumah Mama, padahal Gavin sama sekali belum mengabari kedua orang tuanya itu.
"Hati-hati," Mama bergerak sigap membantu Kalea turun dari mobil. Lengan Kalea dipegang erat, pinggangnya dirangkul dan dia dituntun untuk berjalan menuju ke dalam rumah.
"Hati-hati," kata Mama lagi saat mereka harus menaiki dua buah anak tangga untuk sampai ke teras depan.
Kalea menghela napas jengah, merasa bahwa perlakuan Mama terlalu berlebihan. Bahkan saat dirinya terkena demam berdarah beberapa waktu lalu, Mama tidak sampai bersikap seperti ini.
"Hati-Ha-"
"Ma," potong Kalea dengan penuh penekanan sebelum Mama melanjutkan ucapannya.
"Kalea nggak lagi sakit atau gimana, jadi tolong biasa aja." Katanya, yang hanya membuat Mama berdecak kemudian tetap menggiringnya untuk masuk ke dalam rumah dengan sikap siaga yang sama.
Di ruang tamu, sudah ada Bunda dan Papa Jonathan yang duduk bersebelahan di atas sofa, sedangkan Papa duduk di single sofa dan langsung bangkit begitu Kalea muncul dari balik pintu.
"Welcome home again, Baby." Papa menyambut Kalea dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan Kalea segera menanggapinya dengan memeluk Papa sebentar.
"I miss you, Baby." Bisik Papa sebelum melepaskan pelukannya.
Kalea cuma memutar bola mata malas. Sebab, Papa tidak akan bersikap seperti ini kalau tidak sedang ada maunya. Kalea yakin, di dalam kepala lelaki itu pasti sudah ada banyak permintaan-permintaan aneh yang siap dilayangkan kepadanya.
"Gavin langsung ke atas ya," ucap Gavin yang baru saja muncul dari pintu depan dengan membawa dua buah koper berukuran besar.
Dia hanya melirik sekilas ke arah masing-masing anggota keluarga dan langsung bergegas naik ke lantai dua begitu semua orang yang ada di sana menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Usia kandungannya sudah berapa bulan, Kal?" tanya Bunda, setelah Kalea duduk di sebelahnya.
"Kata dokter udah masuk enam minggu, Bun."
"Sudah mulai merasakan mual-mual?" tanya Bunda lagi.
Kalea mengangguk. "Tadinya cuma setiap pagi, sekarang hampir setiap saat mualnya muncul tiba-tiba."
"Nggak apa-apa, itu wajar. Nanti setelah usia kandungan kamu memasuki trimester ke-dua, mualnya akan hilang kok. Yang penting jangan sampai nggak bisa makan apa-apa, biar bayinya tetap dapat asupan gizi yang baik."
Kalea manggut-manggut saja. Dia menerima lebih banyak lagi masukan dari Bunda dan juga Mama yang secara bergantian berbicara. Namun, telinganya tidak secara penuh mendengarkan perkataan mereka. Otaknya juga tidak secara maksimal merekam dan mencerna informasi yang dia terima.
Sebab saat ini, Kalea justru terpikir oleh hal lain. Tentang bagaimana jadinya perasaan kedua belah pihak keluarga jika mereka tahu, bahwa pernikahannya dengan Gavin akan berakhir hanya sesaat setelah anak ini lahir ke dunia.
...****************...
Bunda dan Papa Jonathan pamit undur diri setelah selesai makan malam. Selama seharian, Kalea dipaksa untuk mendengarkan banyak sekali petuah dan larangan. Mana yang boleh dia lakukan dan mana yang sebaiknya dia hindari selama menjalani kehamilan.
Suara-suara yang dia dengar tanpa henti dari orang-orang di sekitar membuat kepala Kalea terasa berat. Jadi, setelah semua orang bangkit dari meja makan, Kalea meminta ijin untuk menyendiri di halaman belakang. Menikmati embusan angin ditemani cahaya rembulan yang tampak cantik menghiasi langit malam yang pekat.
Selama beberapa menit, yang Kalea lakukan cuma diam. Menarik dan membuang napas secara perlahan untuk menenangkan gemuruh yang begitu mengganggu di dadanya. Bersikeras mengempaskan segala resah, dan menarik paksa segala pikiran baik untuk datang menyambangi kepala. Berusaha mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Gavin, yang baru saja muncul dari balik pintu belakang yang terbuka lebar.
