Serana

Serana
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

"Boleh gabung?" ucap si lelaki.


Kalea terdiam sejenak. Memandangi sosok lelaki jangkung di hadapannya itu mulai dari atas kepala hingga ke ujung kakinya. Agak terkejut mendapati eksistensi laki-laki itu di hari pernikahannya mengingat pertemuan pertama mereka yang akhirnya meninggalkan pikiran-pikiran negatif di tengah hubungannya dengan Gavin.


"Halo?"


Kalea mengerjap pelan saat merasakan angin berembus menerpa wajahnya. Taruna, lelaki jangkung di hadapannya itu terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang cengo.


"Kamu sekaget itu karena saya datang?" tanya Taruna.


"Honestly, yes." Jawab Kalea apa adanya.


"Yah, saya juga kaget. Soalnya Gavin nggak undang saya." Adu Taruna tiba-tiba, membuat kening Kalea berkerut samar. Kalau Gavin tidak mengundang laki-laki ini, lalu siapa yang melakukannya? Taruna tidak mungkin datang dengan inisiatif sendiri, kan? Kalea memang tidak mengenal Taruna dengan baik, tapi ia yakin lelaki ini tidak senekat itu untuk datang ke acara pernikahan seorang teman walau tidak diundang. Terlebih dengan kecurigaan Kalea pada hubungan Taruna dan Gavin yang rasanya memang sedang tidak baik-baik saja.


"Kalian saling kenal?" Itu suara Irina.


Kalea menoleh pada Irina, menemukan kerutan di kening perempuan itu yang begitu kentara. "Kenal. Taruna ini temannya Gavin." Jelas Kalea berdasarkan apa yang ia ketahui. Kemudian saat ia menyadari sesuatu, Kalea balik bertanya. "Kamu juga kenal sama Taruna?"


Tak menunggu lama sampai Irina menganggukkan kepala. "Taruna ini manajer aku."


Kalea ber oh ria ketika mendapati fakta baru tersebut. Agaknya, dunia ini memang sempit. Sehingga dalam kurun waktu dua bulan saja ia terus bertemu dengan orang-orang yang rupanya saling berkaitan.


"Aku pikir kamu lagi sibuk urusin kerjaan aku yang rescheduled."


Kalea mengalihkan pandangan kepada Irina. Perempuan itu melipat kedua tanga di depan dada, sepenuhnya melupakan wine yang entah ia taruh di mana.


"Semuanya udah beres, nggak ada yang perlu diurus lagi. Managemen juga lagi urusin soal rumornya, biar si kunyuk itu nggak makin cari panggung dengan adanya rumor ini." Terang Taruna.

__ADS_1


Kalea memang tidak begitu mengerti duduk permasalahannya. Tidak paham juga mengapa Taruna menyebut Gabriel Permana, aktor muda yang tampan paripurna itu denga sebutan si kunyuk. Kalea tidak mau sok tahu, tapi dari cara Taruna menyebut Gabriel dan ekspresi wajahnya yang jelas terlihat kesal, Kalea pikir hubungan mereka memang tidak baik.


"By the way, Kalea..."


Kalea tersentak saat namanya tiba-tiba disebut oleh Taruna. Mau tidak mau, ia menatap lelaki di hadapannya ini. Mata mereka bertemu selama beberapa detik sebelum senyum terbit di wajah Taruna, disusul dengan uluran tangan yang selama beberapa detik cuma bisa Kalea pandangi dalam diam.


"Selamat atas pernikahannya. Semoga Tuhan selalu memberkati pernikahan kalian, so you guys could really grow old together, like the vow you just said before."


"Thanks." Kalea menjabat tangan Taruna sebentar dan langsung menarik tangannya kembali ketika matanya menangkap sosok Gavin yang tengah berjalan ke arah mereka. Raut wajahnya tampak serius. Mungkin karena kehadiran Taruna? Entahlah, Kalea tidak ingin menduga-duga.


"Gue nggak tahu lo bakal datang." Itu adalah kalimat pertama yang Gavin ucapkan setelah sampai di hadapannya. Kalimat itu jelas ditujukan kepada Taruna, tapi entah kenapa tatapan Gavin justru tertuju ke arah lain. Mungkin ke arah...Irina?


Kalea menggeleng pelan saat nama Irina tiba-tiba muncul di kepalanya. Kalaupun Gavin memang sedang menatap Irina, itu pasti hanya sekadar karena lelaki itu heran mendapati orang asing yang datang ke acara pernikahannya, benar?


"Mertua lo yang undang. Fyi aja sih, kita sering main golf bareng tiap akhir bulan." Kata Taruna dengan senyum yang tak luntur.


"Jadi lo adalah tamunya Papa Adrian?" Gavin bertanya balik, sedikit menolehkan kepala kepada Taruna yang hanya beberapa senti lebih pendek darinya.


"Kalau gitu, enjoy the party. Gue harus bawa Kalea ke tempat lain sekarang."


Kalea sedikit tersentak saat Gavin tiba-tiba menarik pelan lengannya, membuat mereka berdiri sejajar dan sebelah tangan lelaki itu melingkar dengan santai di pinggangnya.


