Serana

Serana
Sudden Attack


__ADS_3

Di halaman belakang, Gavin mendudukkan diri di sebuah kursi kayu. Pandangannya lurus ke depan sementara di telinganya sudah tertempel ponsel yang sedang menghubungkannya dengan seseorang. Lama sekali ponsel itu ia diamkan di sana, menunggu telepon tersambung. Namun penantiannya berakhir sia-sia sebab di ujung nada tunggu, Gavin justru mendapati suara operator perempuan yang memberitahukan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak dapat dihubungi.


Gavin menarik kembali ponsel dari telinga, membawanya ke hadapan lalu menatapnya kebingungan. Ini pertama kalinya Irina tidak bisa dihubungi. Setelah semalam tidak mengangkat teleponnya, Gavin pikir perempuan itu akan menghubunginya kembali pagi ini. Ternyata dia salah. Tidak ada satu pun notifikasi yang berasal dari perempuan itu ketika ponselnya berhasil dinyalakan.


Tidak hilang akal, Gavin beralih menelepon Taruna. Karena selama ini cuma Taruna yang bisa Gavin andalkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan Irina. Dengan sabar, walau hatinya mendadak gelisah, Gavin menunggu sampai telepon itu tersambung. Tapi setelah beberapa lama ditunggu, teleponnya tak diangkat. Padahal biasanya Taruna selalu fast respon, lelaki itu tidak pernah membiarkan satu panggilan pun terlewat.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Irina dan Taruna? Mengapa dua orang itu secara serempak tidak bisa dihubungi?


Pikiran itu menggerogoti kepalanya, memakan sel-sel aktif di sana sehingga membuatnya kehilangan banyak kemampuan memproses data. Kemudian, sebelum ia betulan kehilangan seluruh kemampuan dalam dirinya, Gavin mendengar derap langkah kaki dari arah belakang. Maka dengan sigap ia simpan kembali ponsel ke saku celana setelah memastikan ponsel itu sudah dimatikan dengan benar.


Di sana, di ambang pintu belakang, Kalea sedang berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Perempuan itu menatapnya lekat, dengan semburat kemerahan yang masih menghiasi kedua belah pipinya.


"Udah selesai urusan di kamar mandi?" tanya Gavin sembari bangkit dari kursi. Dia berjalan ke arah Kalea, mengulurkan tangan berniat merapihkan helaian rambut Kalea yang keluar dari dalam ikatan. Namun tangannya berakhir melayang di udara saat tiba-tiba saja Kalea bergerak mundur.


Kenapa? Gavin membatin. Keningnya berkerut dan ia mulai memandang Kalea dengan penuh tanya.


"Jaga jarak, dua meter." Kalea mengulurkan tangannya, mengeluarkan dua jari membentuk huruf V yang seketika membuat Gavin tergelak.


"Kenapa?" tanya Gavin disela gelak tawa. Keresahannya perihal Irina yang tak ada kabar perlahan-lahan menguap ketika mendapati raut lucu yang tampak di wajah Kalea.


"Kamu menakutkan." Ketika mengatakan itu, Kalea mundur dua langkah.

__ADS_1


"Menakutkan? Emang saya ngapain?" tanya Gavin dengan nada main-main. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Kalea pasti masih syok dengan serangan yang ia lancarkan secara tiba-tiba tadi malam. Ah...lucu sekali. Itu bahkan hanya sebuah kecupan, tapi reaksi Kalea yang berlebihan berhasil memunculkan ide usil di kepala Gavin.


Dengan gerakan pelan, Gavin berjalan maju, terus maju hingga membuat Kalea terpaksa mundur untuk memperlebar jarak di antara mereka.


Kalau Gavin begitu semangat menerobos maju, Kalea juga tidak kalah bersemangat untuk mundur. Pokoknya, dalam kepala Kalea, ia sudah membuat pengaturan bahwa jarak antara dirinya dan Gavin tidak boleh kurang dari dua meter. Kalea bertekad untuk tidak membiarkan Gavin dekat-dekat dengannya untuk sementara waktu, demi kesehatan jantungnya.


Tapi, lagi-lagi apa yang ada di kepala Kalea tidak bisa terlaksana karena nyatanya Gavin jauh lebih keras kepala ketimbang dirinya. Lelaki itu terus melangkah maju, sampai akhirnya Kalea tidak bisa lagi mundur karena punggungnya membentur dinding. Belum sempat Kalea mencari siasat lain untuk melarikan diri, tubuhnya sudah dikungkung oleh Gavin. Kedua lengan lelaki itu berada di sisi kanan-kiri tubuhnya, membuatnya tidak bisa lagi bergerak leluasa.


"Kal?" panggil Gavin dengan suara berat yang...Kalea rasa sengaja dibuat agar terasa mengintimidasi. Tidak seperti semalam saat ia memilih melarikan pandangan, pagi ini Kalea sok-sok an menantang manik kelam itu. Memberanikan diri memaku tatap walau sebenarnya jauh di dalam sana, jantungnya sudah hampir meledak.


