Serana

Serana
Dia Kenapa?


__ADS_3

Claretta masuk ke dalam mobil dengan perasaan senang yang membumbung tinggi. Senyumnya terkembang lebar sampai ke telinga, hatinya berbunga-bunga. Di atas dashboard mobilnya, dia menyimpan barang-barang yang sama seperti yang dia berikan kepada Kalea. Setahu Claretta, yang dia miliki itu yang asli dan yang dia berikan kepada Kalea adalah duplikatnya.


Padahal, tanpa sepengetahuannya, semua yang asli masih ada di tangan pemiliknya. Tersimpan rapi di tempat yang tidak akan terjangkau oleh siapa pun. Lebih dari itu, masih ada banyak barang-barang serupa dengan isi yang berbeda, yang tentu saja tidak akan dibeberkan kepada siapa-siapa sebelum waktunya tiba.


"Gue nggak tahu siapa lo, tapi terima kasih karena sudah membantu gue menghancurkan Gavin dan ayahnya yang bajingan itu." Gumam Claretta sembari menatap lurus ke arah amplop coklat dan flashdisk di atas dashboard.


Kemudian, Claretta menyalakan mesin, memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedas gas dengan senyum yang kian lebar. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, hari ini pun tiba. Hari di mana dia bisa melihat kehancuran seorang Mahesa Gavin yang tidak pernah pantas untuk menyandang gelar Cakraditya di belakang namanya.


"Good bye, Loser. Selamat menempuh perjalanan menuju neraka."


...****************...


Nyawa Kalea seperti terbang entah ke mana. Mulai saat Claretta meninggalkan dirinya di cafe dengan beribu pertanyaan yang mengerubungi kepala sampai kini mobilnya sudah terparkir di halaman rumah, Kalea merasa tubuhnya bergerak secara otomatis tanpa bisa dia cegah. Seolah otaknya sudah tidak berperan untuk memberikan instruksi dan setiap bagian di tubuhnya mulai bergerak sendiri.


Kalea melirik amplop coklat dan flashdisk pemberian Claretta yang kini tersimpan manis di atas kursi penumpang bagian depan. Sungguh, dia tidak yakin akan mampu memeriksa apa saja yang ada di dalam sana. Sebab apa yang dia temukan di amplop sebelumnya sudah cukup membuatnya harus menahan napas.


Meskipun ketakutan itu semakin menggerogoti dirinya, Kalea tetap meraih dua barang itu dan membawanya keluar dari mobil. Dia menyeret langkahnya ke dalam rumah dengan sisa tenaga yang ada, berharap siapa pun yang dia temui pertama kali setelah pintu terbuka tidak akan melemparinya dengan pertanyaan yang akan semakin memperparah suasana hatinya.


Pintu terbuka, Kalea berjalan masuk dan sejauh kakinya melangkah, dia masih belum menemukan siapa-siapa. Itu bagus, dia bahkan mulai berharap tidak akan bertemu siapa pun dan bisa melenggang masuk ke dalam kamar dengan tenang.


Tetapi saat dia sampai di pembatas antara ruang tengah dengan dapur, Kalea menemukan ada Karel di sana, sedang merecoki Bi Mah yang sibuk menyiapkan makan malam.


Tatapan mereka bertemu, dan dari cara lelaki itu menatapnya saja, Kalea sudah bisa mengerti bahwa Karel sedang bertanya-tanya mengapa dia sampai di rumah dengan keadaan kacau seperti sekarang.


Enggan diberondong pertanyaan oleh sicerewet Karel, Kalea memutar badan cepat, segera mengayunkan langkah menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Di meja makan, Karel dan Bi Imah saling berpandangan. Mereka sama-sama berkomunikasi melalui tatapan mata, lalu sama-sama mengendikkan bahu ketika tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menebak apa yang sedang terjadi dengan Kalea.


"Perlu Karel susulin nggak?" tanya Karel setelah diam cukup lama.


