
Sesampainya di rumah, Gavin masih tidak bisa berhenti bertanya-tanya tentang sikap Kalea yang aneh. Apalagi saat perempuan itu berjalan dengan riang ke dalam rumah dan bahkan sedikit melompat-lompat saat menaiki tangga menuju lantai dua.
Gavin masih mengekor di belakang, menjaga jarak aman karena selain takut kalau mood Kalea akan berubah menjadi buruk lagi jika berdekatan dengan dirinya, dia juga masih berusaha mencerna situasi yang ada.
Sementara itu, Kalea yang kini telah sampai di depan pintu kamar tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, kemudian dia membalikkan badan tanpa aba-aba sehingga membuat Gavin yang mengekor tiga langkah di belakangnya sedikit tersentak.
"Apa?" tanya Gavin.
"Aku tiba-tiba pengin makan Samgyetang." Celetuk Kalea.
"Hampir jam tiga pagi, Kal. Besok aja, ya?" bujuk Gavin, namun Kalea menggeleng.
"Maunya sekarang," dengan raut wajah yang memelas.
Ya Tuhan ... perempuan ini sebenarnya sedang kenapa? Apa yang salah dari otaknya sehingga sikapnya menjadi aneh begini?
Gavin menghela napas, mengangguk pasrah kemudian segera balik badan menuruni tangga menuju dapur.
Kalea yang keinginannya lagi-lagi dituruti tersenyum cerah, kemudian mengekori Gavin bahkan sampai lelaki itu sudah berdiri di depan kompor.
"Kamu awas, nanti kena api." Tegur Gavin karena Kalea terus saja mengekorinya ke mana-mana. Mulai dari saat dia berjalan ke kulkas mengambil ayam dan bumbu-bumbu dapur, saat dia ke wastafel untuk mencuci semua bahan sebelum dipotong-potong, sampai kini dia sudah kembali ke depan kompor dan hendak menyalakannya.
"Aku mau lihat gimana cara masaknya," Kalea beralasan.
"Di YouTube banyak, kamu bisa lihat di sana. Sekarang, minggir." Gavin meraih bahu Kalea, membalikkan tubuh kecilnya kemudian menuntun perempuan itu dan mendudukkannya di kursi.
"Diam aja di sini," peringat Gavin.
Kalea kesal, tapi dia menurut saja dan menunggu Gavin sambil memperhatikan lelaki itu berkutat dengan peralatan masak.
__ADS_1
Ini aneh. Kalea sendiri juga merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Padahal pagi tadi dia dan Gavin masih terlibat perang dingin. Tetapi kenapa sekarang mereka bisa terlihat seperti sepasang suami istri yang akur dan tidak pernah terlibat masalah.
Entahlah, Kalea hanya mengikuti apa yang hatinya kehendaki meskipun kepalanya terus saja mengatakan bahwa ini salah. Seolah dorongan yang ada di dalam dirinya memang jauh lebih besar ketimbang logika di kepala.
Setelah menunggu lumayan lama, Kalea akhirnya tersenyum cerah kala Gavin berjalan ke arahnya dengan semangkuk Samgyetang yang mengepulkan asap. Lelaki itu meletakkan mangkuk di hadapannya, kemudian mengulurkan sendok sebelum duduk di kursi seberang.
Kalea menerima sendok dengan senang hati, semangat sekali saat mengarahkan sendok itu ke mangkuk dan mengambil kuah panas.
Tetapi baru saja sendok itu sampai di depan mulutnya, Kalea langsung menjauhkan sendok sambil menutup hidungnya. Entah kenapa, aroma dari kuah Samgyetang tiba-tiba saja menjadi terasa begitu kuat dan menusuk hingga membuat perutnya mual.
"Kenapa?" tanya Gavin panik, dia bahkan sampai bangkit dari duduknya.
"Bau." Adu Kalea. Dia sodorkan sendok itu ke hadapan Gavin, memintanya mengendus aroma kuah yang menyengat.
Gavin bingung, karena menurutnya, tidak ada yang salah dengan masakannya kali ini. Semua prosedur sudah dijalani dengan baik dan bahan-bahan yang dia gunakan semuanya masih dalam kondisi oke. Meksipun begitu, Gavin tetap meraih sendok dari tangan Kalea dan memeriksa apakah baunya memang sekuat itu jika dari dekat.