Kalea menoleh sebentar, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke kolam renang yang airnya beriak tertiup angin.
"Nggak ada," sahutnya, sedikit lebih terlambat dari yang seharusnya dia katakan.
Gavin mengambil posisi duduk di sebelahnya. Tiba-tiba saja meraih tangannya dan menggenggamnya erat, membuatnya sedikit tersentak karena tidak siap akan gerakan Gavin yang terlalu mendadak.
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu bersedia memberikan saya kesempatan untuk melihat anak ini tumbuh di dalam perut kamu," ucap Gavin, tatapannya tertuju lurus ke arah perut Kalea.
"Dan maaf, karena saya udah bikin kamu menjalani kehamilan yang nggak menyenangkan karena masalah yang saya timbulkan. Tapi, Kal ... " Gavin menjeda sebentar, hanya untuk mengangkat pandangan dan memaku tatap dengan Kalea yang kini melemparkan tatapan yang terlalu sulit untuk diartikan ke arahnya.
"Saya mau kamu tahu satu hal. Bahwa saya nggak pernah berbohong soal perasaan saya ke kamu. Saya menyayangi kamu, bahkan lebih besar daripada apa yang kamu mungkin pernah kira. Nggak pernah sama sekali terlintas di benak saya kalau menikahi kamu adalah sebuah paksaan, apalagi cuma sekadar alat untuk mempertahankan posisi apapun itu yang pernah kamu tuduhkan kepada saya."
"Memulai dengan kamu sebelum saya selesai dengan Irina memang sebuah kesalahan, saya akui itu. Tapi, Kal ... " Gavin mengeratkan genggamannya di tangan Kalea, menatap mata perempuan itu semakin dalam dan lekat.
"Kalau saya harus kembali ke masa lalu, dan disuruh memilih untuk tetap menikahi kamu atau tidak, saya akan dengan keras kepala memilih untuk tetap menikahi kamu. Karena sedari awal, saya nggak pernah bohong sewaktu bilang kalau saya cuma mau kamu."
"Kamu tahu semua yang kamu katakan ke aku sekarang nggak akan berpengaruh apa-apa terhadap keputusan aku, kan?" tanya Kalea, bergerak pelan melepaskan tangan dari genggaman Gavin.
"Yang aku tahu, kamu belum selesai dengan Irina. Kamu ... bahkan masih bertemu dan bermesraan dengan dia di saat kita sudah sah menjadi suami istri. Yang artinya, kamu udah berselingkuh dari aku."
Gavin mengangguk, memaksakan sebuah senyum untuk menutupi luka di hatinya yang nyaris membuatnya hancur menjadi butiran-butiran kecil tak berarti.
"Saya tahu, Kal." Katanya, teramat pelan.
"Saya mengatakan ini semua ke kamu bukan untuk membuat kamu merubah keputusan kamu, tapi saya cuma mau kamu tahu bahwa saya tulus menyayangi kamu. Karena ... " Gavin memberi jeda lagi, karena tiba-tiba saja, tenggorokannya terasa tercekat. Seperti ada batuan besar yang disumpalkan ke dalam mulutnya dan tertinggal di tenggorokan, menyumbat aliran oksigen ke paru-paru sehingga nyaris membuatnya mati kehabisan napas.
Lalu, setelah bersusah payah mengurai sumbatan itu, Gavin melanjutkan.
"Karena kalau ini adalah malam terakhir saya ada di dunia, setidaknya saya bisa pergi dengan tenang setelah membiarkan kamu tahu perasaan saya yang sesungguhnya."
"Kamu nggak boleh mati secepat itu, Gavin. Nggak, setelah kamu menghancurkan aku. Kamu harus hidup yang lama, untuk melihat aku sembuh dan bangkit dari luka yang udah kamu timbulkan."
Satu tetes air mata jatuh setelah Kalea menyelesaikan kalimatnya. Lalu, ketika tetes-tetes lain menyusul, dia segera bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Berusaha agar tidak ada yang melihat dirinya ketika dia menyelinap naik menuju kamarnya.
Sementara Gavin, masih terpaku di tempatnya. Meresapi perih yang terasa di dadanya, sedikit demi sedikit sampai tiba waktunya di mana rasa sakit itu berkumpul menjadi satu hingga siap membunuhnya dalam sekejap.
__ADS_1
Bersambung