"Kayaknya nggak usah deh, biarin aja dulu." Usul Bi Imah. Karena firasatnya begitu kuat mengatakan bahwa Kalea sedang dalam mode tidak bisa diusik sekarang.


Karel segera menganggukkan kepala setuju. Sama seperti Bi Imah, dia juga merasa usahanya hanya akan berakhir sia-sia karena Kalea sama sekali tidak terlihat mau untuk membuka mulut.


Akhirnya, Karel melanjutkan kembali kegiatannya mencomoti gorengan yang Bi Imah sediakan, yang sejatinya diperuntukan untuk keperluan makan malam.


...****************...


Tak lama setelah Kalea mendudukkan dirinya di kasur (setelah menyimpan amplop dan flashdisk pemberian Claretta di laci nakas paling bawah), pintu kamar diketuk beberapa kali.


Sial. Batinnya. Padahal dia berharap Gavin akan menghabiskan waktu hingga larut malam di kantornya sehingga dia punya lebih banyak waktu untuk menghindar. Setidaknya sampai dia bisa membenahi perasaannya agar dia bisa mulai menanyakan semuanya kepada Gavin secara langsung.


"Kamu habis pergi, ya?" tanya Gavin setelah meletakkan tas kerjanya di atas nakas kemudian turut bergabung dengan Kalea di atas kasur.


Kalea cuma mengangguk, kemudian cepat-cepat mengalihkan pandangan agar tatapan mereka tidak bertemu. Karena semakin dia menatap Gavin, perasaannya menjadi semakin tidak keruan.


"Sama Karel?" tanya Gavin lagi. Agaknya belum bisa menangkap hawa aneh yang menguar dari tubuh Kalea.


Kali ini Kalea menggeleng. Dia mulai pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal yang dia lakukan cuma menggeser-geser layar.


"Saya kira sama Karel,"

__ADS_1


"Aku mau ke dapur, bantuin Bi Imah." Kalea tiba-tiba bangkit, ponsel yang sedari tadi dia mainkan dia lempar begitu saja ke atas nakas, membuat Gavin mengerutkan kening kebingungan.


Gavin tidak punya kesempatan untuk bertanya lebih lanjut ataupun mencegah Kalea agar tetap berada di kamar, karena secepat kilat, perempuan itu melesat keluar dari dalam kamar.


Yang bisa Gavin lakukan setelah tubuh kecil Kalea menghilang dari pandangan cuma diam, menghela napas pelan kemudian berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu, ketika Kalea sampai di dapur, semua pekerjaan yang Bi Imah lakukan telah selesai. Perabotan kotor yang habis digunakan memasak juga sudah dicuci, sudah kinclong dan kembali nangkring di tempatnya masing-masing.


"Neng Kalea butuh sesuatu?" tanya Bi Imah yang menyadari kalau sedari tadi Kalea cuma berdiri diam di sisi meja makan sambil sesekali melirik ke arahnya dan Karel secara bergantian.


"Mau?" tawar Karel sembari menyodorkan sepotong tempe goreng yang sudah dia gigit.


Kalea melirik Karel dan tempe bekas gigitan itu sekilas kemudian langsung mengalihkan pandangan ke arah Bi Imah. "Masak buat makan malamnya udah selesai?" tanyanya.


"As you can see, semua udah selesai, berkat bantuan gue." Celetuk Karel.


Kalea kembali menoleh ke arah Karel dan menatap lelaki itu tanpa minat. Sungguh, semenyebalkan apa pun Karel sekarang, Kalea sama sekali tidak punya tenaga untuk meladeninya.


"Neng mau apa ke sini? Ada yang bisa Bibi bantu?" kata Bi Imah, berusaha mengalihkan perhatian Kalea agar tidak terjadi baku hantam antara perempuan itu dengan Karel.


"Nggak ada, Kalea mau naik aja ke studio." Kalea membalikkan badan dan langsung melangkah menaiki tangga, dalam sekejap menghilang di belokan.


"Dih, nggak jelas banget." Cibir Karel lalu memasukkan potongan tempe yang masih tersisa ke dalam mulutnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2