"We have to go." Ucap Gavin pelan.


"Tapi aku masih mau ngobrol sama Irina." Kalea menatap Irina dengan perasaan tidak enak. Padahal Irina telah meluangkan waktu untuk datang ke pernikahannya, lalu sekarang ia harus pergi meninggalkan perempuan itu hanya setelah berbicara beberapa kata?


"Ngobrolnya bisa nanti lagi. Sekarang kita harus pergi." Kata Gavin tegas, membuat Kalea tidak bisa lagi melayangkan penawaran.

__ADS_1


Akhirnya, Kalea pasrah saja saat Gavin membawanya pergi dari hadapan Taruna dan Irina. Sebelum benar-benar berlalu dari sana, Kalea sempat menoleh pada Irina yang menunjukkan gestur seolah berkata it's okay yang membuat Kalea semakin merasa bersalah.


...****************...


"Kamu beneran diundang sama papanya Kalea?" setelah hening yang begitu lama, Irina akhirnya buka suara. Dengan pandangan yang melayang jauh ke depan, pada sosok Kalea dan Gavin yang sudah berbaur dengan beberapa kerabat, Irina diam-diam meremas gaunnya. Ada sesak yang terasa begitu memenuhi dadanya saat senyum tak kunjung sirna dari wajah Gavin. Lelaki itu tersenyum begitu lebar, terlalu lebar dan terlihat sangat tulus untuk ukuran seseorang yang terpaksa menerima perjodohan ini.


"Lo pikir, gue akan datang kalau memang nggak diundang?" Taruna menoleh, sedari tadi ia juga sibuk memandangi objek yang sama dengan Irina. Namun dengan perasaan yang berbeda.


Irina mengendikkan bahu sembari menyesap wine yang baru saja ia ambil dari nampan yang dibawa oleh seorang pelayan. "We never know."


Mendengar itu, Taruna terkekeh. Ia ikut-ikutan menyesap wine miliknya. Sejenak tatapannya kembali terlempar jauh ke depan, hanya untuk membuat sebuah hela napas lolos begitu saja dari belah bibirnya. "You know, Rin? Sekarang ini, gue pengin banget nonjok mukanya Gavin." Taruna kembali menoleh kepada Irina, agak terkejut saat mendapati sebuah senyum tipis tersungging di bibir perempuan itu.


"Mau kamu tonjok sampai dia mati pun, keadaan kita nggak akan berubah. Kamu tahu hidup aku nggak pernah berjalan mulus dari dulu." Saat Irina menoleh, keinginan Taruna untuk meninju wajah Gavin naik berkali-kali lipat dari sebelumnya. Sebab kini manik kelabu perempuan itu tampak begitu sakit dan rapuh. Senyum yang diulas Irina sama sekali tidak berhasil menyembunyikan luka yang diderita.


"Setidaknya gue bisa bikin dia babak belur, biar senyumnya nggak terbit selebar itu."


"Dan bikin aku semakin sedih?"


Bibir Taruna terkatup rapat. Irina berhasil membungkamnya dengan telak. Perempuan ini jelas tahu kelemahannya. Dan terkadang Taruna merutuki dirinya sendiri karena telah jatuh di tempat yang salah.


Sama seperti ketika ia hadir di pernikahan ini secara tak terduga, kehadirannya ke hidup Irina pun seharusnya bisa dihindari. Seharusnya, seandainya saja Taruna tahu bahwa di masa depan ia akan jatuh untuk perempuan ini.


"Jangan ganggu Gavin, Na. Dia udah banyak melalui kesulitan sepanjang hidupnya." Ucapan Irina itu berhasil menggores hati Taruna lebih banyak. Menimbulkan lebam baru yang rasanya lebih sakit daripada yang telah ia milikilah sebelumnya.


"Lo tahu, Rin? Terkadang gue merasa kalau simpati yang lo tujukan ke Gavin itu sama sekali nggak berguna. Salah satunya kayak sekarang ini."


Alih-alih mengiyakan, Irina hanya tersenyum. Tatapannya kembali terlempar ke depan, hanya untuk membuat hatinya tergores lebih banyak saat matanya mendapati Gavin tengah menggenggam erat tangan Kalea. Tersenyum pada perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Seolah hanya ada Kalea di dalam dunia Gavin. Seolah Irina sudah tidak ada lagi di dunia yang Gavin bangun sejak lama. Seolah tidak pernah ada kisah antara Irina dengan lelaki itu.

__ADS_1


"Dan kamu tahu, Na? Nggak peduli setidak berguna apapun perasaan aku terhadap Gavin, nggak akan ada yang berubah. Gavin tetap jadi seseorang yang penting buat aku. Karena berkat dia, aku bisa bertahan sampai sekarang."


Taruna tidak menyahuti lagi. Ia terdiam dengan pikiran yang melayang-layang di udara. Lalu saat ia menemukan dirinya sendiri berada di posisi yang sama dengan Irina, Taruna cuma bisa tersenyum sumir. Memang benar ternyata, cinta itu bisa membuat seseorang menjadi bodoh.


__ADS_2