Tapi, setelah sendok itu sampai di depan hidungnya, Gavin sama sekali tidak mendapati ada yang aneh. Aroma kuah Samgyetang memang seperti ini, dan Kalea juga biasanya makan dengan lahap.
"Bau!" Kalea ngotot. "Bau banget, Gavin. Perut aku sampai mual," adunya sambil masih menutupi hidungnya.
"Ta-"
"Aduh!" ucapan Gavin terpotong karena Kalea tiba-tiba bangkit dari kursi dan berlarian menuju kamar mandi di dekat dapur.
Karena khawatir, Gavin pun segera menyusul. Ketika kakinya sampai di ambang pintu, dia menemukan Kalea sedang berjongkok di depan closet, sedang memuntahkan isi di dalam perutnya.
"Kal, you okay?" Gavin bergegas masuk, menghampiri Kalea dan memijat pelan leher bagian belakang perempuan itu.
Kalea tidak menyahut karena perutnya semakin terasa mual, padahal sepertinya dia telah menguras semua isi perutnya sekarang. Napasnya jadi pendek dan dia merasa lemas.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit, ya?" Gavin yang panik sudah hampir menggotong tubuh Kalea, namun perempuan itu menggelengkan kepala.
"Aku nggak apa-apa," ucapnya lemah.
"Nggak apa-apa gimana? Kamu muntah-muntah gini, muka kamu juga pucat banget."
"Aku nggak apa-apa, Gavin." Kalea menekankan sekali lagi. Kalau tadi dia merasa senang tanpa alasan yang jelas, sekarang tiba-tiba saja dia merasa kesal.
"Aku mau ke kamar." Katanya, sembari bangkit dengan susah payah karena dia menolak keras ide Gavin untuk membantunya berdiri.
"Saya gendong," Gavin berjalan mendekat, hendak mengangkat tubuh Kalea.
"Aku bisa sendiri." Tolaknya, sambil mendorong pelan tubuh Gavin agar menjauh darinya.
"Nggak usah ngeyel!" sela Gavin. Kemudian, setelah Kalea diam tidak menjawab, dia langsung mengangkat tubuh perempuan itu dan membawanya naik ke kamar.
Dengan sangat hati-hati, Gavin membaringkan tubuh Kalea di atas kasur, menaikkan selimut sampai ke batas perut kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Kalea untuk memeriksa apakah perempuan itu demam.
"Nggak demam," gumamnya. Lalu, dia menatap Kalea lekat-lekat. "Ini pasti karena kamu ngeyel minta jalan-jalan naik motor. Masuk angin nih pasti." Omelnya, yang hanya ditanggapi Kalea dengan memutar bola mata malas.
"Ini gara-gara kamu masak Samgyetang yang bau," cibir Kalea.
"Samgyetang-nya sama sekali nggak bau. Hidung kamu aneh." Gavin berusaha membela diri. Karena memang tidak ada yang salah dengan Samgyetang buatannya. Entah kenapa juga Kalea bilang Samgyetang-nya bau.
"Itu bau, titik." Kalea dengan keras kepalanya yang seperti biasa. Kemudian, perempuan itu membalikkan badan, memunggungi Gavin dan langsung memejamkan matanya, pura-pura tidur.
Di pinggiran kasur, Gavin cuma bisa mengelus dada menghadapi tingkah Kalea karena lagi-lagi dia sadar diri kalau posisinya sedang tidak mendukung untuk dirinya bisa mendebat perempuan itu. Dia cuma punya seminggu, dan dalam kurun waktu itu, dia harus memperlakukan Kalea sebaik mungkin serta menuruti semua keinginannya. Supaya ketika satu minggunya habis dan dia benar-benar harus melepaskan perempuan itu, dia masih punya kenangan baik untuk dia simpan di dalam kepala.
"Tidur, jangan cuma pura-pura." Kata Gavin terakhir kali sebelum dia mendudukkan dirinya di atas kasur lantai, memandangi punggung Kalea yang terasa begitu jauh untuk bisa dia gapai.
__ADS_1
Kalea tidak menjawab, malah membuka matanya lebar-lebar dan berkomat-kamit tanpa suara. Dia mendumal, entah kepada siapa dan karena apa.
Bersambung