Serana

Serana
Doa Karel Untuk Kalea


__ADS_3

Saat matahari sudah tidak seterik sebelumnya, Kalea dan Karel memutuskan untuk berhenti bermain dengan Mumu. Mereka beranjak dari halaman depan, berjalan beriringan dengan Mumu yang tertidur lelap di dalam gendongan Kalea.


"Laki lo lama amat?" tanya Karel ketika mereka mencapai pintu depan.


"Biarin aja, mungkin urusannya memang penting."


Mendengar jawaban itu, Karel menghentikan langkah dan menoleh pada Kalea. Dia menatap tak percaya pada sosok temannya itu. Sebab kalau ini adalah Kalea yang dulu, Karel akan mendengar Kalea merengek dengan segala macam pikiran buruk yang ada di dalam kepalanya. Melihat Kalea sudah bisa menghadapi sesuatu dengan cara yang lebih positif membuat Karel sedikit lega. Setidaknya, usahanya untuk membuat Kalea berhenti dengan kebiasaan overthinking sudah membuahkan hasil. Dan, Karel rasa itu juga berkat Gavin yang telah berhasil membuat Kalea menaruh percaya.


"Wah, udah gede lo ternyata." Karel menepuk-nepuk kepala Kalea beberapa kali.


"Emang udah gede!" Kalea menepis tangan Karel di kepalanya. Kemudian perempuan itu masuk ke dalam rumah sembari bersungut-sungut ketika mendengar suara Mama yang menggelegar memanggil namanya.


Berselang cukup lama setelah tubuh mungil Kalea menghilang di balik pintu, Karel baru menyusul. Sedari tadi dia sibuk menenangkan dirinya sendiri atas fakta bahwa banyak hal telah berubah dari kehidupannya dan Kalea. Pada fakta bahwa tugasnya sudah tidak sebanyak dulu untuk menjaga Kalea sebab selain karena sudah ada Gavin, dia juga menemukan Kalea sudah mampu menjaga dirinya sendiri.


Karel bersyukur akan perubahan Kalea yang menuju ke arah lebih baik, sebab itu juga yang dia usahakan sejak dulu. Hanya saja, ada satu sisi dirinya yang merasa belum siap untuk kehilangan sisi kekanakan Kalea. Sebab dia telah terbiasa dengan hal itu sejak belasan tahun lalu.


Saat Karel tiba di ruang tamu, dia menemukan Mumu sedang berguling-guling di atas sofa dengan mainan bola-bola benang yang dia belikan dua hari lalu. Di sampingnya, Kalea tampak tertawa terbahak-bahak menyaksikan buntelan bulu bernyawa itu bermain dan sewot sendiri dengan mainannya yang terkadang nyangkut di kuku.


"Mumu mau gue bawa pulang, udah waktunya tidur siang." Kata Karel yang sontak membuat Kalea menaikkan pandangan dan langsung cemberut.


"Hari ini Mumu nginep di sini. Yaaaaa??" pinta Kalea dengan raut wajah yang sengaja dibuat semelas mungkin.


Tapi tidak peduli seberapa gemasnya Karel pada raut wajah itu, dia tetap tidak bisa membiarkan Mumu berkeliaran lebih lama di dalam rumah ini, karena itu akan berbahaya untuk Gavin. Dia tidak ingin laki-laki itu sakit karena kehadiran Mumu.


Maka, setelah mati-matian menahan diri untuk tidak menggigit hidung Kalea ketika perempuan itu masih terus berusaha merayu, Karel menggeleng sembari meraih Mumu dan langsung mendekapnya erat.


"Gavin alergi kucing, jadi Mumu nggak boleh lama-lama ada di sini." Jelas Karel sebelum Kalea menyemburkan serentetan protes tak berkesudahan.

__ADS_1


"Tapi aku masih mau main sama Mumu." Ucap Kalea sedih. Dia menatap sendu ke arah Mumu seolah perpisahan mereka adalah hal paling menyakitkan yang pernah dia alami selama hidupnya.


"Kalau mau main sama Mumu, di rumah gue aja. Nanti, tunggu Gavin pulang dulu dan lo ijin ke dia buat main ke rumah gue."


Kalea tidak mau menunggu selama itu. Tetapi dia juga tidak bisa melawan ketika Karel menekan kepalanya agar tetap duduk di tempat dan menyuruhnya menerima piring berisi makanan yang baru saja Mama ulurkan sekembalinya wanita itu dari dapur.


"Makan dulu, jangan main terus." Kata Mama sembari meletakkan gelas berisi air putih ke atas meja.


Mama duduk di sebelah Kalea, kemudian dia layangkan tatapan ke arah Karel yang berdiri di hadapan mereka sembari menggendong Mumu yang tidak mau diam. "Kamu juga makan dulu sana. Atau Mama mau ambilin juga?" tawar Mama, namun Karel dengan cepat menggeleng.


