Serana

Serana
Don't Say You're Not Important To Me


__ADS_3

Sorenya, Gavin betulan datang ke rumah Kalea. Setelah memarkirkan mobilnya di pelataran rumah Kalea dan meraih paperbag berukuran besar berisi titipan Bunda, Gavin turun dari mobilnya. Ia langsung disambut oleh Mama yang berlarian ke arahnya dengan senyum yang terkembang sempurna. Wanita itu merentangkan tangan, menyambutnya masuk ke dalam pelukan dan Gavin dengan senang hati menurutinya.


Lain halnya dengan Kalea yang justru berdiri diam di pintu masuk. Menyandarkan bahunya di sisi pintu sementara tangannya bersedekap dan tatapan matanya melayang jauh entah kemana, yang jelas sama sekali tidak tertuju padanya.


Gavin tersenyum setelah Mama melepaskan pelukannya. Menurut saja saat Mama menggamit lengangnya, membawanya berjalan lebih dekat ke arah Kalea yang kali ini tampak melirik sinis ke arahnya.


Gavin sudah terbiasa mendapati lirikan sinis itu sekarang. Jadi saat Kalea membalikkan badan dan berjalan menjauh darinya ketika ia sampai di depan pintu dan hendak menyapa, Gavin hanya terkekeh ringan.


"Biasa, sudah dekat tanggal merah makanya jadi agak sensitif anaknya." Ucap Mama memberikan too much information pada calon menantunya itu.


"It's ok. Gavin udah terbiasa sama Kalea yang mode manja kayak gitu." Balas Gavin dengan senyum yang masih tersungging.


Mendengar jawaban Gavin, Mama terkekeh. "Yaudah, sana kamu bujuk biar anaknya berhenti ngambek." Ucap Mama sembari menepuk pelan punggungnya.


Gavin mengiyakan. Ia segera berjalan masuk. Menyapa Bi Imah sekilas ketika mereka bertemu di ruang tamu, di mana wanita itu sedang mengelap meja dan beberapa perabot yang berdebu.


Gavin terus melangkah. Melewati ruang tengah dan dapur, sampai akhirnya tiba di ambang pintu belakang. Ia menghentikan langkah, menggelengkan kepala pelan saat mendapati Kalea sedang berjongkok di depan kolam ikan. Anehnya, walau cuma dari belakang, tapi Gavin seolah bisa melihat kalau perempuan itu kini sedang memberengut dan asik mendumal tentang banyak hal.


Setelah puas memandangi punggung sempit Kalea, Gavin melanjutkan langkahnya. Ia langsung berjongkok di sebelah Kalea, membuat si perempuan yang tampaknya tidak menyadari kehadirannya berjengit kaget dan langsung melemparinya tatapan tajam.

__ADS_1


"Ngagetin aja! Assalamualaikum dulu kek!" omel Kalea.


Namun Gavin hanya menanggapinya dengan sebuah kalimat sederhana yang sukses membuat bibir tipis yang sedang cemberut itu terkatup rapat. Katanya, "Kita Kristen, Kalea."


Karena sudah tidak punya hal lain untuk dikatakan, Kalea pun memilih untuk diam. Dalam rangka mengalihkan perhatiannya dari Gavin yang tak kunjung menarik pandangan, Kalea meraih pakan ikan di dekat kakinya dan melemparnya ke kolam, membuat sekumpulan ikan koi yang semula berenang dengan tenang serempak bergerak brutal menuju pakan yang mengambang di atas air. Suara kecipak yang dihasilkan dari gerakan brutal para ikan itu berhasil memacu degup jantung Kalea menjadi lebih cepat. Ia menjadi gugup tanpa alasan, terlebih dengan fakta bahwa Gavin masih terus memandanginya ketika ia sesekali melirik dari ekor mata.


"Mau ngapain ke sini?" tanyanya sinis setelah tidak kuat menahan keheningan yang terasa mencekik.


"Ketemu kamu."


Hanya sebuah oh panjang yang keluar sebagai tanggapan. Kemudian hening kembali berkuasa untuk waktu yang cukup lama.


Penasaran apa yang sedang Gavin lakukan karena lelaki di sampingnya itu sama sekali tak bersuara, Kalea memberanikan diri menoleh. Hanya untuk dibuat membeku saat matanya menangkap manik kelam Gavin yang tengah menatapnya begitu lekat.


Kalea tidak menjawab. Sebenarnya, dia tidak tahu harus menanggapi perkataan Gavin itu dengan kalimat semacam apa. Karena memang benar, Gavin ini berbakat sekali membuatnya kesal. Sungguh sudah tak terhitung lagi berapa banyak ia dibuat kesal oleh Gavin, walau pada akhirnya lelaki itu berhasil membujuknya dan mereka kembali berbaikan.