"Saya menakutkan di bagian mana?"


"Kok diam? Saya lagi nanya sama kamu, loh." Gavin dengan santainya mengulurkan tangan, menyelipkan helaian rambut Kalea yang menjuntai ke belakang telinga kemudian menyunggingkan senyum menyebalkan.


Lalu, Gavin menurunkan pandangan. Kali ini Kalea jelas tahu bahwa Gavin tengah mengincar bibirnya. Mati-matian Kalea menahan napas saat menyadari Gavin perlahan-lahan mulai mendekatkan wajahnya. Dan di saat seperti ini, seharusnya Kalea segera mencari cara untuk melarikan diri, kan? Tapi yang perempuan itu lakukan justru mematung di tempat sampai bibir Gavin betulan menempel dengan miliknya.


Kalea tersentak saat merasakan bibir Gavin mulai bergerak di atas bibirnya, menyesap belah bibir bawahnya hingga rasanya nyawa Kalea nyaris ikut tersedot keluar. Rasanya aneh. Pergerakan Gavin yang lembut berhasil menciptakan gelenyar aneh yang baru pertama kali Kalea rasakan sepanjang ia hidup di dunia. Koloni kupu-kupu di dalam perutnya yang tadinya tidur serempak betebangan ke sana kemari, menggelitik setiap titik saraf di sana hingga membuat perutnya terasa bergejolak dan jantungnya berpacu lebih cepat.


Tanpa sadar, Kalea memejamkan mata. Kedua tangannya meremas kaus bagian depan yang Gavin kenakan. Berusaha menyalurkan perasaan aneh yang memenuhi dadanya seiring dengan pergerakan Gavin yang semakin terasa memabukkan.


Sementara Kalea hanya diam, membiarkan Gavin berbuat semaunya, mengeksplor lebih banyak sisi di bibirnya tanpa memberikan balasan apa-apa. Sebab ia masih tidak mengerti bagaimana caranya berciuman. Ini kali pertama seseorang menyentuh bibirnya sehingga Kalea benar-benar buta dan tidak tahu bagaimana cara meresponnya. Untuk ukuran perempuan berusia 25 tahun, bisa dibilang Kalea benar-benar tidak berpengalaman.

__ADS_1


Kemudian, setelah detik demi detik berlalu, Gavin berhenti bergerak. Ia menarik wajahnya menjauh, tersenyum tipis menyaksikan bagaimana Kalea masih terpejam dengan belah bibir yang basah dan pipi yang kian merona. Dengan gerakan pelan, Gavin mengusap bibir Kalea guna membersihkan jejak pertemuan mereka.


Bertepatan dengan Gavin yang menarik kembali tangannya, Kalea membuka mata. Dengan degup jantung yang menggila juga pipi yang terasa panas, Kalea menatap Gavin malu-malu.


Dan demi Tuhan! Kalea ingin menampar wajah Gavin saat lelaki itu tiba-tiba mengecup bibirnya sekali lagi lalu tertawa puas setelahnya. Apa yang lucu? Katakan pada Kalea, apa yang begitu lucu dari mencuri ciuman pertama milik seorang gadis. Oh, tidak, Kalea lupa, itu bahkan bukan yang pertama lagi.


Refleks, Kalea menutup bibirnya menggunakan telapak tangan. Ia menatap Gavin tak percaya saat lelaki di hadapannya itu tak kunjung meredakan tawa.


"Jangan ketawa!" teriak Kalea dengan mulut yang masih tertutup telapak tangan.


"Kamu lucu."


Seharusnya Kalea tahu, mengancam Gavin tidak akan pernah memberikan hasil apa-apa karena lelaki itu akan selalu punya cara untuk mengalahkan dirinya. Lihat saja, saat mata Kalea sudah melotot hingga bola matanya nyaris melompat keluar saja, Gavin sama sekali tidak terlihat takut. Lelaki itu malah semakin tergelak, apalagi saat Kalea melayangkan sebuah pukulan ke bahunya.


Tidak puas hanya melayangkan satu, Kalea kembali melayangkan pukulan-pukulan lain, yang lama kelamaan malah membuat gelak tawa Gavin semakin keras. Barangkali, pukulan-pukulan itu tidak berarti bagi Gavin. Hanya seperti digelitik dan tidak sakit sama sekali.


"Kamu nyebelin!" teriak Kalea. Setelah satu kali lagi pukulan mendarat di dada Gavin, Kalea kabur. Ia melarikan diri dari singa kelaparan yang masih tertawa terbahak-bahak di belakang tubuhnya.


Gavin yang melihat tingkah Kalea hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Kemudian, saat tubuh Kalea menghilang di balik belokan, tawa Gavin perlahan-lahan mereda. Senyumnya luntur, tergantikan dengan sebuah perasaan gelisah yang kembali memenuhi rongga dada.


Irina...kemana perginya perempuan itu?

__ADS_1


__ADS_2