"Karel harus pulangin Mumu dulu biar dia bisa tidur siang." Kata Karel.


Mama yang sudah paham bahwa Karel telah jatuh cinta pada Mumu sejak pertemuan pertama mereka pun cuma bisa menganggukkan kepala. "Ya udah, sana kamu pulangin dulu anak kamu. Habis itu ke sini lagi buat makan."


"Karel makan di rumah aja, Ibun udah masak, bahaya kalau sampai nggak Karel makan. Bisa dicoret nama Karel dari Kartu Keluarga." Canda Karel yang membuat Mama geleng-geleng kepala. Sedangkan Kalea masih saja tidak menyentuh makanannya dan tetap memandangi Mumu.


"Buruan makan, biar nanti bisa main lagi sama Mumu." Tegur Karel.


"Gue pulang dulu. Habisin makanannya, kalau nggak habis nggak boleh ketemu Mumu." Pesan Karel sebelum melenggang pergi meninggalkan rumah Kalea.


Kalea tidak menjawab. Dia cuma terus menyendokkan makanan ke dalam mulut meskipun di dalam mulutnya masih ada sisa makanan yang belum selesai dia kunyah.


Hal itu membuat Mama menatapnya khawatir, takut dia tersedak. "Pelan-pelan, Kalea." Tegur Mama.


Tetapi Kalea sama sekali tidak mendengarkan. Dia cuma mau segera menghabiskan makanannya supaya bisa bermain lagi dengan Mumu.


...****************...

__ADS_1


Dua jam setelah kepulangannya dari rumah Kalea, Karel kembali menginjakkan kaki di rumah itu. Rumah yang sedari dulu memang lebih banyak dia tinggali ketimbang rumahnya sendiri.


Matahari di atas sana sudah mulai menyingkir. Sinarnya tidak lagi terik sebab tertutup awan-awan tebal warna biru. Sore hampir menjelang, tetapi Karel masih belum juga menemukan keberadaan mobil Gavin di halaman.


Dia jadi bertanya-tanya, ke mana perginya laki-laki itu? Mengapa dia meninggalkan Kalea sendirian di sini? Dan... apa sebenarnya yang terjadi sehingga mereka harus mengungsi ke rumah Mama? Karena Karel agak tidak percaya kalau kedatangan mereka ke sini semata-mata hanya karena Kalea merindukan Mama.


"Kamu ngapain ngelamun di situ, Rel?" tanya Mama yang keheranan mendapati Karel sedang berdiri melamun di depan pintu masuk.


Karel menoleh, dia menggelengkan kepala pelan sebelum berjalan masuk ke dalam rumah, melewati Mama yang berdiri di ambang pintu begitu saja.


Langkah kaki Karel terasa lebih berat, entah mengapa. Dia tahu Mama mengikutinya dari belakang, tetapi dia masih tidak mau bicara apa-apa. Terlalu banyak hal yang ada di kepalanya sekarang. Jadi dia fokus untuk menata hal-hal itu terlebih dahulu agar tidak berserakan memenuhi ruang di kepala.


Kemudian, saat Karel hendak menaiki tangga menuju lantai dua dengan niat untuk mencari Kalea di kamarnya, ayunan langkahnya terhenti saat suara Mama mengudara.


"Kalea ada di studionya."


Karel menoleh sebentar ke arah Mama, kemudian mengangguk dan langsung meneruskan langkahnya yang sempat tertunda.


Mama sudah tidak lagi mengekor di belakang, jadi Karel bisa sedikit menghela napas lega.


Sebelum sampai di depan pintu studio Kalea di lantai tiga, Karel berhenti lagi di lorong. Hanya untuk menatapi lukisan anak laki-laki yang terpajang di sana untuk waktu yang cukup lama.


Selama berhari-hari sejak pertama kali dia memposting artikel tentang pencariannya di aplikasi burung biru, sama sekali belum ada pesan pribadi yang masuk ke akunnya. Padahal Karel yakin cara itu cukup efektif untuk menarik perhatian orang yang bersangkutan.


Kalau sudah begitu, hanya ada dua kemungkinan. Antara orang yang sedang mereka cari ini memang tidak aktif dengan sosial media, atau dia sudah tidak ada lagi dunia ini.


Karel menggelengkan kepala kuat-kuat saat kemungkinan yang ke-dua muncul di kepala. Dia... tidak ingin Kalea merasa sedih.

__ADS_1


Maka dengan sepenuh ketulusan yang dia punya, Karel berdoa, semoga Abang yang sedang mereka cari ini masih hidup dan Tuhan sedang dalam perjalanan mengatur pertemuan mereka, suatu hari nanti.


Bersambung


__ADS_2