Jadi setelah jeda yang cukup lama, Kalea akhrinya menemukan sesuatu untuk dia katakan, walau itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Gavin barusan. Dengan suara pelan dan tatapan yang lurus ke depan pada segerombolan ikan yang masih berebut makanan, ia berkata. "Hape kamu ada sama aku." Yang sontak membuat Gavin mengembuskan napas berat.


"Saya harus ngapain biar kamu nggak kesal lagi?" tanya Gavin. Tatapannya masih tidak lepas dari Kalea yang kini memainkan pakan ikan di dalam botol.

__ADS_1


"Hapenya ada di kamar aku. Bentar, aku ambil dulu."


"Kal," Gavin menahan lengan Kalea yang hendak bangkit dari duduknya. Yang perempuan pun akhirnya menolehkan kepala. Tatapan mereka bertemu, dan saat itu juga Kalea merasakan ada sesuatu yang aneh merayap di dadanya ketika ia merasakan jemari panjang Gavin menelusup ke sela-sela jarinya dan membuat jemari mereka saling bertaut.


"Aku mau ambil hapenya, Gavin." Kata Kalea sembari berusaha melepaskan tautan jemari mereka. Namun sia-sia karena Gavin tidak memberi kesempatan untuknya lepas. Lelaki itu malah semakin mengeratkan genggaman mereka.


"Jangan suka kabur kalau lagi ada masalah." Gavin bicara dengan suara pelan, matanya menatap lekat ke manik Kalea, membuat si empunya membeku di tempat dengan perasaan yang sulit diterjemahkan.


"Lebih baik kamu marah-marah sama saya, ungkapin semua yang mengganjal di benak kamu daripada kamu terus-terusan berusaha menghindar kayak gini." Kalea merasakan punggung tangannya diusap pelan oleh Gavin menggunakan tangan satunya yang tidak saling bertaut dengan miliknya. Sejenak lelaki itu menundukkan kepala, mengambil napas dalam sebelum mengembuskannya perlahan dan kembali menatapnya. "Saya nggak keberatan untuk dengerin omelan kamu. Bahkan kalau kamu mau memaki-maki saya menggunakan kata-kata kasar sekalipun, saya akan tetap dengarkan. Selama hal itu bisa membantu kamu menunjukkan kepada saya apa yang sedang kamu rasakan, saya akan dengan senang hati mendengarkan."


"Aku udah sering bilang, tapi kamu masih nggak mau lakuin apa yang aku mau." Kali ini, Kalea berhasil menarik tangannya dari genggaman Gavin. Ada kekecewaan yang jelas terpancar di kedua mata kelam Gavin ketika tautan tangan mereka akhirnya terlepas. Hal itu membuat Kalea sedikit merasa bersalah, tapi suasana hatinya yang sedang buruk memicunya untuk menepis rasa bersalah itu jauh-jauh.


Kalea kemudian bangkit. Dengan gerakan terburu membersihkan celana pendeknya yang sempat terkena tumpahan pakan ikan. Dirasa cukup, ia menoleh pada Gavin yang kini sudah ikut berdiri menjulang di hadapannya. Ditatapnya manik kelam itu dengan berani, padahal kalau boleh jujur, manik kelam itu adalah salah satu kelemahannya saat ini. Selalu ada sesak yang merambat naik ke dadanya setiap kali tatapan mereka bertemu di saat mereka sedang terlibat masalah seperti ini. Entah sesepele apapun masalahnya, Kalea selalu merasa hal itu menyakitkan.


"Aku cuma minta kamu untuk kabarin aku kapanpun kamu sampai di rumah setelah kita ketemu." Kalea mati-matian untuk tetap memaku tatap dengan Gavin. Sekuat tenaga ia tahan sesak yang perlahan-lahan terasa semakin menyiksa. "Tapi berkali-kali aku bilang, berkali-kali juga kamu nggak lakukan."


Kalea memberikan jeda sebentar sebelum kembali melanjutkan ucapannya. Sekarang dengan tatapan yang beralih ke arah lain, ia kembali bersuara. "Buat aku itu sesuatu yang cukup simpel dan mudah untuk dilakukan. Tapi sepertinya, permintaan aku yang satu itu kelihatan berlebihan." Setelah mengatakannya, Kalea kembali menatap Gavin. "Mungkin karena aku nggak sepenting itu buat kamu?"


"No." Gavin menggeleng keras-keras. Apanya yang tidak penting? Gavin bahkan menghabiskan belasan tahun memikirkan Kalea dan bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengan perempuan itu lagi. Perkataan Kalea barusan sama sekali tidak masuk akal. "Please, don't say that."

__ADS_1


"Kenyataannya begitu, Gavin." Sela Kalea. Mengabaikan tatapan memelas Gavin, Kalea membalikkan badan. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah Gavin hanya untuk mengatakan, "Aku ambil dulu hapenya, kamu tunggu aja di depan." Kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Gavin yang cuma bisa mematung di tempatnya dengan dada yang terasa perih.


Bersambung


__ADS_2